
"Jika kamu bersedia membantuku, aku berjanji akan berhenti memaksamu kembali padaku!"
Alice tampak berpikir sejenak mendengar usulan dari mantan kekasihnya itu.
"Sebenarnya aku tidak keberatan untuk membantumu, tetapi tolong jelaskan padaku mengapa aku harus melakukan hal itu?!" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Aku... Aku tidak bisa tinggal selama satu malam bersamanya!" protes Dr. Mark, ia memalingkan wajahnya yang mulai bersemu merah, "Terakhir kali aku menemaninya, pria gila itu membuatku tidak bisa duduk selama satu minggu," gumamnya pelan, wajahnya terlihat semakin memerah ketika mengungkapkan hal itu.
Penjelasannya dan reaksinya ini sontak membuat Alice menatapnya dengan wajah curiga.
"Itu artinya kalian..."
"Tidak seperti yang kamu pikirkan!" sela Dr. Mark, ia membantah dengan cepat tuduhan yang akan dilontarkan Alice padanya, "Pria gila itu... Pria itu menggambar sasaran dart di celanaku dan menjadikan pantatku sebagai sasaran dart untuk latihannya, keesokan paginya aku harus mendapatkan 21 jahitan dan perban di seluruh pantatku karena ulahnya!" dengus Dr. Mark dengan wajah kesal, "Sebelumnya bahkan lebih memalukan, si gila itu menembakkan shoot gun berkali-kali ke dadaku, dan ketika aku pergi ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan, aku justru dikira sedang menderita tumor payudara!"
"Pfffttt!!" Alice dengan cepat menutup mulutnya agar tidak tertawa lepas di hadapan mantannya yang sedang kesal.
"Jika pria gila itu bukan seorang pembunuh terlatih mungkin aku telah lama melemparnya ke jurang." Dr. Mark mengakhiri keluhannya dengan menghela nafas.
"Ternyata selingkuhanmu itu memiliki hobi yang unik," timpal Alice sambil menahan senyumnya.
Dr. Mark mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya mendengar sindiran mantan kekasihnya itu.
Melihat kemarahan Dr. Mark, tanpa berpikir panjang Alice pun memeluk mantan kekasihnya itu.
"Hei Dokter gila, aku akan melindungimu! Jadilah pacarku!" bisiknya.
__ADS_1
Sesaat Dr. Mark tertegun mendengar permintaan Alice, tetapi ketika ia berpikir bahwa Alice melakukan hal ini hanya karena kasihan padanya, ia pun menolak permintaan Alice tersebut.
"Lebih baik aku disiksa pria gila itu daripada dikasihani olehmu!"
"Kapan aku mengatakan kalau aku merasa kasihan padamu!" Alice melepaskan pelukannya dan menatap Dr. Mark dengan tajam.
"Itu..." Dr. Mark merasa salah tingkah menerima tatapan tajam dari mantan kekasihnya itu, "Itu karena kamu menerimaku setelah mengetahui bahwa aku disiksa oleh Anton!"
CTEKKK!!!
Sebuah jentikan keras di jidat diberikan Alice pada Dr. Mark.
Setelah melakukannya, Alice pun meninggalkan Dr. Mark dengan wajah cemberut.
"Hei!! Mengapa tingkahmu ini mirip sekali dengan Leon!!" teriak Dr. Mark sambil meringis mengusap jidatnya.
Sementara Dr. Mark mengejar dan membujuk mantan kekasihnya yang marah, di sofa di mana Leon dan Anton berada saat ini, Anton tampak telah mengusir keempat wanita yang sedang menemaninya, beberapa saat kemudian ia dan Leon terlihat sedang berbicara serius.
"Aku harus mengurus semua orang itu hanya demi seorang wanita?!" kening Anton berkernyit, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Leon, baginya demi Leon ia siap melenyapkan siapa saja yang bermaksud menyakiti pria ini yang telah menyelamatkan nyawanya berulang kali, tetapi demi seorang wanita yang tidak dikenalnya sama sekali, ia sedikit keberatan melakukan hal itu walau itu atas permintaan Leon, "Aku harus menguji wanita itu terlebih dahulu sebelum aku melakukan semua ini untuknya! Aku ingin tahu apakah wanita itu pantas mendapatkan bantuanku!" sahutnya.
