STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.

STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.
PERCAYALAH PADAKU!


__ADS_3

PLAKKK!!!


Sebuah tamparan menyambut Leon yang ingin meraih tubuh Alicia, tadinya ia hanya ingin memeluk istrinya ini untuk menenangkannya karena Alicia berteriak histeris ketika melihat kehadirannya, tetapi tamparan ini membuatnya sedikit terbakar emosi, ia meraih tubuh ramping di hadapannya itu dan menghunjamkan dua gigi tajamnya di pundak Alicia.


Alicia mendesis pelan ketika Leon melakukan hal itu padanya, tarikan kencang pada pembuluh darahnya yang membuat darahnya mengalir ke arah pundak membuatnya lemas.


"Kamu satu-satunya Pengantin Drakula yang sulit untuk ditangani!" rutuk Leon kesal sesaat setelah mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Alicia yang bersandar di dadanya, hari ini karena terbakar emosi dan sedikit lapar ia bahkan tanpa sadar telah menghisap jauh lebih banyak dari yang biasa ia lakukan pada Alicia, ia mengangkat tubuh ramping itu yang hampir tak bertenaga lagi dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Menjauhlah!! Aku tidak ingin bersamamu!!"


Penolakan dan dorongan tangan Alicia yang lemah pada dadanya membuat Leon kembali kesal.


Tidak ingin bersamaku?!!!


Leon membuka dasi, jas dan kemejanya dengan marah dan melemparkannya ke lantai, lalu membungkuk di hadapan Alicia yang menatapnya dengan penuh kebencian, tatapan ini sejenak membuatnya terpaku.


Ini pertama kalinya ia menatapku seperti ini, apakah aku telah keterlaluan kali ini?


Hatinya resah melihat wajah Alicia.


"Apakah terlalu sulit bagimu untuk membujukku?" gumamnya lirih, ia menyentuh wajah istrinya yang sangat disayanginya itu.


"Bukankah semua ini kamu yang telah memulainya?! Kecurigaanmu padaku terlalu memuakkan!!" jerit Alicia histeris.


Aku membuatnya muak?


Leon tersenyum getir, mata tajam miliknya menatap Alicia dengan sayu, hatinya sedikit terluka melihat kemarahan di wajah istrinya itu.


"Sebenarnya aku tidak mencurigaimu sama sekali, tahukah kamu bagaimana perasaanku semalam ketika mengetahui putraku terkena obat bius dan tergeletak di kamar ini?! Bahkan istriku dan sahabatku menghilang," ucapnya pelan sambil mengelus pipi Alicia dengan lembut.


"A... Apa?! Le... Leonardo terkena obat bius? Lalu di mana putraku sekarang? Di mana Leonardo? Aku ingin melihatnya."


Alicia mencoba mendorong Leon yang membungkuk di atas tubuhnya, tetapi Leon justru mengecup lembut bibirnya yang sedang bergetar karena cemas.


"Leonardo baik-baik saja, sekarang ia berada di tempat Alice," ucap Leon sambil mengalihkan kecupannya ke leher Alicia.

__ADS_1


"Le... Leon... Bukankah kamu telah mencurigaiku dan Anton? Lalu mengapa..."


Alicia mendesis pelan ketika merasakan lidah hangat Leon mulai bermain-main di sekitar pundaknya dan terus bergerak turun.


"Sudah kukatakan aku tidak mencurigaimu, jika aku mencurigaimu aku tidak akan menginginkanmu sekarang!" bisik Leon dengan nafas yang terdengar cepat, tangan kekarnya mengusap kaki Alicia dan meremas lembut paha istrinya itu.


Gerakan lidah Leon dan sentuhan tangannya membuat Alicia tenggelam dan semakin dalam, rintihan dan desisan halus yang terucap dari bibir mungilnya bahkan membuat Leon semakin liar menyentuhnya, dan entah sejak kapan Leon melakukan hal itu padanya tetapi saat ini tubuhnya telah bergerak seperti gulungan ombak besar yang ingin memecah karang, naik dan turun, tidak hanya sampai di situ... Tangan Leon juga telah menggenggam kedua tangannya yang selalu menarik sprei, tangan kekar itu menahan tangannya terus dan terus.



Suara desis tertahan mengakhiri adegan panas pagi ini.


Leon tersenyum tipis menatap wajah kemerahan yang sedang memejamkan matanya itu, istrinya ini tertidur tak lama setelah ia mengakhiri aksinya.



"Mengapa aku harus tertarik pada seorang wanita egois seperti dirimu?" bisiknya dalam hati sambil memperhatikan wajah Alicia, "Kamu benar-benar membuatku tak berdaya di hadapanmu, hei Pengantinku! Mengapa harus selalu aku yang membujukmu? Tak bisakah sesekali kamu yang melakukannya untukku?" ia kembali bergumam lirih, Leon menyentuh wajah itu yang tampak kelelahan karena harus menghadapi keinginan liarnya pagi ini.


