
"Nathe, mungkin kamu lupa kalau aku bukanlah pria sembrono yang akan bermain dengan wanita manapun hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisku, dan aku sangat menjaga kehormatanmu juga semua sahabat wanitaku." Leon membalikkan tubuhnya dan menatap Nathalia, "Tetapi jika dirimu sendiri tidak bisa menjaga hal itu, baiklah aku akan mengabulkannya."
"Hei Leon, jangan lakukan itu! Pikirkan perasaan Gadis Kecil!" protes Dr. Mark, ia sangat tidak setuju sahabatnya itu berhubungan dengan Nathalia, karena ia lebih suka jika melihat Leon bersama Alicia yang polos, yang selalu memperlihatkan wajah malunya setiap kali Leon menggodanya, wajah merona seperti yang selalu diperlihatkan Alice dulu padanya ketika hubungan mereka masih baik-baik saja.
Apa yang dirasakan Dr. Mark berbeda dengan Nathalia yang langsung menyentakkan tangannya untuk melepaskan dirinya dari Dr. Mark, ia menghampiri Leon dengan senyum lebar.
"Aku tahu kamu akan menyetujuinya," tukasnya, berusaha meraih lengan Leon dengan langkah yang sedikit goyang.
Leon menghindari hal itu dengan memiringkan tubuhnya hingga membuat Nathalia jatuh di hadapannya.
"Aku tidak mengatakan bahwa aku yang akan melakukannya!" sahutnya dingin, "Mark, berikan satu kamar hotel untuk wanita tidak tahu malu ini, dan kirimkan 10 pria untuk melayaninya! Katakan pada pria-pria tersebut jangan berhenti hingga wanita ini melupakan keinginan kotornya itu!!"
Dr. Mark dan Nathalia terpaku mendengar ucapan Leon.
"Aku pikir wanita ini pintar, ternyata ia bodoh sekali! Walau telah menjalin hubungan selama 3 tahun dan mengetahui sifat arogannya, tetapi mengapa wanita ini masih berani mengancamnya?!" rutuk Dr. Mark dalam hati.
"Mark?!!"
Dr. Mark menghampiri Nathalia dengan cepat mendengar teguran itu.
"Leon, kamu yakin akan melakukan hal ini?!" tanyanya cemas.
Leon menatap sahabatnya itu dengan tajam.
"Aku tidak pernah seyakin ini! Wanita murahan ini ingin menyakiti gadisku, apakah menurutmu aku harus tinggal diam?!!" bentaknya.
Nathalia tertawa sinis mendengar ucapan Leon.
"Sifat angkuhmu ini sama sekali tidak berubah! Bahkan setelah tidak memiliki apa-apa." ia mengangkat wajahnya menatap Leon, "Apakah kamu telah melupakan bahwa kekuasaan ayahku sekarang lebih besar darimu?! Berani melakukan hal ini padaku, apakah menurutmu ayahku akan melepaskanmu begitu saja?!"
__ADS_1
"Mark, lakukan segera! Aku sudah tidak memiliki waktu untuk mendengar ocehan wanita ini lagi, kekasihku sedang menungguku." Leon melanjutkan langkahnya, keluar dari rumahnya dan menuju mobilnya, kemudian melarikan mobilnya dengan cepat setelah menghidupkannya.
Sementara itu di dalam rumah, Nathalia melemparkan tatapan mengancam pada Dr. Mark yang menahan tangannya.
"Kamu berani melakukan ini padaku?!"
"Hahaha... Apakah aku harus takut padamu?!" tukas Dr. Mark sinis, ia membantu Nathalia berdiri dan membawanya dengan kasar.
"Mark!! Ayahku pasti akan menghancurkanmu dan Leon!!" teriak Nathalia histeris, ketika Dr. Mark melemparkan tubuhnya ke dalam bagasi mobil.
"Huh, apakah menurutmu aku takut pada ayahmu?! Walau Leon telah kehilangan kekuasaannya, tetapi kekuasaanku masih berada di atas ayahmu! Dan aku berhutang banyak pada Leon, inilah kesempatanku untuk membalas kebaikannya!"
BRAKK!!
Dr. Mark menutup pintu bagasi mobil dengan keras setelah menyelesaikan ucapannya, ia menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Nathalia dari dalam bagasi.
"Semua salahmu karena berani mengancam orang yang salah!" Dr. Mark menghela nafasnya dan masuk ke dalam mobilnya lalu membawa mobilnya pergi meninggalkan rumah.
Lapangan basket tengah kota sore hari, pertandingan segera akan berakhir beberapa menit lagi, tetapi skor dari kedua team tampak seimbang.
