
Setelah mendapat laporan dari Mbak Lastri, Arya berjalan ke luar dari kamarnya. Terlihat suasana semua ruangan sudah sepi. Arya melangkah menuju ke kamar orang tuanya. Diketuk pelan pelan daun pintu kamar tersebut. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat sosok Opa dengan tangannya yang masih memegang handel pintu. Arya menanyakan keberadaan Oma. Opa menanyakan keperluan Arya. Setelah dijawab masalah Savitri. Opa memberi tahu kalau Oma tidur di kamar tidur Reno dan Reni. Opa memang menyerahkan masalah yang berhubungan Savitri pada Oma.
Arya lalu segera melangkah menuju ke kamar Reno dan Reni. Arya membuka pelan pintu kamar Reno dan Reni yang tidak dikunci. Terlihat Oma sudah tidur di samping Reni. Arya melangkah pelan menuju ke tempat tidur Reni.
“Ma...” ucap Arya pelan sambil menepuk pelan lengan Oma. Oma masih diam saja. Setelah beberapa kali dibangunkan oleh Arya, Oma baru membukakan matanya.
“Apa.” gumam Oma. Arya lalu membantu Oma bangkit dari tidurnya, dan mengajak Oma untuk keluar kamar. Arya tidak ingin Reno dan Reni terbangun dan mendengar pembicaraan mereka. Jika mendengar pasti Reno akan mengkuatirkan Mamanya.
“Ada apa?” ucap Oma sambil memgucek ucek matanya lalu duduk di sofa ruang keluarga. Arya lalu ikut duduk di samping Oma, dan selanjutnya dia menceritakan semua informasi dari Mbak Lastri.
“Lebih bagus jika Gandi kabur, tidak apa apa uang dan motor Vitri dibawa, kita bisa cari lagi uang dan motor. Tetapi jika nyawa Vitri yang hilang kasihan cucu cucuku menjadi yatim piatu. Menjadi anak yatim saja Reno sudah mendapatkan beban mental seperti itu. Untung Mbak Lastri segera datang, telat sedikit saja tidak tahu nasib Savitri.” ucap Oma setelah Arya selesai bercerita.
“Terus bagaimana Ma?” tanya Arya
“Kamu bayari saja Mbak Lastri, biar dia tetap kerja di tempat Vitri. Jika Savitri mau urus kerjaam domestik sendiri, ya biar Mbak Lastri jadi satpam di rumah Vitri. Itung itung juga hadiah buat Mbak Lastri sudah menjaga Savitri dengan baik. Jarang ada pembantu setia dan peduli seperti Mbak Lastri.” ucap Oma lalu bangkit berdiri
“Langsung kamu transfer gajinya ke rekening Mbak Lastri. Sudah aku mau tidur ngantuk aku.” ucap Oma lagi, lalu beliau berjalan menuju ke kamar cucu cucunya. Sedangkan Arya dengan segera menghubungi Mbak Lastri.
__ADS_1
Sementara itu, Mbak Lastri yang menunggu berita dari Arya sudah tertidur pulas namun masih dalam posisi duduk di tempat tidur dengan punggung bersandar di sandaran tempat tidur. Hapenya yang masih dipangku berdering dan bergetar sangat keras. Hape bergerak gerak di pangkuan Mbak Lastri karena pengaruh mode getar. Mbak Lastri terlonjak kaget hingga hape jatuh dari pangkuannya. Beruntung masih jatuh di kasur tidak jatuh di lantai. Dengan segera Mbak Lastri mengambil hapenya.
“Hallo... hallo.” teriak Mbak Lastri namun yang didengar Mbak Lastri masih deringan suara dan getaran.
“Owalah belum tak pencet tombol hijau.”gumam Mbak Lastri lalu memencet tombol hijau dan sekarang sudah bisa mendengar suara Arya. Arya menyampaikan semua keinginan Oma. Mbak Lastri sangat senang mendengar berita itu.
“Aku berarti bulan depan sudah dapat gaji lagi. Jadi aku besok bisa kirim uang ke kampung, buat makan Simbok dan adik adik, juga untuk persiapan sekolah. Alhamdulillah tidak jadi cari pinjaman buat bayar uang sekolah.” ucap Mbak Lastri lalu dengan segera dia mengirim chat kepada Denok adiknya mengabarkan kalau besok akan dikirim jatah bulanannya dan uang untuk bayar sekolah. Mbak Lastri lalu menaruh hapenya dan dia pergi tidur.
