Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 38. Ancaman Gandi


__ADS_3

Gandi yang semula hanya berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu kini dia berjalan tergesa gesa dengan penuh emosi menuju ke arah Savitri.


“Hai kamu dengar tidak, suami pergi kamu malah senang ya bisa bebas pergi dengan laki laki lain. Hujan hujan pasti keenakan ngamar di hotel biar tetangga tidak melihat, biar tidak menjadi pergunjingan.” suara Gandi dengan sangat lantang untung hujan masih deras sehingga suara Gandi terbias oleh suara hujan, tidak begitu jelas terdengar oleh tetangga komplek.


“Bang Gandi jangan asal ngomong jangan asal menuduh.” ucap Savitri. Savitri lalu berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya.


“Iya Pak jangan asal ngomong, pergi sak karepe dewe kok mulih muring muring.” ucap Mbak Lastri lalu dia turut serta masuk ke dalam rumah mengikuti langkah kaki Savitri.


“Kamu jangan ikut campur urusan rumah tangga orang ya.” teriak Gandi sambil menoleh ke arah Mbak Lastri yang sudah masuk ke dalam rumah.


“Hei! Dan kamu, kamu tidak bisa apa mencari wanita lain. Janda Kakaknya dimaui, sekarang sudah menjadi istri orang masih didekati. Kamu itu pinter, masih muda, keren, tampan, uang banyak sana cari wanita lain.. Kalau kesepian bisa cari wanita bayaran jangan ganggu istri orang...” teriak Gandi sambil menatap tajam ke arah Arya.


“Hei jaga itu mulut kalau tidak mau aku sobek.” ucap Arya yang tadi hanya diam kini mulai habis kesabarannya. Dia juga membalas menatap Gandi dengan tajam.


“Kamu itu kalau ngomong dipikir tidak. Omong asal meluncur saja kayak orang buang air. Yang harusnya marah itu aku. Kamu itu suami macam apa. Pergi bawa kabur uang dan motor istri. Istri sudah setengah mati tidak menolong malah ngoceh tidak jelas.” ucap Arya lagi sambil menunjuk nunjuk wajah Gandi.


“Harusnya kamu itu berterimakasih ke aku, karena aku sudah menolong Istri mu sudah menafkahi istrimu. Sedangkan kamu itu ngasih apa ke Istrimu selain ngasih masalah dan nestapa Kamu itu memang tidak punya malu.” teriak Arya yang kini emosinya sudah di ubun ubun habis sudah kesabarannya. Mbak Lastri yang mendengar keributan di teras langsung berlari dari dalam dan melihat pertengkaran tersebut Mbak Lastri mendukung Arya, dia mengangkat jempolnya diberikan buat Arya.


Sedangkan Savitri yang mendengar keributan itu menangis sedih. Dia yang mendengar omongan Arya merasa bersalah karena sudah diperistri oleh Gandi namun selalu masih merepoti Arya.


Sementara Gandi yang merasa boroknya dikorek korek oleh Arya terbakar emosinya. Wajahnya merah padam tangannya mengepak erat dan......

__ADS_1


BUK... BUK... BUK!


Tiga kali hantaman diberikan Gandi ke arah tubuh Arya. Arya yang sudah makan kenyang dan minum sari jahe dan ginseng tidak mau kalah dia merasa tertantang untuk melepaskan energi dan emosinya.


BUK... BUK.. BUK.. BUK!


Empat kali Arya membalas serangan Gandi. Mbak Lastri tersenyum senang karena Arya berani dan terlihat lebih menguasi teknik serangan. Dan baku hantam pun terus terjadi.


“Hentikan! Pergi kalian berdua dari rumahku!” teriak Savitri yang tidak mau melihat orang berkelahi apalagi berkelahi di rumahnya. Setelah berteriak menyuruh keduanya berhenti dia lalu berlari masuk ke dalam rumah.


“Sudah kasihan Kak Vitri.” ucap Arya sambil mendorong keras tubuh Gandi dan Gandi tubuhnya mundur dengan sempoyongan dan selanjutnya jatuh terjengkang di lantai.