***


Pagi ini setelah menyelimuti Alicia dan mengecup lembut kening istrinya ini, ia jatuh tertidur di samping Alicia yang masih memeluk dirinya, ini terjadi karena ia kurang tidur selama beberapa hari demi mempersiapkan pernikahannya ditambah lagi harus menyusun rencana untuk menghadapi Marino dan Dimitri serta kemarahan istrinya ini, semua itu membuatnya sangat lelah.


Melihat Alicia masih tertidur pulas, ia pun memindahkan tangan Alicia yang berada di atas tubuhnya dengan perlahan, lalu turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian ia telah keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya, sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk ia melangkah menghampiri Alicia yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur, selimut yang menutup tubuh istrinya itu sedikit tersingkap dan memperlihatkan tubuh putih bersih yang dipenuhi bercak kissmark.


Wajah Leon memerah melihat hal itu, ia juga tidak tahu mengapa ia senang sekali melakukan hal itu pada istrinya ini, bahkan ia merasa tingkahnya ini sedikit mirip dengan seekor anjing yang sedang menandai barang miliknya.


"Seharusnya aku meninggalkan tanda itu di wajahnya agar semua orang tahu dia milikku!" rutuk hatinya sedikit menyesal, setelah melemparkan handuknya ke sofa, Leon pun meraih selimut untuk menutup kembali tubuh istrinya yang terbuka.


Berselang beberapa menit kemudian, pria atletis yang memiliki tinggi 190 cm ini telah tampak rapi, celana kerja semi sutra berwarna hitam telah menutup kaki panjangnya, kemeja satin berwarna merah menampilkan lekuk tubuhnya yang kekar, Pemimpin Tertinggi Vald Corporation ini memang sangat mencintai warna merah karena warna merah itu adalah warna darah yang sangat disukainya, karena warna merah juga terlihat sangat bagus di kulitnya yang sedikit pucat, oleh sebab itu ia sangat menyukai warna ini.


Baru saja ia ingin meraih salah satu dasi miliknya yang tersusun rapi di dalam lemari, suara dering ponselnya menghentikan gerakan tangannya itu.


Ia melangkah mencari darimana suara itu berasal hingga matanya menatap jas miliknya yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Huft... Aku melupakan ponselku karena ucapannya!" Leon menghela nafas dan meraih jasnya, ia merogoh kantong dalam jasnya dan mengambil ponsel miliknya.


Nama Anton tampak di layar ponselnya, sambil melangkah ke balkon ia mengangkat panggilan itu.


"Bos..." Suara di seberang terdengar bergetar.


"Anton?? Ada apa?!" tanyanya khawatir.


"Bos... Nyonya... Dimitri mengincar Nyonya!"


"Jangan bicara lagi! Kembali sekarang!!" perintahnya setengah berteriak.


"Bos... Aku... Aku..."


"Anton?? Hei Anton!!"


BIP... BIP...


Panggilan terputus, Leon terpaku mendengar hal itu, tanpa berpikir panjang lagi ia menghubungi seseorang dengan ponsel miliknya, wajahnya tampak sedingin es ketika berbicara dengan seseorang yang berada di seberang sana.


Anton, kamu harus hidup! Aku tidak akan membiarkan Dimitri berhasil dengan rencananya!


Leon menggenggam erat ponselnya setelah panggilan berakhir, bahkan rahang kerasnya tampak semakin tegas ketika ia menggertakkan giginya karena marah.


"Di mana dia?! Di mana Anton?! Apakah kamu yang telah melakukan ini padanya?! Kamu ingin menghukumnya bukan?! Leon, pria itu adalah sahabatmu baikmu yang sangat menghormatimu!!"


Jeritan histeris dari arah belakang membuat Leon membalikkan tubuhnya, di hadapannya saat ini Alicia sedang berdiri menatapnya dengan wajah kesal, tubuh polos istrinya itu terbalut dengan selimut.


"Hei Alicia, aku..."


Leon melangkah menghampiri Alicia dengan mengangkat tangannya, ia ingin meraih pundak istrinya itu, tetapi Alicia menghindari sentuhannya itu.


"Berjanjilah padaku kalau kamu akan menyelamatkannya! Dimitri tidak boleh mendapatkan Anton, pria tua itu sakit!!"


"Tenanglah!" Leon menarik Alicia yang terus menghindarinya, ia menahan tubuh mungil itu yang terus meronta di dalam pelukannya, "Kumohon tenanglah! Anton sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, jadi... Aku tidak akan pernah membiarkan Dimitri mendapatkannya! Tenanglah... Percayalah padaku!" bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2