Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 56. Sesi 2. Janda ke Dua Kali


__ADS_3

Detik berganti detik menit berganti menit hari berganti hari. Orang tua Savitri sudah menguruskan perceraian Savitri.


“Apa Kakak akan menghadiri sidang?” tanya Arya saat akan mengantar Reno berangkat le sekolah. Reno yang mendengar kata sidang tampak ekspresi wajahnya kuatir.


“Iya Ya.” jawab Savitri sambil membenarkan letak tas di punggung Reno, lalu terlihat Reno mencium tangan Savitri dan menarik tangan Savitri agar Mamanya itu merendahkan tubuhnya Reno lalu mencium pipi Savitrii. Savitripun mencium kening Reno.


“Nanti aku antar, Kak Vitri tunggu saja di rumah, sepulang dari mengantar Reno aku langsung pulang.” ucap Arya lalu menggandeng tangan Reno untuk berjalan keluar rumah.


Sesaat kemudian dari dalam muncul Reni bersama Oma dan Opa. Reni langsung berlari untuk pamit kepada Savitri dan selanjutnya dia berjalan dengan Opa keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah.


“Vit, kamu nanti akan berangkat untuk menghadiri sidang?” tanya Oma sambil menatap Savitri.


“Iya Ma, sidang terakhir. Bapak sudah mengurus semua.” jawab Savitri.


“Aku nanti ikut.” ucap Oma.


“Iya Ma, Bapak dan Ibu juga hadir nanti. Tadi kalau saya tidak diantar Arya akan dijemput oleh Bapak.” ucap Savitri lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam kamarnya masing masing untuk berganti baju. Savitri membuka pelan pelan pintu kamar almarhum Ardi yang kini sudah menjadi kamar kedua anaknya dan dirinya. Savitri melihat bok bayi yang akan digunakan untuk almarhum Rendy masih berada di dalam kamar itu. Bok bayi itu berisi mainan bayi yang sudah disiapkan oleh Reno dan Reni. Mereka ingin bok itu tetap berada di sini. Katanya bisa digunakan untuk adik bayi yang masih berada di dalam perut Mamanya yang belum muncul.


Flashback on


“Mama makan yang banyak biar nanti perutnya besar dan ada adiknya lagi.” ucap Reni sambil mengusap usap perut Savitri.


“Oma itu perutnya besar tapi adiknya tidak keluar keluar dari dalam perut Oma.” ucap Reno sambil menatap wajah Reni.


“Kalau banyak makan perutnya isinya makanan sayang bukan isi bayi.” ucap Savitri sambil mengusap usap kepala Reni.


“Terus bagaimana agar di dalam perut Mama ada adiknya lagi?” tanya Reni...


Flashback off


Savitri tersenyum mengingat pembicaraan dengan anak anaknya pertanyaan sederhana yang kadang sulit dia jelaskan jawabannya pada anak anaknya. Savitri terus berjalan menuju ke lemari baju Reni, baju dia yang tidak banyak jadi berada satu lemari dengan baju baju Reni. Dengan segera Savitri bersiap diri, agar Arya tidak terlalu lama menunggu jika dia sudah pulang dari mengantar Reno ke sekolah. Namun tiba tiba...


TOK....TOK... TOK....

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu dengan suara yang pelan. Savitri yang sudah selesai berhias lalu berjalan menuju ke pintu. Savitri membuka pintu dengan pelan pelan...


“Ada apa Ma?” tanya Savitri saat pintu sudah terbuka akan tetapi dia terlihat kaget sebab yang muncul bukan sosok Oma tetapi Arya.


“Eh kamu Ya sudah pulang, aku kira Oma. Ada apa?” ucap Savitri sambil menatap Arya.


“Kalau Kak Vitri sudah selesai kita langsung berangkat saja, kata Kakek jadwal sidang pagi.” ucap Arya.


