
Sudah satu minggu berlalu sejak Alicia menerima penawar darinya, tetapi istrinya ini tidak juga kunjung tersadar, setiap hari selama satu minggu ini Leon menemani ayah mertuanya yang sedang merawat istrinya ini, bahkan ia dengan sabar membersihkan tubuh istrinya dengan handuk hangat juga menggantikan pakaiannya, sudah puluhan bungkus cairan infus juga kantong darah yang dimasukkan ke tubuh istrinya, hanya saja itu seperti tidak berguna sama sekali karena keadaan Alicia masih saja tidak mengalami perubahan.
Dan malam ini, Leon yang sedang menemani istrinya ini menatap wajah Alicia yang pucat dengan tatapan sedih, saat ia menyentuh lembut wajah itu beberapa butiran bening tampak bergulir turun di pipinya yang pucat.
"Sayang... Kembalilah! Aku tidak ingin kehilanganmu," rintih hatinya, bahkan butiran sebening kristal itu menetes mengenai pipi Alicia ketika ia menundukkan kepalanya untuk mencium kening istrinya itu, "Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik jika kamu tersadar nanti, karena itu... Kumohon bangunlah! Putra kita membutuhkanmu!" gumamnya pelan sembari menjatuhkan kepalanya di atas tangan istrinya yang sedang digenggam erat olehnya.
***
Pagi harinya Leon terbangun ketika mendengar teriakan James di dalam kamar ini, ia membuka matanya perlahan dan mengerjapkan matanya untuk menyadarkan dirinya yang masih dalam kondisi setengah sadar.
"Putriku menghilang bersama cucuku!"
Kata-kata pertama yang didengarnya setelah terbangun ini spontan membuat ia melihat tempat tidur di mana istrinya berada semalam.
"Pagi ini saat aku terbangun aku tidak menemukan cucuku di dalam kamarku, dan ketika aku membuka pintu kamar ini ternyata putriku juga telah menghilang!" sahut James dengan wajah cemas.
Sementara pria muda yang sedang diajaknya berbicara tampak terpaku di hadapannya.
"Apakah dia telah tersadar dan membawa Leonardo pergi? Tetapi mengapa?!" bisik Leon dalam hati di tengah kebingungannya.
Sementara itu di Bandara Paris, seorang wanita muda yang menggendong seorang bocah lelaki kecil tampak terburu-buru menaiki pesawat.
"Ibu... Kita mau kemana? Mengapa kita meninggalkan ayah lagi?" tanya bocah kecil itu yang menutup wajahnya dengan hodie, wajahnya bahkan masih terlihat mengantuk.
Wanita muda itu tersenyum getir pada putranya yang sedang menyandarkan kepalanya di pundaknya.
"Ibu tidak tahu, untuk sementara ibu hanya ingin menjauhi ayahmu dulu," ucapnya pelan seraya mengusap lembut punggung buah hatinya, ia ingat saat ia terbangun pagi ini hatinya merasa sangat sedih dan kecewa ketika melihat Leon yang tertidur di sisi tempat tidurnya dan sedang menggenggam tangannya.
"Tetapi mengapa? Apakah ayah telah melakukan sesuatu yang membuat ibu sedih?"
Kepala wanita itu menggeleng pelan.
"Ayahmu tidak melakukan apapun, tetapi ibu..." Ia menggantungkan kalimatnya dan menunduk sedih setelah meletakkan putranya ini di kursi yang berada di samping dirinya.
"Alicia??"
__ADS_1
Sebuah sapaan lembut membuatnya berpaling, di lorong pesawat tak jauh dari tempat duduknya sekarang ia melihat seorang pria sedang menatapnya dengan wajah bingung, pria itu berpakaian santai dengan rambut hitamnya yang tersisir rapi, tubuh kekarnya terbalut kaos tipis dan celana jeans yang menonjolkan bentuk tubuhnya.
"Josh?" Alicia tertegun melihat wajah sahabat baiknya itu yang terlihat lebih dewasa, rahangnya terlihat sempurna di wajahnya yang lembut.
"Ternyata benar!" Josh menghampiri Alicia dengan cepat sambil tersenyum, ada kerinduan yang terpancar di netra abu-abu cerah itu pada wanita yang sedang didekatinya saat ini, "Aku sedikit ragu tadi karena warna matamu, apa itu kontak Lens?" selorohnya, ia memeluk tubuh ramping itu yang telah berdiri di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di Paris?" lontar Alicia sesaat setelah Josh melepaskan pelukannya.
Josh tidak segera menjawab, tetapi ia justru melirik bocah lelaki kecil yang tertidur di kursi di samping Alicia.
"Siapa bocah tampan itu?!" ia menatap Alicia.
"Putraku."
