
Paris dua hari kemudian, seorang wanita muda berpakaian kasual bersama putranya tampak meninggalkan sebuah toko pakaian, ia memakai topi untuk menyembunyikan rambut panjangnya, bahkan sebuah kaca mata hitam juga terlihat bertengger di hidungnya yang mancung dan ramping.
Bukan hanya itu saja, bocah lelaki kecil yang bersamanya juga tampak menutupi wajahnya dengan hodie yang dikenakannya.
"Ibu... Mengapa ibu menerima pekerjaan sebagai keamanan lagi?! Apakah ibu tidak lelah melakukan hal itu?!" protes sang bocah pada wanita yang sedang menggendongnya itu.
Alicia Stone Heart sang ibu, hanya tersenyum mendengar protes dari mulut kecil putranya.
"Tanpa ijazah hanya pekerjaan ini yang bisa ibu dapatkan, dan apakah putra ibu ini sudah lupa kalau ibumu ini tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya? Bukankah ibu telah mengatakan hal ini berulang kali padamu?" ucapnya lembut.
"Tetapi aku tidak suka ibu menerima pekerjaan ini, aku pikir pekerjaan ini terlalu berbahaya untuk ibu!" sungut sang bocah sambil melipat kedua tangannya di dada.
Sejak ia mengerti tentang hidup, Leonardo sang bocah kecil ini telah menjalani hidup yang keras bersama ibunya, selain berpindah tempat sang ibu yang selalu meninggalkan dirinya di rumah bersama seorang pengasuh, selalu terlihat kusam ketika kembali ke rumah.
Tubuh ibunya yang wangi saat pergi, selalu tercium bau matahari ketika ibunya itu kembali, bahkan pakaian yang dikenakan oleh ibunya seringkali terlihat sangat kotor oleh debu bangunan.
Ia tahu dengan baik apa yang dikerjakan oleh ibunya ini demi menghidupi dirinya, siang hari sang ibu bekerja sebagai kuli bangunan, dan malam hari ia akan bertugas sebagai keamanan di sebuah perusahaan.
Setiap harinya ibunya ini hanya tidur selama dua jam saja, itu telah berlangsung lama sekali, dan Leonardo sangat mencemaskan kesehatan dan keselamatan ibunya ini.
"Alangkah baiknya jika kita bisa menemui ayah," gumamnya pelan.
Alicia menghentikan langkahnya.
"Apakah putra kecil ibu sedang meragukan kemampuan ibu untuk menghidupimu?" tanyanya sambil menatap putranya.
"Aku tidak meragukan ibu, tetapi aku mencemaskan keselamatan ibu!" tukas Leonardo.
Alicia tertawa kecil mendengar ucapan buah hatinya itu.
"Ibu sangat senang kamu mencemaskan ibu, tetapi percayalah! Ibumu ini bukanlah seorang wanita yang mudah dijatuhkan!" ia mencubit hidung mungil putranya, tetapi putranya itu tampak diam terpaku, pandangannya lurus ke samping kanan tubuhnya dengan wajah yang terlihat takut, "Leonardo?? Ada apa?! Jangan menakuti ibu!" sahut Alicia khawatir, karena ia tahu jika putranya itu menunjukkan wajah yang lebih takut lagi maka putranya itu akan berubah, dan saat ini ia bersama putranya sedang berada di tengah keramaian.
"I... Ibu, ada sebuah mobil yang melaju ke arah nenek itu!" tunjuk Leonardo ke tengah jalan.
Mendengar hal itu, Alicia dengan cepat berpaling, ia melihat seorang wanita tua sedang terjebak di penyebrangan di saat lampu lalu lintas telah berganti hijau, dan sebuah mobil tampak melaju ke arah wanita tua itu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang ia menurunkan putranya dan menjatuhkan paperback yang dibawanya, lalu berlari menghampiri wanita tua tersebut, dengan gerakan spontan ia menahan mobil yang hampir menyentuh wanita tua itu, apa yang dilakukannya membuat bagian belakang mobil yang terhenti mendadak terangkat naik, bahkan mobil-mobil yang berada di belakangnya tampak buru-buru berhenti melihat hal itu.
Setelah melepaskan tangannya dari mobil tersebut, Alicia segera membantu wanita tua itu untuk menyebrang jalan, teriakan kemarahan terdengar dari beberapa pengemudi yang terpaksa menghentikan mobilnya, tetapi para pengemudi yang menyaksikan apa yang telah dilakukannya tersebut tampak melihat kepergiannya dengan wajah bingung.
Sementara itu, Leonardo kecil berlari menghampiri sebuah mobil yang berhenti dalam posisi miring di samping trotoar tak jauh dari tempat ia berdiri, mobil itu hampir menabrak tiang lampu jalanan.
