
"Selamat malam mempelai wanita yang sedang berbahagia," sapa Alice sesaat setelah berada di hadapan Alicia.
Dengan senyum merekah Alicia pun memeluk Alice.
"Terima kasih sudah membantuku seharian ini," bisiknya.
"Tidak perlu sungkan padaku, jika ada yang harus disalahkan di sini maka salahkan saja suamimu yang berwajah dingin itu karena telah memaksaku melakukannya," seloroh Alice.
Alicia tertawa kecil mendengar candaan dari sahabat suaminya itu, beberapa saat kemudian ia melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya pada Julian yang terus memperhatikan dirinya.
"Hmmm... Ternyata Bosku ini tidak ingin melewatkan pesta pernikahanku," celetuknya sambil tersenyum.
Mendengar hal itu Julian pun menundukkan wajahnya di hadapan Alicia dan menatap wanita yang disukainya itu yang tampil sangat cantik malam ini.
"Sejujurnya daripada pestamu, aku lebih memilih untuk tidak melepaskanmu," ucapnya setengah berbisik.
"Jangan katakan kalau Mr. Julian masih tertarik pada istriku!"
Sindiran bernada dingin itu membuat Julian mengangkat wajahnya, pria berwajah datar yang baru saja melontarkan ucapan dingin tersebut padanya sedang melangkah memasuki hotel dari pintu samping di mana acara Garden Party diadakan, dan Julian menyambut kehadiran Tuan Rumah itu dengan senyum di bibirnya.
"Haruskah selalu cemburu padaku? Sementara malam ini begitu banyak pria tampan di luar sana!" selorohnya, "Atau jangan-jangan kamu menganggapku sebagai saingan yang pantas untuk mendapatkan perhatianmu?!"
Sindiran itu membuat Leon melemparkan tatapan tajamnya pada Julian.
Alicia dan Alice menghela nafas melihat tingkah kedua pria di hadapannya saat ini.
"Sebaiknya tinggalkan saja mereka, lihatlah tamu-tamu telah berdatangan! Bagaimana jika kita menyapa para tamu terlebih dahulu?!" usul Alice sambil menarik tangan Alicia untuk menjauhi kedua pria ini yang tampak seperti sedang menghadapi peperangan batin.
__ADS_1
"Tapi..." Alicia melirik Leon dan Julian dengan wajah cemas.
"Jangan dipikirkan! Mereka tidak akan adu jotos di sini! Lagipula ada pria gila itu, dan aku tahu kalau kakakku tidak akan pernah mengambil resiko untuk memukul Leon di hadapan bawahan gilanya itu," bujuk Alice, ia menarik tangan Alicia memasuki taman samping hotel.
Sementara itu Julian yang merasa gusar dengan tingkah Leon terhadap dirinya akhirnya memberanikan diri untuk menegur Leon.
"Maaf telah melibatkanmu, aku melakukan semua ini untuk mengalihkan perhatian seseorang dari istriku," terang Leon sambil berbisik pada Julian.
"Alicia?? Apakah istrimu itu sedang terlibat sesuatu dengan seseorang yang sangat berbahaya?!" tanya Julian bingung.
"Orang itu mengincar istri dan putraku untuk menyakitiku, setidaknya itulah yang sedang kupikirkan saat ini."
"Siapa?! Maksudku siapa mereka yang telah membuatmu bekerja keras hingga meningkatkan keamanan pesta pernikahanmu seketat ini?! Aku lihat, kamu telah menempatkan beberapa bawahanmu di setiap sudut pintu masuk hotel, bahkan di lobby ini." Julian melirik ke beberapa sudut ruangan lobby.
"Kamu mengenal pria tua itu."
"Mendengar kamu menyebutnya sebagai pria tua sepertinya aku mengerti siapa orang itu, lalu inikah pilihanmu untuk menghadapinya? Dengan memanggil Anton kembali?!" tukas Julian, ia memperhatikan Anton yang sedang melangkah mendekati Alicia bersama Leonardo dan Biana.
"Jika yang harus dihadapinya hanyalah Marino dan beberapa bawahanmu yang telah berhianat padamu, maka aku tidak akan meragukan kemampuannya itu, tetapi jangan lupa! Pria gila itu memiliki musuh yang lebih berbahaya ketimbang Marino, bukankah karena ini kamu memintanya bersembunyi beberapa tahun yang lalu?! Dan bagaimana jika keberadaannya di sini telah diketahui orang itu?!"
