
Sudah lima hari Leon pergi dari kehidupan Alicia, membuat gadis kecil itu yang mulai masuk kuliah lagi terlihat lesu, selain meninggalkannya, bahkan Leon juga tidak bisa dihubungi olehnya, pria itu seperti menghilang ditelan bumi, hanya secarik kertas yang dititipkannya pada Checille yang membuat Alicia bertahan.
Bahkan hari ini, di dalam kelasnya, Alicia hanya tampak memandang secarik kertas tersebut.
"Dear Alicia... Tunggu aku! Aku akan segera kembali untukmu! Dengan cinta... Leon."
Alicia menghela nafas membaca catatan yang ditinggalkan Leon untuknya, sementara ketiga sahabatnya tidak ada satupun yang mampu menghiburnya dan menghilangkan kesedihan yang dirasakannya setelah ditinggal Leon.
"Leon... Kembalilah!" bisik hatinya lirih, setetes bulir bening tampak di sudut matanya, turun mengalir di wajahnya yang putih, jatuh menetes setelah sampai di dagunya yang runcing, membasahi kertas yang sedang digenggamnya erat.
Gwen, Josh dan Aaron yang melihat hal itu ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya itu.
Bukan hanya ketiga sahabatnya, bahkan Asisten sang ibu yang menjemputnya di kampus, tampak sedih melihat wajah Alicia yang selalu menunduk lesu.
"Alicia, bagaimana jika kita mampir makan sebelum kembali ke rumah?" bujuk Sharon.
Tetapi Alicia hanya menggeleng pelan.
"Bibi Sharon, sebaiknya kita pulang saja!" ucapnya pelan.
"Tetapi ibumu mengatakan hari ini ia belum mempersiapkan makanan apapun, begini saja... Kita beli take away bagaimana?"
"Terserah bibi saja!"
Setelah mendapat persetujuan Alicia, Sharon melarikan mobilnya ke sebuah Restoran Meksiko, kemudian memesan beberapa makanan kesukaan Alicia, dan mengantarkan gadis itu pulang.
Beberapa saat kemudian mobil pun berhenti di depan pagar rumah Alicia, Sharon memberikan kepada Alicia semua yang telah dibelinya sebelum gadis itu turun, ia juga terlihat turun mengantar Alicia hingga ke pintu rumah, sesekali melirik ke sebelah rumah Alicia di mana terlihat sedikit kesibukan di sana.
"Sepertinya tetangga barumu itu seorang pria kaya, dari kemarin bibi perhatikan barang yang dihantar ke rumah itu lumayan berkelas," celetuknya.
Alicia hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu sambil membuka pintu rumahnya.
"Alicia... Apakah itu tetangga barumu? Bibi baru melihatnya hari ini, dia sangat tampan!" sahut Sharon antusias, ia menunjuk ke depan pintu rumah sebelah.
Alicia mengangkat wajahnya dan melihat dengan malas.
__ADS_1
Seorang pemuda tampan dengan kaos dan jeans membalut tubuh kekarnya, tampak melambaikan tangan padanya.
"Halo tetangga!" sapa pemuda itu dengan senyum di bibirnya yang merah dan tipis.
Melihat hal itu, Alicia tersenyum sumringah, pria yang berada di sebelah rumahnya saat ini adalah pria yang sama yang telah membuatnya sedih selama beberapa hari ini.
"Leon!!" teriaknya, Alicia berlari cepat menghampiri Leon, menubruk tubuh kekar itu dan memeluknya erat.
"Sepertinya gadis kecil merindukanku," bisik Leon.
"Aku membencimu!" gumam Alicia lirih, bulir-bulir bening tampak turun di sudut matanya, bahunya terlihat naik turun diiringi isakan pelan yang sayup-sayup terdengar.
"Hei..." Leon mendorong bahu Alicia perlahan, ia mengangkat dagu gadis itu yang sedang menangis, "Ada apa?" tanyanya lembut, sambil menghapus air mata yang membasahi wajah cantik gadis di hadapannya itu dengan ibu jarinya.
"Leon jahat!! Aku membencimu!! Kamu menghilang berhari-hari tanpa kabar! Aku bahkan tak tahu kapan kamu akan kembali, hanya meninggalkan satu catatan jelek membuatku sangat kesal!" Alicia memukul dada Leon berkali-kali.
Leon menangkap tangan Alicia yang masih ingin memukulnya, ia menarik tubuh ramping itu kembali ke dalam pelukannya.
