
“Bu... apa boleh saya masih numpang dulu beberapa hari di sini. Saya akan coba dulu mencari pekerjaan di komplek sini, biar masih bisa melihat lihat Bu Vitri... hua.... hua..... hua......” ucap Mbak Lastri yang sekarang sudah pecah tangisnya. Dia sejujurnya sudah sangat sayang pada Savitri dan sangat kuatir dengan keadaan Savitri jika hanya berdua dengan Gandi. Apalagi kalau mendengar berita berita kriminal yang marak terjadi.
“Saya bisa beli makan sendiri Bu, dengan uang saya ini. Nanti saya akan bilang ke Simbok saya dikampung tidak kirim uang dulu.. hiks.....hiks... “ ucap Mbak Lastri sambil terus terisak.
“Bo....leh... Mbak... “ ucap Savitri terputus putus sebab dia juga terisak menangis.
“Mbak Lastri boleh makan dan tidur di sini sebelum mendapat pekerjaan.” ucap Savitri selanjutnya sambil memeluk tubuh Mbak Lastri. Namun mereka berdua mendadak melepas pelukannya saat mendengar suara Gandi yang sudah berteriak teriak mencari Savitri. Savitri lalu menghapus air matanya dan berjalan meninggalkan kamar Mbak Lastri.
Pagi hari Mbak Lastri bangun lebih pagi. Dia membereskan pekerjaannya. Setelah selesai dia keluar rumah Savitri pergi ke warung komplek untuk mencari informasi lowongan pekerjaan di komplek. Biasanya di warung pagi pagi banyak pembeli dan banyak beragam informasi komplek.
“Mbak Lastri kok matanya sembab habis nangis semalaman ditinggal pacar ya?” sapa salah seorang pembeli. Mbak Lastri lalu menceritakan kalau dia kehilangan pekerjaan. Dia menceritakan kalau sudah tidak ada Reno dan Reni jadi Savitri akan mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya. Mbak Lastri tidak bilang kalau Savitri sedang kesulitan ekonominya. Lalu beberrapa orang memberi tahu pada Mbak Lastri orang orang komplek yang sedang membutuhkan tenaga.
Seharian Mbak Lastri ke luar masuk rumah orang komplek yang berdasar informasi sedang membutuhkan tenaga. Namun hingga sore hari tidak ada hasil. Ada yang sudah mendapatkan tenaga, ada yang tidak jadi dan ada yang memilih memakai jasa laundry, jasa penitipan anak atau jasa jasa yang lain.
Mbak Lastri yang kurang tidur dan sibuk mencari pekerjaan terlihat tubuh dan wajahnya sangat lelah. Dia akan ke rumah Anisa harapan terakhirnya. Saat mau pulang ke rumah Savitri terlihat Anisa sudah pulang dari kerjanya. Mbak Lastri segera berjalan menuju ke rumah Anisa.
__ADS_1
“E... Mbak Lastri kok terlihat sangat capek.” sapa Anisa sambil menoleh ke arah Mbak Lastri yang masuk ke halaman rumahnya. Anisa melepas helm dari kepalanya. Lalu berjalan menuju ke terasnya. Karena Mbak Lastri juga melangkah menuju ke sana.
“Mbak... tolong aku hiks.... hiks....” ucap Mbak Lastri sambil menghapus air matanya. Anisa terlihat sangat kaget karena Mbak Lastri yang biasanya suka bercanda sekarang menangis dengan wajah kusut dan tubuh yang terlihat sangat capek.
“Ada apa Mbak? Ayo masuk saja.. aku buatkan minum aku juga pengen minum teh hangat karena aku juga capek.” ucap Anisa sambil bangkit berdiri dan menarik tangan Mbak Lastri. Mbak Lastri yang sudah capek tak berdaya hanya bisa nurut mengikuti langkah kaki Anisa masuk ke dalam rumahnya.
“Duduk dulu ya Mbak.. tenangkan hati. Minum air putih dulu.” ucap Anisa sambil memberikan air mineral pada Mbak Lastri. Mbak Lastri nurut dia duduk di sofa ruang tamu Anisa. Sedangkan Anisa berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat Mbak Lastri dan mengambilkan makanan ringan.
