Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 58. Sesi 2. Arya Sakit


__ADS_3

Savitri tampak kaget. Lalu dia menjauh dari Arya, akan tetapi melihat Arya menggigil kedinginan namun tubuhnya panas, dia tidak tega. Savitri lalu berjalan menuju ke kamar Oma Opa, diketuk ketuk namun tidak juga dibuka. Savitri lalu berjalan menuju ke kamar Arya yang dipakai tidur oleh Kakek dan Nenek. Savitri mengetuk ngetuk pintu namun sama saja pintu tetap tertutup. Savitri lalu memutar handel pintu.


“Tidak dikunci syukurlah. “ gumam Savitri lalu dia melangkah masuk, dia mendekati tempat tidur di mana orang tuanya terbaring. Pelan pelan dia bangunkan Kakek dan Nenek. Namun yang terbuka matanya Nenek.


“Ada apa?” tanya Nenek yang tampak matanya masih susah terbuka.


“Arya demam Bu.” jawab Savitri


“Dia tidur di sofa ruang tamu. “ucap Savitri lagi.


“Terus biar kami pindah begitu.” ucap Nenek yang salah paham karena belum sepenuhnya sadar.


“Bukan Bu, bukan bagitu...” ucap Savitri


“Ya sudah kamu kompres dan diminumi parasetamol nanti kan sembuh, besok pagi dibawa di dokter.” ucap Nenek. Savitri akhirnya berjalan meninggalkan kamar itu. Saat melewati Arya tampak Arya masih menggigil. Savitri mendekati lagi.


“Ya...” ucap Savitri tapi Arya diam saja. Lalu Savitri menepuk nepuk pelan pundak Arya.


“Pergi kamu pergi...” ucap Arya masih dengan mata terpejam. Savitri akhirnya yakin kalau Arya tidak mau dibantu meskipun sedang sakit. Savitri Lalu berjalan menuju ke kamarnya dia membaringkan tubuhnya ke sofa tetapi tetap tidak bisa memejamkan matanya. Akan membangunkan Opa dan Oma pasti nanti yang dibilang sama kayak yang dibilang Nenek suruh Savitri yang memgompres dan memberi obat.


Savitri lalu berjalan menuju ke tempat tidur Reno. Dilihatnya Reno tertidur dengan lelap, dia tidak sampai hati membangunkan akan tetapi mengingat Arya yang menggigil dan demam. Savitri pelan pelan membangunkan Reno.


“Kak, bangun Kak, bantu Mama. Papa Arya sakit.” ucap Savitri dengan pelan. Reno yang mendengar Papa Arya sakit langsung membukakan matanya.

__ADS_1


“Papa Arya sakit Ma?” tanya Reno yang sekarang sudah duduk.. Savitri mengangguk.


“Ayo, tolong Kakak yang kompres Mama buatkan kompresnya. Dan Kakak suruh Papa Arya minum obat ya. Mama yang ambilkan.” ucap Savitri. Reno mengangguk lalu mereka berdua berjalan keluar kamar. Savitri mengambil kompres dan obat, lalu mereka berdua berjalan menuju ke ruang keluarga.


“Pa... “ ucap Reno sambil memegang dahi Arya akan mulai mengompres.


“Pergi kamu, aku bukan Papamu.” teriak Arya dengan mata yang masih terpejam.


“Ma....” teriak Reno sambil menatap Mamanya dengan mata yang sudah memerah ingin menangis. Savitri lalu mendekat dan memeluk Reno.


“Reno memang bukan anak Papa Arya, tapi Papa Arya sakit, Reno ingin mengobati Papa Arya.” teriak Reno. Arya kini matanya sedikit terbuka, wajahnya tampak kaget saat ada sosok Reno dan Savitri di dekatnya.


“Reno.” ucap Arya yang berusaha akan duduk namun tampak dia bagai kesulitan, Arya lalu memegangi kepalanya karena terasa sakit.


“Sini Sayang.. peluk Papa.” ucap Arya kemudian sambil berusaha untuk menatap Reno mata Arya tampak memerah dan tangannya terulur berusaha meraih tubuh Reno.


“Kepala Papa pusing.” ucap Arya kemudian sambil memegang lagi pelipisnya sambil mengurut urut. Dengan takut takut Reno memeluk Arya sambil menatap wajah Mamanya.