Sementara itu di saat dini hari Savitri terbangun dari tidurnya. Perutnya yang hanya terisi mie instan melilit lagi karena merasa lapar. Savitri bangkit dari tidurnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit sakit. Savitri memegang megang tangannya yang terasa sangat sakit. Dilihatnya ada warna biru legam di dekat pergelangan tangannya. Kemarin Gandi memegang tangan Savitri dengan sangat kencang saat merebut uang dan hape Savitri. Savitri mengusap usap pelan agar aliran darah mengalir di tempat itu. Savitri melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Dia ingat jika Mbak Lastri statusnya sudah tidak bekerja padanya. Meskipun tubuhnya terasa sakit Savitri mulai membuat nasi. Masih ada sedikit beras di tempat penyimpanannya.
“ Haduh lengan dan pundakku juga sakit, mungkin karena kemarin didorong Gandi.” gumam Savitri sambil mengusap usap pundak dan lengan atasnya. Setelah memasak nasi, Savitri membuat sayur dengan sisa sisa bahan yang ada di kulkas lalu menggoreng telur yang hanya tersisa beberapa butir.
“Bu, kok sudah bangun sudah masak juga.. Bu Vitri kan masih sakit. Biar nanti saja saya yang masak.” ucap Mbak Lastri dengan tergopoh gopoh.
“Tidak apa apa Mbak, aku lapar kok, pengen makan.” Jawab Savitri lalu menaruh telur goreng di piring.
“Bu... saya juga lapar...” ucap Mbak Lastri sambil menelan air liur mencium aroma telur goreng.
__ADS_1
“Makan saja Mbak, aku buat lebih kok.” jawab Savitri yang segera mengisi perutnya dengan makanan.
“Iya Bu, kita makan berdua saja makanannya. Pak Gandi Kabur.”
“Huk..huk..” Savitri terbatuk karena kaget mendengar kalimat Mbak Lastri. Savitri lalu meminum air putih dari gelas di dekatnya. Dan setelahnya Mbak Lastri menceritakan kejadian tadi malam. Savitri hanya diam saja melanjutkan makannya. Setelah selesai lalu dia berjalan menuju ke kamarnya. Sesampai di kamar Savitri berpikir pikir. Bagaimana caranya mendapatkan uang. Karena saat ini dia benar benar tidak membawa uang, semua uang cash nya sudah dibawa Gandi.
“Apa pinjam Mbak Lastri dulu apa ya.”gumam Savitri sambil berpikir pikir, dia sebenarnya sangat malu untuk meminjam uang pada Mbak Lastri. Kasihan juga Mbak Lastri harus mengirim uang ke orang tuanya. Savitri lalu berjalan lagi keluar kamar untuk menemui Mbak Lastri. Terlihat Mbak Lastri sudah selesai makan.
“Mbak...” ucap Savitri dengan pelan
“Ya Bu.” Jawab Mbak Lastri sambil menoleh ke arah suara Savitri.
“Mbak maaf ya, aku benar benar tidak pegang uang, bagaimana kalau aku pinjam uang Mbak Lastri dulu.” ucap Savitri kemudian dengan sangat hati hati.
“Iya Bu, tidak apa apa, tapi...” ucap Mbak Lastri yang teringat dia sudah mengabari adiknya akan segera mengirim uang sebab adiknya butuh uang agak banyak untuk masuk sekolah.
“Kenapa Mbak, besok aku ganti kalau sudah ada transferan dari Arya. Atau sudah jual ikan. Aku akan tawarkan ikan ikan itu.’ ucap Savitri.
__ADS_1
“Anu Bu, saya sudah bilang ke Denok. Uang akan saya kirim besok, untuk makan dan biaya masuk sekolah Bu.” jawab Mbak Lastri yang sebenarnya juga tidak tega tidak bisa meminjami uang kepada Savitri.
“Ya sudah tidak apa apa Mbak, nanti aku ke Anisa saja.” ucap Savitri dia butuh uang buat belanja kebutuhan rumah tangganya dan juga untuk pakan ikan ikannya. Dia kemarin sudah mengambil uang rencananya buat keperluan itu malah dirampas Gandi. Savitri lalu berencana akan ke rumah Anisa pagi pagi sebelum Anisa sibuk bersiap diri untuk pergi bekerja.