Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 84. Sesi 2. Rencana Melamar


__ADS_3

Savitri terus berjalan menuju ke kamar kedua anaknya. Dia membuka pintu dengan pelan pelan agar tidak mengganggu tidur siang kedua anaknya. Setelah berada di dalam kamar, Savitri dengan segera mengganti baju kerja yang menempel d tubuhnya dengan baju rumah dan selanjutnya dia menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka dan juga tangan dan kakinya. Kini terasa sedikit segar wajahnya.


“Hmmm belum apa apa mulai ikut bekerja di kantor, ternyata berat juga. Berat di pikiran.” gumam Savitri dalam hati dan selanjutnya dia merebahkan tubuhnya di sofa.


“Kalau Helena akan bersikeras melaporkan biar kan saja. Nanti aku akan pakai pengacara. Akan tetapi jika dia mau berdamai seperti pada rencana ku semula, aku taruh dia di bagian produksi. Sebagai sesama perempuan yang memiliki anak aku kasihan pada anaknya. Tetapi memang benar seperti yang Oma bilang, Helena memang licik, sangat cerdik.” gumam Savitri lagi yang pemikiran dia seperti juga pemikiran Arya yang tidak menduga Helena akan meminta bantuan organisasi masyarakat.


“Kasihan anaknya jika dia anak yang pintar tetapi juga ikut ikut licik seperti ibunya karena melihat contoh dari ibunya , semoga saja tidak.” gumam Savitri yang mengingat saat Keynan bercerita dengan dirinya.


“Hmm malam romantis seperti apa yang dibuat Arya pada dirinya di kampus..” gumam Savitri selanjutnya yang mengingat ucapan Helena dan Arya meminta agar Helena tidak melanjutnya ceritanya


“Ihhh kenapa aku juga harus kepo.” ucap Savitri lalu dia memiringkan tubuhnya dan memeluk guling yang berada di sofa lebar tempat tidurnya.


“Aku harus benar benar berusaha untuk tahu dan bisa memegang perusahaan. Kalau Arya akan kembali pada Helena, aku yang harus pegang perusahaan. Kalau dengan Arya aku percaya, tetapi kalau Arya bisa dikendalikan Helena.. kasihan anak anakku kelak.” gumam Savitri selanjutnya dan dia mulai memejamkan matanya.


Savitri akhirnya tertidur di sofa setelah dia bertekad untuk lebih mengerti tentang perusahaan yang sudah dirintis oleh almarhum Ardi suaminya. Agar dia bisa memegang kendali dan tidak tergantung pada Arya.


Beberapa saat kemudian, Savitri terbangun sebab dia merasa ada basah basah menempel di pipinya. Dan ada tekanan di atas tubuhnya dan di samping tubuhnya. Saat dia membukakan matanya terlihat wajah Reni berada di wajahnya. Reni menciumi pipinya dan tidur tengkurap di atas tubuhnya, sementara Reno tidur di samping sambil memeluk tubuhnya.


“Kalian kenapa mengganggu tidur Mama.” ucap Savitri sambil memeluk anak anaknya.


“Ma, kita kangen...” ucap Reni sambil masih menciumi Mamanya.

__ADS_1


“Iya Ma, sepi pulang tidak ada Mama..” ucap Reno.


“Makan di meja makan tidak ada Mama.. sedih rasanya kayak saat kita tidak serumah dengan Mama dulu...” ucap Reno selanjutnya sambil terus memeluk Mamanya.


“Mama kan kerja, Mama harus bekerja d perusahaan.” ucap Savitri


“Kan ada Papa Arya yang sudah bekerja di perusahaan. “ ucap Reno.


“Mama tidak boleh lagi menggantungkan perusahaan pada Papa Arya. Tuh lihat di kamar Papa Arya, dia sakit lagi. Jadi Mama harus membantu.” ucap Savitri lagi.


