Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 36. Gandi Kembali ke Rumah Savitri


__ADS_3

Motor yang dikendarai Savitri tidak mau menyala mesinnya, sementara hujan semakin deras, angin semakin kencang. Kendaraan kendaran dari belakang melaju sangat kencang. Savitri sangat panik.


Sementara itu Mbak Lastri di dalam rumah mengecek jam dinding, malam sudah tiba tetapi Savitri belum juga pulang. Ditambah hujan yang turun sangat lebat membuat Mbak Lastri sangat mengkuatirkan Savitri.


“Duh ... kok belum pulang Bu Vitri hujannya sangat lebat, Bu Vitri habis sakit lagi.. bagaimana ini.” gumam Mbak Lastri yang berada di ruang tamu sambil melihat kondisi luar rumah yang diguyur hujan lebat.


“Harusnya musim kemarau kok ya masih hujan dan hujan angin lagi.” Mbak Lastri ngedumel tidak jelas malah menyalahkan musim. Mbak Lastri terlihat berjalan mondar mandir bingung. Dia berjalan ke ruang tamu melihat kondisi luar dan tidak lama kemudian masuk ke dalam ruang makan. Dan tidak lama lagi berjalan ke ruang tamu melihat luar lagi, begitu terus berkali kali.


Tidak lama kemudian Mbak Lastri lalu mengambil payung dan berjalan ke luar menuju ke pos satpam mengira Savitri sudah pulang dan berteduh di pos satpam karena tidak membawa payung. Namun saat sampai di pos satpam Mbak Lastri sangat kecewa sebab tidak ada sosok Savitri. Dan Pak Satpam mengatakan kalau Savitei belum pulang.


Mbak Lastri lalu segera jalan menuju ke rumah Anisa. Baju Mbak Lastri basah meskipun memakai payung sebab hujan masih sangat deras dan angin juga lebat. Mbak Lastri berdiri lama di depan pintu Anisa.


“Kok lama ya Mbak Anisa buka pintunya, ga dengar atau sudah tidur ya.. hujan hujan gini memang enak habis makan terus tidur. Tapi Bu Vitri malah belum pulang.” gumam Mbak Lastri masih menunggu pintu dibuka. Sesekali dia menekan bel pintu lagi.


“Mbak, ada apa ayo masuk.” ucap Anisa saat membukakan pintu.


“Mbak, Bu Vitri belum pulang, mana hujan angin kayak gini.” ucap Mbak Lastri sambil masuk ke dalam rumah Savitri.

__ADS_1


“Aku mau nelpon Bu Vitri, dia sedang dimana apa masih di jalan atau bagaimana. Saya takut dia kenapa kenapa karena habis sakit. Saya mau pinjam hape Bu Vitri, hape saya dibawa Bu Vitri.” ucapnya lagi. Anisa lalu berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil hape Savitri. Dan setelahnya diberikan hape Savitri kepada Mbak Lastri. Mbak Lastri dengan segera mengaktifkan hape Savitri dan selanjutnya melakukan panggilan suara kepada Savitri.


“Bagaimana Mbak?” tanya Anisa sambil menatap Mbak Lastri penuh kekuatiran.


“Tidak diangkat, mungkin sedang mengendarai motornya ya Mbak. Jadi tidak dengar. Saya telpon Om Arya saja, takut kalau kenapa kenapa saya disalahkan saya sudah dibayar untuk jaga dia.” ucap Mbak Lastri lalu dia mencari nomor kontak Arya di hape Savitri dan seterusnya dia melakukan panggilan suara pada Arya.


Sementara Arya yang masih lembur di perusahaan kaget saat hapenya berdering dan terlihat kontak nama Savitri tertera di layar hapenya. Arya dengan cepat mengambil hapenya dan menggeser tombol hijau. Kaget Arya berlipat lipat saat yang menelpon adalah Mbak Lastri dan mengabarkan tentang Savitri yang belum pulang dari mengantar ikan.