Di tengah lapangan, Josh terlihat akan melakukan tembakan terakhir dari teamnya, para penonton yang menyaksikan pertandingan sangat hening menantikan detik-detik terakhir ketika Josh telah melemparkan bolanya, bahkan Aaron yang berjaga di bawah ring tampak menahan nafas saat bola tersebut perlahan menyentuh papan di atas ring dan jatuh menggelinding di pinggiran ring lalu mengitari pinggiran ring beberapa saat hingga akhirnya...
"Tiga angka dari Josh!!" teriak wasit pertandingan.
Aaron bersama teman satu teamnya bersorak girang berlari menghampiri Josh, dan memeluk sahabatnya itu yang telah memenangkan angka untuk teamnya hari ini.
"Sudah kukatakan kamu bisa melakukannya teman!" ia menepuk pundak Josh dengan bangga.
Di tengah-tengah keriuhan ucapan selamat dari teamnya dan team lawannya hari ini, Josh justru menatap ke arah kursi penonton, mencari seraut wajah yang diharapkannya akan ikut merasakan kegembiraannya itu.
__ADS_1
Seperti harapannya, Alicia tampak berdiri di samping Gwen mengacungkan jempolnya dengan senyum merekah.
Melihat hal itu, Josh berlari merebut mic dari wasit pertandingan.
"Aku mohon semua tenang sebentar!" pintanya.
Para penonton kembali hening mendengar ucapannya, bahkan beberapa gadis yang ingin menghampirinya tampak mengurungkan niatnya.
"Kemenangan hari ini aku persembahkan untuk seorang gadis yang berada di sana! Di kursi urutan kedua dari kanan!" Josh menunjuk ke arah Alicia, ucapannya itu membuat kamera yang menyorot dirinya berpindah pada Alicia, hal itu membuat wajah Alicia tampil di layar yang berada di belakang wasit, "Benar gadis itu! Dia... Sahabat kecilku, dan aku telah mencintainya sejak lama, hari ini aku telah berjanji pada diriku sendiri, jika aku memenangkan pertandingan ini, aku ingin bertanya padanya apakah dia bersedia menjadi kekasihku?"
Lapangan basket dan kursi penonton kembali riuh saat mendengar ucapan Josh, teman-teman satu teamnya tampak sangat mendukung hal itu bahkan hampir semua meneriakkan agar Alicia menerima ungkapan perasaan Josh itu.
Sementara Alicia, walau ia telah menebak ini akan terjadi, tetapi ia sama sekali tidak tahu akan terjebak dalam keriuhan ini, ia hanya diam terpaku ketika hampir semua mata memperhatikannya, dan di saat yang sama juga Josh tampak melangkah menghampirinya.
Aksi Josh ini membuat beberapa gadis yang mengaguminya menatap Alicia dengan tatapan cemburu.
"Aku telah memenangkan pertandingan hari ini, dan aku ingin bertanya padamu, apakah aku boleh menjadi kekasihmu?" tanya Josh, setibanya di hadapan Alicia dan Gwen sambil tersenyum lembut.
"Josh, aku..." Alicia merasa resah dan bingung, karena jika ia menolak permintaan Josh maka ia akan membuat sahabatnya ini malu, tetapi ia juga tidak ingin menerima hal itu karena satu nama telah mengisi hatinya bahkan membuatnya sangat gundah hari ini.
"Maaf gadis itu tidak bisa menerimanya!!"
Suara lantang yang terdengar dari arah kursi penonton membuat keriuhan mendadak berhenti.
"Gadis kecil itu adalah milikku!! Karena itu ia tidak bisa menerima permintaanmu!!"
Leon menyeruak kerumunan penonton dan melangkah menghampiri Alicia yang berdiri mematung bersama kedua sahabatnya, ia menghentikan langkahnya saat telah berada di hadapan Josh dan menatap Josh dengan tajam.
"Maaf aku tidak membutuhkan jawaban darimu!" tukas Josh membalas tatapan Leon padanya.
__ADS_1
Leon tersenyum sinis mendengar hal itu, ia melirik kekasih kecilnya yang tampak terpojok, lalu meraih lengan Alicia agar kekasihnya kecilnya itu mendekat padanya, setelah Alicia berada di sampingnya, Leon merangkul pinggang kekasih kecilnya itu dengan mesra.
"Tentu saja kamu membutuhkan jawaban dariku, jika ingin jawaban langsung dari seorang gadis bukankah seharusnya kamu mengungkapkan perasaanmu pada seorang gadis yang tidak memiliki kekasih?!" lontarnya dingin.