Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 62. Sesi 2. Savitri Berdebar


__ADS_3

“Apa kamu lihat lihat aku?” ucap Oma sambil menatap Arya. Oma lalu dengan segera memakaikan baju Arya. Agar Savitri tidak terlalu lama menatap dinding.


“Sudah Vit, obatnya kamu kasih ke Arya. Aku akan kasih tahu Opa agar siap siap mengantar Arya.” ucap Oma lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua. Savitri lalu memberikan obat dan air mineral kepada Arya. Setelah Arya menelan obat dengan air mineral. Savitri memberikan hape kepada Arya.


Arya menerima hape nya dari tangan Savitri. Arya melihat banyak panggilan tidak terjawab dan juga banyak pesan teks masuk di aplikasi chatting.


“Nomor tidak dikenal.” gumam Arya. Lalu dia membuka aplikasi chatting dan dibuka pesan teks dari nomor tidak dikenal, ternyata benar dari Helena seperti yang sudah dia duga. Arya lalu mengabaikan semua pesan teks itu. Arya lalu membuka kontak nama Pak Slamet sopir yang akan menjemput Savitri. Arya meneleponnya dan minta Pak Slamet segera datang ke rumah Oma dan Opa.


“Kak Vitri simpan saja nomor kontak Pak Slamet dia termasuk sopir kepercayaan Bang Ardi dulu.” ucap Arya lalu membagikan nomor kontak Pak Slamet ke nomor kontak Savitri.


“Aku minta dia segera ke sini. Kak Vitri bisa berbincang bincang dengan dia. Orangnya disiplin, hati hati dan tanggung jawab. Dia tidurnya di mes perusahaan.” ucap Arya kemudian lalu menaruh hape di sampingnya tempat dia berbaring. Savitri hanya menganggukan kepala sambil memberesi gelas air mineral dan bungkus obat. Tidak lama kemudian pintu kamar Reno dan Reni terbuka dan muncul sosok Opa yang sudah berpakaian rapi siap mengantar Arya ke rumah sakit.


“Ya sudah siap belum, ayo kita berangkat.” ucap Opa saat sudah dekat di tempat Arya berbaring. Arya lalu bangkit dari tempat tidurnya secara pelan pelan sambil dibantu oleh Opa. Lalu mereka berjalan pelan pelan ke luar kamar menuju ke depan di mana mobil berada.


Oma juga sudah berada di depan mereka membantu Arya berjalan menuju ke mobil. Dan tidak lama kemudian mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Arya duduk di belakang kemudi bersebelahan dengan Oma.


“Kamu sakit kepala kenapa apa Ya? Mikir Helena?” tanya Opa saat mobil sudah keluar dari halaman rumah.


“Kalau karena mikir Helena kita bawa saja ke psikiater saja ya.” ucap Opa lagi menggoda Arya.


“Pa..” gumam Arya.


“Coba kamu tanya nanti ke dokter kalau yang bikin kamu sakit kepala itu adalah karena memikirkan sesuatu sebelum masalah itu selesai yang habis minum obat sakit lagi.” ucap Opa lagi.

__ADS_1


“Pa, kita belum periksakan Arya, kok Papa sudah menganalisa.” saut Oma


“Tapi aku pikir Arya pusing memang karena kedatangan Helena dan buntutnya. Maka aku tuh sarankan agar Arya segera cari istri biar tidak didatangi Helena.” ucap Oma kemudian.


“Atau kita jodohkan dengan siapa Pa kalau dia dan Savitri tidak mau dijodohkan. Papa punya tidak kontestan nya?” ucap Oma selanjutnya dengan nada serius sambil menoleh ke arah Arya.


“Kontestan apa, kayak lomba atau pemilu saja.” saut Opa.


“Kan sama saja pemilihan biar Arya yang memilih. “ sanggah Oma tidak mau kalah.


“Ma aku bisa tambah pusing masalah Helena saja sudah bikin pusing ditambah dengan masalah lagi.” ucap Arya sambil memegang lagi keningnya.


“Hmmm aku juga pusing Ya.” ucap Oma lalu menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.


Savitri yang sudah bersiap diri lalu segera membukakan pintu. Mereka lalu berkenalan dan mereka ingat pernah bertemu saat Savitri berkunjung di perusahaan. Sambil menunggu jam pulang Reni mereka berbincang bincang ringan mengenang almarhum Ardi.


