
Garden Party yang diselenggarakan Leon berlangsung dengan sangat meriah, tetapi pertunjukkan yang diharapkannya akan terjadi malam ini sama sekali tidak menunjukkan hasil.
Tamu-tamu berpakaian mewah dari kalangan atas yang menghadiri pestanya malam ini bahkan tidak membuatnya tertarik, penantiannya atas rencana Marino yang tak kunjung terlihat membuatnya mulai gusar.
Anton yang berdiri tak jauh dari Leon memperhatikan kegusaran di wajah Bosnya itu, wajah tampan Sang Bos tampak berkernyit dan berdekik sesekali di hadapannya, melihat hal itu ia pun melangkahkan kakinya mendekati Leon.
"Bos, sepertinya Marino bekerja sama dengan pria itu!" ungkapnya dengan suara pelan, "Jika menilai dari cara kerja Marino, seharusnya pria tua itu telah melancarkan serangan balasan pada kita saat ini, tetapi jika pria itu bersamanya... Aku takut semua ini tidak akan berjalan dengan mudah nantinya, sebaiknya... Aku menjauhi Nyonya mulai sekarang."
Alis putih keperakan milik Leon terangkat mendengar ucapan bawahan sekaligus sahabatnya itu, bahkan mata biru jernih bak langit pagi hari itu tampak berkilat.
"Jika kita melakukan hal ini bukankah ini sesuai dengan harapannya?!" tukas Leon dingin.
"Tetapi Bos, pria itu sangat licik! Bahkan terkadang aku tidak bisa menebak apa yang akan dilakukannya! Jika aku selalu berada di sisi Nyonya juga putramu aku takut dia akan memanfaatkan Nyonya dan putramu demi mendapatkanku!" protes Anton, melihat betapa lancarnya pesta malam ini membuatnya sangat cemas.
Dimitri, mantan Bosnya itu selalu bersikap tenang sebelum melancarkan serangannya, bahkan di balik ketenangannya itu biasanya selalu tersimpan rencana-rencana licik, dan bagi Anton yang telah berkali-kali menghadapi mantan Bosnya itu, ia telah mengerti bahwa ketika semua tampak baik-baik saja di saat itulah ia harus merasa cemas.
"Aku tidak ingin wanita itu terluka karenaku," bisik hatinya sambil menatap Alicia yang sedang tertawa ceria bersama putranya.
Tatapan Anton pada istrinya tak luput dari perhatian Leon, ada kekhawatiran di wajah bawahan setianya itu.
"Sudah terlalu larut, sebaiknya antarkan istri dan putraku kembali ke kamar sekarang! Dan temui aku di kantor setelah pesta usai! Jika benar Dimitri yang berada di belakang Marino, maka kita harus mengatur ulang rencana untuk menghadapinya!"
Anton mengangguk pelan mendengar perintah tersebut, dan tanpa menunggu lagi ia pun melangkah menghampiri Alicia dan putranya.
Setelah berada tepat di samping Alicia yang menatapnya dengan wajah bingung, Anton berbisik pada Alicia dan meminta Alicia agar mengikutinya kembali ke kamar bersama putranya.
Alicia tidak langsung mengiyakan, tetapi justru melemparkan pandangannya pada Leon yang tampak sedang berbicara dengan seorang tamu, ia terpaksa mengangkat dan mengayunkan tangannya agar mendapatkan perhatian suaminya itu, sesaat Leon melirik padanya dan menganggukkan kepalanya, itu sudah cukup bagi Alicia untuk menjawab Anton.
Langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa meninggalkan pesta membuat Julian dan Alice sedikit curiga tentang mengapa Leon meminta istrinya dan putranya terburu-buru meninggalkan pesta, bahkan wajah Alicia juga tampak bingung saat berpamitan dengan kedua kakak beradik ini.
"Ada yang tidak beres," gumam Julian, ia melirik adiknya dan meminta Alice untuk pulang lebih dulu, karena ia ingin berbicara pada Leon setelah pesta berakhir.
"Jangan lupa menghubungiku jika terjadi sesuatu!" pesan Alice.
"Baik, berhati-hatilah! Telpon kakak setelah sampai di rumah!" Julian melambaikan tangannya pada adik satu-satunya itu yang telah melangkah meninggalkan dirinya.
***
__ADS_1
Pukul 3 pagi ketika semua tamu undangan telah pergi, Julian pun mengikuti Leon menuju kantornya, sementara Dr. Mark pergi untuk menggantikan Anton.
Baru saja Leon menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di dalam kantor, ia dikejutkan oleh suara dering ponsel miliknya.
