
Savitri yang ditatap Arya dengan jarak yang sangat dekat, jantungnya berdetak terasa sangat keras. Demikian pula Arya, yang sejak sore sudah mengagumi kecantikan dan keanggunan Savitri kini dia menatap dengan dekat wajah cantik Savitri, jantungnya terasa melompat lompat.
Savitri tidak tahan ditatap Arya terlalu lama, dia akhirnya menundukkan kepalanya.
“Aku mau menemui Helena asal dengan Kak Vitri.” Ucap Arya kemudian sambil masih menatap Savitri meskipun kini Savitri hanya tertunduk melihat pangkuannya.
“Iya dengan aku, kan sudah aku bilang aku ingin berkenalan dengan dia aku baru sekilas melihat dia saat saat di ruang HRD. Dia mengira aku sebagai sesama pelamar pekerjaan. Aku ingin tahu bagaimana sikap dia setelah tahu siapa aku. Di samping itu aku juga merasa kasihan pada anaknya.” ucap Savitri yang kini pandangan matanya ke depan dia tidak menoleh ke arah Arya karena tidak kuat
“Hmmmm tapi dengan satu syarat.” ucap Arya sambil tersenyum
“Apa?” tanya Ssvitri
“Kak Vitri harus mengenalkan pada Helena kalau Kak Vitri adalah kekasihku dan juga sekretaris pribadi ku.” ucap Arya sambil tersenyum pada Savitri. Sedangkan Savitri kembali menatap pada wajah Arya sebab dia kaget dengan syarat yang diajukan oleh Arya.
“Hanya kekasih pura pura kan.” Ucap Savitri minta kejelasan
“Kak Vitri maunya apa?” ucap Arya malah bertanya sambil tersenyum menatap Savitri
“Ya....” gumam Savitri yang kehabisan kata kata
“Hmmm..” gumam Arya sambil terus tersenyum
“Aku merasa tidak pantas jika menjadi kekasihmu yang sesungguhnya.” ucap Savitri dengan suara yang lirih sambil tertunduk lagi kepalanya. Arya lalu memeluk pundak Savitri dari samping dan menarik pundak Savitri lalu disandarkan pundak Savitri ke dada bidangnya.
“Aku pun merasa bukan manusia sempurna,. Aku pun merasa tidak pantas buat Kak Vitri perempuan yang merupakan pemilik perusahaan. Aku pun menjadi pimpinan perusahaan ibaratnya hanya nebeng dan meneruskan ” ucap Arya masih memeluk pundak Savitri.
__ADS_1
“Kamu menghina aku kan hanya ahli waris dari Bang Ardi.” ucap Savitri yang masih bersandar di dada bidang Arya sebab tangan Arya masih menahannya
“Tidak menghina sungguh aku hanya memiliki hati yang tulus saja berani menginginkan Kak Viri untuk jadi kekasihku.” ucap Arya sambil terus memeluk pundak Savitri dan tampak kini Savitri semakin menyandarkan tubuhnya di dada bidang Arya, entah karena nalurinya yang rindu dekaoan hangat seorang laki laki atau karena memang benar benar di antara mereka sudah ada magnet di tubuhnya
Namun tiba tiba..... Pintu terbuka lebar dan....
“Mama... aku boleh lihat tidak?” tanya Reni dengan suara kerasnya di depan pintu lalu dia hanya berdiri sambil terpejam matanya dan masih menutup kedua matanya itu dengan kedua telapak tangan mungilnya
“Kata Ibu Guru tidak boleh lihat dua orang cowok cewek peluk pelukan, selain Oma dan Opa.” ucap Reni kemudian yang masih berdiri dan masih menutup matanya.
Savitri lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat Reni berdiri di depan pintu yang masih terpejam sambil menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.
“Mama kan hanya dipeluk pundaknya oleh Papa Arya.” ucap Savitri sambil menuntun Reni yang masih terpejam mata.
“Sudah buka matamu Dik.” ucap Arya yang tersenyum melihat tingkah lucu Reni yang masih memejamkan matanya dengan rapat dan berjalan menuju ke arah sofa tempat duduknya.
“Katanya anak anak tidak boleh lihat acara televisi dan konten konten yang ada orang orang pelukan. Juga kalau lihat orang orang cowok dan cewek pelukan harus tutup mata.” ucap Reni dengan menatap wajah Arya dengan serius.
