Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 88. Sesi 2. Tak Tega Pada Anaknya


__ADS_3

Pagi harinya, tidak ada drama pagi karena ulah Reni, dia terlihat bersikap sangat manis menurut pada kakaknya dan orang tua. Apalagi tadi sempat dibisiki oleh Oma kalau menurut dan bisa mandiri akan dapat adik bayi lagi. Reno dan Reni pun akhirnya berangkat ke sekolah diantar oleh Opa.


Kini Arya dan Savitri berpamitan pada Oma akan berangkat kerja. Setelah mencium punggung telapak tangan Oma , Savitri segera berjalan menuju ke arah mobil Arya.


“Ya, kalau pulang sekalian ajak Savitri untuk memesan cincin.” bisik Oma pada Arya. Tadi malam pun Arya sudah diberitahu kalau Kakek sudah setuju tinggal menunggu waktu saja. Arya terlihat menganggukkan kepalanya dengan mantap.


“Beli yang bagus, yang spesial.. harus lebih bagus dari pada yang dibelikan oleh Ardi.” bisik Oma lagi sambil berjalan di samping Arya. Sedangkan Savitri sudah berjalan di depan mereka.


“Iya iya.. nanti aku suruh Kak Vitri yang memilih sendiri.” ucap Arya dengan suara lirih pula, agar Savitri tidak mendengar suaranya.


“Mulai sekarang kamu jangan panggil Kak, bukannya umur kamu juga lebih tua dari dirinya. Kalau kamu masih memanggil dengan sebutan Kak, itu akan ada jarak antara kamu dengan Vitri.” ucap Oma lagi yang sekarang sudah dengan suara keras tidak berbisik lagi agar Savitri yang sudah duduk di dalam mobil pun ikut mendengar.


“Baik Oma, aku akan meminta Savitri cintaku yang akan memilih sendiri.” ucap Arya sambil mencium pipi Oma lagi dia segera membuka pintu mobilnya. Terlihat Savitri menoleh ke arah Oma yang masih berdiri di samping mobil. Oma terlihat tersenyum bahagia.


Arya lalu menyalakan mesin mobilnya, setelah menekan tombol klakson satu kali sebagai kode pamit pada Oma, Arya lalu menjalankan mobilnya dengan pelan pelan keluar dari halaman rumah Oma dan Opa.


Mobil terus berjalan menuju ke perusahaan mereka. Arya ekspresi wajah nya selalu tersenyum sesekali menoleh menatap Savitri.


“Aku harus memanggil siapa ya.. cintaku , sayangku, darling, honey, ... “ ucap Arya sambil menoleh sekilas ke arah Savitri lalu kembali fokus ke depan pada kemudi mobilnya.


“Panggil siapa? Helena?” tanya Savitri tanpa menoleh dia juga pandangan matanya fokus ke depan.


“Hmmm buat apa panggil dia.” ucap Arya dengan nada datar.

__ADS_1


“Ya panggil buat perempuan di sampingku ini yang duduk satu mobil dengan diriku.” ucap Arya kemudian sambil menoleh ke arah Savitri sebentar. Savitri hanya diam saja, namun terlihat pipinya sedikit merona. Dan di dalam hati dia tersenyum tidak menyangka Arya yang selama ini dingin bisa menjadi lebih hangat.


“Apa dia dulu juga bersikap hangat pada Helena ya.” gumam Savitri dalam hati. Sebab selama dia menjadi kakak ipar nya Arya bersikap sangat sopan pada dirinya dan jarang terlihat bercanda.


“Apa dinginnya karena kemarin patah hati ditinggal oleh Helena.” gumam Savitri lagi dan dia terus fokus menatap ke arah depan.


“Jangan melamun sayang, tidak usah kamu pikirkan Helena.” ucap Arya sambil menoleh sekilas ke arah Savitri.


“Aku harus buat apa, agar kamu percaya.” ucap Arya lagi. Sementara Savitri hanya diam saja.


“Waktu nanti yang akan membuktikan Ya.” ucap Savitri dengan pandangan yang terus ke depan. Arya melepas tangan kirinya dari pegangan kemudi mobilnya lalu pelan pelan memegang telapak lembut tangan Savitri dia pegang telapak tangan itu dengan erat. Sebagai ungkapan dia serius. Lalu tangan Arya kembali memegang kendali kemudi mobilnya.


