
Gandi semakin gencar dalam mendekati Savitri dan keluarganya. Setiap hari selalu datang ke rumah Savitri dalam urusan mengantar jemput Reno dan juga menawarkan mengantar jemput untuk urusan yang lain. Sampai sampai juga mengantar Mbak Lastri belanja ke pasar tradisional pun Gandi kerjakan. Dan Gandipun juga sudah berani datang malam hari. Hingga kehadiran Gandi yang begitu sering menjadi omongan beberapa tetangga Savitri. Dan pembicaraan tersebut sampai di telinga Anisa.
“Eee Mbak Lastri kok belanja di Mase Sayur, apa tidak diantar sama pacarnya itu?” ucap salah satu Ibu tetangga komplek pada Mbak Lastri pada saat membeli sayur di tukang sayur di komplek.
“Pacarnya siapa Bu, saya tidak punya pacar.” jawab Mbak Lastri
“Ya tidak tahu pacarnya siapa entah yang janda atau yang perawan tong tong ini.. ha... ha....” ucap Ibu yang bertanya tadi sambil menepuk nepuk pundak Mbak Lastri.
“Kalau langsing kan perawan ting ting, tapi kalau gembur kayak Mbak Lastri ini ya perawan tong tong. Iya ngak iya ngak.” ucapnya lagi sambil menoleh ke kanan dan kiri melihat pembeli lainnya, saat itu ada beberapa pembeli di tukang sayur baik ibu ibu ataupun ART.
“Enak aja saya lebih langsing daripada sampean Bu.” ucap Mbak Lastri protes sebab Ibu yang mengatakan dia gembur lebih gemuk dari dirinya. Mbak Lastri lalu segera pergi setelah membayar belanjaannya, malas ditanya tanya.
Anisa yang hari ini sedang libur, ikut belanja ke tukang sayur tersebut. Saat dia datang mereka semua menoleh ke arah Anisa, dan ada satu orang ibu yang memberi isyarat agar mereka berhenti berbicara.
“Kalau aku sih pernah lihat malam malam sama yang janda.. mungkin kalau malam perginya sama yang janda, paginya sama yang perawan tong tong biasa untuk kamuflase ...” ucap salah satu ibu yang tidak tahu kalau Anisa sudah berada di dekatnya. Anisa mendengar namun dia hanya diam saja. Setelah membeli keperluannya Anisa langsung kembali ke rumah.
Sebagai tetangga dekat Anisa berniat memberi tahu kepada Savitri. Sebab Anisa sudah dengar beberapa kali orang orang membicarakan Savitri. Setelah meminta pertimbangan suaminya, dan suaminya menyetujui kalau Anisa akan memberitahu Savitri. Anisapun akan segera ke rumah Savitri agar tidak berlarut larut Savitri menjadi pergunjingan warga komplek.
Siang hari setelah selesai makan siang dengan suaminya, Anisa datang ke rumah Savitri. Anisa membawa dua box salad buah bertopping keju dan coklat. Anisa membuka pagar rumah Savitri yang tidak digembok.
“Tante Nisa....”
“Tate Nica....”
Teriak Reno dan Reni saat melihat Anisa di pintu gerbang dari jendela kaca. Reno dengan cepat membuka pintu lalu berlari mendatangi Anisa dan diikuti oleh Reni.
“Atu tau itu calad buwah buwat atu.” ucap Reni sambil mendongak melihat kotak salad yang dibawa Savitri.
“Ha... ha... Adik tahu aja, tapi juga buat Kakak.” ucap Anisa sambil tertawa kecil lalu menunjukkan dua box salad buah yang dibawa.
“Atu yan cotat ya Kak.” ucap Reni saat melihat taburan coklat dibalik tutup box yang transparan.
__ADS_1
“Iya tapi kalau aku juga pengen yang coklat aku minta dikit ya.” ucap Reno sambil tersenyum dan Reni mengangguk anggukan kepalanya. Mereka berdua memang rukun dan suka berbagi.
“Mama dimana sayang?” tanya Anisa sambil berjalan dan masih membawa dua box salad buah.
“Ma.... ada Tante Nisa.” teriak Reno sambil berjalan ke dalam diikuti oleh Reni dan Anisa. Tampak Reni berceloteh pada Anisa dan Anisa menanggapinya.
“Ooo ada Tante Nisa, ini sedang bantuin Mbak Lastri. Sudah selesai kok.” ucap Savitri saat Anisa terlihat berjalan menuju ke ruang makan.
“Wah dapat salad enak nih.” ucap Savitri saat melihat Anisa menaruh dua box salad di meja makan. Reno dan Reni berusaha untuk duduk di kursi khususnya. Savitri dan Anisa lalu mendudukkan mereka. Dan mereka berduapun lalu asyik makan salad buah untuknya.
“Kak, aku ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” ucap Savitri dengan hati hati.
“Sepertinya penting sekali.” ucap Savitri sambil menatap Anisa.
“Kita bicara di depan saja. Biar mbak Lastri yang nemani Reno dan Reni.” ucap Savitri lalu dia memanggil Mbak Lastri agar menemani Reno dan Reni di meja makan. Dan sudah bisa dipastikan Mbak Lastri sangat senang sebab juga ikut makan salad buah.
Savitri dan Anisa lalu berjalan meninggalkan ruang makan, dan akhirnya mereka duduk di sofa di ruang keluarga. Dengan pelan pelan Anisa menyampaikan kepada Savitri tentang kedatangan Gandi yang terlalu sering dan juga kedatangan Gandi di malam hari menjadi pembicaraan warga komplek.
“Iya Tan, terimakasih ya, nanti aku bilang ke Om Gandi.” ucap Savitri saat Anisa sudah selesai bicara.