"Haruskah aku takut padanya?!" Leon tertawa sinis.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu, tetapi pikirkan Alicia dan putramu itu! Jika terlalu dekat dengan Anton, istrimu dan putramu itu akan menjadi sasaran empuk! Pria yang kita bicarakan sekarang lebih gila daripada Anton, sadarlah!" protes Julian dengan wajah kesal.
Ucapan ini sedikit mengusik ego Leon, di sepertiga belahan Dunia ini ia tahu hampir semua orang merasa takut pada dirinya dan Anton, tetapi ia juga tidak lupa bagaimana kekejaman pria yang dibicarakan Julian ini, karena pria itu ia selalu menemukan Anton dalam keadaan sekarat.
__ADS_1
"Ijinkan aku melindunginya bersamamu!"
Permintaan Julian ini sontak membuat Leon berpaling.
"Jangan memberiku tatapan itu, aku melakukannya hanya untuk memastikan agar istrimu dan juga putramu itu selalu dalam keadaan baik-baik saja," timpal Julian, ia menghela nafas melihat kecemburuan Leon pada dirinya, "Aku bahkan belum merebut istrimu dan kamu telah mengancamku berkali-kali, dasar pria posesif!" rutuk hatinya.
"Kalau begitu, maaf aku merepotkanmu sekali lagi."
Julian hampir tidak mempercayai pendengarannya saat ini, seorang pria sekelas Leon rela menurunkan harga dirinya dan menerima bantuan darinya, semua itu demi Alicia dan putranya, hal ini membuat Julian mengalihkan pandangannya pada Alicia yang tampak tersenyum pada adiknya.
"Hanya seorang wanita luar biasa yang mampu menjinakkan seekor Raja Hutan di dalam kerajaannya sendiri! Dan dia... Memang seorang wanita yang pantas untuk diperjuangkan! Aku sama sekali tidak menyesal telah jatuh cinta padanya." Ia tersenyum tipis melihat senyum itu yang merekah seperti kelopak mawar yang sedang mekar.
"Wajahmu ini mengingatkanku pada sibodoh itu!"
Teguran Leon menyentakkan Julian dari kekagumannya.
"Mr. Leon Vald, tolong jangan samakan pria terhormat sepertiku dengan bawahan bodohmu itu!" cetus Julian, ia mengejar Leon yang telah melangkah meninggalkan dirinya.
"Ingatlah! Walau aku bersedia bekerja sama denganmu, tetapi tolong jauhi istriku! Wanita cantik itu milikku!"
"Hahaha... Demi seorang wanita akhirnya aku melihat sifat aslimu ini!" celetuk Julian sambil tertawa kecil.
Di hotel lain di waktu yang sama, Marino yang ingin membalas perbuatan Leon hari ini yang telah berani menyekap putrinya dilarang oleh seorang pria, pria tersebut walau telah berumur tapi gurat-gurat kekejaman yang selalu dilakukannya tampak di wajahnya yang sangar.
Dia adalah Dimitri, Bos Anton sebelum bertemu Leon, pria yang memiliki penyakit penyimpangan seksual ini selalu mengejar Anton karena telah menolak cintanya, prinsip dirinya adalah jika orang yang dicintainya tidak bisa dimiliki olehnya, maka tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya dalam arti lain ia akan membunuh setiap orang yang berani menolak cintanya tanpa terkecuali baik pria maupun wanita.
"Mr. Marino, seharusnya kamu tahu kalau menghadapi pria sekelas Leon Vald kamu tidak perlu terburu-buru, otak pria ini satu langkah lebih maju dan sulit ditebak, hari ini setelah berhasil mengurung putrimu ia tidak membunuhnya bahkan melepaskan putrimu dan semua suruhanmu begitu saja, bukankah ini taktik membuang ikan kecil demi mendapatkan yang lebih besar?!" ucap Dimitri sambil memainkan gelas wine di tangannya.
__ADS_1
"Jelaskan maksudmu!" sahut Marino kesal, sejujurnya ia tidak terlalu menyukai Dimitri, tetapi demi menghadapi seseorang seperti Leon Vald ia terpaksa harus menyetujui ajakan kerja sama yang ditawarkan Dimitri padanya.
"Apakah kamu pikir setelah melepaskan putrimu dan suruhanmu itu Leon akan duduk diam menikmati pesta pernikahannya?! Bahkan hari ini saja semua yang telah kamu kirim untuk mengganggu pernikahannya telah berhasil digagalkan oleh bawahan gilanya itu seorang diri, apakah kamu tahu seberapa gila Anton Grigori?! Aku mengenal pria itu dengan baik dan aku telah menerima pesannya!" Dimitri menggenggam erat gelas winenya hingga pecah, "Anton... Aku selalu mengingatmu!" bisiknya geram sambil menggertakkan giginya.