
Sementara Gandi yang sudah membawa membawa kunci rumah Savitri dia bergegas menuju ke rumah Savitri. Sesampai di depan rumah Savitri dia segera masuk ke dalam rumah. Dia tidak berjalan menuju ke dalam kamar tamu tetapi dia menuju ke dalam kamar Savitri. Dia terus berjalan menuju ke arah lemari besar yang ada di dalam kamar Savitri.
“Hmmmm pasti ada barang barang berharga di dalam lemari ini.” gumam Gandi sambil tersenyum licik.
“Dikunci.” gumam Gandi kesal karena tidak bisa membuka pintu lemari. Dia lalu mencari cari dimana Savitri menyimpan kunci lemari. Semua tempat dia acak acak untuk mencari kunci lemari itu.
TING TONG!
Mendadak ada bunyi bel pintu rumah Savitri, sementara Gandi belum menemukan kunci lemari.
“Siapa yang iseng memencet bel tamu.” gumam Gandi dengan nada kesal dia masih terus mencari kunci lemari Savitri, tanpa menghiraukan suara bel tamu.
TING TONG. TING TONG. TING TONG
Bunyi bel tamu terus berbunyi dan semakin sering bunyinya, membuat Gandi tidak konsentrasi dalam mencari kunci lemari. Dia lalu melangkah meninggalkan kamar Savitri.
Gandi terus melangkah menuju ke pintu utama rumah Savitri. Dengan wajah yang kesal dia segera membuka pintu dengan kasar. Saat dibuka ternyata orang tua Savitri yang berada di depan pintu.
“Bapak dan Ibu kenapa kesini, Savitri ada di rumah sakit.” ucap Gandi.
“Iya tadi aku sudah ke rumah sakit. Tapi Mbak Lastri minta tolong aku untuk mengambilkan perlengkapan Savitri. Katanya tadi yang mengambilkan Reno, jadi ada yang kurang. Maklum anak kecil. Tapi itu sudah sangat membantu tadi, anak seumur Reno bisa dengan cepat tanggap darurat. Ada kurang kurangnya bisa dimaklumi namanya anak anak.” ucap Nenek ibunya Savitri sambil terus berjalan menuju ke kamar Savitri.
__ADS_1
“Tapi lemari dikunci Bu.” ucap Gandi sambil menggaruk garuk kepalanya
“Iya, ini kunci saya bawa. Tadi dikunci sama Reno lalu kuncinya dikasih Mbak Lastri.” jawab Ibunya Savitri. Gandi yang melihat kunci dipegang oleh tangan mertuanya itu, ingin sekali ia merebutnya. Barang yang tadi dicari cari ternyata ada ditangan mertuanya dan sekarang berada di deoan matanya begitu sangat menggoda.
“Bu, biar saya ambilkan saja. Apa yang perlu diambilkan. Saya kan suaminya Bu...” ucap Gandi saat melihat Ibunya Savitri sudah mulai membuka pintu kamar Savitri.
“Sudah kamu buatkan aku kopi atau teh saja. Barang perempuan yang mau diambil Nenek.” suara lantang Kakek yang sudah duduk di sofa ruang keluarga. Gandi yang masih mencari muka di depan mertuanya lalu berjalan menuju ke ruang makan untuk membuatkan minum untuk sang mertua. Dia mengambil dua buah gelas dan membuatkan teh manis dengan air panas dari dispenser yang berada di ruang makan tesebut.
“Ini Pak silahkan diminum.” ucap Gandi dengan sopan sambil menaruh gelas berisi teh manis itu di depan meja Kakek. Gandi masih berambisi untuk mendapatkan warisan kebun Kakek yang sangat luas. Kakek hanya tersenyum datar melihat perlakuan manis Gandi kepada dirinya. Sebab tadi di rumah sakit Mbak Lastri sudah menceritakan semua perlakuan Gandi kepada Kakek dan Nenek. Dan dengan mata dan kepalanya sendiri Kakek juga melihat kalau Arya yang ada di samping Savitri saat Savitri sedang dalam masa darurat.
