STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.

STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.
DIA PANTAS BAHAGIA.


__ADS_3

Siang ini setelah mandi dan makan bersama Leon di dalam kamar, Alicia pun kembali duduk melamun di sofa sambil menunggu Leon yang telah berjanji padanya akan membawa putranya pulang untuk menemui dirinya.


Rambut hitam panjang yang terurai lepas tersebar di sandaran sofa saat ia menyandarkan kepalanya, mata bulatnya yang berwarna abu-abu terang nanar menatap bangunan-bangunan indah di luar balkon, ia mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya matahari yang menyilaukan dan jatuh tepat di wajahnya.


Kehidupan yang ia rasakan saat ini familiar dengan yang pernah ia jalani dulu ketika menutup diri selama 11 tahun, selalu berada di rumah, tanpa teman, tiada siapapun, Alicia meringkuk memeluk kedua kakinya, kesepian ini membuatnya takut, perasaan ini seperti menyergapnya dan menguncinya di dalam peti besi, dingin dan gelap, hanya bisa menunggu seseorang datang untuk menemukan dirinya.


Apakah kehidupan seperti ini yang aku inginkan? Tidak bisakah aku menjadi orang biasa saja yang menjalani hidupnya dengan normal?


Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, Alicia melakukan hal ini berkali-kali untuk mengusir rasa sepi yang ia rasakan, sejenak ia berhenti dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, kamar berdesign indah dengan perabotan mewahnya ini tidak membuatnya tertarik, karena hanya dirinya yang berada di dalam kamar ini seorang diri seperti seekor kenari yang terkurung di dalam sangkar emas.


Aku sangat merindukan saat-saat kuliahku, aku merindukan teman-temanku juga ayah dan ibuku, kapan aku bisa bertemu lagi dengan mereka?


Kenangan tentang masa kuliahnya yang menyenangkan bersama Josh, Aaron dan Gwen bermain-main di dalam benaknya.


Terlalu menyakitkan untuk mengingatnya!


Ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.


Sebuah bayangan buram menyeruak saat ia menutup matanya.


"Leon??" bisiknya lirih, wajah Leon yang marah pagi ini mengganggu pikirannya.



Ke mana hilangnya pria lembut yang selalu menggodaku itu? Dia yang sekarang tampak berbeda dengan Leon yang kukenal dulu?


TITT!!


Suara kunci otomatis yang terbuka membuat Alicia mengangkat wajahnya.


"Ibu??"


Wajah mungil yang sangat dirindukannya itu tampak setelah pintu terbuka, langkah-langkah kecil berlari masuk menghampiri dirinya, melihat kehadiran putranya itu Alicia beranjak dengan cepat.


"Leonardo."


Ia memeluk tubuh mungil itu yang menubruk dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar putra kecil ibu ini?"


Pertanyaan ini sangat sederhana tetapi terdengar lirih di telinga Leonardo kecil, hal ini membuatnya melepaskan pelukannya dan menatap ibunya yang sedang berjongkok di hadapannya.


"Ada apa ibu? Mengapa suara ibu terdengar sangat sedih? Apakah ayah telah berbuat jahat pada ibu?!" tanyanya sambil menyentuh wajah ibunya.


"Jangan sembarangan bicara!"


Sebuah pukulan lembut mendarat di kepala Leonardo kecil.


"Ayah?!!" Ia berpaling dan menatap ayahnya yang telah berdiri di belakangnya dengan wajah cemberut, "Ibu sangat sedih sekarang, ini pasti ulah ayah!!"


"Bocah ini..."


"Hei Bos tenanglah!"


Suara yang terdengar familiar ini membuat Alicia menengadah menatap pria yang berdiri di samping Leon.


"Anton??"


"Nyonya!!"


"Sukurlah..." Ia bangkit berdiri dan menubruk Leon, "Terima kasih," ucapnya pelan.


Sebenarnya ucapan ini membuat Leon merasa sedikit cemburu, tetapi wajah Alicia yang terlihat sedih dan kesepian membuatnya menyadari satu hal, istrinya ini telah menganggap Anton sebagai sahabatnya karena itu ia mencemaskannya juga memperhatikan Anton, dan perhatian istrinya yang besar pada sahabat-sahabatnya inilah dulu yang membuat dirinya dan Alicia menjadi sangat dekat.


Ternyata aku telah salah menilainya, dia hanya ingin menghargai setiap orang yang selalu berada di sisinya.


