STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.

STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.
KEPERCAYAAN.


__ADS_3

BRAK!!!


Suara pintu di dobrak terdengar di sebuah rumah yang cukup besar.


"Dimitri!!!"


Teriakan seorang pria bernada bas memenuhi ruangan tersebut di susul langkah kaki tergesa-gesa dari pria itu yang hampir berusia senja.


Teriakan itu membuat dua orang pria yang sedang berbicara serius di dalam ruangan tersebut menoleh, salah seorang dari pria itu adalah Dimitri yang tampak acuh tak acuh setelah mengetahui siapa yang telah mendobrak pintunya.


"Mr. Marino, sopanlah! Aku sedang menerima tamu di sini," ucapnya dingin.


"Tamu??" Marino yang baru saja mendobrak pintu ruangan ini mengalihkan pandangannya pada seorang pria muda yang sedang duduk di hadapan Dimitri, "Julian?! Pria ini tidak bisa dipercaya!!" teriaknya kesal sambil menunjuk pria muda tersebut.


Julian hanya menanggapi tuduhan itu dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Sepertinya Mr. Dimitri sedang sibuk sekarang, sebaiknya aku tidak mengganggu lagi," sahutnya, ia beranjak dari kursinya dan mengibaskan celananya yang sedikit bergaris karena tertekuk saat duduk, "Oh ya, aku menghargai bantuanmu padaku tadi, tetapi... Sebelum kerja sama ini dilanjutkan... Aku harap Mr. Dimitri memenuhi dulu janjimu padaku! Aku ingin wanita itu berada di ranjangku malam ini!" Ia melirik Dimitri dengan sudut matanya.


Sementara pria paruh baya yang dilirik oleh Julian hanya terkekeh.


"Sesuai keinginanmu! Katakan saja ke mana aku harus mengantarnya!" lontar Dimitri santai.


"Jangan berikan wanita itu padanya! Pria ini bekerja sama dengan Leon Vald!" protes Marino.


Julian kembali tersenyum mendengar ocehan pria tua yang berdiri tak jauh darinya itu yang terus saja melemparkan tuduhan pada dirinya.


"Mr. Dimitri, kepercayaan adalah dasar dari sebuah kerja sama, tanpa kepercayaan mungkin lebih baik kerja sama ini tidak perlu dilanjutkan! Aku pamit!" tanpa berpaling pada Dimitri ia melangkah pergi meninggalkan ruangan setelah sebelumnya melemparkan tatapan tajamnya pada Marino.


Tak lama setelah kepergian Julian, Dimitri tiba-tiba menggebrak meja yang berada di hadapannya dengan keras.


Apa yang dilakukannya ini membuat Marino sangat terkejut.

__ADS_1


"Di... Dimitri, aku membutuhkan wanita itu dan kedua orang tuanya, istri dan putriku sekarang berada di tangan Leon Vald," ujar Marino dengan wajah sedikit takut.


"Maaf aku tidak bisa menyerahkan mereka padamu, bukankah kamu telah melihatnya sendiri jika aku membutuhkan wanita itu untuk membujuk pria yang baru saja meninggalkan ruangan ini?!"


"Sudah kukatakan kita tidak bisa mempercayai Julian! Aku pikir kamu harus tahu kalau mantan bawahanmu yang gila itu tadi telah mendatangiku, pria gila itu bahkan memukuliku juga teman-temanku dan semua itu terjadi di Klub Malam miliknya!! Lalu sekarang... Kamu ingin meneruskan kerja sama dengan seseorang yang membiarkan musuhmu keluar masuk dengan bebas di Klub Malam miliknya?!"


Dimitri tertawa sinis mendengar ucapan Marino padanya, ia melirik pria berumur 57 tahun itu dengan dengan wajah kesal, sudah sedari tadi ia mencoba menahan emosinya pada pria tua ini tetapi pria ini seperti tidak peduli, bahkan terus saja melontarkan kata-kata yang membuat amarahnya semakin naik.


"Jangan terlalu banyak berpikir!" timpalnya, "Pria itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan! Ia sama sekali tidak tertarik untuk bekerja pada Leon Vald! Bahkan malam ini Leon Vald datang ke Klub miliknya hanya untuk menghancurkan Klub Malam miliknya itu karena Julian telah menolak bekerja untuknya, untung saja beberapa bawahanku sempat menyelamatkannya dan membawanya ke sini, kalau tidak..."