“Tidak usah minta maaf Tan, aku malah yang senang kalau Tante Nisa memberitahu padaku daripada omong omong di belakang.” ucap Savitri.
“Kalau Tante Nisa diajak ngerumpiin aku tolong aja sampaikan permintaan maafku karena sudah meresahkan warga. Pasti ada yang mengira aku menjanda belum lama tapi sudah gatal.” ucap Savitri lagi dengan nada sendu.
“Sabar ya Kak.” ucap Anisa sambil memeluk Savitri dari samping untuk memberi kekuatan. Dia merasakan berat beban Savitri yang belum lama ditinggal suaminya.
“Iya Tan. Aku senang Tante Nisa memberi tahu aku jadi aku tidak kaget bila nanti ada teguran dari Pak Erte. Semoga Om Gandi mengerti bila aku omongi nanti. Jadi tidak ada teguran. Malu juga Tan bila mendapat teguran.” ucap Savitri.
Malam hari di saat jam makan malam, Gandi datang ke rumah Savitri. Seperti biasa Gandi datang dengan buket bunga mawar dan beberapa kotak makanan. Mbak Lastri membukakan pintu setelah mendengar suara bel tamu. Mbak Lastri langsung meminta oleh oleh dari Gandi tersebut.
“Aku mau kasih langsung ke Ibu Vitri dan anak anak.” ucap Gandi sambil menarik oleh oleh yang dibawanya agar tidak direbut Mbak Lastri.
__ADS_1
“Ibu Vitri pesan suruh saya yang menerima. Mereka sedang makan, Om disuruh langsung pulang.” ucap Mbak Lastri bohong padahal itu ide Mbak Lastri sendiri, karena Mbak Lastri tidak ingin pembicaraan warga komplek tentang janda dan perawan tong tong terus berlanjut.
“Enak saja, itu tidak sopan!” bentak Gandi.
“Aku mau ikut makan malam.” ucap Gandi sambil berusaha untuk terus masuk.
“Tidak bisa. Dilarang masuk.” teriak Mbak Lastri sambil menghadang langkah Gandi. Savitri yang di dalam mendengar sayup sayup pertengkaran Gandi dan Mbak Lastri. Savitri Lalu berjalan ke depan.
“Vit mosok aku diusir sama Mbak Lastri.” ucap Gandi saat melihat sosok Savitri
“Maaf.” ucap Savitri. Lalu dia menyuruh Mbak Lastri masuk ke belakang untuk menemani Reno dan Reni. Selanjutnya Savitri mempersilahkan Gandi duduk di ruang tamu. Mbak Lastri sambil membawa buket bunga dan kotak kue berjalan ke belakang dan tidak lupa mulutnya komat kamit mengumpati Gandi tanpa suara. Gandi yang memahami gestur bibir Mbak Lastri yang mengumpatnya hanya bisa mendelik.
“Om, aku dan anak anak sungguh mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian dan bantuan dari Om Gandi.” ucap Savitri setelah duduk di kursi ruang tamu. Lalu Savitri menyampaikan kalau kedatangan Gandi yang terlalu sering menjadi pembicaraan warga komplek dan meminta Gandi untuk tidak sering sering datang terutama di malam hari.
“Ngapain kamu mikirin omongan tetangga. Emang mereka mau antar jemput Reno.” ucap Gandi saat Savitri selesai berbicara.
“Om bukan begitu, kalau cuma masalah antar jemput aku sendiri bisa. Aku bayar sopir buat antar jemput Reno juga bisa. Masalahnya Om Gandi sebagai laki laki dewasa selalu mendatangi rumah seorang janda.” ucap Savitri agar Gandi mengerti dan tidak lagi sering sering datang.
“Makanya kita nikah agar kamu tidak jadi janda.” ucap Gandi. Savitri kaget dengan ucapan Gandi.
“Pikirkan omonganku ini, aku suka kamu, aku cinta kamu, aku sayang pada anak anakmu. Kurang apalagi coba." ucap Gandi lagi sambil tersenyum menatap tajam Savitri.
“Tolong mengerti aku Om, aku belum siap buat nikah lagi.” jawab Savitri.
“Vit, aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu benar benar siap. Aku hanya ingin menjaga dan melindungi kamu dan anak anakmu. Apa kamu tidak kasihan pada anak anakmu yang merindukan figur seorang papa.” ucap Gandi
“Aku juga tidak ingin harta yang sudah menjadi hakmu dikuasai oleh keluarga almarhum. Dan kamu juga jangan berpikir aku seperti mereka, aku punya usaha sendiri,kamu tahu rumahku, tahu teman teman bisnis ku.” ucap Gandi lagi
“Om tolong sekarang Om Gandi pulang, daripada aku panggil satpam komplek untuk mengusir Om.” ucap Savitri sudah habis kesabarannya.
“Okey okey baiklah aku akan keluar” ucap Gandi. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar rumah dan menuju ke dalam mobilnya. Namun Gandi tidak menyalakan mesin mobilnya. Di dalam mobil Gandi masih berpikir, masih enggan rasanya meninggalkan rumah Savitri.
__ADS_1
“Bukankah kalau sudah menjadi pergunjingan warga komplek itu pertanda baik buatku.” gumam Gandi sambil tersenyum licik. Gandi lalu membuka pintu mobil, selanjutjya dia berjalan meninggalkan mobilnya.
“Kok tidak ada warung kopi di komplek ini.” gumam Gandi sambil matanya melihat kiri kanan mencari tempat yang bisa untuk nongkrong. Namun yang dicari tidak ditemukan. Akhirnya Gandi berjalan sampai di pos satpam komplek, dan dia nongkrong di situ bersama pak Satpam.