
Di dalam kamar Leon saat ini, Alicia membantu Leon melepaskan jas yang dikenakannya setelah mengantar kekasihnya itu ke atas ranjangnya.
"Tubuhnya panas sekali!" bisiknya dalam hati, ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh dada Leon yang terbuka saat membantu Leon melepaskan jasnya.
"To... Tolong berikan sesuatu padaku untuk menawarkan pengaruh obat ini!" desis Leon.
"Penawar? Benar, bukankah darahku sudah cukup?" pikir Alicia, ia membuka kancing kemeja miliknya dan menurunkan pakaiannya.
"Apa yang kamu lakukan?!" hardik Leon kesal ketika melihat wanita yang bersamanya saat ini membuka pakaiannya, ia baru saja ingin mempercayai wanita ini tetapi wanita ini seperti ingin mengambil keuntungan darinya.
"Bukankah kamu memerlukannya?" Alicia mendekat perlahan.
"Wanita aneh menyingkirlah!!" teriak Leon sambil bergerak mundur di atas ranjang.
"Wanita aneh?? Aku adalah obatmu!!" Alicia membuka kacamatanya dan melemparkannya pada Leon.
Leon tertegun menatap wajah itu yang sangat dirindukannya, wajah polos itu tampak lebih dewasa dan semakin cantik.
"Ini... Ambillah!" Alicia memiringkan kepalanya di hadapan Leon dan menyerahkan lehernya yang putih bersih.
Desir darah yang mengalir di pembuluh bening itu membuat Leon sangat tergoda.
"Obat sialan ini membuatku tidak bisa mengendus wangi darahnya!" rutuk hatinya kesal, dengan sedikit ragu ia menancapkan kedua taringnya di leher Alicia dan membuat Alicia meringis ketika gigi-gigi tajam itu menembus kulitnya.
Manisnya darah Calon Pengantinnya ini hampir membuat Leon tidak bisa mengendalikan dirinya dan ingin terus menikmatinya, tetapi desis halus dari mulut Alicia menyadarkannya.
Dengan perlahan ia melepaskan gigi-giginya dan mengangkat wajahnya menatap wajah kekasihnya yang tampak mulai lemas.
"Aku pikir itu cukup!" gumam Alicia pelan, ia menaikkan kembali kemeja miliknya dan ingin memasang kembali kancingnya, belum sempat tangan mungil itu menyentuh kancing kemejanya Leon telah mendorongnya dan membuatnya terjatuh di atas ranjang.
"Ingin pergi lagi?! Apa aku telah mengijinkannya?!" tukas Leon dingin, ia menahan kedua tangan Alicia dengan tangannya dan menatap kekasihnya itu dengan tajam.
"Aku telah membantumu! Sekarang apalagi maumu!"
__ADS_1
"Aku ingin kamu! Aku ingin anakku! Aku ingin menjaga kalian berdua!!" teriak Leon.
Alicia terpaku mendengar hal itu, ini pertama kalinya Leon berteriak dengan wajah kesal padanya, karena seingat dirinya kekasihnya ini sangat lembut.
Melihat Alicia hanya diam mematung, Leon pun menyadari kesalahannya.
"Maaf aku berteriak padamu dan membuatmu takut," ucapnya pelan, ia melepaskan tangan Alicia dan mengelus pipi kekasihnya itu yang sedang menatapnya dengan wajah bingung, "Aku merindukanmu, kembalilah padaku!" bisiknya lirih.
"Leon??" Alicia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Leon yang tampak sedih, gurat-gurat lelah terlihat di wajah tampan kekasihnya itu, "Aku... Aku tidak bisa tinggal bersamamu, karena aku belum bisa mengendalikan efek serum di dalam tubuhku ini dan sekarang serum itu juga berada di dalam tubuh putra kita, aku... Aku tidak tahu harus berbuat apa?! Aku takut akan menyakitimu!"
"Karena itu tetaplah bersamaku! Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk menyembuhkanmu dan menemanimu melewati hal ini!"
"Tapi aku... Ummm..."
Leon menghentikan ucapan Alicia dengan membungkam mulut kekasihnya itu dengan bibirnya.
"Leon..." Alicia mendesis pelan menerima kecupan lembut itu, bulu kuduknya meremang ketika kekasihnya itu mulai menggunakan bibirnya untuk menjelajahi setiap jengkal tubuhnya yang terbuka.
"Aku merindukanmu dan sangat menginginkanmu saat ini! Ijinkan aku menyentuhmu!" bisik Leon dengan nafas yang terdengar seperti deru ombak besar yang menyapu tepian pantai.
Alicia kembali terpaku ketika melihat wajah tampan itu tampak seperti seekor serigala kelaparan, bahkan ia sedikit cemas ketika Leon melempar gespernya dan mulai membuka paksa celana miliknya.
