
Dr. Mark menahan senyumnya dan menghampiri sahabatnya.
"Hei Leon, minggu depan kita harus menghadiri pertemuan Dewan Direksi yang diadakan setahun sekali di Italia!"
"Bukankah hal ini bisa dilakukan olehmu seorang diri?! Dengar, minggu depan adalah acara pertunanganku dan Alicia!"
"Leon ayolah! Acara pertunanganmu bisa diundur sementara! Tetapi acara penting ini?! Apa yang akan dikatakan Para Pemegang Saham jika kamu tidak berada di sana!" protes Dr. Mark.
"Apakah aku perlu memikirkan Para Pemegang Saham minoritas itu?! Mereka bahkan terlalu banyak meraup keuntungan dari bisnis ini!!"
"Hei hei bung, aku mengerti jika kamu tidak menyukai para lelaki tua itu, tetapi cobalah bersosialisasi sesekali! Jangan selalu menyembunyikan dirimu! Saat ini bahkan tidak banyak yang mengenalmu sebagai Pemilik Vald Corporation," Dr. Mark berusaha membujuk sahabatnya yang sangat keras kepala itu.
Leon Vald, Pemilik sekaligus Pendiri Vald Corporation yang memiliki saham Perusahaan tersebut sebanyak 84 persen, selalu menyembunyikan dirinya, agar tidak banyak orang yang mengenalnya.
Dan alasan Leon melakukan hal itu, adalah karena Vald Corporation telah berdiri selama hampir 200 tahun, jika wajahnya terekspos keluar dan Para Kliennya menyadari keanehan dirinya yang selalu awet muda selama ratusan tahun, itu akan membuat Para Klien dan Rekan Bisnisnya curiga lalu menyelidiki tentang identitasnya.
"Kamu telah mengetahui alasanku melakukan hal ini! Dan untuk saat ini aku hanya bisa bersembunyi, tetapi tenanglah! Saat aku menikahi gadis kecil itu... Aku akan melakukannya secara besar-besaran dan megah."
"Kapan itu akan terjadi?!" Dr. Mark menatap sahabatnya itu yang tengah mengisi gelasnya dengan darah segar yang baru diterimanya dua hari yang lalu.
Leon menghentikan gerakannya saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu, alis tebalnya yang rapi tampak bertaut, mata tajam itu sedikit memicing dengan wajah yang terlihat sedang berpikir.
"Mungkin segera, setelah gadis kecil itu menyetujuinya!" jawab Leon sambil mengangkat gelasnya dan menenggak isinya, "Mmm... Darah ini tidak semanis miliknya! Darah gadis itu bahkan bisa membuatku ketagihan, tetapi aku tidak mungkin membuatnya kering karena hal itu bukan?!" ia tersenyum pada sahabatnya dan kembali menenggak isi gelasnya hingga habis.
"Jika maksud kata-kata segera ini menunggu hingga gadis kecil itu menyelesaikan pendidikannya, itu artinya kamu akan terus membuatku mewakilimu beberapa tahun ke depan bukan?!"
"Bukankah itu gunanya teman?!" Leon tertawa kecil.
"Kalau begitu sebaiknya putuskan saja persahabatan ini!"
"Kamu siap menjadi musuhku?!" sindir Leon sambil menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang tajam.
"Hahaha... Aku hanya bercanda! Aku adalah temanmu, bukan hanya satu pertemuan, sepuluh pertemuan lagi aku siap melakukannya untukmu!" sahut Dr. Mark dengan wajah cemas, terkadang wajah tampan sahabatnya itu kerap membuatnya takut saat wajah itu terlihat marah atau menyeringai seperti saat ini.
"Bagus, kalau begitu... Aku mengandalkanmu!" Leon mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
"Haizzz... Pria ini mengerjaiku lagi!" rutuk Dr. Mark dalam hati, ia menatap Leon dengan wajah kesal.
"Mark??"
"Ya."
"Carikan darah baru untukku! Darah manusia yang berumur di bawah 20 tahun lebih baik, bayar berapa saja bagi siapapun yang bersedia memberikannya! Dan jangan lupa untuk memeriksa kesehatan dari pendonor tersebut sebelum mengambil darahnya!"
"Di bawah 20 tahun? Mengapa tidak mengambilnya sendiri? Kantong darah itu sekarang berada di dalam kamarmu!" celetuk Dr. Mark.