Ekspresi terkejut tampak di wajahnya ketika mengangkat panggilan tersebut, setelah mematikan ponselnya ia pun beranjak dari sofa.
"Ada apa?!" tanya Julian ketika melihat Leon menggertakkan giginya, rahang kerasnya terlihat semakin tegas saat ia melakukan hal itu.
"Istriku dan Anton menghilang! Dan putraku... Seseorang telah membuat putraku juga gadis yang bersamanya tak sadarkan diri, aku harus kembali ke kamarku sekarang!" tukas Leon.
Sementara Leon dan Julian bergegas menuju kamarnya, di sebuah kamar hotel yang berada cukup jauh dari hotel milik Leon, Anton yang telah menerima tembakan senjata bius bersama Alicia sesaat setelah memasuki kamar Leon mulai tersadar, ia membuka matanya perlahan dan mengedarkan pandangannya, di sudut kamar di mana ia berada saat ini tampak Alicia yang belum sadarkan diri terikat dalam posisi duduk dan bersandar di dinding kamar.
"Nyonya??" gumamnya, Anton mencoba bangkit tetapi ia kembali jatuh terduduk karena kedua tangannya yang terikat ke belakang di tarik seseorang.
Sosok pria yang baru saja menarik tangannya itu melangkah ke hadapannya sambil menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya, pria itu duduk di atas tempat tidur di mana Anton bersandar saat ini dan menghembuskan asap rokoknya ke wajah Anton.
"Merindukanku?!" tanya pria itu sinis pada Anton yang sedang menatapnya tajam.
"Cih, seorang pria sepertimu haruskah kurindukan?! Kau sama sekali tidak cantik!" lontar Anton dengan nada mengejek.
"Lalu apakah wanita itu yang kamu suka?!" tunjuk Dimitri pada Alicia.
PLAKKK!!!
sebuah tamparan mendarat di wajah Anton.
"Bangunkan wanita itu dengan air, aku ingin membuat wanita itu melihat apa yang akan kulakukan pada pria gila ini!" perintah Dimitri pada bawahannya yang berdiri di samping Alicia.
Bawahan itu mengangguk dan pergi.
"Dimitri, wanita itu adalah milik Leon Vald! Jika kamu berani mengganggunya aku tidak akan melepaskanmu!!" teriak Anton.
Dimitri terkekeh mendengar ancaman Anton.
"Akhirnya kamu berani menyebut namaku, apakah itu artinya kamu telah memikirkanku selama di dalam persembunyianmu?"
"Cuih, jangan terlalu berharap!!" lontar Anton sambil meludah.
__ADS_1
"Bangunkan!!" teriak Dimitri ketika melihat bawahannya kembali dengan seember air.
Tanpa menunggu lagi bawahan itu langsung menumpahkan air tersebut pada tubuh Alicia hingga membuatnya tersadar.
Alicia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya menatap Anton.
"Anton??"
"Nyonya tenanglah, aku pasti akan membawamu kembali pada Bos!"
Ucapan Anton pada Alicia membuat Dimitri merasa cemburu, dengan kesal ia menjambak rambut Anton dan menariknya ke belakang.
"Apakah wanita itu lebih layak mendapatkan perhatianmu ketimbang diriku?!" sahutnya dingin.
"Bukankah sudah kukatakan dia lebih cantik darimu!"
Kata-kata ini membuat Dimitri tersinggung berat, ia hampir mencium paksa Anton jika Alicia tidak angkat bicara.
"Lepaskan dia!"
Dimitri menghentikan gerakan wajahnya yang ingin mendekati Anton mendengar teguran bernada dingin itu.
"Oh?? Haruskah?!" ia kembali terkekeh.
"Pria berumur sepertimu seharusnya sadar diri, tidak perlu memaksakan keinginanmu pada seseorang yang sama sekali tidak tertarik padamu!"
"Bagaimana jika aku tetap memaksakannya?!"
"Jika menjadi dirimu, aku tidak akan melakukannya!" tukas Alicia sambil melemparkan tatapan tajam pada Dimitri.
"Tetapi aku akan tetap melakukannya!" ucap Dimitri santai, ia membuang rokoknya dan menginjaknya, lalu mengusap bibir Anton di hadapan Alicia.
"Sudah kukatakan jangan lakukan!!"
KREKK KREKK TESS!!
__ADS_1
Alicia yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya meregangkan tali yang mengikat tangannya hingga terlepas, bahkan ia melepaskan ikatan kakinya hanya dalam satu kali tarikan, semua yang dilakukannya membuat Dimitri dan bawahannya tercengang.