
Pertemuan tertutup antara Julian, Dimitri dan Marino akhirnya mencapai kesepakatan, Julian bersedia bekerja sama dengan Dimitri dengan Alicia sebagai imbalannya, dan pertemuan ini ditutup dengan minum-minum bersama, Nathalia yang ikut menghadiri pertemuan bersama ayahnya mencoba untuk menggoda Julian tetapi pria muda berperawakan kekar ini menolaknya begitu saja.
Waktu berlalu, malam pun mulai merangkak semakin larut, tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama dengan Dimitri yang selalu memberinya tatapan aneh Julian pun berpamitan, di dalam perjalanannya kembali ke rumah benak pria muda ini dipenuhi peperangan antara ambisi dan persahabatan, dan untuk mengusir keresahannya itu Julian melarikan mobilnya dengan lebih cepat lagi.
Sementara itu di hotel milik Leon, Sang Pimpinan Vald Corporation ini baru saja menutup pertemuan rahasianya bersama Jenderal Pasukan Rahasia.
Dan saat Leon kembali ke kamarnya, ia menemukan Anton sedang berjaga di balkon, sedangkan istri dan putranya telah tertidur pulas, ia tersenyum ketika melihat istri dan putranya yang sedang tidur dalam keadaan baik-baik saja, sambil melangkah menghampiri Anton ia melepaskan dasi dan jasnya lalu meletakkannya di sandaran sofa, pria yang telah dianggapnya sebagai adiknya itu saat ini tampak sedang memperhatikan sekitar dengan posisi siaga.
"Istirahatlah! Bukankah kamu belum tidur sejak kemarin?" lontarnya sambil menepuk pundak Anton.
Anton hanya mengangguk pelan.
"Terima kasih Bos," sahutnya dengan wajah sungkan, apa yang telah dilakukan Leon hari ini untuk dirinya membuat Anton semakin menghormati pria muda ini yang sedang berdiri di sampingnya.
"Perang sudah dimulai, aku membutuhkanmu untuk berdiri di sisiku saat perang nanti, karena itu... Jagalah kesehatanmu dengan baik," ucap Leon sambil menatap lampu-lampu kota yang terlihat gemerlap dari balkon kamarnya.
"Itu artinya hotel ini..."
"Benar." Leon mengangguk, "Markas Pasukan Rahasia sekarang berada tepat di seberang kamar ini, aku telah mengerahkan mereka agar menggantikan tugasmu untuk mengawasi hotel ini!"
Anton tersenyum mendengar ucapan Leon tersebut.
"Akhirnya Bos membuka kamar hitam itu setelah sekian lama," tukasnya.
__ADS_1
Kamar hitam yang dimaksud oleh Anton ini adalah markas kedua dari Pasukan Rahasia, kamar ini sengaja dibangun berseberangan dengan kamar Leon dan ditempatkan di hotel ini untuk menutupi kegiatan Pasukan Rahasia miliknya, kamar ini dilengkapi dengan gudang persenjataan dan juga peralatan canggih lainnya seperti monitor yang bisa melacak keberadaan Leon selama ia mengenakan kemejanya yang dilengkapi alat pelacak, dan sejak Pasukan Rahasia dibentuk, ini baru kedua kalinya Leon membuka kamar itu, karena biasanya kamar hitam hanya dipergunakan untuk situasi darurat saja.
"Tidurlah! Karena pagi ini kita akan memulai perang strategi dengan Dimitri, mata-mata yang kukirim padanya telah memberikan informasi terbaru tentang pria itu!"
"Ternyata Bos telah merencanakan semuanya tanpa memberitahuku terlebih dahulu, sedikit mengejutkan! Bahkan kemeja ini..." Anton menggantungkan kalimatnya, ada sedikit kekecewaan di hatinya karena Leon tidak memberitahu tentang Pasukan Rahasia yang selalu mendampinginya, tetapi ia tahu Bosnya ini melakukannya untuk menjamin keselamatannya juga istri dan putranya.
"Dua kemeja yang kuberikan padamu itu untukmu, apa kamu keberatan tentang itu?" tanya Leon, ia melirik pria muda berambut putih yang saat ini sedang berdiri di sampingnya sambil menundukkan kepalanya.
Bahu Anton bergerak dengan ritme teratur, itu menunjukkan bahwa pria ini tidak memiliki rasa takut sama sekali walau dalam kondisi kritis perang seperti saat ini.
"Aku tidak keberatan, hanya... Sedikit kecewa karena Bos meragukan kemampuanku." Ia menghela nafas, "Aku istirahat dulu Bos," sahutnya pelan, ia melangkah pergi setelah menunduk hormat pada Leon.
