
Sementara itu di kantor perusahaan milik almarhum Ardi. Arya telah selesai meeting. Dia membuka hapenya, dilihat banyak panggilan masuk dan pesan teks maupun pesan suara di aplikasi chattingnya. Setelah membuka semua chat dari Opa. Arya segera menyuruh sekretarisnya untuk membereskan semua pekerjaannya dan mejanya. Arya dengan segera melangkah meninggalkan ruangan kerjanya.
Mobil Arya terus melaju menuju ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit Arya langsung menghubungi Opa, dia mengatakan kalau sudah berada di lokasi, agar Opa tenang. Sebab saat melihat chat nya sudah dibaca oleh Arya, Opa selalu menghubungi Arya agar segera menuju ke rumah sakit. Arya terus melangkah menuju ke ruangan dimana Savitri dirawat. Saat sudah berada di dekat ruang UGD, tampak Opa duduk di ruang tunggu bersebelahan dengan Mbak Lastri.
“Dimana Reni?” tanya Arya saat tidak melihat Reni, tadi Opa bilangnya menunggu Savitri bersama Reni dan Mbak Lastri.
“Sudah dibawa pulang Pak Harun, kasihan sejak pagi belum istirahat dari pulang sekolah terus ke rumah Savitri terus ke sini.
“Bagaimana dengan Kak Vitri?” tanya Arya sambil duduk di dekat Opa. Opa lalu menceritakan kondisi janin Savitri yang kemungkinan kecil bisa diselamatkan. Tampak wajah sedih Arya setelah mendengar jawaban dari Opa.
“Ya, terus kamu segera lapor polisi atau mencari orang yang bisa menangkap Gandi. Kata Pak Harun tadi, itu bisa digadaikan di tempat tempat ilegal.” ucap Opa dengan nada kuatir.
“Opa tenang saja.” ucap Arya.
“Bagaimana bisa tenang.” ucap Opa dan Mbak Lastri bersamaan.
“Yang di rumah Kak Vitri itu hanya fotocopi semua surat surat berharga Bang Ardi yang asli disimpan di safe deposit box.” ucap Arya.
“Kenapa kamu tidak bIlang dari dulu. Kalau fotocopy kenapa bisa sama warnanya sampai Savitri tidak bisa membedakan.” ucap Opa.
“Tidak ada yang tanya ke aku. Lagian tidak berpikir akan ada pencuri masuk kamar Kak Vitri. Fotocopy warna.” jawab Arya. Saat mereka masih berbincang bincang tampak, Dokter yang menangani Savitri, dan beberap perawat berjalan tergopoh gopoh dari ruang dokter menuju ke ruangan dimana Savitri berada. Arya, Opa dan Mbak Lastri lalu tampak berdiri dengan ekspresi wajah penuh kekuatiran.
__ADS_1
Arya berjalan mengikuti Pak Dokter, namun Dokter dengan segera membuka pintu dan masuk ke dalam dan dengan segera pula pintu ditutup dengan rapat. Opa dan Mbak Lastri pun ikut berjalan menuju ke pintu, akan tetapi mereka tidak bisa melihat apa apa. Tidak lama kemudian Dokter keluar dengan ekspresi wajah serius.
“Maaf kami terpaksa harus mengeluarkan janin itu..... Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin akan tetapi Pencipta berkehendak lain.” ucap Dokter sambil menatap Arya dan Opa.
“Kami akan bawa pasien ke ruang operasi, silahkan suami atau keluarga yang bertanggung jawab pada pasien menandatangani untuk persetujuan tindakan operasi.” ucap Dokter selanjutnya. Opa dan Arya tampak menganggukkan kepala, sedang Mbak Lastri sudah terisak isak menangis.
Dokter segera masuk lagi ke dalam ruangan Savitri dan tidak lama kemudian pintu terbuka sangat lebar. Dan brankar tempat Savitri terbaring didorong oleh perawat menuju ke ruang operasi. Opa dan Mbak Lastri berjalan mengikuti brankar Savitri menuju ruang operasi. Sementara Arya masih di ruang administrasi. Setelah selesai menandatangani persetujuan tindakan Arya segera berjalan menuju ke ruang operasi.
“Opa sudah mengabari orang tua Kak Vitri dan Oma?” tanya Arya setelah duduk di samping Opa di depan ruang operasi.
