Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 49. Gandi Diusir


__ADS_3

Mobil berhenti di depan rumah Savitri. Mbak Lastri yang baru saja selesai membersihkan kolam ikan menoleh melihat ada mobil yang berhenti di depannya. Opa lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.


“Mbak Latiiiiii....” teriak Reni yang berdiri di dalam mobil sambil melongokkan wajah imutnya di jendela mobil di samping Opa. Sementara Savitri langsung membuka pintu mobil dan turun dengan hati hati. Kondisi janin di dalam kandungan yang sangat lemah membuat Savitri harus ekstra hati hati dalam melakukan segala aktivitasnya.


“Weh ada Adik, kenapa tidak kabar kabar dulu kalau mau datang. Mbak Lastri belum masak apa apa, Mbak Lastri sedang diet ketat ha.... ha...” ucap Mbak Lastri lalu bangkit berdiri dan selanjutnya berlari untuk membukakan pintu pagar.


“Ayo Adik masuk sini kita lihat ikan, katanya ingin pegang ikan.” teriak Mbak Lastri sambil menatap Reni yang masih melongok di jendela.


“Ogah rumahnya bau dan takut...” jawab Reni yang di akhir kalimatnya menutup mulut mungilnya dengan salah satu telapak tangannya. Opa yang juga masih duduk di jok kemudi memgusap usap lembut kepala Reni.


“Sudah bersih dan tidak perlu takut, di rumah hanya ada Mbak Lastri.” ucap Mbak Lastri yang kini mendekat ke mobil dan berjalan menuju ke pintu mobil di samping Reni duduk. Sedangkan Savitri sudah masuk ke dalam rumahnya.


“Ayo.” ucap Mbak Lastri lagi sambil mengulurkan tangannya akan mengendong Reni.


“Benar tidak ada Papa Gandi?” tanya Reni dengan ekspresi wajah serius. Mbak Lastri menganggukkan kepalanya, Gandi memang tidak ada di rumah, sejak malam dia membawa pergi Leli, belum pulang lagi. Reni akhirnya mau turun dari mobil. Opa pun juga turun dari mobil. Mereka lalu berjalan masuk ke halaman rumah Savitri.


Reni dan Opa duduk di tepi kolam sambil melihat ikan ikan di dalam kolam. Reni dengan senang memberi makan pada ikan ikan tersebut . Sementara Mbak Lastri masuk ke dalam untuk membuat minuman. Saat dia masuk terlihat Savitri sedang berjalan mencari Mbak Lastri.


“Mbak, kamarku kuncinya di mana, aku cari di kamar Reno tidak ada, aku cari di kamar tamu juga tidak ada. Pak Gandi kok tidak ada di kamar tamu?” tanya Savitri setelah menemukan Mbak Lastri.

__ADS_1


“Ooo kunci saya simpan Bu, saya takut ada yang masuk dan mencari cari sesuatu di kamar Bu Vitri.” jawab Mbak Lastri.


“Pak Gandi belum pulang setelah kejadian tadi malam. Perempuan tadi juga berada di depan kamar Bu Vitri maka terus saya kunci, takut kalau datang lagi.” jawab Mbak Lastri lagi, selanjutnya dia berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambilkan kunci kamar Savitri dan dengan segera diberikan kepada Savitri. Setelah menerima kunci dari Mbak Lastri, Savitri lalu melangkah menuju ke kamarnya.


Savitri pelan pelan memasukkan anak kunci pada lobang kunci di daun pintu kamarnya, dia memutar perlahan. Lalu dia memutar handel pintu dan mendorong daun pintu itu dengan pelan pelan pula. Dilihatnya kamar terlihat rapi dan tercium aroma harum di dalamnya. Mbak Lastri tadi pagi pagi memang sudah merapikan dan membersihkan sambil mengecek kondisi kamar Savitri. Savitri perlahan lahan masuk ke dalam lalu duduk di tepi tempat tidurnya.