"Anton!"
Panggilan ini membuat Anton menghentikan langkahnya.
Ia tersenyum tipis mendengar kata-kata tegas Leon yang terdengar sedang memuji dirinya, tanpa membalikkan tubuhnya Anton melambaikan tangannya lalu melanjutkan langkahnya.
Sementara Leon hanya menatap tubuh itu bergerak menjauh lalu menghilang dari pandangannya.
"Anton... Kamu dan Mark adalah keluargaku selain istri dan putraku, dan aku akan bekerja lebih keras lagi untuk menjaga keselamatan kalian semua, agar aku tidak perlu kehilangan keluargaku lagi!" bisik hatinya, sejenak ia hanya terpaku menatap pintu yang telah tertutup kembali tetapi beberapa saat kemudian Leon membalikkan tubuhnya dan menatap langit malam, sebuah bayangan kesedihan seperti tergambar di hamparan kegelapan itu, bayangan tentang bagaimana keluarga besarnya dihancurkan di saat ia masih seorang Drakula remaja, saat itu ia tidak memiliki kekuasaan seperti sekarang, dan ia hanya bisa meratap melihat kematian kedua orang tuanya dan pembasmian seluruh Kaum Drakula dari sudut Kastilnya, karena seorang pelayan Kastil menyembunyikan dirinya atas permintaan kedua orang tuanya dari pembantaian yang terjadi pada Kaumnya itu, "Sekarang aku telah memiliki kekuasaan di tanganku! Dengan kekuasaan ini aku tidak akan pernah membiarkan satu orangpun menyentuh keluargaku!" gumamnya dengan wajah dingin sambil mengepalkan tangannya.
***
__ADS_1
Pagi hari menjelang, pagi ini Alicia yang kurang tidur sejak kemarin masih tampak pulas di atas ranjangnya yang empuk, bahkan ia tidak menyadari jika putra kecilnya telah terbangun dan dijemput oleh Anton bersama Biana, hanya tetesan air yang jatuh di wajahnya yang membuatnya sedikit merespon, tetesan air itu terasa dingin saat menyentuh kulitnya dan hal itu membuat Alicia membuka matanya.
Tepat di depan wajahnya saat ini, seraut wajah segar dengan rambut yang sedikit basah sedang menatapnya, wajah itu milik suaminya Leon yang baru selesai mandi dan sedang membungkuk memperhatikan dirinya, aroma parfum dan segarnya sabun mandi juga shampo yang digunakan suaminya ini bercampur menjadi satu, kesegaran itu membuat Alicia merasa bahwa dirinya sekarang seperti sedang berada di taman bunga yang dipenuhi oleh beraneka ragam bunga yang menyebarkan aroma manis dan menggoda, ditambah dengan tubuh kekar yang terpampang di balik jubah mandi suaminya yang agak terbuka membuat Alicia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari keindahan itu.
"Kesepian tanpaku?"
Pertanyaan lembut ini bahkan tidak terdengar olehnya, ia hanya terus menatap penampilan suaminya dan terlihat sangat menikmatinya, dan tanpa sadar... Ia telah mengangkat tangannya untuk menyentuh dada bidang suaminya itu.
"Apakah aku harus memperlihatkan semuanya padamu?"
Eh??
Dengan spontan Alicia menarik tangannya saat mendengar kata-kata ini, rona merah perlahan menjalar dari telinga hingga ke wajahnya, merasakan wajahnya terasa sedikit panas ia pun berpaling dari tatapan Leon, karena mata indah suaminya itu tampak sedang menatapnya dengan nakal.
"Malammu milik putra kita, tetapi pagimu milikku!"
Eh??
Alicia berpaling dan mendapati suaminya ini masih memperhatikan dirinya.
"Te... Tetapi ini masih pagi dan Leonardo berada di sini!" tolaknya dengan wajah canggung.
Seperti ia yang mengacuhkan ucapan suaminya itu, Leon pun tidak menjawab kata-katanya ini, ia hanya menundukkan wajahnya untuk mengecup leher putih bersih istrinya yang sedang menatapnya dengan wajah merona hingga membuat istrinya ini mendesis pelan.
__ADS_1
"Leonardo telah pergi bersama Anton, putraku itu memintaku agar secepatnya memberikannya seorang adik, jadi... Sayang... Tolong bekerja samalah denganku untuk memenuhi permintaannya itu!"
"Apa?!!!" Alicia tertegun mendengar ucapan suaminya ini yang diucapkan Leon sambil membuka tali jubah mandinya.