Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 86. Sesi 2. Ancaman buat Arya


__ADS_3

Savitri berjalan dengan cepat menuju ke kamar kedua anaknya. Dia membuka pintu dengan cepat. Reno dan Reni yang terlihat sedang duduk di karpet terlihat menoleh ke arah pintu yang dibuka dengan keras. Savitri segera duduk di sofa sambil memegang dadanya yang masih berdegup lebih kencang. Bayangan tubuh kekar Arya yang hanya memakai G String masih menari nari di pelupuk matanya.


“Kak tolong ambilin Mama air mineral itu.” ucap Savitri sambil menunjuk gelas gelas air mineral di atas nakas.


“Apa Mama sakit?” tanya Reno sambil bangkit berdiri untuk mengambilkan satu gelas air mineral.


“Mama jangan sakit juga... Aku dan Adik sedang berbicara kita akan menjadi anak yang lebih baik lagi agar Papa Arya tidak sakit.” ucap Reno sambil menyerahkan air mineral ke pada Mamanya. Dia tadi setelah mendapat perintah dari Arya untuk memanggilkan Mamanya agar datang ke kamar Arya akan berbicara serius masalah perusahaan Maka Reno pun mengajak adiknya untuk berbicara serius untuk mendukung Mamanya agar Papa Arya tidak kecapekan dan sakit. Dia tidak mau lagi kehilangan orang yang sangat dicintai.


“Iya Ma, adik akan menjadi anak yang mandiri ... mandi sendiri tetapi air hangatnya Kak Reno yang menyiapkan.” ucap Reni sambil berdiri dan turut mendekati Mamanya.


“Mandiri itu tidak hanya mandi sendiri, Adik... tapi juga maem nya sendiri tidak usah disupain pakai baju juga pakai baju sendiri. yang penting Adik harus nurut pada orang tua tidak boleh suka ngambek..” ucap Reno sambil menatap Reni.


“Iya.. iya... “ ucap Reni sambil bibirnya mengerucut ke depan dan menoleh ke arah Kakak nya.


Savitri melihat kedua anaknya, mereka semua sudah wangi dan berganti baju, sepertinya mereka berdua sudah mandi sendiri dan memakai baju sendiri.


“Kalian memang anak baik dan pintar. Sekarang Mama mau mandi. Kalian tidak perlu kuatir Mama tidak sakit.” ucap Savitri setelah menghabiskan satu gelas air mineral. Dia mencium kening kedua anaknya. Lalu Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Sementara itu Arya yang sudah selesai mandi langsung menyemprot tubuhnya dengan parfum lalu dia segera memakai baju dan celana panjangnya. Dia menyisir rambutnya di depan cermin rias yang ada di dalam kamarnya sambil tersenyum sesekali dia bersiul siul kecil.


“Bahagia itu sederhana bisa menggoda Kak Vitri kenapa aku bisa bahagia sekali.” gumam Arya lalu dia berjalan ke luar kamar untuk mencari sosok Savitri yang baginya bagai ada magnet menempel di tubuh Savitri yang membuatnya dia ingin dekat dekat selalu.

__ADS_1


Arya berjalan menuju ke kamar kedua keponakannya. Dia memutar handel pintu dengan pelan pelan lalu mendorong daun pintu itu. Terlihat Reno dan Reni duduk di karpet dengan banyak buku dan alat tulis di depan mereka. Reno dan Reni menoleh ke arah Arya karena mencium aroma parfum wangi.


“Papa mau pergi ke dokter?” tanya Reno karna karena melihat penampilan dan aroma parfum wangi Arya bagai akan pergi.


“Tidak, dimana Mama?” jawab Arya lalu balik bertanya.


“Mama aku apa Mama Papa Arya?” ucap Reno lagi meminta penjelasan pertanyaan Arya.


“Mama kalian, sekarang aku pun akan panggil Mama kalian Mama dan memanggil Oma buat Mama aku. Hmmm gimana setuju tidak?”


“Setuju...” teriak Reno dan Reni bersamaan.


“Tuh sedang mandi.” ucap Reno kemudian sambil jarinya menunjuk kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.


“Tunggu sayang... “ teriak Savitri dari dalam kamar mandi. Arya begitu senang Savitri mengucapkan kata sayang meskipun dia tahu jika ucapan itu tentu ditujukan bukan untuk dirinya. Sebab dia tahu pasti Savitri mengira yang mengetuk ngetuk pintu kamar mandi itu adalah Reno dan Reni.


Arya masih terus mengetuk ngetuk pintu kamar mandi


“Ada apa?” teriak Savitri dan belum membuka pintu kamar mandi. Arya terus mengetuk-ngetuki pintu kamar mandi.


“Sabar...sayang..” teriak Savitri lagi. Dan tidak lama kemudian Savitri membuka pintu kamar mandi karena pintu terus diketuk ketuk Savitri membuka pintu kamar mandi dengan cepat dan dia hanya membalutkan handuk di tubuhnya yang belum begitu kering karena tergesa gesa.

__ADS_1


Arya yang melihat tubuh putih mulus Savitri yang masih ada bulir bulir air di pundak itu, tidak berkedip matanya dan jakunnya naik turun. Tubuh Savitri benar benar terlihat sangat segar menggodanya.


Sementara Savitri yang melihat di depan pintu kamar mandi ternyata adalah Arya dia langsung menutup kembali pintu kamar mandi itu dia tidak jadi keluar.


Arya masih berdiri mematung. Namun tiba tiba terasa sakit di daun telinganya karena ada tangan yang menarik. Oma yang sudah berdiri di belakang Arya langsung menarik daun telinga Arya dan membawa Arya keluar dari dari kamar Reno dan Reni. Reno dan Reni yang melihat Arya dijewer daun telinganya oleh Oma, tertawa kecil sambil menutup mulut mungil mereka dengan telapak tangannya masing masing.


“Kamu mulai nakal ya, di depan anak anak pula.” ucap Oma saat sudah berada di luar kamar dan tangannya masih menjewer daun telinga Arya.


“Lepas Ma,, sakit...” ucap Arya sambil memegang tangan Oma agar melepaskan jewerannya pada telinga nya.


“Aku curiga kamu pusingnya hanya dibuat buat agar bisa berduaan dengan Savitri.” ucap Oma kini sudah melepas telinga Arya.


“Kali ini bukan hanya Helena yang mengancam. Aku pun akan mengancam kamu Arya.” ucap Oma dengan nada serius sambil menatap tajam ke wajah Arya.


“Oma mau mengancam apa?” tanya Arya dengan nada kuatir.


“Aku akan suruh kamu keluar dari rumah ini.” jawab Oma lalu berjalan menuju ke ruang makan karena terlihat asisten rumah tangga sudah mulai menata meja makan. Oma hendak membantunya.


“Oma mau mengusir aku?” tanya Arya sambil mengikuti langkah kaki Oma.


“Iya kalau kamu tidak sabar menunggu sampai hari pernikahan kamu. aku suruh kamu kost atau tidur di mess.” ucap Oma dengan tegas. Asisten rumah tangga yang mendengar ucapan Oma terlihat kepo lalu menoleh menatap wajah Arya

__ADS_1


“Ma, aku akan sabar tetapi memang lebih cepat lebih baik Ma.” ucap Arya sambil mendudukkan pantatnya di kursi makan.


__ADS_2