“Bagaimanapun aku tidak rela jika mereka akan berbuat tidak senonoh di dalam rumahku apalagi di kamarku ini.” gumam Savitri dalam hati. Savitri lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur itu, mengenang memori yang sudah terjadi dengan Ardi almarhum suaminya.


“Mama..... “ teriak suara Reni dari balik pintu


“Ma cepat ambil baju Mama yang akan dibawa keburu Papa Gandi datang.” teriak Reni lagi yang kini sudah masuk ke dalam kamar Savitri lalu tangan mungilnya menggoyang goyang pelan tangan Savitri.


“Iya Ma.. iya .. Mama hati hati ya.. cepat ya Ma..” ucap Reni lalu dia segera berlari keluar dari kamar Savitri. Savitri lalu berjalan menuju ke lemarinya sambil membawa kunci yang tadi sudah diberikan oleh Mbak Lastri bersamaan dengan kunci kamar. Dia lalu membuka lemari dan memilih milih baju yang akan dibawa.


“Aku harus bicarakan sesuatu pada Bang Gandi.” ucap Savitri sambil mengeluarkan baju baju.


Sedangkan di luar rumah. Reni dan Opa masih asyik bermain main di dekat kolam. Akan tetapi keceriaan Reni mendadak sirna saat ada suara motor di depan rumah. Dan motor berhenti di belakang mobil Opa. Sosok Gandi masih ada di atas motor tersebut.


Gandi yang baru datang pun tampak kaget ada mobil berhenti di depan di rumah Savitri.

__ADS_1


“Hmmm orang tua Arya, mau apa dia. Aku harus hadapi.” gumam Gandi lalu turun dari motor dan masuk ke dalam halaman rumah Savitri. Sedangkan Reni melihat siapa yang datang, dia langsung menghambur ke tubuh Opa dan minta digendong. Reni langsung merengek minta Opa untuk membawanya ke mobil. Opa tampak bingung di satu sisi dia kuatir dengan keadaan Savitri yang berada di dalam di satu sisi cucunya ketakutan dan minta diantar masuk mobil. Opa lalu berpikir di dalam ada Mbak Lastri. Lalu Opa berjalan menuju ke mobilnya.


“Ada perlu apa?” tanya Gandi saat mereka berpapasan, ucapan Gandi itu semakin membuat Reni ketakutan tubuhnya sudah terasa dingin dirasa oleh Opa.


“Ambil baju.” jawab Opa dan segera berjalan menuju ke mobil.


“Mama Opa...” ucap lirih Reni yang kuatir dengan Mamanya.


“Ada Mbak Lastri. “ jawab Opa menenangkan Reni dan dirinya sendiri.


Sementara Gandi langsung berjalan masuk, dia langsung menuju ke kamar Savitri. Gandi dengan cepat membuka daun pintu kamar Savitri. Savitri yang sedang mengeluarkan barang barang yang akan di bawa tampak kaget, namun juga senang ini kesempatan dia akan mengatakan sesuatu.


“Akhirnya kamu datang juga apa kamu sudah tahu berita tadi malam. Aku yakin pasti kamu sudah mendengar dan kamu akan datang karena kamu cemburu.” ucap Gandi sambil berjalan mendekat dan mulutnya tersenyum licik.


“Apa kamu bilang, cemburu? Buat apa aku cemburu. Aku justru senang jika kamu pergi dari kehidupanku. Aku senang kamu berhubungan dengan perempuan lain. Tapi jangan kotori rumahku.” ucap Savitri dengan penuh penekanan.


“Aku akan mengambil barang barangku, dan silahkan kamu juga ambil barang barangmu juga dari sini. Rumah ini mau aku jual.” ucap Savitri yang tidak keras namun bagai petir menyambar di telinga Gandi.


“Hmmm dia jadi berani setelah tinggal dengan keluarga almarhum Ardi. Aku tidak boleh pergi darinya tanpa membawa apapun.” gumam Gandi dalam hati sambil berpikir keras.

__ADS_1


“Cepat segera beresi barang barangmu!” teriak Savitri karena sudah muak melihat wajah Gandi yang masih berdiri mematung.


__ADS_2