
Hari sudah terlalu larut bagi Alicia untuk pulang ke rumahnya, dan ia cukup beruntung ketika tadi meminta ijin pada orang tuanya untuk pergi bersama Gwen, Gwen telah terlebih dahulu meminta ijin pada kedua orang tuanya jika konser berakhir sangat larut, maka ia akan menginap di rumah Gwen, dan sesaat sebelum menghubungi Leon agar menjemputnya, Alicia telah menghubungi ibunya untuk memberitahukan bahwa malam ini ia akan menginap di rumah sahabatnya itu, gadis kecil itu merasa bersalah pada ibunya karena telah berbohong, tetapi ia juga tidak ingin mengganggu istirahat kedua orang tuanya demi menunggu kepulangannya, karena itu ia hanya bisa meminta Leon untuk menjemputnya.
"Di mana teman-temanmu?" tanya Leon ketika membukakan pintu mobil untuk Alicia.
"Mereka telah pulang karena melihatmu menjemputku!" jawab Alicia sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil.
"Oh," tukas Leon singkat, ia duduk di samping Alicia dan mulai menghidupkan mobilnya, "Pasang seatbellmu!" perintahnya, saat melihat kekasih kecilnya itu menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Aku lelah sekali... Tolong lakukan untukku, plis...!" Alicia merengek dengan suara manja sambil menarik lengan kemeja Leon dan mengerjapkan matanya.
Leon tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang kekanakan.
"Gadis kuat sepertimu, sejak kapan bisa merasa lelah?" tanyanya sambil mencubit hidung mungil Alicia dengan gemas.
"Aku kan hanya seorang gadis kecil tentu saja bisa merasa lelah!" celetuk Alicia, ia tersenyum ketika berhasil membujuk kekasih tampannya itu untuk memasangkan seatbell padanya, sebenarnya ia sengaja melakukan hal itu, ia ingin mengambil kesempatan ini untuk mencium kekasihnya itu yang selalu menghindarinya beberapa hari ini.
Dan Leon, tentu saja menyadari trik kecil Alicia padanya, karena itu ketika ia membungkukkan tubuhnya untuk meraih seatbell milik Alicia, ia sedikit berjaga-jaga.
Sesuatu yang ditakutkannya benar-benar terjadi, ketika tangannya berhasil meraih seatbell Alicia, gadis itu menarik kerah kemejanya, dengan gerakan spontan Leon melepaskan seatbell dan menahan jidat Alicia yang telah memonyongkan mulutnya, dengan jari telunjuknya.
"Gadis kecil... Kamu licik sekali!" gumam Leon, ia berusaha menahan senyumnya saat melihat mimik Alicia yang terlihat lucu di matanya.
Alicia melipat tangannya di depan dada sambil memasang wajah cemberut, karena Leon lagi-lagi menghindar darinya.
"Leon tidak mencintaiku! Aku pikir Leon pergi kemarin untuk menemui pacarmu di luar sana! Karena itu Leon selalu menghindariku beberapa hari ini!" protesnya.
Leon tertawa kecil melihat tingkah Alicia yang memalingkan wajah darinya, tetapi ia dengan sabar tetap memasangkan seatbell kekasihnya itu.
__ADS_1
"Gadis bodoh." ia mengelus kepala Alicia dengan lembut, "Kekasih dan istri masa depanku hanya satu! Dan sekarang gadis itu sedang cemberut padaku!" ucapnya, ia menatap ke depan dan mulai menjalankan mobilnya menembus gelapnya malam.
Suasana hening beberapa saat karena Alicia masih terlihat marah atas penolakan Leon.
Sementara Leon beberapa kali melirik kekasih kecilnya itu.
"Masih marah?"
Pertanyaan itu tidak dijawab Alicia, gadis itu masih menatap keluar jendela mobil dengan wajah cemberut, bahkan ia mendiamkan Leon hingga mobil memasuki pekarangan rumah Leon.
Setelah mobil berhenti, Alicia terburu-buru keluar dari mobil, menaiki teras rumah Leon dengan kesal.
Leon hanya menghela nafas melihat tingkah kekasihnya itu, ia membukakan pintu rumahnya untuk Alicia sambil menatap gadis itu yang memalingkan wajah darinya.
