
Reno memandang Anisa dan Mbak Lastri, dia melihat mereka berbicara sambil tertawa tawa. Beda dengan saat dulu saat berita pergunjingan beredar, Reno dulu melihat wajah mereka berbicara dengan wajah serius dan tampak kesal dan kuatir menjadi satu. Reno lalu tersenyum pada Mamanya.
Savitri lalu berdiri dan akan melanjutkan tugasnya menyiapkan hidangan makan malam. Akan tetapi dia terlonjak kaget saat melihat Reni berdiri di depan meja kecil dengan tenang sambil mengoleksi colek krim toping kue untuk makanan penutup dan menjilati jari jari yang sudah penuh krim itu.
“Reniiii.” teriak Savitri, Reni lalu menoleh sambil tertawa yang lainpun tertawa melihat bibir Reni yang belepotan krim warna soft pink dan cokelat itu.
“Reni tidak boleh seperti itu, kalau mau makan bilang Mama.” ucap Savitri lalu dia mengambil pisau dan piring dan memotong kue yang sudah dicolek colek oleh Reni. Selanjutnya mengambil tissu dan membersihkan wajah dan tangan Reni.
“Mama kan lagi sibuk aku sudah tidak tahan... enak Ma.” ucap Reni dengan tanpa dosa. Lalu dia memakan potongan kue yang sudah berada di atas piring.
Sesaat kemudian Oma dan Nenek masuk ke dalam ruang makan. Mereka lalu berjabat tangan dengan Mbak Lastri dan Anisa lalu berbincang bincang ringan.
“Ma, sudah selesai apa sudah bisa dimulai. Biar Reno panggil Kakek, Opa dan Om Tedy.” ucap Savitri sambil menatap Oma.
“Papa Arya belum pulang Ma.” ucap Reno yang duduk tenang di samping Reni yang masih memakan kue nya.
“Kamu telpon sana pakai telpon rumah.” perintah Oma pada Reno. Reno lalu segera berlari menuju ke ruang keluarga tempat telpon rumah berada. Dengan segera Reno mengangkat ganggang telpon lalu memencet tombol yang sudah diprogram nomor Arya.
“Papa dimana?” tanya Reno pada Arya.
“Masih di kantor ada apa Sayang?” jawab Arya
“Papa ditunggu makam malam.” jawab Reno.
“Ditinggal saja Sayang, Papa masih banyak kerjaan.” ucap Arya, lalu Reno segera menutup sambungan telponnya. Dia segera berlari menuju ke ruang makan bilang kalau Papa Arya masih sibuk.
Mereka semua akhirnya menikmati makan malam tanpa adanya Arya. Setelah acara makan malam mereka berbincang bincang di ruang keluarga. Sedangkan Reno dan Reni belajar di dalam kamarnya.
__ADS_1
“Kak Vitri, apa rumahnya jadi akan dikontrakkan?” tanya Suami Anisa sambil menatap Savitri.
“Iya Om, kalau mau dijual masih sayang. Oma kurang setuju kalau dijual. Apa sudah ada yang menanyakan?” jawab Savitri dan balik bertanya.
“Sudah banyak Kak.” saut Anisa.
“Tapi Kakak saya juga butuh tempat tinggal sementara selama di Jakarta. Jadi kalau boleh biar Kakak saya yang mengontraknya Kak.” ucap Suami Savitri selanjutnya.
“Boleh Om, malah senang jika yang mengontrak saudara Om Tedy.” ucap Savitri tampak senang.
“Terus berapa satu tahunnya Kak?” tanya Anisa
“Kalau aku sih terserah aja mau dibayar berapa. Kamu juga sudah banyak membantu aku.” jawab Savitri
“Oma bagaimana nih?” tanya Savitri selanjutnya meminta pertimbangan pada Oma. Oma tampak berpikir pikir.
“iya nanti kita bicarakan dengan Arya.” jawab Oma sambil menatap Savitri, Mbak Lastri dan Anisa secara bergantian.
“Iya Mbak, nanti kita bicarakan, mungkin Kakak saya juga butuh tenaga Mbak Lastri. Saudara saudara mungkin juga akan sering ke sini Mbak. Alhamdulillah ini sudah isi.” ucap Anisa sambil mengusap usap perutnya. Mereka semua lalu memberi selamat kepada Anisa.
Reno dan Reni yang sedang belajar di kamar mendengar suara ramai memberi selamat dan ada kata bayi. Mereka berdua lalu menghentikan kegiatan belajarnya.
“Kak ada adik bayi lagi. Yok kita lihat apa di perut Mama ada adik bayi lagi..” ucap Reni yang kini sudah bangkit berdiri dan mendekati meja belajar Kakaknya.