Leon menatap Alicia dengan lembut.


"Seperti janjiku padamu, aku telah membawa sahabatmu ini kembali," bisiknya.


Alicia tertawa kecil dan mengangguk pelan di pelukan Leon.


"Maaf telah membuatmu cemas!" gumamnya dengan suara kecil.


Leon tertegun mendengar ucapan istrinya yang keras kepala ini, tetapi sesaat kemudian seraut senyum terbit di bibir merahnya.

__ADS_1


"Hanya itu? Tidak merindukanku?" candanya.


Alicia mengangkat wajahnya dan menatap mata biru jernih yang mengerling nakal padanya.


"Hei Mr. Leon Vald, aku kesepian tanpamu!"


Kata-kata ini membuat Leon kembali tertegun, semburat rona merah tampak di wajahnya yang pucat.


"Haizzz... Wanita ini sangat pintar mempermainkan perasaanku!" rutuknya dalam hati.


"Sepertinya ayah dan ibu tidak membutuhkanku! Aku juga memerlukan seorang teman, jika ayah dan ibu tidak bisa menemaniku sebaiknya berikan seorang adik untukku!"


Protes keras dari suara cadel ini membuat wajah Alicia dan Leon bersemu merah.


Tanpa berpikir panjang Alicia segera melepaskan pelukannya untuk menghampiri putranya yang sedang memasang wajah cemberut sambil melipat tangannya di depan dada.


"Leonardo, bagaimana jika pergi jalan-jalan bersama ibu?" bujuknya.


"Boleh saja, tetapi ibu harus berjanji padaku agar secepatnya memberikanku seorang a..."


Alicia dengan cepat menutup mulut putranya, sambil tertawa canggung ia melirik Leon yang sedang menatapnya dengan tatapan nakal.


"Apakah Leon yang telah mengajari putraku ini agar berbicara seperti ini padaku?!" sungutnya dalam hati, sekilas ia seperti melihat suaminya itu mengacungkan jempol pada putranya, tetapi itu terjadi sangat cepat sehingga ia merasa itu hanyalah ilusi dari pikirannya saat ini, "Apakah aku terlalu banyak berpikir?!"


Sementara di saat yang sama, Anton tampak sangat senang melihat kebahagiaan keluarga kecil ini, walau ada sedikit kesedihan yang sedang bersembunyi dengan baik di sudut hatinya.


"Dia pantas untuk bahagia, walau harus mengorbankan nyawaku ini, aku berjanji akan menjaga keluarga yang dicintainya ini dengan sekuat tenaga!" bisiknya dalam hati.


***


Sore ini Alicia pergi bersama putranya dengan dikawal Anton, tetapi Leon tidak ikut bersamanya, karena Anton telah menceritakan padanya tentang semua yang terjadi sebelumnya, bahwa ia dan Alicia bisa mengatasi bawahan Dimitri dengan baik.


Dan agar istrinya itu bisa kembali ceria, ia terpaksa hanya bisa membebaskan istrinya itu untuk pergi bersama putranya dan juga Anton, sebab ia sendiri tidak bisa ikut karena sedang menyusun sebuah rencana pembalasan untuk Dimitri dan Marino.


"Hei Leon, mengapa pria gila itu terlambat ditemukan oleh Pasukan Rahasia?!" protes Dr. Mark ketika melihat Leon tampak berpikir di balik meja kerjanya yang berada di kantornya ini.


"Itu karena gerakan Anton lebih cepat dari dugaanku, aku tidak menyadari sebelumnya kalau kemampuan Anton telah berkembang pesat, dan aku tidak tahu apa yang membuatnya sangat marah hingga berani menyerang Dimitri seorang diri seperti pagi ini! Untung saja dia hanya mendapatkan dua goresan kecil di wajahnya itu, jika Pasukan Rahasiaku itu terlambat satu menit saja, dia pasti telah menjadi objek nafsu Dimitri, pria tua itu telah menyiksanya dan benar-benar gila seperti ucapan Alicia!" Leon menggebrak meja dengan kesal.

__ADS_1


"Lalu apa rencanamu sekarang?!" Dr. Mark menatap rahang keras itu yang semakin tampak tegas karena menahan emosi.


"Aku akan membuatnya dan semua yang bekerja bersamanya merasakan pembalasan dari seorang Leon Vald!" lontar Leon dengan wajah dingin.


__ADS_2