Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 10. Arya vs Gandi


__ADS_3

Savitri melihat mobil Gandi yang masih di depan rumahnya. Dia tidak bisa tidur lampu ruang depan masih dinyalakan. Tidak lama kemudian ada notifikasi pesan masuk di hapenya. Setelah dilihatnya ternyata ada pesan dari Anisa dan Bu Erte. Keduanya menyampaikan pesan kalau Gandi berada di pos satpam. Dan Savitri disarankan untuk istirahat dan tidak usah memikirkan mobil Gandi yang di depan rumahnya. Tadi setelah mendapat informasi dari Anisa kalau warga komplek membicarakan kedatangan Gandi yang terlalu sering, Savitri lalu menghubungi Bu Erte untuk meminta maaf.


“Sudah Kak, lampu ruang tamu dimatikan saja dan tidur. Warga komplek sudah tahu kalau Om Gandi di pos satpam, tidak di dalam rumah Kak Vitri. Sepertinya dia benar benar sayang pada Kak Vitri sampai rela menjaga Kak Vitri di pos satpam he..he..”


Savitri meletakkan hapenya, setelah membaca pesan teks Anisa. Dilihat kedua anaknya tertidur pulas. Reno dan Reni tadi disuruh tidur lebih awal. Besok pagi Savitri berencana akan mengantar sendiri Reno ke sekolah. Dan dia akan mengantar lebih pagi dari hari hari biasanya agar tidak kedahuluan kedatangan Gandi. Dipandanginya wajah kedua anaknya, wajah yang mengingatkan pada wajah suaminya. Tidak terasa air mata Savitri meleleh.


“Bang Ardi....” ucap Savitri sambil menghapus air matanya. Savitri lalu berjalan memandangi foto Ardi yang terpampang di dinding kamarnya.


Ucapan Gandi tadi dan kalimat Anisa masuk ke dalam pikiran Savitri. Savitri bingung dengan dua pilihan yang sebenarnya belum dia inginkan. Menerima perjodohan keluarga mendiang suami atau menerima Gandi.


“Arya baik, tapi dia mau menerima perjodohan karena anak anak bukan karena mencintai aku. Itu akan menyakitkan hati Arya.” gumam Savitri sambil menoleh melihat wajah kedua anaknya.


“Gandi, apa benar seperti yang dibilang apa Gandi benar benar sayang anak anak, apa dia benar benar mencintai aku...” gumam Savitri lagi, dia lalu memegangi pelipisnya yang terasa syaraf syaraf ototnya mengencang di sana.


“Pa...” ucap Savitri sambil mengusap lembut foto Ardi. Dada Savitri terasa sakit ingin dia menangis namun dia tahan takut kedua anaknya terbangun. Savitri mengambil nafas dalam dalam dia menguatkan diri. Harus kuat demi anak anak, begitu gumamnya.


Savitri mengusap usap lagi foto Ardi, lalu dia membalikan tubuhnya dan berjalan menuju ke tempat tidur. Savitri berusaha memejamkan matanya namun terasa sulit. Detak jam dinding terus berjalan namun Savitri belum bisa memejamkan matanya. Dia lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke nakas mengambil air putih kemudian....


“Aku harus minum ini agar besok bisa bangun pagi bisa mengantar Reno ke sekolah.” gumam Savitri sambil menelan satu butir obat tidur. Memang setelah kematian Ardi dia sering tidak bisa tidur maka akhirnya dia harus mengkonsumsi obat tidur agar bisa tidur dan keesokan harinya bisa mengurus anak anaknya. Memang itu tidak baik bagi kesehatannya jika dilakukan dalam jangka panjang. Namun saat sekarang Savitri masih membutuhkan obat tidur tersebut apalagi ditambah masalah pergunjingan warga komplek secara tidak langsung menambah beban pikiran.