Leon tentu saja tahu bahwa Anton akan berkata seperti ini padanya, karena ia sangat mengenal pria gila ini, oleh sebab itu ketika Anton meminta padanya untuk bertemu Alicia, Leon pun menyetujuinya.
Dini hari itu juga Leon mengajak Anton untuk kembali ke hotel bersamanya, ia memberitahukan pada Anton bahwa Alicia berada di kamarnya dan meminta Anton masuk sendiri untuk menemuinya, sementara ia dan Dr. Mark menunggu di depan kamar, tidak sampai lima menit... Leon dan Dr. Mark mendengar suara kaca pecah dari dalam kamarnya.
"Sudah selesai!" Leon membuka pintu kamarnya dan masuk bersama Dr. Mark, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati kaca pintu balkon telah hancur, sementara di sisi ranjangnya tampak Alicia berdiri dengan wajah kesal sambil melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Siapa pria gila itu?!!"
Teriakan bernada marah terlontar dari mulutnya.
"Di mana dia?!" tanya Leon pada kekasihnya itu yang saat ini sedang memasang wajah cemberut padanya.
"Aku melemparnya ke luar balkon, cari saja sendiri!! Dan Leon... Besok aku harus bangun pagi, mengapa menggangguku larut malam begini?!"
"Jangan marah padaku, pria itu yang bersikeras ingin bertemu denganmu!" sahut Leon sambil melangkah menuju balkon bersama Dr. Mark, di pagar balkon ia menemukan Anton sedang bergantung pada seutas tali sambil menyeringai senang, "Bagaimana? Apakah sekarang kamu telah bersedia untuk melindungi calon istriku?!"
"Tentu saja Bos, wanita itu cantik dan luar biasa, aku hanya mengejutkannya saja ia melemparku keluar balkon, benar-benar membuatku sangat bersemangat untuk menghadapinya lagi lain kali."
Kegilaan Anton membuat Dr. Mark merinding.
"Hei Leon, di mana kamu menemukan pria gila ini dulu? Apakah dia berpikir dirinya itu seekor kucing yang memiliki sembilan nyawa hingga sama sekali tidak takut pada kematian?" tanya Dr. Mark setengah berbisik.
Leon tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu, ia ingat dengan baik pertemuan pertama, kedua dan ketiganya dengan Anton, setiap kali bertemu ia selalu menemukan Anton dalam kondisi hampir mati karena di sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka, tetapi keinginannya yang kuat untuk bertahan hiduplah yang membuat Leon kagum pada pria ini, dan dari hasil penyelidikannya tentang Anton, ia juga baru mengetahui bahwa julukan pria ini adalah Pembunuh Berdarah Dingin nomor satu yang memiliki sembilan nyawa, Anton bahkan bisa selamat setelah menghabisi lima puluh orang dalam satu malam seorang diri, dan salah satu nilai tambah Anton di mata Leon adalah karena pria ini sangat setia padanya.
"Dia memang memiliki sembilan nyawa," gumam Leon, seraut senyum bangga terbit di bibir Leon ketika ia menatap Anton yang berusaha merayap naik di tali.
Setelah Anton berhasil naik kembali ke kamarnya, Leon pun meminta Anton segera meninggalkan kamarnya bersama Dr. Mark dengan diam-diam, karena ia tidak ingin mengambil resiko jika sampai Alicia terbangun lagi.
Di depan kamarnya, Anton memohon pada Leon agar diperkenankan bertanding lagi dengan kekasihnya itu jika ia telah menyelesaikan tugas yang diberikan Leon padanya.
Dr. Mark bahkan harus menasehati Anton untuk membatalkan niat gilanya itu, karena Dr. Mark mengetahui dengan pasti apa yang bisa dilakukan oleh Alicia, semua di luar batas kemampuan manusia biasa, walau Anton ini sangat ahli tetapi di hadapan kekasih Leon pria ini bukanlah apa-apa baginya.
__ADS_1
"Jika Bos tidak mengijinkan aku bertanding dengannya, kalau begitu sebagai gantinya kamu harus menemaniku latihan selama tujuh hari tujuh malam, bagaimana?!" seringai Anton pada Dr. Mark.
"Hahaha... Leon, sebaiknya ijinkan saja ia bertanding dengan kekasihmu, jika aku harus menemaninya selama itu... Nyawaku ini akan segera naik ke surga," rutuk Dr. Mark.