“Ya minum obat ya.” ucap Savitri sambil menatap Arya dan Reno. Tampak tubuh Reno kini menempel pada tubuh Arya, tangan mungil Reno memeluk tubuh kekar Arya.


“Belum makan Kak.” jawab Arya pelan sambil terus memijat pelipisnya.


“Aku buatkan bubur sebentar.” ucap Savitri selanjutnya. Kemudian dia melangkah menuju ke dapur. Sambil menunggu bubur matang, Savitri membuatkan teh hangat. Dia lalu berjalan ke ruang keluarga sambil membawa gelas berisi teh hangat itu.

__ADS_1


“Kak, bantu Mama. Ini kasih minum ke Papa Arya. Mama lihat bubur sudah matang belum.” ucap Savitri sambil mengulurkan gelas teh hangat pada Reno lalu dia kembali berjalan menuju ke dapur.


Tidak lama kemudian Savitri sudah kembali ke ruang keluarga sambil membawa mangkok bubur. Dia kaget saat melihat gelas teh hangat masih utuh di atas meja belum berkurang sedikitpun.


“Kok belum dikasih minum ke Papa Arya Kak?” tanya Savitri sambil melihat Reno yang membantu memijit kepala Arya.


“Papa Arya tidak bisa bangun kepalanya sakit.” jawab Reno pelan dengan nada suara sedih. Savitri lalu menaruh bubur di meja, dia selanjutnya memegang punggung Arya dan membantunya agar bisa sedikit bersandar pada pegangan tangan sofa. Diambil beberapa bantal sofa untuk menyangga punggung Arya. Savitri lalu menaruh pantatnya sedikit duduk di tepi sofa agar berhadapan dengan Arya. Dia mencoba memberikan gelas teh pada Arya. Namun tangan Arya selalu berusaha untuk memegang kepalanya yang sakit.


“Diminum dulu ya.” ucap Savitri membantu meminumkan gelas teh itu ke bibir Arya dan setelah Arya bisa meminum sebagian isi gelas itu. Savitri lalu menaruh nya ke meja dan selanjutnya mengambil mangkok bubur.


“Ini di makan Ya.” ucap Savitri mencoba memberikan mangkok itu kepada Arya.


“Mama suapin aja Papa Arya, tangannya tidak kuat bawa mangkok malah tumpah nanti.” ucap Reno yang masih membantu memijit kepala Arya. Savitri lalu menyuapi Arya sampai bubur habis. Dia lalu bangkit berdiri untuk mengambil obat dan air mineral. Savitri dengan sabar membantu Arya meminum obat demam dan penghilang rasa sakit. Setelah selesai Arya membaringkan tubuhnya di sofa.


“Ya, kamu tidur di kamar Reno saja. Kalau di sini dingin dan besok pagi pagi kamu akan terganggu.” ucap Savitri beberapa saat setelah reaksi obat sudah mulai bekerja di tubuh Arya terlihat Arya sudah tidak meringjs menahan sakit. Tampak Reno dan Arya menyetujui usul Savitri. Savitri lalu membantu Arya bisa bangkit dari tidurnya. Dan dia membantu memapah tubuh Arya agar bisa berjalan sampai di kamar Reno.


“Reno bobok di sofa Mama ya.” ucap Savitri pada Reno saat Arya sudah terbaring di tempat tidurnya Reno.


“Mama tidur di mana?” tanya Reno.


“Gampang bisa di ruang keluarga atau di samping Reni. Mama mau ambil baju ganti buat Papa Arya dulu. Kasihan masih pakai baju kerja.” ucap Savitri, kemudian dia berjalan menuju ke sebuah lemari yang ada di dalam kamar itu, lemari Ardi jaman dulu, dia pernah membuka masih ada baju baju Ardi bahkan beberapa kemeja atau tshirt Ardi kadang dia pakai untuk baju tidur. Savitri mengambil satu helai baju Ardi lalu dia berjalan menuju ke tempat tidur di mana Arya terbaring.


“Ya, ganti baju dulu ya.. keringat yang keluar biar tidak terserap lagi di tubuh.” ucap Savitri tampak Arya menurut pada Kakak iparnya itu. Dengan sabar dan telaten Savitri membantu Arya berganti baju.

__ADS_1


__ADS_2