Pagi hingga siang Gandi tidak datang ke rumah Savitri. Reno diantar jemput oleh Savitri. Reno bisa mengerti setelah diberitahu oleh Savitri dan Mbak Lastri. Dia tidak protes dan tidak banyak menuntut. Savitri bisa bernafas lega, Reno dan Reni tidak rewel dan Gandi tidak datang, sehingga tidak ada pembicaraan negatif warga komplek untuk dirinya setidaknya pagi hingga siang ini.


“Bisa tenang ya Bu hari ini.” ucap Mbak Lastri sambil memberesi meja makan.


“Iya Mbak, Reno tidak rewel mau aku antar jemput, juga Om Gandi sudah tidak datang pagi pagi hari dan dolan ke sini seharian. Aku mau istirahat ya Mbak, nemeni anak anak.” ucap Savitri lalu berjalan menuju ke kamarnya untuk menyusul anak anaknya istirahat siang.


Namun kedamaian hati Savitri tidak berlangsung lama. Savitri yang sudah senang karena pagi dan siang Gandi tidak datang. Sekarang gelisah lagi karena Gandi datang di malam hari. Menjelang jam makan malam Gandi datang lagi.


“Om, sudah dibilangin jangan sering sering ke sini apalagi malam hari. Ini masih saja datang di malam hari.” ucap Savitri saat membukakan pintu. Sebab Mbak Lastri sedang menyiapkan makan malam.


“Vit, hatiku tidak tenang kalau tidak datang ke sini. Kalau tidak melihat dirimu sebentar saja jantungku berdetak tidak teratur.” ucap Gandi mengombal

__ADS_1


“Apa kamu tega aku terkena serangan jantung. Aku duduk di teras ditemani Mbak Lastri juga tidak apa apa. Ikut makan malam juga boleh.” ucap Gandi lagi tidak tahu diri.


“Mbak Lastri sibuk. Makan malam terbatas buat kami.” ucap Savitri dengan ketus.


“Ya sudah.” ucap Gandi lalu berjalan keluar.


Savitri lega karena Gandi sudah meninggalkan rumahnya. Namun dia heran kenapa mobilnya tidak juga berjalan pergi. Gandi tidak mau menyerah, dia sudah melakukan pendekatan dengan Pak Satpam. Gandi berjalan menuju ke pos satpam dia mau makan malam dengan Pak Satpam.


“Pasti nongkrong lagi di pos satpam.” gumam Savitri. Savitri lalu menelpon Arya memberitahu permasalahannya. Arya yang sebelumnya jugs sudah ditelpon Mbak Lastri langsung datang ke rumah Savitri.


Sedangkan Gandi yang berada di pos satpam saat melihat mobil Arya melintas di depannya, dia langsung pamit pada Pak Satpam. Dia tinggalkan begitu saja makanan yang baru saja dipesan.


“Dimana orangnya?” tanya Arya saat Savitri membukakan pintu.


“Itu.” ucap Savitri sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Gandi yang sedang berdiri di pintu gerbang akan berjalan masuk ke rumah Savitri.


“Bang, aku hargai kamu sebagai teman Bang Ardi. Tapi tolong hargai juga keluarga Bang Ardi. Jangan mempermalukan istri Bang Ardi.” ucap Arya saat Gandi sudah berada di depannya.


“Masih mengelak juga, Kak Vitri jadi bahan pergunjingan di komplek .” hardik Arya.


“Itu hanya omongan orang kurang kerjaan saja.” ucap Gandi membela diri menyalahkan warga komplek.


“Kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri kan aku tidak berada di dalam rumah Savitri. Aku hanya menjaga dia dan anak anaknya. Sudahlah Arya bilang saja kalau kamu cemburu.” ucap Gandi dengan pelan namun membikin emosi Arya.


“Sialan kamu malah menuduh orang. Kehadiranmu di komplek ini membikin gelisah Kak Vitri. Kamu itu setiap waktu di sini memangnya kamu tidak punya kerjaan.” ucap Arya dengan keras.