“Terus waktu aku tanya kalau lihat Opa dan Oma pelukan boleh ga, kata Bu Guru tidak apa apa kalau lihat Opa dan Oma pelukan. Aku belum tanya ke Ibu Guru kalau lihat Mama dan Papa Arya pelukan boleh ga.” ucap Reni lagi kini kepalanya menoleh dan mendongak menatap pada wajah Savitri lalu menoleh dan mendongak menatap wajah Arya
“Tidak usah tanya ke Ibu Guru ya..” ucap Arya lalu dia bangjit berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.
“Hmmm bocil mengganggu saja, aku sedang berusaha meluluhkan hati Kak Vitri yang sudah mau melumer malah gagal lagi...” gumam Arya lalu dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat rapat.
Sementara itu di lain tempat. Di rumah sakit di mana Helena dan Keynan berada. Keynan sudah keluar dari ruang unit gawat darurat. Kini Keynan sudah berads di ruang perawatan. Bagian punggung dan lengan Keynan sudah dipasang alat penyangga dan perlindungan agar tulang yang retak segera pulih.
__ADS_1
“Mam, aku tidak boleh gerak gerak dulu ya?” tanya Keynan yang mulutnya sedang disuap pizza oleh Helena.
“Iya.” jawab Helena singkat.
“Mam, daddy tampan tadi ke sini ya, kata Mama pizza dan buah buah yang memberi Daddy tampan kenapa dia tidak menunggu aku keluar dulu.” ucap Keynan setelah menelan pizza di dalam mulutnya.
“Besok ke sini lagi.” ucap Helena singkat lagi. Dia masih berpikir bagaimana caranya agar bisa bekerja di perusahaan Arya. Dia juga masih kesal dengan Pak Slamet yang belum memberi dia uang. Tadi saat Keynan sudah keluar dari ruang unit gawat darurat dia mengantar sampai ke ruang perawatan, akan tetapi setelahnya dia langsung pamit untuk pulang ke mess perusahaan. Helena hanya bisa mempersilahkan tidak meminta uang sebab masih ada dua perawat yang mengurus Keyan. Dia malu pada perawat.
Namun tiba tiba pintu kamar perawatan Keynan terdengar suara ketukan.
“Mam, cepat buka pintunya itu mungkin daddy tampan!” teriak Keynan.
“Hmmm.” gumam Helena lalu dia menaruh pizza di meja kecil dekat tempat tidur Keynan. Dalam hati sebenarnya Helena sangat sedih melihat Keynan yang sangat berharap bertemu dengan Arya. Helena lalu berjalan menuju ke arah pintu dia membuka pelan pelan pintu itu. Dan setelah pintu terbuka ada sosok Pak Slamet yang berdiri di depan pintu sambil membawa dua kantong plastik di tangannya.
“Maaf Bu, saya baru datang lagi, tadi saya ketiduran.” ucap Pak Slamet saat Helena sudah di depan Pintu.
“Ini buat makan malam Bu Helena dan makanan buat Keynan.” ucap Pak Slamet selanjutnya sambil menyerahkan dua kantong plastik ke pada Helena.
“Mam... Aku mau makan lagi dan aku mau es krim nya itu Mam.” Teriak Keynan yang melihat apa yang sedang di bawa oleh Pak Slamet karena kantong plastik yang bening terlihat yang ada di dalam nya. Kotak nasi ayam goreng dan satu plastik berisi roti dan es krim. Meskipun tadi Keynan sudah mendapat makan dari rumah sakit tetapi dia masih berselera untuk makan.
Pak Slamet tersenyum swnang sebab apa yang sudah dibawanya membuat Keynan senang. Helena lalu segera membawa makanan itu ke arah Keynan.
“Bu, saya juga mau kasih ini Bu, seperti yang Bu Helena minta uang ganti selama Bu Helena jaga diberikan setiap hari.” ucap Pak Slamet sambil memberikan uang seratusan ribu satu lembar.
“Maaf ya Bu, saya hanya mampu memberikan ini.” ucap Pak Slamet takut takut.
__ADS_1
“Tidak apa tapi ingat kamu harus membantu aku agar aku bisa diterima di perusahaan Pak Arya, kalau gagal kamu tetap aku laporkan pada polisi.” ancam Helena sambil menatap tajam ke arah Pak Slamet. Pak Slamet hanya bisa tertunduk.