
"Ini semua salahku yang terlambat menemukanmu dan putra kita, andai saja aku menemukanmu sedikit lebih awal seharusnya saat ini Leonardo telah bisa mengkonsumsi darah ini, sekarang usianya sudah hampir 6 tahun, usia yang sama denganku ketika aku pertama kali menyadari wangi darah manusia hidup, dan di saat itu juga aku menghisap habis darah seseorang yang tanpa sengaja memasuki kastil ayahku, bahkan aku juga menghisap darah ibuku karena lapar, saat itu ibuku hampir mati jika ayahku tidak segera memberikan darahnya pada ibuku dan membuat ibuku menjadi seorang Drakula, aku... Aku tidak ingin itu terjadi padamu dan putra kita!" Leon meletakkan gelas yang berisi darah di meja, lalu menatap Leonardo putranya dan menghampirinya, ia berjongkok di hadapan Leonardo setelah berada di hadapan putranya itu, "Maaf ayah telah menakutimu, sebenarnya hari ini ayah sangat bahagia karena putra kecilku ini telah bersedia memanggilku ayah, tetapi semua yang ayah lakukan adalah untuk menjaga keselamatanmu dan ibumu! Ayah bekerja hingga sampai ke tahap ini agar bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu dan ibumu, karena ayah tidak ingin masa lalu ayah yang suram terulang padamu!" ucapnya pelan sambil tersenyum dan mengusap kepala Leonardo dengan lembut.
Ucapan sang ayah membuat Leonardo mengangkat wajahnya menatap ibunya.
"Ibu??" panggilnya ketika melihat ibunya hanya diam.
Alicia memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup menerima tatapan polos putra kecilnya itu.
"Apakah kamu menyayangi ibumu?"
Pertanyaan itu menyentakkan Leonardo kecil, ia kembali berpaling pada ayahnya.
"Ibumu adalah seorang wanita yang istimewa, bagi Kaum Drakula yang telah menyadari jati dirinya darah milik ibumu ini akan menarik perhatian mereka untuk mengejarnya, karena saat tubuh seorang Drakula sudah mampu merasakan darah segar dari manusia hidup maka mereka juga akan menyadari betapa manis dan wanginya darah milik ibumu, hal itu juga akan terjadi padamu! Dan jika keinginan untuk makan itu sudah tidak tertahankan, maka kamu tidak akan menyadari bahwa ia adalah ibumu karena yang ada dipikiranmu saat itu hanyalah makan! Apakah kamu akan membiarkan keinginanmu itu membunuh ibumu?!"
Penjelasan itu membuat Leonardo kecil terkejut, mata bundarnya melirik gelas darah yang diletakkan ayahnya di atas meja di samping tempat ia berdiri saat ini, dengan tangan gemetar ia meraih gelas tersebut.
"Leonardo??" Alicia tertegun melihat buah hatinya itu berusaha menghabiskan isi gelas tersebut sambil memejamkan matanya, wajah kecil itu terlihat sangat jijik melakukan hal itu tetapi putranya itu tetap meminumnya sampai habis.
"Apakah rasanya sangat buruk?" tanya Leon, ia mengambil gelas dari tangan putranya yang telah membuka kembali matanya.
Leonardo tidak segera menjawab pertanyaan itu, ia tampak mengendus perlahan dan membersihkan sisa darah dari pinggir bibirnya dengan lidah kecilnya lalu tersenyum.
"Lumayan," tukasnya, "Ibu... Aku bisa melakukannya! Jadi aku tidak akan pernah menyakiti ibu." Ia kembali menatap ibunya sambil tersenyum.
Alicia hanya diam dan memperhatikan buah hatinya itu, wajah mungil itu perlahan-lahan terlihat segar, bahkan rambutnya yang putih keperakan tampak berkilau indah.
"Ternyata ini yang selalu dilakukan oleh Leon dulu ketika ia menghilang dariku," bisik hatinya gusar.
"Kamu telah melihatnya?!" Leon melirik Alicia, "Sekarang kamu telah mengetahuinya bukan? Jika seorang Drakula sangat memerlukan darah manusia untuk melanjutkan kehidupannya, tetapi tenang saja, aku bisa mendapatkan hal ini tanpa harus membunuh seseorang." ia berdiri dan meletakkan kembali gelas yang telah kosong ke atas meja, sambil tersenyum ia mengangkat tubuh Leonardo kecil, "Ayah bangga padamu, karena kamu telah bersedia melakukan apapun demi ibumu."