“Kalian tidak boleh nakal, berangkat sekolah bisa diantar oleh Opa atau sopir, kalau Mama dan Papa Arya sedang tidak bisa.” ucap Savitri kemudian sambil kedua tangannya memegang wajah Reni dan ditatap dengan lekat lalu diciuminya wajah mungil anaknya itu.


Beberapa saat kemudian Reno lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar Arya, dia kuatir dengan keadaan Arya. Dia tidak ingin ada hal buruk terjadi pada Arya.


Saat masuk ke dalam kamar terlihat Arya masih tertidur. Reno lalu berjalan mendekati tempat tidur Arya. Dipegang kening Arya dengan telapak mungil Reno.


“Tidak panas.” ucap Reno. Arya yang merasa dahinya ada yang memegang dan mendengar suara Reno lalu membukakan matanya.


“Di mana Mama?” tanya Arya sambil menatap wajah Reno.


“Mamanya Papa Arya apa Mamanya Reno?” tanya Reno serius karena pertanyaan ambigu Arya, sebab Arya juga memanggil Mama untuk menyebut Oma.

__ADS_1


“Mamanya Reno.” jawab Arya sambil memencet hidung Reno.


“Di kamar.” jawab Reno.


“Tolong panggilkan ya ..” pinta Arya karena dia ingin segera membicarakan dengan Savitri tentang masalah Helena. Reno menganggukkan kepalanya dan segera berlari meninggalkan kamar Arya menuju ke kamarnya untuk memanggil Mamanya.


Sementara itu di kamar Oma dan Opa, mereka sedang duduk di sofa di dalam kamarnya berbicara serius membahas rencana untuk segera melamar Savitri buat Arya.


“Pa, aku lihat Arya sudah jatuh cinta pada Savitri, dan Savitri aku rasa juga sudah ada rasa. Tidak baik jika mereka sering bersama apalagi dalam satu rumah jika tidak segera disahkan. Aku kuatir jika mereka malah berbuat dosa.” ucap Oma dengan nada serius.


“Kita harus segera ke rumah orang tua Savitri untuk membahas hal ini.” ucap Oma sambil menatap wajah Opa.


“Dan aku juga kuatir kalau tidak segera dinikahkan Helena masih berusaha mengganggu Arya.” ucap Oma selanjutnya.


“Opa setuju saja, aku juga kuatir pusing Arya yang kambuh karena tadi ketemu Helena.” ucap Opa.


“Ya sudah sekarang tugas Opa yang tanya pada Arya, mau dia bagaimana. Kalau aku yakin seyakin yakinnya kalau Arya sudah jatuh cinta pada Savitri apalagi dari laporan Reni.”


“Reni lapor apa?” tanya Opa kepo sambil menatap wajah Oma.


“Sudah sana lihat Arya dan tanya baik baik kalau sudah tidak pusing.” ucap Oma lalu dia bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dsei kamarnya menuju ke belakang akan membantu asisten rumah tangga nya.

__ADS_1


Sedangkan Opa lalu menuruti perintah istrinya. Opa lalu bangkit dari tempat duduknya, dia lalu berjalan meninggalkan kamarnya berjalan menuju kamar Arya. Opa memutar handel pintu itu dengan pelan pelan dia lalu mendorong daun pintu dengan pelan pula. Dia kuatir jika Arya masih tertidur akan terganggu oleh suara pintu yang dia buka. Akan tetapi betapa kagetnya Opa saat melihat di dalam kamar sudah ada Savitri. Arya tidur dengan punggung menyandar di sandaran tempat tidur, sedangkan Savitri duduk di kursi di depan Arya, mereka berdua terlihat berbicara serius hingga tidak mendengar pintu dibuka oleh Opa dan tidak menyadari Opa sudah di depan pintu.


"Hmmm sejak kapan Savitri sudah masuk di dalam kamar Arya. Benar kata Oma, harus segera dinikahkan jika mereka tahu tahu sudah berduaan terus di dalam kamar bisa berbahaya. Aku kira masih tidur ee kok malah sudah berduaan di dalam kamar." gumam Opa sambil terus melangkah masuk ke dalam kamar Arya.


__ADS_2