“Kamu kalau omong jangan sembarangan, jjaga mulutmu itu kalau tidak mau aku robek.” ancam Gandi dengan suara yang lebih keras dari Arya.


“Sudah sudah kalian berdua keluar dari rumahku kalau malah bikin ribut.” teriak Savitri karena bingung malah mereka bertengkar teriak teriak. Savitri sungguh malu pada tetangga yang mendengar suara mereka bertengkar.


“Maaf Kak.” ucap Arya

__ADS_1


“Kalau kamu sungguh sungguh mencintai Kak Vitri nikahi dengan sungguh sungguh jangan bikin dia pusing.” ucap Arya yang sekarang suaranya tidak keras.


“Aku akan menikahi dia dengan sungguh sungguh. Tapi masalahnya Savitri belum mau.” jawab Gandi


“Kalau Kak Vitri belum mau ya jangan dipaksa dengan cara kamu selalu berada di sini. Sana pergi pergi..” ucap.Arya hang suaranya meninggi lagi.


“Kamu menyuruh aku pergi, tapi kamu sendiri mau tidur di sini. Ayo kamu juga pergi.” ucap Gandi suaranya juga ikut meninggi lagi


“Aku ini masih saudara bukan orang lain kayak kamu. Kalau aku di sini juga ada perlunya bukan kayak kamu nongkrong setiap saat......” ucap Arya


Mereka berdua masih ribut. Sementara di kamar Reno dan Reni yang mendengar ada keributan di rumahnya tampak takut dan akhirnya mereka berdua menangis memanggil manggil mama dan papanya. Savitri yang memdengar tangisan kedua anaknya lalu berlari menuju ke tempat kedua anaknya. Savitri terlihat semakin bingung dia memeluk kedua anaknya sambil menenangkan. Sementara di ruang depan terdengar Arya dan Gandi masih bersitegang.


“Mama aku takut Papa Arya dan Om Gandi marah marah... hua.... hua.....”


“Atu juda atut Ma... hua....hua.....hua... hua......” tangis Reni tidak mau kalah keras dari tangjsan Reno.


“Diam sayang jangan nangis ya, Mama jadi bingung...” ucap Savitri masih memeluk kedua anaknya.


“Mbaaaaakkkk.” teriak Savitri lebih keras dari tangjsan Reno dan Reni. Sedangkan Mbak Lastri yang malah asyik menonton Arya dan Gandi langsung terlonjak kaget saat mendengar teriakan Savitri memanggil dirinya. Mbak Lastri lalu berlari meninggalkan ruang depan yang sebenarnya dia tidak rela meninggalkan moment yang jarang dilihatnya Arya dan Gandi adu mulut bersilat lidah keduanya tampak emosi.


“Ada apa Bu, kenapa Kakak dan Adik menangis?” tanya Mbak Lastri yang tidak mengerti jika Reno dan Reni ketakutan mendengar Arya dan Gandi bertengkar. Sedangkan Mbak Lastri malah senang merasa mendapat tontonan.


“Usir mereka berdua!” teriak Savitri.


“Siapa Bu?” tanya Mbak Lastri.


“Arya dan Gandi!” teriak Savitri sebab Reno dan Reni masih terus saja menangis.


“Cepat!” teriak Savitri lagi sebab Mbak Lastri masih berdiri mematung.


“Iya iya Bu.” ucap Mbak Lastri lalu berlari meninggalkan kamar Savitri. Mbak Lastri tidak berjalan ke depan tetapi malah berlari ke belakang dia lalu mengambil sapu. Mbak Lastri berlari ke depan sambil membawa sapu, yang akan dia gunakan untuk mengusir Arya dan Gandi, dan untuk jaga diri jika dia malah diserang oleh keduanya jika tidak mau disuruh pergi.

__ADS_1


__ADS_2