STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.

STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.
SERANGAN AWAL.


__ADS_3

Seorang wanita cantik bertubuh ramping yang berada di bawah shower saat ini asik menggerutu ketika netra abu-abu cerah miliknya menemukan semua bercak merah yang telah ditinggalkan oleh suaminya di tubuhnya.


Bekas kemarin masih belum hilang, dan hari ini ia memberikan warna lagi di tubuhku, pria ini benar-benar tidak takut kalau aku akan melemparkannya keluar balkon.


Ia menyibakkan rambut hitam panjangnya yang jatuh menutupi kedua dada indahnya, sesaat Alicia menghela nafas melihat beberapa bercak merah di kedua dadanya itu.


Saat aku hanya seorang Mahasiswi ia selalu mencoba menghindariku, tetapi sekarang...


Ia memukul dinding kamar mandi dengan tinjunya, sejenak bayangan semua yang baru saja terjadi pagi ini melintas di benaknya saat Leon suaminya memperlihatkan sebagian tubuhnya dan membuat dirinya terpaku, lalu menenggelamkannya tanpa sadar dalam pagutan bibir semerah ceri, tidak hanya sampai di situ... Di saat bibir lembut itu membungkamnya, bahkan tangan kekar suaminya itu tidak ingin melepaskan kesempatan untuk menyentuh pahanya yang putih bersih juga meremasnya, ditambah lagi dengan kehangatan lidah yang menari-nari di setiap inci tubuhnya hingga membuatnya tidak bisa menolak semua sentuhan itu, sentuhan yang membuatnya melambung tinggi seperti seekor burung yang terbang bebas di angkasa, laksana seekor angsa yang mampu menyentuh pelangi, itulah yang dirasakan Alicia setiap kali suami tampannya itu menyentuhnya.


Dia terlalu mahir dalam hal ini, aku bahkan...


Ia menutup sebagian wajahnya yang mulai terasa panas ketika mengingat senyum puas suaminya itu yang berhasil membuat tubuhnya bergejolak berkali-kali.


"Berikan aku seorang putri yang cantik secantik dirimu."


Ucapan suaminya ini terngiang-ngiang di telinganya dan membuat wajahnya semakin merona.


"Leon bodoh!!" rutuk hatinya, lagi-lagi Alicia memukul dinding kamar mandi dengan tinjunya, ia menatap punggung tangannya walau sedikit memerah tetapi ia sama sekali tidak merasakan sakit.


Kekuatanku semakin bertambah, bahkan aku sekarang tidak bisa merasakan rasa sakit dan keinginan itu... Juga semakin menguat! Apakah aku akan selamanya seperti ini?


Alicia kembali menghela nafas, ia mengangkat tangannya untuk mematikan shower lalu melangkah dua langkah agar bisa meraih handuk dan mulai mengeringkan tubuhnya juga rambutnya, ketika ia beralih ingin mengambil jubah mandi miliknya yang terlipat rapi di rak yang berada di dalam kamar mandi ini, matanya menangkap susunan jubah mandi berwarna merah milik suaminya yang berada tepat di sebelah miliknya, jubah mandi itu mengingatkannya kembali pada tubuh suaminya pagi ini.


Mengapa pria ini tidak mau meninggalkanku **s**ejak aku bertemu kembali dengannya? Bahkan dengan egoisnya ia mengisi pikiranku, memenuhi otakku, benar-benar menyebalkan!


Alicia meraih jubah mandi tersebut dan memakainya, tanpa menyadari bahwa yang ia kenakan itu adalah jubah mandi milik Leon suaminya.


Sesaat setelah ia keluar dari kamar mandi, Leon yang telah berpakaian rapi dan bermaksud ingin bertemu dengan Dr. Mark menghentikan langkahnya ketika melihat jubah mandi yang menutup tubuh istrinya itu.


Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, ia menarik kembali langkahnya yang ingin menuju ke pintu dan berbalik menghampiri Alicia.


"Ternyata kamu sangat suka menggunakan milikku, dulu kemejaku dan sekarang..." Leon menggantungkan kalimatnya dan menatap jubah mandi yang dikenakan istrinya ini, "Kamu cantik mengenakan warna merah," bisiknya.


Kata-kata ini membuat Alicia menyadari kesalahannya, ia melirik jubah mandi yang dikenakannya dengan wajah yang kembali merona.

__ADS_1


"Itu aku... Ah..." Ia mendesis pelan ketika suaminya ini kembali mengecup lehernya dengan lembut.


Tetapi itu hanya sebuah kecupan biasa bagi Leon sebelum ia mengecup kening istrinya ini.


"Kamu wangi... Sayangnya ada yang harus kulakukan, jika tidak..."


Ia melirik dada istrinya yang terlihat menggoda, lalu tertawa kecil karena Alicia memukul lengannya dengan wajah cemberut.


"Jangan pergi sebelum Anton kembali," ucapnya pelan kemudian mengecup kening Alicia.


