STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.

STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.
PUTRI UNCLE JHON.


__ADS_3

Roma pukul 6 pagi, embun yang jatuh di dedaunan perlahan bergulir turun, suara cicit merpati terdengar ceria menyambut pagi, di saat yang sama Alicia membuka matanya dan mengerjapkannya berkali-kali, wajahnya terlihat sangat pucat dengan bibir yang hampir memutih, sisa tenaga yang berada di dalam tubuhnya bahkan tidak bisa ia pergunakan walau hanya untuk mengangkat tangannya apalagi menggerakkan tubuhnya yang saat ini berada di dalam dekapan Leon suaminya.


"Leon...!" panggilnya dengan suara pelan.


Mata itu perlahan terbuka di hadapannya, begitu biru dan jernih bagaikan langit cerah, alis putih keperakan itu bertaut ketika menatap dirinya.


"Baru bangun?" tanya Leon dengan suara pelan sembari memperhatikan wajah Alicia, "Tolong jangan marah karena aku tertidur di kamarmu, semalam kamu pingsan dan mengigau bahkan memintaku untuk menemanimu, dan sekarang sebaiknya kamu segera sarapan, wajahmu sudah terlihat sangat pucat!" ucapnya, ia menarik tangannya perlahan yang semalaman ini telah dijadikan bantal oleh Alicia, sesaat ia mencoba menggerakkan tangannya yang terasa sedikit kebas.


"Apa tanganmu lelah?" tanya Alicia sungkan.


"Tidak terlalu." Leon tersenyum lembut, "Tunggulah, aku akan mengambilkan sarapanmu dan kamu harus menghabiskannya!" ia bergeser pelan turun dari ranjang lalu melangkah menghampiri kulkas besar yang berada di dalam kamar, ia membuka kulkas tersebut dan mengambil sekantong darah, setelah menutup pintu kulkas ia meraih sebuah gelas yang tersusun rapi di rak kecil di samping kulkas, membuka kantong darah tersebut dan menumpahkan isinya ke dalam gelas kemudian membawanya pada Alicia, "Minumlah! Sejak terbangun kemarin bukankah kamu belum meminumnya?"


Alicia menggeleng melihat darah di dalam gelas yang disodorkan Leon padanya, ia menggigit bibirnya mencium aroma darah tersebut yang sedikit menggodanya.


Sementara Leon yang melihat reaksi Alicia terhadap segelas darah yang ia berikan, perlahan meletakkan gelas tersebut di atas nakas yang berada di samping ranjang, ia duduk di pinggir ranjang dan membantu Alicia untuk bangun lalu menyandarkan kepala Alicia di dadanya dan mengambil kembali gelasnya.


"Kamu harus meminumnya jika ingin tenagamu kembali!" bujuknya sambil mendekatkan gelas tersebut ke bibir Alicia, tetapi Alicia justru memalingkan wajahnya, penolakan yang dilakukan istrinya ini membuat Leon memindahkan separuh dari isi gelas tersebut ke dalam mulutnya, setelah meletakkan gelas kembali ke atas nakas ia menarik wajah Alicia dan memberikan darah tersebut langsung dari mulutnya.


Semula Alicia ingin memberontak, tetapi kecupan lembut Leon membuatnya tanpa sadar meneguk darah itu, bahkan ia terbawa untuk membalas kecupan itu.


"Jika ingin melanjutkannya kamu harus menghabiskan sarapanmu, agar tenagamu kembali dan bisa melayaniku," bisik Leon sesaat setelah melepaskan bibir Alicia.


Dan ucapannya ini sontak membuat wajah Alicia bersemu merah di hadapannya, dengan canggung ia meraih gelas yang kembali disodorkan Leon padanya dan menghabiskan isinya.


"Maaf aku terpaksa mengubahmu menjadi seperti diriku tanpa bertanya dulu padamu."

__ADS_1


Kata-kata ini menghentikan gerakan tangannya yang ingin mengembalikan gelas kembali pada Leon, ia menatap suaminya ini yang sedang menatapnya dengan perasaan bersalah.


"Saat itu pilihanku hanya membiarkanmu menjadi seorang Vampir atau menjadikanmu Pengantinku, karena itu..." Leon menggantungkan kalimatnya dan menatap ke netra biru jernih itu yang juga sedang menatapnya.


Menerima tatapan sayu dari suaminya Alicia pun menundukkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat wajah sedih yang diperlihatkan Leon pada dirinya, sebenarnya ia juga tidak menyalahkan Leon akan hal ini karena ia tahu apapun yang dilakukan suaminya ini adalah demi kebaikannya, hanya saja hatinya... Ada sedikit kekecewaan di dalam hatinya terhadap suaminya ini dan ia sama sekali tidak mengerti mengapa ia bisa merasakan kekecewaan ini terhadap Leon.