Arya pun mengusap pipinya yang sakit karena memar. Dia melihat sekilas wajahnya di spion. Arya terus melajukan mobilnya dan selanjutnya menepikan mobilnya di depan lapangan volly. Dia akan menunggu Gandi, apakah orang itu akan menerima tantangannya melanjutkan duelnya.


“Hmmm pasti akan ditanya oleh Mama dan juga Reno Reni kenapa dengan wajahku ini.” gumam Arya saat melihat lagi wajahnya di kaca spion. Tangan kirinya lalu menarik kotak obat lalu mengambil lotion anti memar yang mengoleskan sekilas. Dan selanjutnya dia hanya diam di dalam mobil sambil masih menunggu Gandi.


Di lain tempat Gandi dengan susah payah berusaha bangkit dari jatuhnya namun dia merasakan kesulitan, pinggangnya terasa sakit.


“Vit... Vit... tolong aku!” teriak Gandi yang masih terduduk di lantai. Namun tidak ada yang datang menolong.


“Vit....” teriak Gandi lagi dengan suara yang lebih keras.

__ADS_1


Di dalam rumah Mbak Lastri dan Savitri sedang dudu di sofa ruang keluarga. Mbak Lastri sedang memijit mijit punggung Savitri dan mengolesi dengan minyak angin. Sebab Savitri merasakan kepalanya pusing. Entah pusing karena habis kehujanan atau pusing karena Gandi datang lagi atau.....


“Vit....” teriak Gandi lagi kini suaranya menggema. Savitri tidak mau mendapat teguran dari tetangga, dia lalu bergegas bangkit dan berjalan ke depan.


“Kenapa kamu masih di sini? Kenapa tidak ikut pergi?” tanya Savitri dengan tajam memandang Gandi.


“Hai... Kamu senang ya kalau aku pergi. Jangan harap aku akan pergi kalau itu tidak karena kemauanku sendiri.” jawab Gandi dengan tidak kalah tajam menatap wajah Savitri.


“Aku mau kita cerai!” teriak Savitri lalu dia menutup pintu rapat rapat. Kini dia merasa sudah tidak kuat lagi akhirnya kata cerai terucap lagi dari mulut Savitri.


“Hei... jangan masuk jangan tutup pintu. Dengar baik baik aku tidak akan menceraikan kamu dan aku tidak akan pergi.” teriak Gandi sambil berusaha bangkit dari jatuhnya


“Kamu pilih kita cerai atau keselamatan kedua anakmu itu yang menjadi gantinya. Aku akan menculik mereka dan itu bisa menghasilkan uang milyaran buatku ha....ha....” teriak Gandi sambil tertawa dan masih berusaha bangkit dari jatuhnya. Kini tangannya berusaha untuk menopang tubuhnya agar mendapat sanggahan untuk bisa berdiri. Namun gagal tangannya juga terasa sakit untuk membantu tubuhnya agar bisa berdiri.


Savitri yang masih berada di balik pintu mendengar ancaman Gandi dia yang masih lemah tubuhnya tersandar di balik pintu.... Bayangan wajah kedua anaknya bermain main di pelupuk matanya. Mbak Lastri yang melihat Savitri tersandar di daun pintu segera berlari menghampiri Savitri.


“Bu Vitri... Bu Vitri... jangan dipikir omongan Pak Gandi, dia sedang mabuk.” ucap Mbak Lastri dengan lirih agar tidak di dengar Gandi. Mbak Lastri yang tadi masih berada di ruang keluarga sayup sayup mendengar ancaman Gandi. Mbak Lastri berusaha memberi ketenangan di hati Savitri.


“Ayo Bu ke kamar saja. Kita kunci pintu rumahnya.” ucap Mbak Lastri lagi sambil berusaha memapah tubuh lemas Savitri.


“Hei... jangan ditutup pintunya apalagi dikunci. Aku bakar rumahmu dan kalian berdua hidup hidup di dalamnya!" teriak Gandi lagi.

__ADS_1


__ADS_2