
Dini hari, dengan hanya membawa barang sekedarnya dan menggendong putranya yang masih mengantuk, Alicia memesan sebuah kamar di hotel yang tidak akan dicari oleh Leon, setidaknya itulah yang dipikirkannya saat ini, karena selama 6 tahun ini menghindari Leon ia pun perlahan belajar mencari tempat bersembunyi yang tidak akan disadari oleh kekasihnya itu.
Malam ini ia menggendong putranya dengan berpenampilan wanita, karena penampilannya sebagai pria telah diketahui oleh Leon, sehingga ia terpaksa kembali dalam penampilan yang biasa ia pergunakan sehari-hari, sebuah jeans dan kemeja menutupi tubuhnya, topi pet menyembunyikan rambut panjangnya, dan kacamata hitam berlensa medium membuat wajah kecilnya itu hanya tinggal terlihat puncak hidung dan bibirnya saja.
Dan bukan hanya menutupi penampilannya, Alicia bahkan selalu membelikan piyama berbentuk binatang untuk buah hatinya, awalnya putranya itu menolak memakai piyama tersebut tetapi setelah berkali-kali harus kabur di malam hari dan sangat sulit untuk berganti pakaian, akhirnya Leonardo kecil menyetujui keinginan sang ibu, seperti malam ini... Ia memakai sebuah piyama berbentuk dinosaurus kecil yang memiliki hodie berbentuk kepala dinosaurus untuk menutupi kepala dan wajahnya.
Dengan ditemani oleh Biana, akhirnya Alicia berhasil sampai di dalam kamar hotel tanpa mendapat gangguan sama sekali.
"Sebaiknya malam ini kakak istirahat dulu, besok pagi aku akan membawakan sarapan pagi untuk kakak dan Leonardo!" ucap Biana sambil menyimpan tas yang dibawa Alicia ke dalam lemari hotel.
"Kamu tidak tidur di sini?! Sudah terlalu larut untuk pulang, apalagi kamu seorang gadis kecil!"
Biana hanya tersenyum mendengar ucapan Alicia yang terdengar mencemaskan dirinya.
"Kakak jangan khawatir, aku bukanlah gadis yang cantik! Tidak ada seorangpun yang bersedia menyentuhku."
"Walau begitu kamu tetap seorang gadis! Jika pagi ini tidak ada jadwal kuliah, bukankah lebih baik tidur saja dulu di sini, kamu bisa tidur bersama Leonardo di ranjang, aku akan tidur di sofa itu!" Alicia menunjuk sebuah sofa panjang yang menempel di dinding di bawah jendela kaca, "Lagipula... Malam ini mungkin aku tidak bisa tidur dan ingin berjalan-jalan sebentar di taman bawah," tambahnya lagi, sebenarnya ini hanyalah alasannya saja karena ia benar-benar tidak ingin Biana berkeliaran di luar sana seorang diri, apalagi rumah Biana cukup jauh dari hotel ini, dan sesuai pengalamannya... Sebagai Petugas Keamanan yang pernah mendapatkan shift sore dan harus pulang dini hari, pada jam-jam segini biasanya jalanan lebih sering dipenuhi oleh para preman yang suka mengganggu pekerja yang lembur hingga larut malam.
"Baik kakak... Sekarang kakak bisa berjalan-jalan di taman, aku akan tinggal untuk menjaga Leonardo!" tukas Biana kembali tersenyum.
Alicia mengangguk pelan mendengar jawaban Biana dan melirik buah hatinya yang sudah kembali tertidur setelah menahan kantuk selama di taksi.
"Istirahatlah segera! Aku akan membeli beberapa cemilan untukmu dan Leonardo nanti," lontarnya sambil melangkah ke pintu, tanpa menunggu jawaban Biana ia pun pergi meninggalkan kamar.
Biana hanya menghela nafas melihat apa yang telah dilakukannya.
__ADS_1
***
Taman hotel pukul 2 pagi, sudah hampir 1 jam Alicia melamun di taman yang terlihat sangat indah ini, karena aneka bunga berwarna-warni tampak sengaja dirawat dengan baik di taman ini, sebuah gazebo berwarna putih gading di mana Alicia duduk saat ini terletak di salah satu sudut taman, tiang-tiang gazebo tersebut dihiasi dengan tanaman menjalar yang memiliki bunga mungil berwarna pink.
Di tengah keasikannya menikmati cahaya bulan yang berbentuk sabit malam ini, suara dua orang pria yang tampak ingin melangkah memasuki taman mengejutkan dirinya, salah seorang dari kedua pria tersebut terlihat sangat mabuk.
"Bukankah sudah kukatakan tadi jangan minum terlalu banyak?! Jika tidak bisa menemukannya malam ini kita bisa menemukannya besok! Lihat sekarang! Kamu bahkan menerima secangkir wine dari wanita yang tidak dikenal dan mengalami hal ini!!" bentak pria yang menemani pria mabuk tersebut.