__ADS_1
Kegembiraan yang ditunjukkan Leon bersama putra kecilnya itu membuat Alicia hanya bisa menghela nafas.
"Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri untuk melihat hal ini!" sungutnya dalam hati.
***
Larut malam ketika melihat Alicia telah tertidur sambil memeluk putranya, Leon pun meninggalkan kamarnya karena ia harus bertemu dengan sahabat sekaligus bawahannya Anton.
Dua penjaga terbaik ia tempatkan di depan kamarnya untuk melindungi anak dan Calon Pengantinnya itu sebelum pergi.
Dan Anton, sahabat gilanya itu memintanya untuk bertemu di Klub Malam milik Julian, ia dan Dr. Mark sangat mengenal baik temperamen Anton, pria itu suka sekali minum whisky terbaik dan berada di Klub Malam mewah dengan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik, kebiasaan hidup yang sangat bertolak belakang dengan dirinya dan Dr. Mark yang sangat menyukai kesederhanaan.
"Pria gila itu belum berubah," Dr. Mark mendengus kesal, karena beberapa saat setelah ia memasuki Klub Malam ini ia menemukan Anton telah duduk di sebuah sofa bersama empat orang wanita.
"Bukankah kamu juga tidak pernah berubah?!" Leon melirik Dr. Mark yang melangkah bersamanya mendekati sofa Anton.
"Tetapi aku lebih baik darinya!" protes Dr. Mark dengan wajah cemberut.
"Bos!!"
Teriakan nyaring itu membuat Leon dan Dr. Mark berpaling, di hadapannya tampak Anton beranjak dari sofanya dan berlari menghampiri Leon.
"Apa kabar Bos?" sapa Anton sambil menyeringai pada Leon.
"Seharusnya lebih baik darimu!" sahut Leon dingin.
"Hahaha... Aku sudah tahu Bos akan menjawab seperti ini!" seloroh Anton, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berpaling pada Dr. Mark.
Wajah tengil sahabatnya itu membuat Dr. Mark mundur perlahan.
"Hei Leon, apakah pria gila ini akan memelukku seperti yang biasa ia lakukan?!" bisiknya cemas.
__ADS_1
Pertanyaan itu belum dijawab oleh Leon, dan Anton telah memeluknya dengan erat.
"Aku rindu padamu, ayo habiskan malam bersamaku!"
Dr. Mark bergidik mendengar bisikan itu keluar dari mulut seorang pria kekar berwajah tampan dan sangar.
"Aku akan mempersiapkan kamar untuk kalian berdua, tetapi sebelum itu ada beberapa hal yang harus kita bicarakan!" Leon menarik kerah belakang kemeja Anton karena Dr. Mark memohon padanya dengan wajah memelas.
"Hahaha... Bos memang yang terbaik." Anton melepaskan pelukannya dan mengedipkan matanya pada Dr. Mark, "Tunggu aku!" bisiknya.
Dr. Mark melemparkan tatapan protes pada Leon yang tampak tidak peduli dan menyeret Anton ke arah sofa.
"Hei Dokter gila!"
Sebuah tepukan di pundaknya mengejutkan Dr. Mark dan membuatnya berpaling.
"Alice?? Aku terselamatkan!" bisik hatinya, ia tersenyum pada wanita yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Ada apa dengan senyum jelek itu?!" lontar Alice dengan wajah curiga.
Dr. Mark dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya, ia memasang wajah memelas di hadapan Alice dan memberi kode dengan sudut matanya yang melirik ke arah sofa di mana Leon dan Anton berada.
Alice mengikuti sudut mata Dr. Mark dan memperhatikan sofa tersebut.
"Ternyata selingkuhanmu telah kembali?" candanya sambil menahan senyum.
"Kamu harus menolongku! Pria berdarah dingin itu ingin menyediakan kamar untukku dan sahabat gilanya itu!" bisik Dr. Mark dengan wajah cemas.
Alice tertawa kecil melihat kecemasan di wajah mantan kekasihnya itu.
"Hmmm... Haruskah aku membantumu?" tanyanya sambil menatap Dr. Mark dengan kerlingan nakal.
__ADS_1