"Apa?!" Josh tertegun mendengar kata-kata tersebut, ia kembali melirik Leonardo, "Wajahnya mirip pria itu! Wajah angkuh yang tidak akan pernah bisa aku lupakan!" bisik hatinya.
"Pesawat akan take off, tolong kembali ke kursi anda tuan!" pinta seorang Pramugari.
Dengan sopan Josh menganggukkan kepalanya pada Pramugari yang telah menegurnya itu.
"Karena kita memiliki tujuan yang sama, nanti setelah turun bagaimana jika kita makan bersama untuk merayakan pertemuan ini?"
***
Empat jam kemudian di sebuah restoran di Roma, Josh yang berada di hadapan Alicia dan telah menyelesaikan makannya memperhatikan Alicia sambil tersenyum, ia merasa sangat bahagia hari ini bisa bertemu kembali dengan wanita ini yang pernah mengisi hatinya, sebelumnya ia bahkan terburu-buru menyelesaikan kuliahnya agar bisa mencari sahabatnya ini yang telah menghilang selama enam tahun lebih.
"Bagaimana kabar Gwen dan Aaron?" tanya Alicia sesaat setelah menyelesaikan makannya.
"Mereka telah menikah!"
Alicia mengangkat wajahnya mendengar jawaban dari Josh.
"Oh?? Mengapa Gwen mau menerima lamaran Aaron? Bukankah mereka tidak pernah akur?!' tanyanya lagi dengan wajah bingung.
"Mereka berdua memang tidak pernah akur, bahkan setelah menikah mereka masih sering bertengkar!" Josh tertawa kecil.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganmu?"
Netra abu-abu itu menatap Alicia dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti olehnya.
"Aku tidak menemukanmu, jadi aku tidak menikah hingga saat ini!"
Senyum lembut yang diperlihatkan Josh pada dirinya membuat Alicia menundukkan wajahnya.
"Aku pikir sudah cukup tentangku, sekarang ceritakan tentang dirimu! Di mana pria itu yang telah memberimu bocah tampan ini?"
"Josh, aku..."
Josh memperhatikan wajah itu yang terlihat sedih di hadapannya.
"Baiklah, tidak membahas pria itu lagi! Tetapi kamu ingin pergi ke mana setelah ini?"
"Aku akan mencari hotel!"
"Mengapa harus di hotel? Kamu memilikiku, sahabatmu ini! Tinggal saja di rumahku! Kebetulan aku memiliki rumah di sini dan sebuah pekerjaan yang cukup menjanjikan! Bukankah aku pernah mengatakannya padamu? Kamu selalu memilikiku kapanpun kamu membutuhkanku!"
"Tetapi Josh..." Alicia mengangkat wajahnya, dan membuat netra biru jernihnya beradu pandang dengan netra abu-abu itu yang masih menatap dirinya.
"Hei, jika kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu maka jangan menolak permintaanku ini!"
Akhirnya Alicia terpaksa mengalah karena Josh bersikeras padanya dan juga karena melihat putranya Leonardo yang terlihat pucat.
"Aku lupa belum memberikannya darah pagi ini karena biasanya Leon yang menyediakan itu setiap pagi untuknya, dan sekarang... Di mana aku harus mendapatkan kantong darah untuk putraku?" bisik hatinya lirih, ia merogoh kantong jaketnya dan melirik kartu hitam yang pernah diberikan Leon padanya, "Jika aku menggunakan ini lagi apakah Leon akan mengejarku ke sini?! Tetapi aku... Aku belum ingin menemuinya!" perasaan gundah bergejolak di dalam hatinya.
"Ayo pergi!" ajak Josh.
Alicia memasukkan kembali kartu hitamnya dan mengangguk pada Josh yang telah menyelesaikan pembayarannya, dengan menggendong putranya ia pun pergi mengikuti Josh meninggalkan restoran.
Di saat yang sama di Paris, di atap hotelnya di mana helly miliknya berada setelah menjemput Asisten James delapan hari yang lalu, Leon tampak sedang bersiap bersama Anton.
"Mark, urus kepulangan kedua mertuaku kembali ke Los Angeles hari ini seperti permintaan ayah mertuaku itu, setelah itu ambil penerbangan tercepat untuk menyusulku ke Roma!" perintah Leon.
__ADS_1
Dr. Mark mengangguk mendengar perintah sahabatnya itu.
"Tenanglah, aku akan mengurus semuanya di sini! Tetapi Leon, tolong perlakukan istrimu itu dengan baik jika telah bertemu nanti dan jangan marah padanya! Aku pikir ada sesuatu yang telah membuatnya pergi begitu saja, dan untungnya istrimu itu menggunakan kartu hitam darimu, jadi kita bisa melacaknya setiap kali ia menggunakan kartu tersebut seperti pagi ini!" pesan Dr. Mark setelah melihat wajah datar itu terlihat kesal saat menaiki helly.