
Mobil pelan pelan memasuki halaman gedung perusahaan milik almarhum Ardi. Terlihat mata Reni berbinar binar dan bibirnya tersenyum lebar.
“Ma aku dulu pernah ke sini ya, terus duduk di kursi Papa yang bisa berputar putar kursi yang besar.” ucap Reni sambil menatap wajah Mamanya. Savitri menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Nanti boleh duduk lagi tidak Ma, Mama yang putar putarin ya... Kan tidak ada Papa Arya.” ucap Reni lagi
“Iya...” jawab Savitri sambil mengusap usap puncak kepala Reni. Dan tidak lama kemudian mobil berhenti di depan pintu masuk perkantoran.
“Bu Vitri silahkan turun, langsung menuju bagian resepsionis biar nanti diantar. Saya parkir mobil ke tempat parkir. Nanti kalau Bu Vitri butuh saya telpon saja saya.” ucap Pak Slamet saat mobil sudah sempurna berhenti sambil menoleh ke arah jok belakang tempat duduk Savitri.
“Baik Pak, terimakasih kasih.” ucap Savitri sambil membuka pintu mobilnya.
“Ayo Sayang..” ucap Savitri selanjutnya sambil menoleh ke arah Reni. Sementara Reni tampak sibuk menaruh tas sekolahnya di punggungnya.
“Tasnya ditinggal di mobil saja Sayang..” ucap Savitri sambil tangannya meraih tas punggung Reni dan ditaruh di jok mobil. Savitri lalu mengendong tubuh Reni agar cepat turun dari mobil. Setelah keluar dari mobil Reni diturunkan. Dan mobil berjalan menuju ke tempat parkir.
Savitri lalu berjalan sambil menggandeng tangan mungil Reni. Reni tampak riang terasa kakinya ringan dalam berjalan. Saat sampai di depan bagian resepsionis. Petugas Resepsionis langsung berdiri sambil tersenyum ramah.
“Ibu Vitri selamat datang.” Ucap Petugas Resepsionis itu saat Savitri berdiri di depannya. Savitri mengucapkan terimakasih sambil tersenyum.
“Ibu Vitri tambah cantik, puterinya juga sudah besar dan tambah cantik.” ucap Petugas Resepsionis itu sambil tersenyum menunduk memandang wajah Reni.
“Terimakasih Kak, Reni sudah jadi anak sekolah.” ucap Savitri lagi pada Petugas Resepsionis yang merupakan seorang perempuan muda. Sedangkan Reni tampak malu malu.
__ADS_1
“Ayo Bu Vitri saya antar ke ruangan Pak Arya.” ucap Petugas Resepsionis itu sambil berjalan keluar dari ruangannya saat sudah ada petugas lain yang menggantikannya. Mereka berjalan dengan santai sebab mengikuti langkah kaki mungil Reni sambil berbincang bincang ringan. Tidak lama kemudian mereka masuk ke dalam lift yang akan membawa ke lantai di tempat ruang kerja Arya.
“Ma gendong, takut nanti ketinggalan diriku di dalam lift.” ucap Reni sambil mengulurkan tangannya. Savitri lalu meraih tubuh Reno dan digendongnya.
“Tidak akan kami tinggalkan dirimu anak cantik.” ucap Petugas Resepsionis itu sambil tersenyum menatap Reni yang sudah digendong oleh Savitri.
TING
Lift berhenti sampai di lantai yang dituju. Setelah pintu lift terbuka mereka segera keluar dari pintu lift dan berjalan menuju ke ruang kerja Arya. Petugas Resepsionis itu mengetuk ngetuk pintu dengan pelan. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka dan tampak seorang laki laki muda yang merupakan sekretaris Arya. Laki laki muda itu dengan tersenyum ramah mempersilahkan Savitri masuk ke dalam ruangan kerja Arya sedangkan Petugas Resepsionis mohon diri akan ke tempat kerjanya.
“Da... Da... anak cantik. “ ucap Petugas Resepsionis itu sambil melambai lambai tangannya pada Reni dan Reni pun membalas dengan melambai lambaikan tangan mungilnya. Dan setelahnya dia berlari akan duduk di kursi kerja Papanya.