"Maaf... Aku tidak bermaksud meninggalkanmu! Tetapi aku sedang mempersiapkan kejutan ini untukmu! Aku berjanji padamu! Mulai hari ini, aku... Leon Vald akan selalu ada untukmu Alicia Stone Heart," bisik Leon sambil mencium kening Alicia, "Aku juga sangat merindukanmu beberapa hari ini," bisiknya lagi.
"Aku tidak berbohong padamu!"
"Sebelumnya juga Leon berjanji akan selalu ada untukku, tetapi kamu pergi menghilang begitu saja!"
"Bukankah sekarang aku telah kembali?"
Alicia mengangkat wajahnya mendengar ucapan Leon, ia menatap mata biru itu dan mencoba mencari kejujuran di sana.
"Ternyata pria ini yang telah membuatmu sedih berhari-hari?"
Suara Sharon yang berasal dari samping rumah membuat Alicia dan Leon berpaling, di samping pagar rumah yang membatasi rumah Alicia dan Leon, Sharon tampak berdiri sambil tersenyum.
"Bibi Sharon?? Maaf aku..." Alicia tampak merasa bersalah karena meninggalkan Asisten ibunya itu ketika melihat Leon, dan wanita paruh baya itu bahkan masih berdiri di teras rumahnya selama ia menangis di pelukan Leon.
"Sudahlah... Tidak perlu khawatir! Sekarang bibi lebih tenang untuk meninggalkanmu, karena pria itu akan memastikanmu untuk makan menggantikan bibi!" tukas Sharon.
__ADS_1
"Masalah itu... Tenang saja! Aku akan membuatnya makan yang banyak!" seloroh Leon.
"Kamu memang harus membujuknya untuk makan! Karena kamu yang telah membuatnya kehilangan nafsu makannya selama beberapa hari ini," lontar Sharon, "Oh ya Alicia, bibi sudah terlambat! Jaga dirimu!" ia melambaikan tangannya pada Alicia dan Leon sambil melangkah ke mobil.
Tak lama setelah Sharon pergi, Leon mengajak Alicia masuk ke dalam rumah yang telah dibeli olehnya dan direnovasinya selama 4 hari ini, walaupun memiliki model yang sama persis dengan rumah Alicia, tetapi Leon telah mengubah warna dindingnya dengan menempelkan walpaper mewah di setiap dinding, sofa ruang tamu yang lebar dan empuk, juga dapur mewah yang dilengkapi dengan bar mini.
"Kamu telah menyulap sebuah rumah sederhana menjadi Istana kecil," ucap Alicia dengan penuh kekaguman, "Ternyata pria aneh yang telah berhasil mengusir Nyonya Leah itu adalah dirimu!"
Leon tertawa kecil mendengar tuduhan yang dilontarkan Alicia padanya.
"Kamu salah! Aku sama sekali tidak mengusirnya! Tetapi aku membujuknya baik-baik agar ia mau menyerahkan rumahnya padaku, karena budgetku sedikit aku hanya bisa membeli rumah ini untukku," paparnya menjelaskan, ia memeluk Alicia dari belakang ketika melihat gadis itu tersenyum memperhatikan isi rumahnya, "Kamu suka?" tanyanya.
Alicia mengangguk pelan.
"Suka sekali," gumamnya.
"Kalau begitu, tinggallah di sini bersamaku!"
"Eh?? Mengapa aku harus tinggal bersamamu? Bukankah rumahku berada di sebelah?!" tanya Alicia bingung.
"Karena aku ingin selalu tidur bersamamu!"
Wajah Alicia spontan bersemu merah mendengar ucapan Leon yang diucapkannya sambil berbisik itu.
"Tetapi... Bukankah kamu bisa ke kamarku dengan mudah?" tukas Alicia canggung.
"Sekarang aku tidak bisa melakukannya!" sungut Leon, "Karena aku telah berjanji pada ayahmu untuk pergi dari rumahmu, karena itu aku tidak bisa kembali ke sana dengan mudah!" bisik hatinya, "Bukankah sekarang aku adalah tetanggamu? Aku berada di luar rumahmu, karena itu aku tidak bisa menyelinap ke dalam kamarmu!"
"Jika hanya itu masalahnya, tenang saja! Kamu tidak perlu khawatir, kamu hanya perlu menungguku, dan aku akan mengetuk pintumu setiap malam! Bagaimana?"
Usulan nakal Alicia membuat Leon tersenyum tipis.
"Gadis kecil, kamu nakal sekali! Siapa yang telah mengajarimu hal ini?!"
"Mr. Leon Vald yang telah mengajariku dengan baik!"
__ADS_1
Leon dan Alicia pun tertawa bersama.