
Waktu terus berjalan, hingga tidak terasa acara pernikahan Arya dan Savitri tinggal satu minggu lagi. Persiapan yang dilakukan oleh kedua keluarga pun sudah matang. Semua undangan pun sudah dibagikan pada yang bersangkutan.
Dan kini tiba saatnya Savitri akan dijemput Nenek dan Kakek. Dia akan tinggal di rumah Kakek dan Nenek hingga hari pernikahan tiba. Dan Savitri pun mulai hari ini sudah cuti kerja. Akan tetapi tidak bagi Arya, dia masih tetap kerja hingga dua hari menjelang pernikahannya.
“Hati hati ya nanti kalau berangkat ke rumah Kakek dan Nenek.” ucap Arya yang akan berangkat ke perusahaan.
“Iya nanti nunggu Reno dan Reni pulang sekolah.” ucap Savitri sambil mengantar Arya ke depan.
“Kamu juga hati hati Ya...” ucap Savitri selanjutnya masih berjalan menuju ke depan.
“Haduh Honey kenapa masih juga selalu panggil namaku saja..” protes Arya sambil menoleh pada Savitri yang berjalan di sampingnya.
“Entahlah sudah terbiasa panggil Ya, habis mau dipanggil siapa he.. he...” ucap Savitri sambil tertawa kecil.
“Besok kalau sudah menikah paling aku panggil Papa..” ucap Savitri selanjutnya sambil memeluk pinggang Arya dari samping. Mereka berdua terus berjalan hingga sampai di dekat mobil Arya. Arya lalu membuka pintu mobilnya dan selanjutnya dia masuk ke dalam mobil, Arya membuka sedikit jendela kaca mobilnya. Arya mulai memanasi mesin mobilnya. Sementara Savitri masih menunggu berdiri di samping jendela mobil Arya. Arya lalu menurunkan kaca jendela mobil nya secara penuh.
“Aku pasti akan merindukan mu dengan anak anak.” ucap Arya kemudian sambil menatap wajah Savitri dengan sendu.
“Hanya sementara saja, setelahnya kita akan bersama untuk selama lamanya.” ucap Savitri sambil tersenyum menatap Arya untuk memberi semangat.
“Ya sudah aku pamit kerja.” ucap Arya lalu mengulurkan tangannya, Savitri lalu menjabat tangan Arya dan mencium punggung tangan Arya. Arya lalu menutup jendela mobilnya. Selanjutnya mobil berjalan pelan pelan meninggalkan halaman rumah Opa dan Oma Savitri melambai lambaikan tangannya hingga mobil Arya hilang dari pandangan matanya.
Savitri lalu masuk ke dalam rumah, dan selanjutnya dia masuk ke dalam kamar kedua anaknya. Dia melanjutkan membereskan semua yang akan dibawa dan juga membereskan barang barang miliknya. Sebab setelah menikah nanti Arya sudah menyuruhnya untuk pindah ke kamar milik Arya.
__ADS_1
“Vit...” teriak Oma dari balik pintu kamar Reno dan Reni.
“Oma sudah pulang.” gumam Savitri lalu dia bangkit berdiri akan membukakan pintu untuk Oma. Tadi Oma ikut Opa mengantar ke sekolah Reno dan Reni katanya sekalian akan belanja.
“Vit.. ini aku beli jamu. Ini nenek temannya Reni yang membuat. Sudah terkenal jos mujarab untuk pengantin. Ini jamu dua paket. Satu paket untuk pengantin perempuan dan satu paket untuk pengantin pria.” ucap Oma setelah pintu dibuka oleh Savitri.
“Ini kamu bawa, ini untuk satu bulan harus rutin kamu minum setiap hari ya.. “ ucap Oma sambil menyerahkan satu bungkus besar paket jamu khusus pengantin.
“Yang ini satu paket buat Arya. Nanti aku suruh dia juga rutin minum.” ucap Oma kemudian sambil menunjukkan satu paket jamu lainnya.
“Banyak sekali Ma.” ucap Savitri sambil menerima satu paket bungkus jamu.
“Cara minumnya bagaimana?” tanya Savitri sambil melihat lihat paket jamu itu.
