Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 11. Kegelisahan Savitri


__ADS_3

Mbak Lastri menutup pagar lalu dengan mantap dia mengembok pagar. Dia tersenyum puas sebab sudah berhasil mengusir Arya dan Gandi.


“Aku harus buang barang bukti ini, bisa bahaya kalau mereka benar benar mau melaporkan aku karena tindak kekerasan.” ucap Mbak Lastri sambil akan melempar sapu yang tadi digunakan untuk memukul pantat Arya dan Gandi.


“Tapi kalau dibuang aku besok nyapu pakai apa.” gumam Mbak Lastri kemudian masih memegang sakunya. Dia akhirnya berjalan masuk sambil membawa sakunya.


“Bu, tugas sudah terlaksana dengan sukses.” ucap Mbak Lastri sambil melongokkan kepalanya setelah membuka pelan pintu kamar Savitri.


“Husttttt.” desis Savitri memberi isyarat pada Mbak Lastri agar tidak bicara keras keras. Sebab dia sedang berusaha menidurkan Reno dan Reni. Mbak Lastri lalu terlihat menutup mulutnya dengan tangan dan selanjutnya melangkah meninggalkan kamar Savitri.


Beberapa waktu kemudian, Savitri melihat kedua anaknya sudah tertidur. Namun Reno sepertinya tidak tertidur nyenyak terlihat dia sering merubah posisi tidurnya. Tadi seharian Reno tampak murung. Ditanyain Savitri juga hanya menjawab sepotong potong kata. Apalagi ditambah ada keributan antara Arya dan Gandi yang membuatnya ketakutan. Savitri membelai lembut kepala Reno. Meskipun anak laki laki Reno memiliki perasaan yang lembut dan sensitif seperti almarhum Ardi.


“Apa dia diolok olok oleh teman temannya lagi. Apa dia ketakutan dengan yang baru saja terjadi.” gumam Savitri dalam hati sambil masih terus membelai lembut kepala Reno.


“Ma...” ucap Reno sambil membuka matanya


“Iya sayang.. ayo bobok jangan takut lagi Papa Arya dan Om Gandi sudah pulang mereka tidak apa apa.” ucap Savitri sambil menepuk nepuk lembut pantat Reno agar tertidur.


“Ma.. maafin Reno ya... gara gara Reno, Mama dibenci orang orang komplek.” ucap Reno sambil menatap sendu Savitri.


“Siapa yang bilang sayang?” tanya Savitri kaget dan spontan menghentikan tepukan tangannya di pantat Reno.


“Yang kemarin Tante Nisa datang aku dengar Ma, Mbak Lastri juga bilang gitu Ma... katanya orang komplek membenci Mama dan Mbak Lastri karena Om Gandi sering datang.” ucap Reno.


“Bukan salahnya Reno dan orang orang komplek tidak membenci Mama sayang..... Mereka memperingati karena sayang pada Mama. Kalau sudah tidak sayang tidak diperingati, dibiarkan saja.” ucap Savitri berusaha memberi penjelasan.


“Kayak Mama ke Reno dan Reni kan kadang juga ditegur Mama, bukan karena Mama benci tapi karena Mama sayang.” ucap Savitri lagi.


“Ooo... gitu... Sekarang Reno dianter Mama saja ga apa apa. Terus kalau ada teman teman cerita jalan jalan diantar papa dan mamanya, aku pura pura ga dengar saja.” ucap Reno sambil matanya mengerjap ngerjap entah dia sedang berpikir atau agar air matanya tidak keluar.


“Sudah sekarang Reno bobok, biar besok tidak kesiangan bangunnya. Kita juga masih bisa jalan jalan kok.” ucap Savitri memberi ketenangan.


“Iya Ma, aku sayang Mama.” ucap Reno sambil memeluk Savitri.


“Iya sayang.. Mama juga sayang Reno.”


Setelah ditepuk tepuk pantatnya sambil ditenangkan oleh Savitri Reno bisa tertidur pulas. Namun Savitri masih terjaga. Pikirannya masih memikirkan tentang masalah yang sedang dihadapinya. Dia harus memilih antara perjodohannya dan ajakan Gandi untuk menikah.

__ADS_1


“Besok coba aku minta pendapat Anisa, meskipun dia belum punya anak tapi dia nyaman kalau buat curhat.” gumam Savitri dalam hati.