“Pak saya itu sudah kasih tahu ke Savitri kalau sedang hamil jangan capek capek kerjanya, biar semua pekerjaan dikerjakan Mbak Lastri. Ikan dan burung biar saya yang urus. Tetapi Savitri tidak mengindahkan omongan saya. Mungkin memang Savitri dasarnya orangnya rajin Pak.” ucap Gandi memutar balikkan fakta. Kakek hanya menanggapi dengan senyum datar.
“Ayo Pak balik ke rumah sakit. Dan bawa ini barang Mbak Lastri tadi dia pesen minta tolong ini barangnya di bawa saja ke rumah sakit. Nanti oleh olehnya kita makan di sana. Ini baju sekalian untuk baju ganti Mbak Lastri saat nunggu Savitri.” ucap Nenek sambil menatap Kakek dan hanya sekilas menatap Gandi. Kakek lalu terlihat bangkit berdiri menuju ke arah barang Mbak Lastri yang teronggok di lantai. Kakek lalu membawa ke dua barang Mbak Lastri tersebut.
“Pak, Bu nanti saya menyusul ke rumah sakit, sekarang saya membereskan rumah dulu dan mengurus binatang binatang itu dulu.” ucap Gandi dengan senyum masam sebab merasakan sepertinya Kakek dan Nenek sudah mendapat informasi sesungguhnya. Kakek dan Nenek tidak menjawab dan terus berlalu meninggalkan rumah Savitri.
Sementara Gandi langsung berjalan menuju ke kamar Savitri berharap Nenek tidak lagi membawa kunci lemari Savitri. Dengan cepat Gandi membuka kamar Savitri lalu berjalan setengah berlari menuju ke lemari Savitri. Akan tetapi harapan tinggal harapan ternyata lemari masih terkunci dengan rapat.
“Hmmmm mungkin memang ada barang barang berharga di dalamnya.” gumam Gandi sambil menepuk nepuk lemari Savitri.
“Aku harus bisa mengambilnya. Masih banyak waktu. Apalagi Savitri sudah mengandung benihku.” Gumam Gandi sambil tersenyum lalu dia berjalan meninggalkan kamar Savitri.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat, mobil yang dikendarai Kakek terus melaju menuju ke rumah sakit.
“Pak, kamar Savitri tadi kok terlihat acak acakan ya.” ucap Nenek sambil menoleh ke arah Kakek yang duduk di jok sampingnya.
“Ya maklum Bu, kamar orang sedang sakit tidak sempat beres beres.” ucap Kakek sambil terus fokus mengendalikan kemudi mobilnya.
“Bukan begitu maksudku Pak, aku curiga Gandi yang mengacak acak mencari kunci lemari ini. Mungkin kalau belum mendengar cerita Mbak Lastri aku belum punya pikiran seperti itu.” ucap Nenek
“Nenek lihat tidak ada barang apa di dalam lemari Savitri?” tanya Kakek yang sekarang juga terlihat kuatir ekspresi wajahnya.
“Aku tidak mengira Nak Gandi seperti itu. Dulu aku kira dia benar benar seorang duda pengusaha kaya, sekaya Arya atau bahkan melebihi. Kita diajak menginap ke rumah mewahnya.. Ach ternyata cuma akal akalan. Itu rumah yang hanya dia kontrak. Aku malu pada Arya dan Oma, sudah termakan oleh omongan Nak Gandi...” ucap Kakek selanjutnya sambil mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.
“Heleh ga usah panggil Nak Nak lagi orang itu...” saut Nenek dengan nada kesal saat mendengar Kakek masih menyebut Gandi dengan sebutan Nak Gandi.
“Setahuku surat surat berharga ada di dalam lemari Savitri. Terus tadi aku juga sekilas melihat kotak perhiasan tapi aku tidak sempat membuka isinya.” jawab Nenek.
“Tapi aku kunci lagi lemarinya, ini aku bawa kuncinya.” ucap Nenek selanjutnya.
“Semoga dia tidak nekat membobol lemari Savitri.” gumam Kakek dengan ekspresi wajah kuatir. Nenek yang mendengar juga terlihat kuatir.
“Pak apa kita balik lagi saja kita ambil barang barang itu.” usul Nenek sambil menoleh menatap Kakek.
__ADS_1