"Paman... Apakah paman baik-baik saja?" tanyanya khawatir pada pengemudi mobil mewah tersebut yang tampak pucat pasi.
Sang pengemudi yang tak lain adalah Dr. Mark, menatap bocah kecil yang berdiri di samping kaca mobilnya itu.
"Hei bocah, apa yang terjadi di depan?!" lontarnya gusar.
Leonardo mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Maafkan ibuku paman, ibu tidak sengaja menghentikan perjalanan paman!" ucapnya sopan.
"Bocah ini..." Dr. Mark tertegun melihat mata biru Leonardo yang sedang menatapnya, "Mengapa matanya terlihat familiar?" bisik hatinya.
Sebuah teriakan membuat Leonardo berpaling, hanya sesaat ia kembali melihat Dr. Mark.
"Sepertinya paman baik-baik saja, kalau begitu... Aku pamit dulu paman, ibu sudah memanggilku!" tukasnya sambil menundukkan kepalanya.
Baru saja Dr. Mark ingin menjawab ucapan bocah kecil itu, tetapi sang bocah telah berlari meninggalkan dirinya.
"Bocah yang sopan, ibunya telah mendidik bocah itu dengan baik," gumamnya sambil tersenyum, "Tetapi mata miliknya itu mirip dengan seseorang yang sangat aku kenal, siapa ya?"
Di tengah-tengah kebingungan Dr. Mark, Leon yang sedari tadi tidur di kursi belakang membuka matanya.
"Mengapa berhenti?!" tanyanya dingin sambil menatap sahabatnya itu dari kaca mobil.
"Sesuatu terjadi di depan sana! Jika aku tidak berhenti aku pasti akan menabrak mobil itu!" jawab Dr. Mark, ia menunjuk sebuah mobil yang berada di depan mobilnya, "Tetapi... Aku bertemu dengan seorang bocah lelaki kecil yang sangat menarik!" Dr. Mark tertawa sumringah.
"Menarik??"
__ADS_1
"Benar, mata bocah itu tampak seperti seseorang yang sangat aku kenal tetapi aku lu..." Kata-kata Dr. Mark terhenti ketika melihat wajah Leon dari kaca mobil, dengan penasaran ia membalikkan tubuhnya dan menatap Leon dengan lebih seksama.
Mata biru Leon yang jernih membuatnya kembali tertegun.
"Mata bocah kecil itu... Mirip denganmu!" ucapnya pelan.
Leon tersentak mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kira-kira berapa umur bocah itu?!" tanyanya curiga.
"Dia terlihat sangat kecil, menurutku... Mungkin sekitar 5 atau 6 tahunan."
Jawaban Dr. Mark membuat Leon keluar dari mobilnya dengan cepat.
"Ke mana bocah itu pergi?!!" teriaknya.
"Aku mendengar seorang wanita berteriak memanggil namanya, dan bocah itu pergi ke arah sana!" tunjuk Dr. Mark.
Tanpa menunggu lagi, Leon berlari ke arah trotoar yang ditunjuk oleh sahabatnya itu.
"Hei hei Leon, tunggu aku!!" Dr. Mark keluar dari mobil dan mengejar sahabatnya itu.
Kedua pria ini menyusuri trotoar dengan tergesa-gesa, tetapi yang mereka cari tidak kunjung ditemukan.
Dalam keputus asaannya Leon mencoba memasuki setiap toko yang berada di sekitar tempat tersebut, bahkan ia bertanya kepada setiap Pemilik toko apakah pernah melihat seorang bocah lelaki yang memiliki mata biru seperti miliknya.
Dan akhirnya ia mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari seorang Pemilik toko pakaian, bahwa Pemilik toko tersebut melihat bocah lelaki itu, ia mengingatnya karena bocah lelaki kecil itu sangat tampan dan memiliki mata biru yang jernih, dan ibu sang bocah kecil itu baru saja membeli beberapa lembar pakaian di toko miliknya.
"Maksud bos bocah lelaki yang memakai hodie itu?!" Pelayan toko menyela ucapan majikannya yang sedang berbicara dengan Leon.
Pemilik toko mengangguk mengiyakan.
"Bukankah ibu bocah itu yang baru saja menghentikan sebuah mobil dengan tangannya di jalan tadi? Aku sempat melihatnya ketika akan membuang sampah bos! Wanita itu hebat sekali!!" puji sang Pelayan.
Penjelasan Pelayan toko membuat Leon semakin yakin bahwa bocah kecil itu kemungkinan adalah anak Alicia, karena ia tahu hanya ada satu wanita yang mampu mengangkat sebuah mobil, apalagi hanya menahannya.
__ADS_1
"Itu artinya Alicia telah kembali ke Paris?" bisik Leon dalam hati.