Siang hari di saat Reno dan Reni tidur siang. Savitri pergi menuju ke rumah Anisa, yang tentu saja sudah menitipkan Reno dan Reni pada Mbak Lastri.


“Masuk Kak.” ucap Anisa langsung membukakan pintu saat mendengar pintu pagar dibuka oleh Savitri.


“Suamimu ada?” tanya Savitri sambil melangkah masuk.


“Tenang saja Kak, suamiku sedang di luar kota sedang ada pameran. Kak Vitri bisa curhat bebas.” jawab Anisa sebab Savitri sudah chatting lebih dulu kalau dia akan datang curhat.


“Kalian itu jarang bertemu maka belum dikasih momongan.” ucap Savitri sambil menaruh pantatnya di sofa.


“Iya Kak, sudah ada rencana kami berdua memgurangi kegiatan biar dapat momongan keburu usiaku semakin banyak.. ha...ha...” Bagaimana Kak, mau cerita apa?”


“Nis... kemarin Arya menantang Gandi, menyuruh Gandi segera menikahi aku kalau Gandi benar benar cinta aku. Dari perkataannya itu berarti dia memang terpaksa menerima perjodohan itu.”


“Kalau Kak Vitri sendiri bagaimana condong rasanya ke Arya atau Gandi?”


“Kalau boleh jujur sama sama belum ada rasa Nis. Cuma Gandi pernah mengungkapkan perasaannya.”


“Aku bisa merasakan apa yang Kak Vitri rasakan, kehilangan pasangan karena meninggal, cuma bedanya aku dulu baru masa pacaran. Lama Kak hatiku tertutup ga ada rasa dengan laki laki yang mendekati.” ucap Anisa yang dulu juga pernah ditinggal pacarnya karena meninggal.


“Itulah Nis, Reno dan Reni butuh figur bapak, kalau ada laki laki sering ke rumah tidak enak dengan tetangga. Aku harus segera mengambil keputusan demi anak anak juga. Aku akan menerima ajakan Gandi.” ucap Savitri


“Kak Vitri sudah pikir matang matang?” tanya Anisa


“Iya Nis, Gandi duda itu lebih baik buatku. Aku kasihan pada Arya jika dia harus berkorban banyak.”


“Iya Kak, sepertinya Gandi cinta benar dengan Kakak dan anak anak. Pekerjaannya apa Kak?”


“Aku pernah diajak pertemuan dengan teman teman bisnisnya. Punya peliharaan hewan hewan dan tanaman hias yang mahal mahal itu. Katanya sih begituan bisnisnya. Rumah Gandi juga terbilang mewah.”


“Ya sudah kalau Kak Vitri sudah tahu Gandi. Semoga bahagia Kak.”


“Iya Nis terimakasih ya.. menjadi janda memang seperti ada tekanan dari masyarakat. Semoga keputusanku bisa meringankan bebanku.” gumam Savitri sambil tatapan matanya menerawang Dalam menjalani kehidupan pastinya setiap orang menginginkan kehidupan perkawinan yang harmonis. Kehilangan pasangan hidup akibat kematian pasangan yang mendadak membuatnya menyandang status menjadi janda muda. Bagi Savitri hidup sebagai janda merupakan hal yang sulit, karena di sisi lain mereka harus bertanggung jawab untuk menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya dan di sisi lain merasakan beban psikologis dari masyarakat yang umumnya menganggap kehidupan menjadi janda sebagai hal yang negatif. Masyarakat seperti selalu memantau tingkah lakunya dan kehidupan di dalam rumahnya. Sampai sampai Mbak Lastri dan anak anaknya juga terkena imbasnya. Dia berharap semoga keputusannya menerima Gandi membawa kebahagian untuk keluarga kecilnya.


Setelah pulang dari rumah Anisa, Savitri menimbang nimbang lagi keputusan yang akan diambilnya. Sore hari setelah kedua anaknya mandi. Savitri mendudukkan Reno dan Reni di sofa yang berada di kamar tidurnya.

__ADS_1


“Kakak sama Adik kalau Mama memilih Om Gandi menjadi Papa kalian, kalian mau tidak?” tanya Savitri hati hati. Tampak Reno memandang wajah adiknya. Sepeti minta kesepakatan sedangkan Reni hanya tersenyum. Lalu kedua anak tersebut menganggukan kepalanya.