Setelah waktu yang ditunggu tiba mereka segera menuju ke mobil untuk menuju ke sekolah Reni berada. Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan sekolah Reni. Terlihat anak anak belum keluar dari kelasnya. Savitri segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu gerbang. Savitri dengan anggun berdiri di depan pintu gerbang bersama beberapa ibu ibu penjemput lainnya. Tidak lama kemudian....


“Asyiiiiikkkk dijemput Mama.” teriak Reni yang keluar dari kelasnya saat melihat sosok Savitri berdiri di pintu gerbang sekolahnya.


“Itu Mamaku gaesss.... “ teriak Reni lagi sambil menunjuk Savitri memberi tahu pada teman temannya yang juga sedang berjalan keluar kelas bersama sama dirinya.


“Mamamu cantik kayak kamu Ren.” komentar salah satu teman cowok Reni yang berjalan bersama mereka menuju ke pintu gerbang sekolah. Teman teman yang lainpun membenarkan komentar temannya itu. Mereka semua terus berjalan, mereka memang tidak diperbolehkan berlarian oleh Ibu guru.

__ADS_1


“Iya, terimakasih ya....” jawab Reni sambil tersenyum malu. Dan tidak lama kemudian anak anak itu sudah sampai di pintu gerbang dan disambut oleh penjemput mereka masing masing. Savitri langsung menggandeng tangan mungil Reni.


“Opa masih di rumah sakit ya Ma?” tanya Reni sambil berjalan menuju mobil.


“Iya.” jawab Savitri sambil tersenyum menyapa penjemput teman teman Reni yang berjalan berpapasan.


“Ma... mobil kita datang lagi.” teriak Reni saat melihat mobilnya terparkir yang sudah tidak jauh darinya. Dan tidak lama kemudian Savitri membuka pintu belakang dia segera mengendong Reni dan memasukkan ke dalam mobil. Setelah Savitri masuk dia segera menutup pintu mobil.


“Selamat siang Nona Cantik.” sapa Pak Slamet yang masih duduk di jok kemudi sambil tersenyum menoleh ke arah Reni. Dan lalu dia segera menjalankan mobil meninggalkan sekolah Reni.


“Selamat siang Pak Slamet.” ucap Savitri membantu Reni, sebab Reni masih diam saja tidak menjawab sapaan Pak Slamet. Terlihat Reni kaget dikira Mamanya membawa mobil sendiri.


“Ayo Ren bilang apa. Dia Pak Slamet yang membantu kita akan mengantar jemput Mama, dan menjaga mobil kita.” ucap Savitri sambil menoleh ke arah Reni.


“Apa mobil kita diminta dia.” bisik Reni di telinga Savitri. Savitri tertawa mendengarnya lalu Reni mencubit kecil paha Savitri karena malu ditertawakan.


“Tidak sayang. Mobil dibeli Papa Arya pakai uang perusahaan jadi mobil selama ini ditaruh di perusahaan dan Pak Slamet ini karyawan Papa.” ucap Savitri sambil mengusap usap kepala Reni.


“Iya Non, saya sopir perusahaan Papa.” saut Pak Slamet sambil tersenyum dan menoleh sekilas.


“Sekarang kita akan ke perusahaan Papa.” ucap Pak Slamet selanjutnya sambil terus fokus mengendalikan laju mobil yang dikemudikannya.


“Accccccikkkkkk.. Terimakasih Pak Slamet, selamat siang...” teriak Reni sambil bertepuk tangan dan tertawa lebar. Pak Slamet tersenyum sambil menjawab sama sama. Lalu dia sejenak terdiam sambil tetap fokus pada kemudi mobilnya namun sejenak dia teringat akan almarhum Ardi. Sebagai karyawan yang dekat dengan almarhum dia merasa sangat kehilangan akan tetapi dia juga terobati sebab Arya pengganti Ardi juga memiliki banyak kesamaan.

__ADS_1


Mobil terus berjalan dan semakin mendekati lokasi perusahaan. Reni tampak wajahnya tersenyum senang sementara Savitri jantungnya berdetak lebih kencang, dia berdebar debar.


__ADS_2