"Leon?? Akh!!" ia menjerit tertahan, karena kekasihnya ini mengambil kesempatan itu untuk mencetak gol dengan tongkatnya.
Tubuh Alicia menggeliat perlahan ketika Leon mulai menggerakkan tubuhnya dengan lembut, tidak hanya menggunakan tongkat kesayangannya, bahkan Lidah hangat Leon saat ini sedang bermain-main di puncak gunung kembarnya dan membuat Alicia seperti sedang berada di sebuah roller coaster, berkali-kali tubuhnya menggeliat naik dan turun, dan berkali-kali juga desisan mewarnai malam yang melelahkan ini, dan Alicia... Tidak lagi bisa menghitung berapa kali tubuhnya itu meledak dalam kenikmatan, karena ia dan Leon melakukannya terus dan terus hingga pagi tiba.
***
Pagi hari ketika semua pergulatan itu telah berakhir, Leon sama sekali tidak berani memejamkan matanya karena ia takut kekasihnya ini akan kembali meninggalkan dirinya, walau seluruh tulang di dalam tubuhnya menjerit karena lelah dan mata miliknya telah memohon untuk beristirahat setelah dipaksa terbuka semalam suntuk, Leon tetap bertahan memperhatikan kekasihnya yang saat ini sedang memejamkan matanya sambil memeluk dirinya, sesekali bibirnya tersenyum mengingat apa yang baru saja terjadi, karena akhirnya malam ini ia bisa melampiaskan seluruh kerinduannya pada kekasihnya ini.
Setelah memastikan kekasihnya telah terlelap, ia pun turun perlahan dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Hanya lima belas menit, Leon telah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil tersenyum senang, Leon merasa sangat bahagia karena telah menemukan Alicia dan berhasil membuat kekasihnya itu tetap tinggal, di tengah kebahagiaannya saat ini ia pun memutar pandangannya dan melirik ke atas ranjang di mana kekasihnya itu tadi sedang tertidur, tetapi senyumannya seketika berubah dan alis tebalnya tampak berkernyit karena ia tidak melihat Alicia berada di sana.
"Dia mempermainkanku lagi!!" dengusnya kesal sambil membanting handuk ke lantai kamar, dengan terburu-buru Leon melangkah ke sisi ranjang dan meraih telpon hotel yang berada di atas nakas di sisi ranjang lalu tampak menghubungi seseorang.
Sementara itu tiga puluh menit kemudian, di sebuah kamar yang berada di lantai yang berbeda.
Biana memperhatikan Alicia dengan wajah bingung, kebingungannya ini karena Alicia baru kembali pagi hari setelah pergi semalaman, bahkan di tangan Alicia tidak terlihat membawa cemilan seperti yang telah ia janjikan.
Tidak hanya itu, Alicia juga tergesa-gesa mengajaknya meninggalkan hotel ini setelah buah hatinya menyelesaikan mandinya.
"Kakak, apa yang terjadi? Mengapa kita harus pergi lagi? Leonardo bahkan belum sarapan pagi," ucapnya dengan suara pelan, sambil memperhatikan Alicia yang sedang mengeluarkan tas miliknya dari dalam lemari.
"Kita akan sarapan di luar! Keberadaanku di sini telah diketahui oleh pria itu! Yang sangat ingin kuhindari," tukas Alicia, ia menghampiri Leonardo dan menggendong putranya, "Biana, buka pintunya kita harus pergi!" perintahnya.
Dengan langkah gontai Biana melangkah ke pintu dan membukanya.
Melihat pintu telah terbuka tanpa menunggu lagi, Alicia pun bergegas keluar sambil menyeret tas miliknya.
"Bukankah aku telah memintamu untuk tinggal?!"
Teguran bernada dingin itu membuat langkahnya terhenti setelah beberapa langkah dari pintu.
Di sisi lain, Biana yang baru saja keluar dari kamar dengan spontan berbalik ketika mendengar suara dingin seorang pria dari arah belakang.
Di hadapannya saat ini telah berdiri dua orang pria, salah satu dari kedua pria tersebut mengenakan pakaian bermerk yang terlihat mewah di tubuh kekarnya, pria ini memiliki rambut putih keperakan yang berkilau indah, alis matanya tebal dan rapi, warna matanya biru jernih, ditambah hidung yang tinggi dan ramping, pria ini bahkan terlihat lebih tampan dari semua Model Pria yang pernah dilihat olehnya, dan ia melihat pria ini sedang menatap lurus ke arah belakang tubuhnya di mana Alicia yang sedang menggendong putranya berdiri.
"Apakah janjiku semalam padamu belum cukup?!" lontar pria itu.
Dan Biana tahu bahwa ucapannya ini ditujukan untuk Alicia.
"Mengapa kakak ingin menghindari pria setampan ini?" bisik hatinya bingung.
__ADS_1