“Mau Ma, Om Gandi baik, kita juga masih punya Papa Arya.” jawab Reno yang berpikir jika Mamanya memilih Gandi dia masih punya Arya yang sudah dipanggil Papa. Kalau Mamanya memilih Arya mungkin Gandi sudah tidak akan ke rumah lagi.


“Atu juda mau Ma.” ucap Reni.


“Ya sudah nanti Mama ngabari Om Gandi dan Papa Arya.” ucap Savitri yang akan segera ngabari Gandi dan dia juga akan memberitahu pada Arya agar keluarga almarhum juga mengetahui keputusannya.


Savitri memberi kabar lebih dulu pada Arya tentang keputusannya.Bagaimanapun Savitri tetap menghargai keluarga almarhum suaminya. Dia lebih nyaman menyampaikan keputusannya pada Arya berharap Arya memberi tahu kepada Oma dan Opa. Sejak Savitri menolak kemauan Oma, sikap Oma agak dingin pada dirinya.Arya menyerahkan semua keputusan pada Savitri karena hal itu menyangkut masa depan Savitri. Namun Arya siap membantu jika masih dibutuhkan karena bagaimanapun Reno dan Reni adalah keponakannya.


“Aku serahkan segala keputusan yang mengenai masa depan Kak Vitri pada Kak Vitri. Tetapi aku akan selalu siap membantu kebutuhan Reno dan Reni. Aku juga akan tetap memantau perkembangannya Kak, karena mereka adalah keponakanku. Bang Ardi sudah pesan pada diriku untuk menjaga mereka sebelum Bang Ardi menghembuskan nafasnya.” ucap Arya saat ditelpon Savitri.


Setelah menelpon Arya, Savitri mengabari pada Gandi. Gandi yang mendapat kabar kalau Savitri menerima ajakannya untuk menikah tentu saja senang riang gembira sampai sampai dia melemparkan hapenya karena begitu senangnya.


“Ah untung aku lempar ke kasur jadi aman.” ucap Gandi karena tidak sadar melempar hapenya. Dia mengambil hapenya dilihat Savitri sudah memutus sambungan teleponnya. Gandi lalu bersiap siap akan pergi ke rumah Savitri.


“Hah kali ini Arya dan Mbak Lastri tidak bisa mengusirku.” ucap Gandi dengan senyum kemenangan.


Dengan semangat membara Gandi berangkat menuju ke komplek perumahan Savitri. Gandi sudah membeli oleh oleh buat Savitri dan anak anaknya, dan kali ini dia juga membeli oleh oleh buat Pak Satpam juga Pak Erte. Gandi berencana akan mendatangi rumah Pak Erte.


Sesampai di rumah Savitri , Gandi memencet bel tamu. Namun kali ini Mbak Lastri tidak mau membukakan.


“Ibu Vitri saja yang membukakan.” ucap Savitri karena dia takut Gandi masih marah karena dia pukul kemarin. Reno dan Reni pun terlihat juga tampak masih takut mereka berdua lalu berlari masuk ke kamar sambil mengajak Mbak Lastri. Mau tak mau Savitri berjalan ke depan untuk membukakan pintu rumah.


“Om, kenapa sudah datang lagi.”


“Bukannya kamu sudah menerima ajakanku untuk menikah. Jadi tidak ada salahnya aku ke sini.”


“Om, anak anak masih trauma dengan kejadian kemarin.”


“Ini gara gara Arya, aku harus pendekatan lagi pada mereka. O ya Vit, aku akan mengajak kamu ke rumah Pak Erte, aku akan bilang kalau aku akan menikahi kamu.”


“Om Gandi saja yang ke sana, aku masih sungkan.” Jawab Savitri.


“Ya sudah aku yang ke sana saja.” ucap Gandi lalu memberikan oleh olehnya dan pamit untuk pergi ke Pak Erte.


Gandi lalu berjalan menuju ke rumah Pak Erte yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Savitri. Dia menyampaikan maksud kedatangannya kalau dia akan sungguh sungguh menikahi Savitri. Namun Pak Erte memberi pesan jika belum menikah tetap tidak boleh terlalu sering datang apalagi malam hari.

__ADS_1


“Hah sudah dikasih bingkisan tetap saja gagal.” gumam Gandi setelah pamit dari rumah Pak Erte. Akhirnya dia nongkrong di pos satpam namun juga hanya boleh sepuluh menit alasan Pak Satpam menganggu tugas Pak Satpam.


__ADS_2