“Iya Ya, sudah selesai aku ambil tas dulu.” jawab Savitri lalu dia membalikkan badannya untuk mengambil tas. Sedangkan Arya sudah berjalan meninggalkan kamar kedua keponakannya itu.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah bersiap di dalam mobil, Arya mengendalikan mobil sedang Savitri duduk di belakang kemudi berdampingan dengan Oma.


“Nanti kalau ada Gandi aku yang akan menghadapinya. Dia sudah menuduhku akan menguasai harta Savitri padahal dia sendiri yang sudah menghabiskan.” ucap Oma dengan penuh emosi. Arya dan Savitri hanya diam saja. Oma terus saja ngomel ngomel bicara tentang kelakuan Gandi. Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan gedung tempat sidang perceraian. Savitri turun dari mobil dengan hati hatinya. Tangannya sudah mulai dingin tanda hatinya was was karena akan menjalani sidang. Terlihat mobil Kakek sudah terparkir rapi, hati Savitri sedikit lebih tenang. Mereka bertiga berjalan menuju ke tempat penerimaan tamu. Saat mereka bertiga masih berdiri....


“Vit... Ayo langsung saja masuk ke sana. Sudah saya daftarkan.” teriak Kakek yang berjalan ke arah mereka dari dalam. Mereka bertiga lalu segera mengikuti langkah kaki Kakek menuju ke dalam ruang sidang. Setelah sampai di dalam terlihat Nenek sudah duduk di kursi di samping seorang perempuan muda. Mereka berdua berbicara dengan akrab. Perempuan muda itu terlihat sangat ramah dan sangat memperhatikan Nenek dilihat dari getsur tubuhnya dan ekspresi wajahnya.


“Vit kenalkan ini Mbak Dewi yang selalu membantu Bapak, dia dari organisasi perlindungan untuk kaum perempuan.” ucap Kakek saat mereka sudah mendekat. Mereka semua lalu berjabat tangan dan saling mengenalkan. Dan tidak lama kemudian sidang dimulai. Savitri berdebar debar menunggu hasil keputusan dan juga berdebar debar jika Gandi datang ke ruangan itu dan marah marah.


Dan beberapa saat kemudian terdengar ketuk palu gugatan cerai dikabulkan. Savitri menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, dia bersyukur dan menangis bahagia serasa belenggu yang menjerat tubuhnya sudah terlepas.


“Terimakasih ya Mbak Dewi atas bantuannya semua menjadi lebih mudah dan lancar.” ucap Kakek yang sekarang sudah berdiri di dekat mereka.


“Sama sama Pak, saya hanya membantu, hanya Allah yang mempermudah dan melancarkan segala urusan umatNya . “ ucap Mbak Dewi.


“Mbak Dewi bagaimana kalau saya mengundang Mbak Dewi untuk makan malam.” ucap Oma sambil menatap Mbak Dewi.


“Maaf Bu, saya masih banyak pekerjaan lain waktu saya akan main ke rumah Bu Vitri.” ucap Mbak Dewi dengan sopan.


“Benar ya Mbak.” ucap Savitri dengan mata berbinar binar. Mereka semua lalu keluar dari ruangan.


“Nak Arya kalau mau ke kantor bisa langsung saja, biar Oma dan Vitri saya yang antar. Kami juga kangen dengan cucu cucu.” ucap Kakek sambil menatap Arya, dan Arya menganggukkan kepala tanda setuju dengan usul Kakek.


“Aku juga setuju, kita rayakan kebebasan Savitri ini sayang Mbak Dewi tidak bisa ikut. Omong omong kok Gandi nya tidak datang.” ucap Oma sambil berjalan di samping Savitri dan Nenek menuju ke mobil. Mereka semua lalu masuk ke dalam mobil Kakek dan mobil berjalan menuju ke rumah Oma dan Opa.

__ADS_1


Sesampai di rumah Opa dan Oma, mereka segera turun dari mobil. Nenek, Oma dan Savitri segera berjalan menuju ke dapur setelah Oma dan Savitri berganti baju.


“Ma, saya undang Mbak Lastri dan Anisa ya Ma. Sekalian saya mau bicara tentang rumah Bang Ardi, kata Anisa sudah ada yang mau mengontrak rumah itu.” ucap Savitri sambil menatap Oma.