Dan hal itu dijawab Alicia dengan menganggukkan kepalanya.


Setelah melihat anggukan istrinya ini Leon pun kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.


"Telpon aku jika merindukanku!" lontarnya sambil membuka pintu.


"Maaf sayang... Tubuhku ini sudah tidak memiliki tempat lagi untuk tanda darimu!" jawab Alicia ketus.


Leon kembali tertawa kecil mendengar jawaban dari istrinya ini, sebuah kerlingan nakal ia lemparkan pada Alicia sebelum menutup pintu kamar.


Suara pintu tertutup ini menyadarkan Alicia bahwa suami nakalnya itu telah pergi.


Kamar ini benar-benar sepi tanpa kehadirannya!


Alicia menarik nafas panjang dan menghembuskannya begitu saja lalu melangkah menghampiri lemari pakaiannya, baru saja ia membuka lemari dan ingin meraih sebuah kaos dari lipatan, tiba-tiba suara dering ponsel menghentikan gerakan tangannya itu.


Ia mencoba untuk mengacuhkan panggilan tersebut selama beberapa saat dan meneruskan apa yang ia lakukan, tetapi suara itu tidak berhenti hingga ia selesai mengenakan seluruh pakaiannya.


"Mungkinkah sebuah panggilan penting?" pikirnya, Alicia pun tergesa-gesa mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas yang berada di samping ranjang.


"Nyonya Leon Vald?? Apakah sudah melihat chatmu hari ini?! Jika sudah melihatnya, tolong temui aku di alamat yang telah kukirimkan padamu, sebaiknya datanglah sendiri jika tidak ingin sesuatu menimpa kedua orang tuamu!"


BIP... BIP...


Hanya sampai di situ panggilan berakhir, kata-kata pria di seberang sana yang menyinggung tentang kedua orang tuanya membuat Alicia dengan cepat memeriksa semua chat ponselnya hari ini.

__ADS_1


Di salah satu chat tersebut ia menemukan photo kedua orang tuanya yang sedang terikat, dan photo itu berasal dari sebuah nomor yang tak ia kenal, bahkan sebuah alamat juga dikirimkan oleh pemilik nomor tersebut, melihat hal ini Alicia pun menggertakkan giginya dengan marah.


***


Tepat jam 10 pagi Anton kembali ke kamar Leon bersama Biana dan Leonardo kecil, bocah energik ini baru menghabiskan sepuluh wafel pagi ini dan tak berhenti bergerak setelahnya, bahkan membuat Anton sedikit kewalahan untuk mengejarnya.


"Ibu...!!"


Teriakan riang itu terdengar memenuhi kamar sesaat setelah pintu terbuka, tetapi tiada jawaban sama sekali, kamar ini sepi tanpa seorangpun berada di sana, pintu lemari pakaian Alicia tampak terbuka yang menandakan bahwa Alicia pergi dengan terburu-buru.


Gawat!! Nyonya menghilang!!


Menyadari bahwa Alicia tidak berada di dalam kamarnya, Anton pun dengan cepat mengajak Biana dan Leonardo kecil meninggalkan kamar dan menuju ke kantor Leon, di mana Bosnya itu berada saat ini.


***


Di dalam kantor Leon saat ini, udara dingin seakan-akan menyergap di dalam ruangan ini karena pria yang tengah duduk di belakang meja tersebut hanya diam setelah mendengar kabar tentang Alicia dari Anton.


"Ternyata Dimitri telah memulai serangan awalnya! Walau aku mencemaskan istriku itu, tetapi aku tahu istriku itu tidak mudah untuk ditaklukkan!"


"Le... Leon, tentang itu... Aku lupa memberitahumu kalau Profesor James dan Checille telah menghilang dari Los Angeles!"


Leon menggebrak mejanya di hadapan semua yang berada di dalam ruang kantor ini ketika mendengar laporan dari Dr. Mark, bahkan Leonardo kecil bersembunyi di belakang Biana saat melihat kemarahan ayahnya itu.


"Anton, sudah mengerti apa yang harus kamu lakukan?!" lontarnya dingin sambil melemparkan pandangannya pada Anton.


Anton mengangguk dengan cepat kemudian melirik Jenderal Pasukan Rahasia yang kebetulan juga berada di dalam kantor ini, pria paruh baya itu mengangguk padanya.


"Grigori siap bertugas Bos!!" cetusnya sesaat kemudian sambil menundukkan kepalanya di hadapan Leon.


Sementara itu di tempat lain yang berada cukup jauh dari peradaban Paris yang sangat diminati para wisatawan, tepatnya di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota Paris, Alicia yang telah terikat dan duduk bersandar pada sebuah kontainer yang berada di dalam gudang ini tersenyum sinis pada pria yang berdiri angkuh di hadapannya.



"Tanpa memiliki kedua orang tuaku, apa kamu pikir bisa mengikatku semudah ini?!" tukasnya.

__ADS_1


__ADS_2