
BRAK!!!
Pintu kamar hotel yang di tempati oleh Julian ditendang seseorang dengan keras hingga terbuka.
Julian yang telah berpakaian rapi dan sedikit mabuk hampir terlonjak dari sofa mendengar suara dobrakan tersebut.
"Tolong hargai aku! Sekarang kepalaku sedang sakit sekali, tidak bisakah datang dengan baik dan memencet bel terlebih dahulu?!" protesnya pada pria yang telah mendobrak pintu kamarnya, sambil memijat pelipisnya.
"Bagaimana dia?! Apa yang telah dilakukan Dimitri padanya?!" tanya Leon, tanpa mengacuhkan ucapan Julian, ia bergegas menghampiri istrinya yang masih tertidur di atas ranjang hotel dengan wajah cemas, tadi... Sesaat setelah menerima telpon dari Julian, ia langsung melarikan mobilnya seperti kesetanan karena mendengar suara Julian yang terdengar sedikit mabuk ketika menghubunginya, ia takut pria muda ini tidak bisa mengontrol dirinya.
"Tampaknya ia mendapatkan pukulan dan telah diberi obat bius, menurutku... Itu diberikan padanya lewat minuman karena aku sudah memeriksa tubuhnya, tidak ada bekas suntikan di sana!" sahut Julian, "Dan juga... Aku telah menggantikan pakaiannya untukmu, aku pikir kamu tidak akan mau melihat pakaian apa yang telah dikenakannya ketika ia dihantarkan padaku tadi!"
"Memeriksa tubuhnya?! Menggantikan pakaiannya?!" Leon melemparkan tatapan tajamnya pada Julian.
"Jangan salah paham! Aku hanya memeriksa pundaknya juga lengannya, dan aku menutup kedua mataku ini saat menggantikan pakaiannya tadi!" Julian menggelengkan kepalanya melihat tatapan cemburu yang di berikan Leon pada dirinya.
Bagaimana mungkin dalam kondisi tadi aku berani menatapnya terlalu lama? Bahkan hanya melihatnya sebentar saja sudah membuatku hampir tidak bisa menahan keinginanku untuk menyentuhnya, jika ada hal salah yang kulakukan malam ini... Itu hanya sebuah kecupan kecil di keningnya.
Ia menghela nafas, sebenarnya beberapa saat yang lalu ia hampir saja tergoda ketika melihat Alicia berada di atas ranjangnya, tetapi kesadarannya kembali ketika melihat wajah polos itu yang tampak tenang dalam tidurnya dan Julian sama sekali tidak ingin wanita ini membencinya hanya karena nafsu sesaatnya, karena itu ia hanya memberikan sebuah kecupan kecil di kening Alicia untuk meredakan semua gairahnya.
"Lalu bagaimana sandiwaramu malam ini?!" tanya Leon lagi, ia sedikit lega melihat raut kecewa yang diperlihatkan Julian padanya, itu artinya pria ini sama sekali tidak menyentuh istrinya.
"Aku harus menghabiskan sebotol wine untuk menipu bawahan Dimitri yang mengantar istrimu ke sini!" jawab Julian kesal, "Dan Dimitri..." Ia tertawa sinis, "Pria itu tidak sepintar dugaanku, aku hanya sedikit memprovokasinya dan dia dengan senang hati mengirim istrimu itu ke ranjangku!"
"Katakan itu sekali lagi maka aku akan merobek mulutmu!" sungut Leon dengan wajah yang dipenuhi dengan kecemburuan.
__ADS_1
"Hahaha..." Julian tertawa canggung, di hadapan kecemburuan pria arogan ini ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, "Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan sambil memperhatikan Leon yang sudah kembali menatap Alicia.
"Anton sedang mengurusnya! Oh ya, tolong katakan pada Alice, terima kasih karena telah bersedia menjaga Leonardo hari ini!"
"Masalah Leonardo tidak perlu dipikirkan! Tetapi rencanamu hari ini cukup lumayan dengan membuat Dimitri dan Marino itu saling bertentangan! Aku lihat Dimitri tadi agak sedikit kesal pada pria tua itu!"
"Semua berjalan lancar berkat bantuanmu, maaf karena telah merusak Klub milikmu, tetapi jangan khawatir, karena Vald Corporation akan mengganti semua kerugianmu malam ini!"
"Tenang saja, itu hanya sebuah Klub!" Julian tertawa kecil, "Tetapi jika dilihat dari keseluruhan rencanamu ini dan biaya yang akan dikeluarkan dalam melakukannya, sepertinya kamu berniat melakukan perang secara besar-besaran terhadap Dimitri, apa itu artinya..."
"Aku akan mengirimnya juga semua bawahannya ke Neraka!" dengus Leon.