“Iya iya ... “ jawab Oma sambil sibuk memberi arahan pada asisten rumah tangganya kalau hari ini mendadak akan masak dalam jumlah lebih banyak.


Waktu terus berlalu para perempuan sibuk di dapur bersama asisten rumah tangga Oma. Sedangkan Opa dan Kakek bertugas menjemput Reno dan Reni. Opa memang senang mengantar jemput Reni sebab letak sekolah Reni yang tidak jauh juga untuk kegiatan Opa dan Opa sangat terhibur melihat tingkah lucu anak anak kecil.


Sore hari habis maghrib mereka semua sudah siap untuk menunggu kedatangan Mbak Lastri dan Anisa.


“Aku senang banyak orang dan banyak makanan.” ucap Reni saat melihat ada banyak makanan di meja makan. Apalagi Savitri membuatkan makanan kesukaan kedua anaknya.


TING TONG TING TONG


Terdengar suara bel pintu.


“Ren itu Mbak Lastri dan Tante Nisa, buka pintu sayang...” ucap Savitri yang masih sibuk mengatur meja makan. Reni lalu berlari.. dan membuka pintu. Benar Mbak Lastri, Anisa dan suaminya sudah berada di depan pintu. Reni sangat senang sekali di rumah tambah banyak orang. Anisa dan Mbak Lastri langsung berjalan mendatangi Savitri, sedangkan suami Anisa duduk di ruang keluarga bersama Opa dan Kakek.


“Selamat ya Bu Vitri.” ucap Mbak Lastri sambil memeluk Savitri dari belakang.


“Hari ini ulang tahun Mama?” tanya Reni sambil menatap Savitri.


“Ulang janda.” jawab Mbak Lastri sambil menatap Reni.


“Omongan orang besar bikin pusing. Aku mau ke kamar saja, nanti dipanggil kalau sudah mau makan.” ucap Reni lalu berlari menuju ke kamar, dia akan menanyakan pada Kakaknya Reno apa Mamanya hari ini ulang tahun. Sementara itu Mbak Lastri dan Anisa membantu Savitri.


“Bu, Pak Gandi sudah tidak lagi datang ke rumah. Istrinya itu yang masih datang dan mencari cari Pak Gandi mau minta uang. Mau pinjam uang saya juga. Ya tidak saya kasih takutnya malah nanti datang datang lagi. Istrinya sudah saya kasih tahu kalau rumah mau dijual. Eee malah dikira Bu Vitri sama Pak Gandi pindah rumah biar aman tidak dia datangi.” ucap Mbak Lastri dengan mulut mencong ke kiri dan ke kanan saking sebelnya dengan istri pertama Gandi.


“Besok kalau datang lagi akan saya kasih tahu kalau Bu Vitri sudah cerai sudah menjadi janda yang kedua kali...ups...” ucap Mbak Lastri lagi lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Maaf Bu.” ucap Mbak Lastri kemudian dengan nada penyesalan.


“Tidak apa apa Mbak, tidak perlu minta maaf memang aku janda dua kali. Tetapi sekarang beda menjadi janda yang kedua ini aku merasa bahagia serasa aku terbang dengan kedua sayapku yang selama ini dicabut oleh Gandi.” ucap Savitri, di saat bersamaan Reno dan Reni sudah berada di dekat mereka. Reno yang pernah mendengar istilah janda tampak kuatir jika Mamanya menjadi bahan omongan orang orang lagi. Savitri melihat wajah Reno yang kuatir menatap dirinya. Savitri lalu meletakkan pekerjaannya. Dia jongkok di depan tubuh Reno.

__ADS_1


“Reno tidak perlu kuatir dengan Mama, Mama baik baik saja. Mama aman di sini sayang...” ucap Savitri sambil menatap Reno memberi keyakinan.


“Nih buktinya kita semua bersenang senang. “ ucap Savitri lagi.


__ADS_2