“Ayok.” ucap Reno dengan semangat. Mereka berdua lalu berlari menuju le ruang keluarga, saat melihat Mamanya mengusap usap perut Anisa. Tampak wajah mereka berdua kecewa.
“Adiknya Tante Nisa.” ucap Reni pelan.
__ADS_1
“Ya sudah ga apa apa kita kenalan sama adiknya Tante Nisa.” ucap Reno sambil menggandeng tangan adiknya untuk mendekat ke Anisa.
“Nginap aja semuanya ya. Nunggu Arya kok belum datang datang. Kakek dan Nenek tidur saja di kamar Arya. Anisa dan Tedy di kamar tamu.” usul Oma pada para tamunya.
“Iya aku sudah capek. Nak Anisa juga butuh istirahat agar tidak kelelahan besok pagi harus kerjakan. Berangkat dari sini atau besok habis subuh pulang.” Ucap Nenek sambil menatap wajah Anisa.
“Iya Bu, saya dapat cuti kok.” Jawab Anisa. Mereka pun akhirnya bubar dan berjalan menuju ke kamarnya masing masing. Mbak Lastri berjalan ke belakang untuk gabung tidur dengan asisten rumah tangga Oma.
Malam hari Arya pulang, seperti biasanya dia membawa kunci rumah sendiri, agar jika pulang terlalu malam tidak mengganggu yang lain. Setelah membuka kunci Arya membuka pelan pelan daun pintu, lalu dia juga menutup dengan pelan pelan. Dia segera melangkah menuju ke kamarnya. Saat dia buka terlihat tempat tidurnya sudah ada dua orang yang terbaring di sana. Dari pintu sudah terlihat itu adalah Kakek dan Nenek. Arya lalu melangkah menuju ke kamar tamu. Saat akan mencoba membuka pintu tetapi pintu terkunci.
Arya berjalan menuju ke buffet yang biasa untuk menaruh kunci dia lihat lihat namun tidak mendapatkan kunci kamar tamu. Arya melangkah menuju ke kamar orang tuanya. Dia akan mengetuk pintu, akan tetapi dia urungkan sebab sudah terlalu larut malam. Arya lalu berjalan menuju ke ruang keluarga..Dia duduk di sofa panjang yang berada di ruang keluarga tersebut. Dia lepas jas yang masih menempel di tubuhnya, dia lepas sepatu di kakinya. Dia lepas dasi dilehernya lalu dia lepas dua kancing bagian atas di kemejanya. Arya lalu menyandarkan tubuhnya. Dan lama lama dia tertidur dan terbaring di sofa panjang itu.
Sementara itu di dalam kamar Reno dan Reni. Savitri tidur nyenyak di sofa besar yang berada di kamar tersebut. Reno dan Reni pun tidur dengan pulas. Akan tetapi beberapa menit kemudian...
“Ma... haus... “ teriak Reni
“Ma.... haus... Ma.” teriak Reni lagi dengan suara lebih keras. Sebab Mamanya belum mengambilkan minum untuknya. Teriakan kedua membuat Savitri terjaga.
“Iya Sayang..” ucap Savitri lalu bangun dengan mata terkantuk kantuk. Savitri berjalan menuju ke nakas, tempat menaruh air mineral. Namun saat dilihat kosong.
“Tunggu dulu ya Mama ambilkan dulu, di kamar habis, Mama lupa tadi.” ucap Savitri pada Reni tampak Reni sudah duduk di tempat tidurnya. Reni mengangguk mantap. Savitri terus berjalan menuju ruang makan, saat mengambil air mineral matanya melihat ruang keluarga lampu masih terang menyala. Savitri lalu berjalan menuju ke ruang keluarga. Dilihatnya tubuh Arya tidur dengan posisi meringkuk kedinginan. Savitri segera kembali ke kamar memberi minum pada anaknya.
“Sudah sekarang lanjut bobok.” ucap Savitri pada Reni yang sudah selesai minum. Savitri lalu berjalan menuju ke lemari untuk mengambilkan selimut buat Arya.
Savitri segera berjalan menuju ke ruang keluarga sambil membawa selimut. Sesampai di ruang keluarga segera dia mendekat ke sofa tempat Arya tidur. Dia selimuti tubuh Arya namun Savitri merasakan tubuh Arya yang sangat panas. Dengan pelan pelan Savitri menaruh telapak tangannya di dahi Arya.
“Demam tinggi.” gumam Savitri
__ADS_1
“Pergi kamu jangan sentuh aku.” teriak Arya dengan mata yang masih terpejam.