"Dr. Mark?!" Alicia meninggalkan gazebo ketika mendengar suara pria itu, dan perlahan mengendap-endap mendekati kedua pria tersebut, ia memperhatikan kedua pria itu dari balik satu-satunya pohon besar yang berada di taman ini, "Leon?? Apakah mereka menginap di sini?!" bisiknya dalam hati ketika mengetahui siapa kedua pria tersebut.
"Sekarang apa yang harus kulakukan padamu?! Di mana aku harus mencari kekasihmu itu agar menyembuhkan kegilaanmu ini?!!" lagi-lagi terdengar suara bentakan dari Dr. Mark, ia tampak mendengus kesal di hadapan Leon yang membuka paksa dasinya dan membuangnya begitu saja, wajah Leon terlihat memerah dan butiran keringat sebesar biji jagung terus-menerus turun dan membasahi wajahnya.
Melihat hal itu, Alicia menyadari bahwa kekasihnya itu telah diberi sejenis obat perangsang oleh seseorang di dalam minumannya, karena ia sendiri pernah mengalaminya tetapi tidak separah ini karena efek serum di dalam tubuhnya menetralkan pengaruh obat tersebut ketika ia mengalami ledakan emosi.
"Drakula bodoh ini... Mengapa aku harus bertemu dirinya dalam kondisi ini?!!" rutuk hatinya, Alicia bermaksud ingin membantu kekasihnya itu, baru saja ia ingin keluar dari persembunyiannya, di saat yang sama ia melihat seorang wanita melangkah mendekati Dr. Mark dan Leon, "Caitlin??" ia kembali bersembunyi di balik pohon.
Dr. Mark melemparkan tatapan jijik pada Caitlin yang tampak berusaha menggoda sahabatnya, karena ia memiliki sedikit phobia pada wanita-wanita genit.
"Pergilah! Jangan mengganggunya!!" teriaknya kesal.
Tanpa mengindahkan ucapan Dr. Mark, Caitlin justru semakin mendekati Leon.
"Aku lihat telah terjadi sesuatu pada Mr. Leon dan aku bisa membantunya!" bujuk Caitlin.
"Tidak per..."
__ADS_1
"Serahkan dia padaku! Aku seorang dokter."
Suara teriakan dari arah taman dan menyela ucapannya itu membuat Dr. Mark berpaling, tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita ramping dengan rambut panjangnya yang tergerai lepas dan memakai kacamata hitam tengah melangkah ke arahnya, wanita itu menyeruak bunga berwarna-warni yang berada di taman tersebut dan tampak seperti seorang malaikat dengan wajah dinginnya.
Sementara Dr. Mark terpesona dengan kehadiran Alicia yang cemburu melihat Caitlin menggoda kekasih tampannya, di sisi lain... Caitlin tampak menatap Alicia dengan tajam.
"Dokter?? Aku pikir Mr. Leon tidak membutuhkan seorang Dokter," sindirnya.
"Aku membutuhkannya!!" desis Leon, ia menunduk sambil menyentuh dadanya yang berdebar kencang, apapun yang dirasakannya saat ini membuatnya sangat tidak nyaman, tetapi ia tidak rela dirinya jatuh ke pelukan wanita yang tidak disukainya.
"Tetapi wanita ini bisa saja hanya Dokter gadungan!" protes Caitlin.
"Aku percaya padanya!! Dan siapa dirimu yang ingin mengaturku?!!" bentak Leon dingin, keringat semakin membasahi wajahnya dan ia tahu ia tidak akan bisa menahan hal ini lebih lama lagi.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Dr. Mark tersentak dari kekagumannya, seraut senyum tampak di bibirnya.
"Sahabatku ini beruntung sekali!" bisiknya, tanpa berpikir panjang ia mengusir Caitlin dari hadapannya dan meminta wanita ramping yang telah berdiri di hadapannya saat ini untuk membawa sahabatnya itu sambil menyerahkan kunci kamarnya, "Aku titipkan sahabat baikku padamu! Tolong Nona Dokter merawatnya dengan baik," selorohnya.
Alicia mengangguk, ia menarik Leon dan memapah kekasihnya itu yang sudah terlihat sangat lemas.
"Tenang saja, dia aman bersamaku! Tetapi tolong hapus senyum jelekmu itu, karena aku benar-benar hanya ingin membantunya!" ketus Alicia sambil membawa Leon.
Dr. Mark tertegun mendengar ucapan wanita yang sedang bersama sahabatnya itu.
__ADS_1
"Haizzz... Mengapa sifat wanita ini sangat mirip dengan Leon?!" sungutnya dalam hati.