"Itu tidak mungkin!!" sela Marino cepat, sebab ia masih mengingat dengan baik semua ucapan Leon padanya saat di Klub tadi.


"Apa kamu pikir bawahan Dimitri bisa melindungi istri dan putrimu jika aku menginginkan mereka?!!"


Kata-kata ini terus terngiang-ngiang di telinganya dan ia sangat mengerti dengan jelas maksud dari kata-kata ini bahwa jika Pimpinan Vald Corporation itu sangat menginginkan seseorang maka ia akan mendapatkannya dengan mudah, tetapi Julian... Marino bahkan tidak melihat satu luka pun di tubuh pria muda itu.


Aku tidak mengerti mengapa Dimitri melindungi pria itu? Sementara aku tahu dengan pasti bahwa Julian sama sekali tidak bisa dipercaya, bukankah seharusnya dia lebih mengetahui hal ini dari pada diriku?


"Tolong berikan wanita itu padaku! Aku membutuhkan wanita itu dan kedua orang tuanya untuk menyelamatkan istri dan putriku," pintanya dengan suara pelan.


"Aku akan menyelamatkan istri dan putrimu, apa itu cukup?!"


"Tetapi si Leon itu hanya memberiku waktu hingga tengah malam! Jika tidak pria itu akan..."


Kata-kata Marino terhenti, ia terpaku ketika melihat Dimitri sama sekali tidak peduli bahkan menggerakkan tangannya untuk menyuruhnya agar pergi.


Aku salah telah mempercayai pria ini, tidak ingin membantuku? Baiklah... Aku bisa melakukannya sendiri.


Ia beranjak dari hadapan Dimitri sambil menggertakkan giginya.


***

__ADS_1


Menjelang tengah malam di sebuah kamar hotel, Julian yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan jubah mandinya tengah berdiri di balkon kamar dengan segelas wine di tangannya.


Alarm terdengar berbunyi dari ponselnya yang tergeletak di atas meja yang menandakan waktu sudah pukul 11 malam.


Malam ini entah apa yang tengah merasuki pikirannya hingga ia berharap Dimitri benar-benar akan mengantar Alicia padanya, tetapi...


"Sudah pukul 11 malam, seharusnya aku tidak mempercayai kata-kata pria tua itu!" sungutnya sambil menenggak habis wine di gelasnya.


Baru saja ia meletakkan gelas winenya ke atas meja ketika bel kamarnya tiba-tiba berbunyi, ia yang telah sedikit mabuk karena sudah menghabiskan satu botol wine demi menunggu janji Dimitri dengan malas melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu tersebut.


Sesaat setelah pintu terbuka, beberapa pria berwajah sangar menerobos masuk ke dalam kamarnya sambil menggotong seorang wanita yang sedang pingsan dan meletakkan wanita bergaun merah itu ke atas ranjang miliknya, ke dua tangan wanita itu tampak terikat erat di belakang tubuhnya.


"Bos mengirimkan pesan, jangan lupa pada janjimu!" lontar salah seorang dari pria yang menerobos kamarnya ini.


Dalam kondisinya sekarang sangatlah sulit bagi Julian untuk mencerna kata-kata pria tersebut, tetapi ia berusaha menganggukkan kepalanya agar pria itu dan teman-temannya segera pergi dari kamarnya.


Julian dengan cepat mengunci pintu kamarnya setelah para pria itu pergi meninggalkan kamarnya, lalu mengalihkan pandangannya pada sosok berpakaian sexy yang sedang tertidur di atas ranjang miliknya.


Tubuh indah itu seperti tengah memanggil dirinya untuk mendekat, dengan langkah yang terseok karena kepalanya sudah terasa berat, ia mencoba mendekati wanita ini yang selalu mengisi mimpi-mimpi malamnya.


Bibir merah dengan tubuh sexy setengah terbuka itu seakan-akan menghipnotis dirinya, keindahan yang terpampang di hadapannya saat ini bahkan membuat gairahnya sedikit terpancing, dan malam ini... Sekali lagi benaknya dipenuhi pertarungan antara hitam dan putih.


Seandainya aku bisa...


Beraneka teori kotor merasuki otaknya, bahkan ia sudah memikirkan permainan apa yang ingin dilakukannya pada wanita ini, mengecup, meremas, menyentuh...


Haruskah kulakukan semua itu padanya?


Julian menghela nafas, ia mengangkat tangannya untuk meraih gaun yang dikenakan wanita yang sedang tertidur di atas ranjangnya ini.


"Maaf aku tidak bisa menahannya!" gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2