Baru saja Alicia melangkahkan kakinya memasuki rumah, Leon dengan cepat mengangkat tubuh mungilnya dan menjatuhkannya ke sofa, ia mencium bibir merah itu yang selalu menekuk selama di mobil, sentuhan lembutnya membuat Alicia membalasnya, Alicia telah menahan hal ini berhari-hari sejak bertemu kembali dengan Leon karena Leon selalu menghindarinya.
Alicia tertegun mendengar suara tersebut, ini adalah kemeja ketiga Leon yang robek di tangannya, ia takut Leon akan marah padanya, ia bahkan menutup matanya dengan cepat karena Leon menghentikan sentuhannya, tetapi setelah menunggu beberapa saat, suara Leon sama sekali tidak terdengar, hanya hembusan nafas hangat Leon yang terasa menyentuh lehernya, perlahan Alicia membuka matanya, pria tampan bermata biru itu sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Mengapa dia tersenyum?" tanya hatinya cemas, saat melihat senyum nakal milik Leon.
"Alicia... Kamu harus mengganti kemejaku!" bisik Leon, baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, tangan kekarnya dengan cepat mengangkat tubuh Alicia dan mendudukkan kekasih kecilnya itu di pangkuannya, membuat Alicia yang terkejut terpaku di hadapannya.
Senyum Leon merekah melihat wajah mungil itu menatapnya dengan polos.
"Malam ini berikan dirimu padaku!" bisiknya lagi sambil menurunkan resleting dress yang dikenakan Alicia perlahan.
Wajah Alicia bersemu merah mendengar permintaan Leon yang sangat tiba-tiba, Alicia yang merasa belum siap melakukan hal itu mengangkat tangannya ingin mendorong tubuh Leon, di saat yang sama Leon menangkap kedua tangannya dan membalikkan tubuh mungil itu, lalu menjatuhkannya kembali ke sofa.
__ADS_1
"Leon aku..." Kata-kata Alicia terhenti, sekujur tubuhnya kaku seketika karena Leon mengecup punggungnya dengan lembut, "Leon..." Desisnya.
"Aku tidak akan berhenti hari ini!" Leon melempar bra milik Alicia yang telah berhasil dibuka olehnya, ia kembali mencium punggung putih di hadapannya, Alicia menggigit bibirnya merasakan sentuhan bibir Leon di kulitnya, sesekali suaranya terdengar mendesis pelan ketika jemari Leon menyentuh kakinya dan terus bergerak naik.
"Leon..."
"Mr. Leon Vald! Tolong lakukan hal itu di kamarmu! Kasihani sahabatmu yang jomblo ini!"
Suara protes nyaring itu membuat Leon menghentikan aksinya, dengan gerakan cepat ia menutup tubuh Alicia yang terbuka dengan jas miliknya yang tergeletak di sofa, lalu menatap Dr. Mark yang sedang memperhatikan dirinya dengan tajam.
"Ini sudah larut! Mengapa belum tidur?!" ia mendengus kesal.
"Kalau aku tidur terlalu cepat, bagaimana aku bisa menonton pertunjukkan yang sangat menarik ini?!" Dr. Mark melirik bra yang tergeletak di sandaran sofa, "36?? Hmmm... Ukuran bagus!" celetuknya.
Mendengar hal itu, wajah Alicia kembali bersemu merah, ia meraih branya dan segera menyembunyikannya.
Sementara Leon, beranjak dengan cepat menghampiri sahabatnya itu dan mendorongnya menjauhi ruang tamu.
"Kembali ke kamarmu!" bisiknya dengan emosi.
"Bukan aku yang harus ke kamar, tetapi kamu dan kekasih kecilmu itu yang harus berada di sana! Selama aku tinggal di sini, tolong lakukan hal itu di tempat tertutup!! Kasihanilah diriku ini!!" protes Dr. Mark.
"Tetapi ini rumahku! Aku bisa melakukannya di manapun aku mau!"
"Ya... Jika Mr. Leon Vald yang agung ini tidak keberatan aku melihat tubuh calon pengantinmu, maka lakukanlah! Selamat malam..." Dr. Mark melambaikan tangannya pada Leon, dan menutup pintunya kamarnya sambil tersenyum.
"Pria ini... Aku pikir aku terlalu memanjakannya! Sesekali aku harus membuatnya merasakan gigiku ini!" rutuk Leon melihat wajah tengil sahabatnya itu, sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah sofa, tetapi Alicia sudah tidak terlihat di sana, "Haizzz... Aku harus mengusir pria ini besok!!" bisik hatinya.
__ADS_1