“Bu Vitri, kenalkan saya Dimas sekretaris Pak Arya. Tadi Pak Arya sudah menghubungi saya, itu berkas berkas sudah saya siapkan di meja Pak Arya. Bu Vitri bisa cek.” ucap laki laki muda yang bernama Dimas itu sambil menunjukkan setumpuk berkas yang harus dibawa Savitri untuk diserahkan pada Arya. Savitri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Dia lalu melangkah menuju ke meja Arya sementara Reni masih berusaha naik duduk di kursi kebesaran Papanya namun belum berhasil sebab saat akan dinaiki kursi berputar.
“Ma puterin donk.” pinta Reni namun Savitri masih berdiri sambil mengecek berkas berkas sambil memegang hapenya untuk mengecek pesan teks dari Arya yang berisi list daftar berkas berkas yang harus dia bawa.
“Ma....” teriak Reni sekali lagi, melihat hal itu lalu Dimas mengambil kursi lipat warna merah dan dibawa lalu di taruh di dekat Savitri.
“Bu silahkan duduk.” ucap Dimas lalu Savitripun duduk di kursi itu.
“Om puterin dong ini kursinya.” pinta Reni sambil menatap Dimas dengan wajah memelas nan imut. Dimas pun akhirnya mengabulkan permintaan Reni dan Reni akhir nya girang dan tertawa tawa.
Setelah Savitri mengecek berkas berkas dan semua sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh Arya. Savitri lalu menyampaikan maksudnya ingin bertemu dengan Bu Nuning dan Pak Bagas kepada Bagas.
__ADS_1
“Baiklah Bu, saya akan hubungi Bu Nuning dan Pak Bagas agar mereka datang ke sini.” ucap Dimas lalu dia berjalan menuju ke mejanya untuk menghubungi Bu Nuning dan Pak Bagas. Sementara itu sekarang Savitri yang menuruti kemauan Reni untuk memutar mutarkan kursi Papanya.
“Sudah Reni, nanti kamu pusing.” ucap Savitri. Namun Reni tidak mau dan masih minta diputar putar kursinya. Dan tidak lama kemudian pintu ruangan diketuk ketuk, dan Dimas pun berjalan membukakan pintu, tampak Ibu Nuning dan Pak Bagas sudah berada di depan pintu. Dimas segera mempersilahkan mereka berdua, dan Savitripun lalu berjalan untuk mendekati mereka berdua setelah saling berjabat tangan mereka berjalan menuju ke sofa yang berada di ruangan itu.
Sedangkan Reni jangan ditanya, dia sudah melambaikan tangannya meminta Dimas datang padanya dan memutar mutar kursinya.
“Kami senang Bu Vitri datang ke sini, bagaimana kondisi Pak Arya.” ucap Ibu Nuning saat mereka bertiga sudah duduk di sofa.
“Terimakasih Bu, Pak Arya baru di bawa ke rumah sakit.” jawab Savitri, lalu Savitri menyampaikan maksudnya ingin ikut terlibat membantu perusahaan dan minta masukan dan saran dari Bu Nuning dan Pak Bagas karena yang sudah berpengalaman.
“Meskipun saya istrinya Bang Ardi saya tidak mengerti apa apa Bu, Pak. Maka saya minta bimbingan nya.” ucap Savitri.
“Saya sangat senang dan mendukung Bu Vitri.” ucap Pak Bagas.
“Bu Vitri orientasi dulu saja, datang ke sini lihat lihat kalau ada yang ingin ditanyakan tanyakan saja pada kami.” ucap Pak Bagas kemudian.
“Kalau menurutku Bu Vitri mengawali dari magang menjadi sekretaris Pak Arya saja, minta Dimas yang membantu. Dan mumpung Pak Arya di rumah jadi bisa membantu saat Pak Arya membutuhkan. “ saran dari Ibu Nuning.
“Nanti setelahnya terserah Ibu Vitri minatnya di mana. Saya dulu juga mengawali menjadi sekretaris lalu saya belajar tentang keuangan dan sama Pak Arya saya dipindah di bagian keuangan.” ucap Bu Nuning sambil tersenyum menatap Savitri.
“Saya rasa begitu juga baik Bu Vitri, magang jadi sekretaris Pak Arya dulu.” ucap Pak Bagas yang menyetujui usul Bu Nuning.
“Semua bisa dipelajari Bu, saya cuma lulusan SMA, tetapi karena belajar dan pengalaman, sekarang kemampuan saya tidak kalah dengan yang berpendidikan tinggi, yang penting ada kemauan.“ ucap Bu Nuning lagI.
__ADS_1