Sementara itu di rumah sakit, Helena masih menunggui Keynan. Dia sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa bekerja di perusahaan Arya. Di samping itu dia juga sedang berpikir agar orang tua nya mau menerima dirinya.


“Perempuan kekasih Arya itu terlihat sangat polos. Hmmm bisa aku manfaatkan dengan ancamanku ha...ha....” gumam Helena lagi yang kini mulai tertawa hingga Keynan yang tertidur karena pengaruh obat terbangun oleh suara tawa Maminya.


“Mami....”


“Mami mengganggu tidurku.”


“Kamu itu sudah terlalu banyak tidur. Mami tidak bisa tidur Di rumah sakit ini Mami tidur di bawah.” ucap Helena yang memang di kamar perawatan Keynan tidak ada tempat tidur buat penunggu pasien. Helena tidur di lantai beralas tikar yang dibawakan oleh Pak Slamet.


“Tetapi tidak apa apa, di sini kita mendapat makanan gratis dan dapat uang ha... ha...” ucap Helena lagi sambil tertawa.

__ADS_1


“Mami boleh tidur di sampingku, tetapi tidak boleh menyentuh tanganku yang sakit.” ucap Keynan sambil menatap Maminya.


“Sudah kamu tidur lagi. Nanti kalau Daddy Tampan ke sini lagi biar kamu tidak ngantuk lagi dan dapat uang banyak lagi.” ucap Helena, dan tampak Keynan yang matanya memang masih mengantuk terlihat menyetujui ucapan Maminya dia terlihat senang saat mendengarkan kata Daddy Tampan dia tampak tersenyum lalu memejamkan matanya lagi.


Sementara Helena terlihat sibuk mengusap usap layar hapenya dia mencari informasi organisasi masyarakat yang sekiranya bisa membantu kasusnya.


Siang harinya, Pak Slamet kembali datang ke kamar rawat Keynan, dia selalu memberikan makan buat Helena dan uang ganti pada Helena. Akan tetapi saat ini Pak Slamet selain membawa makan siang buat Helena dia membawakan sesuatu yang spesial buat Keynan.


Pak Slamet mengetuk ngetuk pintu kamar rawat Keynan. Keynan yang sudah makan dari makan jatah dari rumah sakit terlihat wajahnya tersenyum dan mata berbinar binar dia mengharapkan yang datang adalah Arya dan Savitri.


“Mami cepat buka pintunya itu Daddy Tampan dan Tante Peri.” teriak Keynan.


“Jangan terlalu berharap kamu.” ucap Helena sambil bangkit berdiri padahal sebenarnya dia juga berharap Arya yang datang.


Helena membuka pintu kamar dengan harap harap cemas. Sementara Keynan matanya terus menatap pintu kamar, sudah tidak sabar untuk melihat siapa yang datang. Saat pintu sudah dibuka.


“Kamu. “ ucap Helena dengan dingin. Lalu kembali melangkah masuk. Sedangkan Keynan setelah melihat Pak Slamet datang dan langsung menyelonong masuk sambil membawa barang yang dia mimpikan terlihat matanya berbinar binar bahkan sampai ada genangan air mata.


“Mobil mobilan yang aku inginkan Mam.” teriak Keynan. Pak Slamet berjalan mendekat dan menaruh mobil mobilan remot kontrol yang bagus dan besar itu di samping tubuh Keynan.


“Ini pasti dari Tante Peri, aku kemarin cerita ingin mobil mobilan ini, pernah mau pinjam pada temanku aku tidak dikasih, mau pegang sebentar saja tidak boleh, aku malah disuruh pergi dibilang orang miskin dan mau diludahi juga aku.” ucap Keynan lalu dia memeluk mobil mobilan itu dengan tangannya yang tidak sakit.


“Terima kasih Pak..” ucap Keynan sambil masih memeluk mobil mobilan itu.

__ADS_1


“Ibu Vitri yang mengirim buat Keynan.” ucap Pak Slamet sambil menatap Keynan terharu, Pak Slamet sungguh tidak sampai hati jika melihat Keynan, mungkin Savitri pun demikian. Tadi memang Savitri menyuruh Pak Slamet membelikan barang itu dulu, saat Pak Slamet ijin akan ke rumah sakit.


__ADS_2