“Mbak Lastri tahu dimana dia mengantar ikan?” tanya Arya


“Tidak tahu Om.. hiks.. hiks...Bu Vitri tetapi membawa hape saya, coba Om Arya telpon, tadi saya telpon tidak diangkat hiks... hiks... Saya takut kalau Bu Vitri kenapa kenapa.” ucap Mbak Lastri yang sudah mulai terisak menangis karena merasa bingung, bingung kuatir dengan keadaan Savitri dan takut jika dia disalahkan oleh Arya.


“Ha? Di luar kota.” gumam Arya sambil menggelengkan kepalanya. Arya lalu memberesi meja kerjanya. Dia segera meninggalkan ruang kerjanya menuju ke tempat mobilnya terparkir. Arya segera melajukan mobil meninggalkan kantor untuk menuju lokasi hape Mbak Lastri. Hujan masih dengan deras mengguyur bumi.


Arya menambah kecepatan mobilnya. Sesekali dia melihat ke layar hapenya, di lihatnya lokasi hape Mbak Lastri tidak berubah.


“Kenapa Kak Vitri tidak bergerak, apa Kak Vitri berteduh karena hujan. Tapi hari semakin malam, dan tampaknya hujan tidak reda.” Gumam Arya sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


Dan akhirnya mobil Arya sudah mendekati ke lokasi hape Mbak Lastri. Arya menepikan mobilnya. Dia mengedarkan pandangan matanya di sekitar tempat itu. Akhirnya Arya melihat ada motor di tepi jalan yang tidak jauh dari lampu merah.


“Dimana Kak Vitri, motor sudah terlihat, lokasi hape juga di sekitar sini.” gumam Arya lalu dia keluar dari mobilnya sambil memakai payung besar. Arya berjalan menuju ke arah motor yang berada di tepi jalan dan tergusur oleh air hujan. Mata Arya menangkap ada sosok yang bersandar pada sebuah pohon besar dengan memakai jas hujan.


“Kak Vitri.” gumam Arya lalu dia berlari menuju ke tempat sosok yang diduga Savitri.


“Kak Vitri.” ucap Arya saat sudah berada di dekat Savitri.


“Ya...” jawab Savitri dengan sangat lemah. Arya lalu memapah tubuh Savitri yang sangat lemah untuk dibawa ke mobilnya.


“Kak Vitri kuat jalan ya, Cuma dekat.” ucap Arya sambil memapah dan memayungi tubuh Savitri. Baju Arya menjadi basah karena bersentuhan dengan jas hujan Savitri. Sesampai di mobil Arya melepas jas hujan Savitri dan selanjutnya mengambilkan minyak kayu putih yang ada di kotak PPPK. Setelah tubuh Savitri sedikit hangat Arya melajukan mobilnya.


“Ya, motor Pak Satpam bagaimana?” tanya Savitri dengan suara pelan. Arya lalu menepikan mobilnya, lalu dia menghubungi seseorang dan menyuruhnya agar segera membawa motor Pak Satpam yang mogok. Selanjutnya Arya melajukan lagi mobilnya untuk mengantar pulang Savitri.


Sementara itu di lain tempat di sebuah kontrakan rumah kecil. Air guyuran hujan masuk ke dalam rumah karena banyak genting yang melorot. Gandi yang kabur dari rumah Savitri berada di rumah kontrakan itu dengan teman nongkrong dan maboknya.


“Aku mau pulang, enak di rumah Savitri tidak bocor. Lagian uangku sudah habis.” ucap Gandi sambil mengambil jaket lusuhnya yang berhati hari tidak dicuci.

__ADS_1


“Katanya motor mau kamu jual.” ucap temannya Gandi.


“Besok saja, aku mau pulang dulu tidak bisa tidur di sini kalau bocor kayak gini.” ucap Gandi lagi lalu dia berlalu keluar rumah kontrakan itu memakai jas hujan lalu melajukan motornya untuk kembali ke rumah Savitri.


__ADS_2