“Ma, ini yang buat saya sudah bener Ma?” tanya Savitri lagi
“Tidak terbalik Ma?” tanya Savitri sekali lagi untuk memastikan
“Waduh!” teriak Oma terlihat kaget dan kuatir.
“Lihat Vit, terbalik tidak ya, kalau terbalik bisa bahaya, kamu yang perkasa, Arya yang keset peret.” ucap Oma sambil membolak balik dua paket jamu itu. Tampak wajah Oma terlihat bingung keringat pun mulai muncul di dahinya.
“Aku kok bingung ya Vit, tidak ada tulisannya lagi.” ucap Oma sambil masih membolak balikkan dua bungkus besar paket jamu itu.
__ADS_1
“Oma tadi tidak tanya mana yang buat calon pengantin pria mana yang buat calon pengantin wanita?” tanya Savitri sambil menatap wajah Oma.
“Tadi cuma bilang ini yang untuk pengantin pria itu yang bungkus pertama, terus dia bilang lagi ini yang untuk pengantin wanita dia ngasih bungkus kedua. Tetapi sampai sini kok aku bingung. Untung kamu tanya sekarang sebelum kamu bawa ke rumah Nenek dan Kakek.” ucap Oma masih terlihat bingung memilih milih mana paket yang untuk Savitri.
“Ya sudah aku telepon dulu orangnya.” ucap Oma selanjutnya sambil meraih hand phone di dalam tas yang masih dia cangklong. Oma lalu terlihat mengusap usap layar hand phone nya lalu dia melakukan panggilan suara pada orang yang membuat ramuan jamu itu. Terlihat Oma mengangguk anggukan kepalanya. Lalu dia memutus sambungan teleponnya.
“Sudah Ma?” tanya Savitri saat Oma sudah memasukkan lagi hand phone nya ke dalam tas.
“Sudah, ada kode nya katanya yang untuk pengantin wanita ada bulatan dan tanda plus, sedang yang untuk pengantin pria ada bulatan tanda panah. Kode ditulis spidol di bungkus plastik nya.” ucap Oma sambil melihat lihat lagi bungkus paket jamu itu. Akhirnya Oma sudah menemukan kode yang ada pada bungkus paket jamu itu. Dan selanjutnya memberikan satu bungkus paket yang untuk Savitri. Kini Oma sudah yakin tidak salah tidak terbalik lagi. Selanjutnya Savitri memasukkan paket jamu itu ke dalam koper yang nanti akan dibawa ke rumah Nenek dan Kakek. Sedangkan Oma lalu pergi meninggalkan Savitri yang masih sibuk berkemas kemas.
Waktu terus berlalu dan siang hari Reno dan Reni pun sudah pulang sekolah. Setelah mereka semua selesai makan siang. Nenek dan Kakek yang menjemput mereka pun sudah tiba.
“Kalau kalian sudah siap kita langsung saja sekarang takutnya kalau kesorean turun hujan lebat.” ucap Kakek pada Savitri saat sudah masuk ke dalam rumah Oma dan Opa.
“Sudah Kek, sebentar saya ambil barang barang kami.” ucap Savitri lalu segera berjalan menuju ke dalam kamar. Asisten Rumah tangga Oma membantu Savitri membawa barang barang mereka lalu ditaruh ke dalam mobil Kakek.
Setelah semua barang bawaan sudah dimasukkan ke dalam mobil mereka semua pamit kepada Oma dan Opa.
“Nanti kalau Kakek sibuk atau capek biar Pak Harun yang datang untuk mengantar sekolah anak anak.” ucap Opa pada mereka. Anak anak tidak mau berpisah dengan Savitri dan juga tidak mau ijin sekolahnya. Mereka tetap akan masuk sekolah dari rumah Nenek dan Kakek. Mereka semua menganggukkan kepala setelah semua selesai berpamitan, mereka semua masuk ke dalam mobil Kakek.
“Da dahhh Oma dadaahhh Opa.” ucap Reno dan Reni sambil melambai lambaikan tangannya.
“Vit, jangan lupa loh jamunya diminum tiap hari.” teriak Oma sambil melongokkan kepalanya masuk ke jendela mobil yang masih dibuka oleh Reno.
__ADS_1