“Ini Mbak, diminum teh herbal hangat hangat biar Mbak Lastri tenang dan capek ya hilang.” ucap Anisa sambil menaruh cangkir teh dan sepiring kue kudapan sore hari yang tadi dibeli waktu di perjalanan pulang kerja.
“Lha Mbak Lastri kan sudah bekerja, dan aku lihat Kak Vitri sangat royal pada Mbak Lastri. Mbak Lastri sendiri yang cerita sering dapat bonus dan tip dari Kak Vitri. Belum hadiah hadiah lainnya.” ucap Anisa sambil menatap Mbak Lastri. Mbak Lastri lalu menceritakan sejujurnya apa yang terjadi pada dirinya. Untuk Anisa, Mbak Lastri mengungkapkan apa adanya alasan Savitri memberhentikan dirinya.
“Kasihan Kak Vitri, aku ikut merasa bersalah karena sudah mendukungnya waktu dia memilih Gandi. Aku tidak menyangka kalau sifatnya berubah setelah menjadi suami. Dia dulu sepertinya baik dan sayang pada Kak Vitri dan anak anak.” Ucap Anisa dengan ekspresi wajah sangat menyesal.
“Mbak Nisa ijinkan saya kerja di sini ya. Saya seharian sudah muter muter ke komplek juga komplek sebelah tetapi sudah telat Mbak... mereka sudah dapat orang semua. Kalau saya kerja di sini, saya juga masih bisa lihat lihat keadaan Bu Vitri. Kasihan dia.” ucap Mbak Lastri selanjutnya. Terlihat Anisa berpikir pikir....
__ADS_1
“Mbak, sebenarnya aku sih senang senang saja kalau Mbak Lastri kerja di sini. Aku dan Suami juga sudah berencana untuk ikut program hamil. Aku akan mengurangi pekerjaan.” ucap Anisa dan terlihat wajah Mbak Lastri senang karena harapan bisa kerja di komplek sini terwujud
“Jadi bisa ya Mbak?” tanya Mbak Lastri dengan wajah berbinar.
“Ehmmm tapi Mama mertua akan datang ke sini Mbak, dan sudah membawa saudaranya yang akan kerja di sini membantu saya. Maaf ya Mbak.” jawab Anisa sambil mengusap usap pundak Mbak Lastri.
“Telat lagi.” gumam Mbak Lastri dengan nada dan raut wajah kecewa. Mbak Lastri lalu menghabiskan teh herbal dan kudapan yang berada di piring. Dia menyikat habis kudapan itu karena selain memang enak Mbak Lastri juga lapar dan yang jelas karena stres memikirkan masa depannya yang belum mendapatkan ganti pekerjaan. Setelah habis Mbak Lastri pamit akan pulang ke rumah Savitri.
Hari sudah menjelang maghrib. Savitri masuk ke dalam pintu gerbang yang tidak tergembok. Rumah tampak bersih sepertinya Savitri sudah selesai membersihkan rumah dan mengurus ikan ikannya. Saat Mbak Lastri membuka pintu rumah. Mbak Lastri terlihat kaget sebab dia mencium aroma alkohol yang sangat kuat. Volume teve seperti biasanya sangat keras dan memekakkan telinga. Mbak Lastri terlihat sangat kuatir. Karena tidak melihat sosok Savitri. Mbak Lastri berjalan pelan pelan saat masuk ke ruang keluarga terlihat Gandi tertidur di sofa dengan banyak botol minuman beralkohol.
“Kok tambah parah...” gumam Mbak Lastri sambil mengusap dadanya agar diberi kesabaran. Dia sebenarnya pengen memukul kepala Gandi dengan botol minuman kosong tersebut.
“Bu Vitri di mana ya... kok tidak terlihat.” gumam Mbak Lastri lagi sambil berjalan menuju ke ruang makan tidak terlihat Savitri. Lalu Mbak Lastri berjalan ke dapur tetapi juga tidak ada sosok Savitri.
“Kok dapur juga sepi dan bersih, meja makan juga bersih. Biasanya Bu Vitri sudah menyiapkan untuk makan malam sore hari gini.” gumam Mbak Lastri terlihat sangat kuatir jika ada kenapa napa Savitri. Detak jantung Mbak Lastri berdetak lebih kencang dari biasanya.
__ADS_1