"Sudah kuduga." Julian bangkit dari duduknya, "Baiklah... Aku akan pulang sekarang, tetapi sebelum itu... Tolong bersihkan jalanku dari bawahan pria tua itu!" cetusnya.
Julian kembali tertawa canggung mendengar sindiran Leon pada dirinya.
"Aku bisa menerima jika kamu tidak ingin memberikan istrimu padaku, tetapi Dimitri?? Ayolah..." Ia bergidik, "Hei Mr. Leon Vald, sebaiknya jaga istrimu dengan baik, jika aku menemukannya terluka satu kali lagi karenamu... Percayalah, aku akan membawanya pergi dari sisimu!"
"Maaf aku tidak akan memberikan kesempatan itu padamu!" lontar Leon dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya, ia menyentuh wajah Alicia dengan lembut dan merasa sangat marah karena melihat wajah istrinya itu sedikit bengkak seperti habis terkena pukulan, "Dimitriiii!!!" bisik hatinya geram, bahkan kemarahannya itu membuatnya tidak mendengar saat Julian berpamitan padanya.
Melihat rahang pria yang berdiri tak jauh darinya itu mengeras saat memperhatikan Alicia, Julian pun tidak ingin mengganggunya, bukan hanya Leon yang marah saat melihat bekas tamparan itu, bahkan Julian tadi sedikit terbakar emosi saat melihatnya, karena itu ia sangat mengerti apa yang dirasakan Leon saat ini.
***
Paris pukul 4 pagi, di saat-saat seperti ini biasanya sebagian besar penduduk negara lain telah berada di kasur empuknya sambil menikmati mimpi yang hampir usai, tapi berbeda dengan penduduk Paris, sebagai kota yang mendapatkan julukan Kota Cahaya, Paris justru tampak hidup di malam hari, setelah padamnya lampu indah di Menara Eiffel yang tampak seperti buih sampagne di dalam gelas, keindahan kota ini masih terus berlanjut hingga jam 5 pagi, karena itu masyarakat Paris sangat senang menikmati keindahan malam kota ini.
__ADS_1
Tetapi keadaan tersebut berbanding terbalik dengan keadaan seluruh penghuni di sebuah rumah mewah, bukan hanya tidak menikmati keindahan malam Kota Cahaya ini, bahkan puluhan pria muda yang berada di rumah ini harus menelan pahitnya hukuman yang diberikan oleh Dimitri ketika ia mengetahui bahwa kedua orang tua Alicia yang berada dalam pengawasan para bawahan terlatihnya itu telah menghilang.
"Lev, hubungi Julian! Seharusnya saat ini ia telah menyelesaikan permainannya dengan wanita itu, walau aku tahu ia ingin mempermainkanku, tetapi ia tidak mungkin bisa menahan godaan dari hadiah yang telah kukirimkan untuknya bukan? Katakan pada Julian kalau aku membutuhkan bantuannya pagi ini!" perintah Dimitri pada Lev yang masih berlutut di hadapannya.
Satu jam yang lalu saat mengetahui kedua orang tua Alicia telah menghilang dari pengawasan bawahannya, Dimitri telah membuat semua bawahannya ini berlutut di hadapannya, tidak hanya itu... Bahkan hukuman cambuk diberikannya kepada para pria muda ini, termasuk Lev.
"Baik Bos." Lev bangkit sambil meringis, ia merasakan sebagian tubuhnya terasa perih bekas cambukan tersebut, tetapi karena tidak ingin mendapatkan hukuman lagi dari Dimitri, ia pun bergegas menghubungi Julian.
Sudah beberapa kali ia memencet nomor ini di ponsel miliknya tetapi nomor yang ia hubungi sama sekali tidak tersambung, bahkan ia mencoba memeriksa nomor tersebut untuk memastikan bahwa tujuannya tidak salah dan lagi-lagi hanya ucapan tujuan anda salah silakan mencoba kembali yang selalu ia dapatkan.
"Ada apa?!" tanya Dimitri dingin ketika melihat kegusaran di wajah bawahan terpercayanya itu.
"Sepertinya kita telah dipermainkan oleh Julian, Bos!" sahut Lev takut-takut.
"Apa?!!!"
Mendengar hal itu, Dimitri pun melampiaskan kemarahannya dengan kembali mencambuk bawahannya.
"Jangan diteruskan!! Sungguh disayangkan jika darah segar itu terbuang percuma!" celetuk seseorang ketika Dimitri ingin mengangkat cambuknya kembali.
Suara yang berasal dari seorang pria ini terdengar sangat dingin, begitu juga aura yang dibawa oleh pria tersebut, selangkah demi selangkah pria itu seakan-akan membuat rumah mewah ini membeku dengan kehadirannya.
Victor??
Dimitri menatap tajam pada pria ini yang melangkah mendekati dirinya.
__ADS_1