"Tentang perubahanku, aku sedikitpun tidak menganggap hal ini adalah sebuah kesalahan, tetapi aku..."


"Aku tahu saat ini kamu membutuhkan waktu untuk sendiri, karena itu hari ini aku akan ke kantor bersama Mark selama satu hari penuh dan kamu bisa menghabiskan waktumu di rumah ini bersama Leonardo tanpa kehadiranku, selama apapun kamu membutuhkan waktu aku bersedia untuk menunggumu, dan aku hanya ingin meminta satu hal padamu, tolong jangan pernah meninggalkanku lagi!" ucap Leon sembari mencium kening Alicia dan mengambil gelas dari tangan istrinya itu.


Bingung harus menjawab apa atas ucapan suaminya ini, akhirnya Alicia hanya memilih diam melihat Leon yang beranjak perlahan dan melangkah pergi meninggalkan kamar, hatinya sedikit terluka ketika melihat wajah itu yang tersenyum lembut padanya sebelum menutup pintu kamar.


"Apakah aku telah melukai perasaannya dengan sikapku? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" bisik hatinya lirih.


***


"Kakak!!" teriak gadis itu, dengan wajah ceria ia langsung bergelayut manja di lengan Leon.


Leon dan Dr. Mark yang telah mengenal gadis ini dan menganggapnya sebagai adik sendiri hanya tersenyum.


"Mengapa datang? Apakah tidak ada kuliah hari ini?" tegur Dr. Mark.


"Kebetulan kosong dan ayah menelpon kalau kakak Leon kembali ke rumah," jawab gadis itu.


Baru saja Dr. Mark ingin menimpali ucapan gadis ini, tiba-tiba sudut matanya menangkap bayangan Alicia yang berdiri di balkon, dengan canggung ia mendekati Leon dan membisikkan pada sahabatnya itu kalau istri sahabatnya itu tengah memperhatikan dari balkon kamarnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dr. Mark, Leon spontan menengadah, ia tertegun melihat penampilan istrinya di bawah sinar matahari pagi yang jatuh menyinari wajahnya, tubuh ramping itu memakai kaos santai dan celana pendek, rambut hitamnya yang panjang dan tampak setengah kering jatuh di pundaknya, netra biru jernih itu bahkan sedang menatapnya dengan tajam.


Dia marah padaku? Apakah dia sedang cemburu?


Ia mengangkat tangannya ingin melambai pada Alicia tetapi tatapan istrinya itu tampak turun ke arah lengannya yang sedang dirangkul oleh putri Uncle Jhon, dan alis itu terlihat menyatu ketika melihat lengannya, menyadari bahwa istrinya itu tengah cemburu Leon dengan cepat menarik lengannya dari rangkulan gadis berusia 20 tahun ini, lalu kembali melirik Alicia yang meninggalkan balkon dengan wajah cemberut.


Dia benar-benar marah kali ini, dan mungkin akan mendiamkanku untuk waktu yang lama.


Ia menghela nafas melihat kemarahan istrinya itu, di sisi lain apa yang baru saja dilakukannya terhadap gadis yang berdiri di sisinya ini membuat gadis itu memasang wajah cemberut padanya.


"Siapa wanita itu? Mengapa kak Leon terlihat takut padanya?!" protes gadis itu.


"Tentu saja dia harus takut, wanita itu adalah istrinya!" tukas Dr. Mark.


"Apa?! Istri?! Sejak kapan?! Mengapa aku tidak mengetahuinya?!"


"Haruskah kulaporkan padamu apa yang ingin kulakukan?!" sahut Leon dingin.


Bahkan kata-katanya ini membuat Dr. Mark tertegun, karena biasanya ia selalu memperlakukan putri Uncle Jhon ini dengan lembut.


"Hei Leon, kamu..."


"Clara, aku telah memiliki istri sekarang! Sebaiknya mulai hari ini jaga sikapmu kalau bertemu denganku, aku tidak ingin istriku itu semakin marah padaku!" ketus Leon tanpa memperhatikan wajah sahabatnya Dr. Mark yang semakin terkejut dengan ucapannya, ia sengaja melakukan hal ini untuk menjaga mood Alicia agar istrinya itu bisa segera kembali seperti biasa padanya, dan apapun yang akan membuat istrinya itu marah ia sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya saat ini.


Dengan wajah datar ia kemudian mengajak Dr. Mark untuk masuk ke mobil dan segera pergi, meninggalkan Clara yang menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


"Istri apa?! Kelak aku yang akan menjadi Nyonya rumah ini! Dan wanita itu... Aku akan segera membuatnya pergi darimu!!" jerit Clara dalam hati.


__ADS_2