"Hahaha... Bagaimana jika aku mengambil 20 liter dari tubuhmu?!!" bentak Leon kesal.
Dr. Mark berlari cepat menjauhi Leon sambil tertawa kecil.
"Pria bodoh ini!!" dengus Leon.
***
Siang hari, Leon mengajak Alicia mengunjungi sebuah Butik untuk memesan sebuah gaun dan sebuah tuksedo untuk acara pertunangannya.
Sebagai anak seorang Designer pakaian, ia pernah sesekali menemani ibunya untuk survey pasar, bahkan sang ibu kerap memberitahunya tentang Butik-butik terbaik yang menyediakan pakaian branded kelas Eropa, pakaian yang tidak mungkin akan dibeli olehnya dan keluarganya karena semua pakaian yang berada di Butik tersebut sangat berkelas dan mahal.
Dan Butik yang dikunjunginya saat ini bersama Leon, termasuk salah satu daftar Butik yang paling dihindari oleh keluarganya.
"Alicia??" panggil Leon pada kekasih kecilnya yang tampak tertegun melihat harga dua set pakaian yang dipesan olehnya, "Ada apa?" tanyanya lembut sambil merangkul pinggang ramping Alicia yang berdiri di sampingnya saat ini.
Alicia tersentak karena tangan nakal Leon meremas pinggangnya.
"Le... Leon... Jaga sikapmu!" bisiknya canggung.
Leon tertawa kecil melihat reaksi kekasih kecilnya itu.
"Apa yang sedang dipikirkan gadisku ini? Mengapa hanya diam di sana? Jangan katakan kalau Medusa baru saja menyihirmu menjadi batu!" selorohnya.
"Hahaha... Lucu sekali!" celetuk Alicia dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Leon menghentikan tawanya dan berusaha menahan senyumnya, wajah cemberut kekasih kecilnya itu membuatnya semakin ingin menggodanya.
"Hei gadis kecil, apakah kamu tahu jika wajahmu ini membuatku sangat ingin menciummu?"
Alicia mendelik mendengar hal itu.
"Lakukan saja jika ingin merasakan tinjuku ini!" ucapnya sambil tersenyum dan menggerakkan alisnya.
"Andai saja semalam aku tidak menggigitmu, maka..." Leon melirik leher Alicia yang tertutup syal sutra pemberiannya, semalam ia telah menggoda kekasih kecilnya itu habis-habisan, dan jika ia tidak menutupnya dengan sebuah gigitan, maka hari ini wajah imut itu akan menatapnya seharian, dan Leon tidak menginginkan hal itu terjadi di saat ia harus mempersiapkan banyak hal untuk acara pertunangannya.
"Aku tidak akan mengejarmu, walau kamu tidak menggigitku!" bisik Alicia.
"Oh... Kalau begitu aku ingin melihatnya!" Leon mendekati wajah Alicia perlahan, dan gadis kecil di hadapannya itu menahan bibir Leon dengan telunjuknya.
"Jangan coba-coba!" ancam Alicia.
"Apakah Mr. Leon membutuhkan kamar ganti?!" sapa Sang Pemilik Butik sambil menahan senyum, sedari tadi ia telah memperhatikan apa yang telah dilakukan Leon pada gadis kecil yang berada di sampingnya itu.
"Ya..."
"Tidak terima kasih!" tukas Alicia cepat memotong ucapan Leon, kekasihnya ini selalu menggodanya di manapun, di rumah bahkan di tempat umum, hingga kerap membuatnya merasa malu.
Sementara Leon kembali tertawa kecil melihat reaksi cepat Alicia.
"Sebaiknya tidak, karena kekasihku ini lebih nyaman jika melakukannya di rumah, bukankah begitu sayang?" godanya sambil menatap wajah Alicia yang tampak merona karena ucapannya.
"Dasar pria genit!!" gumam Alicia, ia memalingkan wajahnya yang terasa panas.
Pemilik Butik tersenyum melihat hal itu.
"Mr. Leon, kamu pria yang sangat beruntung! Kekasihmu ini cantik sekali, bahkan lebih cantik dari beberapa artis yang pernah mengunjungi Butikku!" ucapnya sopan.
"Kamu benar, bagiku... Kekasihku ini adalah wanita tercantik yang pernah kutemui, karena itu aku jatuh cinta padanya!"
Wajah Alicia semakin memerah mendengar pujian Leon pada dirinya.
__ADS_1
"Pria ini seperti serigala berbulu domba!" rutuk hatinya.