“Belum.” jawab Opa. Arya lalu terlihat sibuk dengan hapenya menghubungi orang tua Savitri dan Oma. Lalu dia menatap ke arah Mbak Lastri.
“Mbak, aku tidak menyimpan nomor Gandi, kamu hubungi dia bilang kalau anaknya tidak bisa diselamatkan karena tingkahnya. Coba dia tidak ada niat ambil barang Kak Vitri tidak akan ada kejadian seperti ini.” ucap Arya.
“Coba saja, kalau tidak mau mengangkat teleponnya, kamu chat dia pesan teks atau pesan suara.” ucap Opa. Mbak Lastri lalu segera menghubungi nomor Gandi benar perkiraan Opa, Gandi tidak menerima panggilan dari Mbak Lastri. Mbak Lastri lalu mengirim pesan suara mengabarkan kalau anak di dalam kandungan Savitri meninggal dunia.
“Kasihan ya adik bayi ....hiks. hiks....” ucap Mbak Lastri sambil terisak isak.
“Mungkin itu jalan yang terbaik buat dirinya.” ucap Opa.
“Iya mungkin dia malu punya Bapak seperti Gandi, akhirnya malas untuk hidup.” ucap Arya asal sebab saking jengkelnya dengan Gandi.
__ADS_1
“Hust.” desis Opa memperingatkan Arya agar tidak bicara asal. Akan tetapi mereka bertiga mendadak terdiam saat ruang operasi Savitri pintu terbuka. Mereka bertiga langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke pintu yang terbuka. Tampak seorang Dokter keluar dan mencari keluarga pasien bernama Savitri.
“Saya Dok.” jawab Opa dan Arya secara bersamaan.
“Pak, pasien membutuhkan donor darah tetapi darah di persediaan rumah sakit habis, karena baru saja habis untuk pasien yang mengalami kecelakaan. Kami mohon keluarga pasien dengan darah yang sama segera mendonorkan, kami tunggu secepatnya. Segera ke tempat petugas ya Pak untuk dicek.” ucap Dokter yang akan segera membalikkan badannya.
“Dok, golongan darah pasien apa?” tanya Arya yang memang tidak memperhatikan golongan darah Kakak iparnya. Dokter tampak mengeryitkan dahinya sebab mengira Arya suami pasien.
“B.” jawab Dokter. Lalu segera masuk ke dalam ruang operasi. Opa lalu menatap Arya, dia tahu kalau golongan darah Arya juga B.
“Golongan darahmu kan B sama itu, cepat kamu ke tempat petugas.” perintah Opa sambil menatap tajam Arya.
“Opa golongan darahnya O, bisa juga mendonorkan.” ucap Arya namun dia tetap berjalan menuju ke bagian cek darahnya. Dan setelahnya Arya yang mendonorkan darahnya buat Savitri. Setelah mendonorkan darahnya, Arya keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke tempat ruang tunggu di mana Opa dan Mbak Lastri berada. Dan tidak lama kemudian Nenek dan Kakek datang.
Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka dan muncul perawat membawa janin anaknya Savitri yang sudah dibungkus kain putih. Dia memanggil keluarga Savitri. Opa, Kakek dan Nenek lalu berdiri bangkit dari tempat duduknya.
“Ayo Ya.” ucap Opa sambil menarik tangan Arya. Arya lalu turut serta mereka. Setelah sampai di depan sosok perawat itu, jenasah janin anak Savitri diserahkan pada Arya. Mereka lalu memberikan lantunan doa pada jenasah janin itu.
“Tolong Nak Arya urus pemakamannya ya, biar kami yang gantian nunggu Savitri di sini.” ucap Nenek sambil menatap Opa dan Arya secara bergantian. Opa terlihat setuju sebab dia juga sudah sangat lelah. Mbak Lastri pun ikut pulang bersama Opa dan Arya. Mereka berjalan menuju ke tempat mobil Arya terparkir, sebab mobil Opa sudah dibawa Pak Harun untuk membawa pulang Reni.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah Opa dan Oma. Begitu mobil masuk tampak pintu rumah langsung terbuka dan muncul Reno dan Reni yang berlari menuju ke mobil sambil menangis histeris.
__ADS_1
“Adikkkkk Adikkk hua.... hua... hua... kenapa Adik ikut Papa Ardi pergi... hua... hua....” tangis Reno memecah keningnya malam.