
“Tidak Ma tidak ada kecelakaan lalu lintas, tapi Savitri yang sakit lagi. Aku dan Mbak Lastri menghubungi Arya tidak bisa.. “ ucap Opa kemudian
“Savitri kenapa lagi?” tanya Oma dengan nada kuatir.
“Arya sedang meeting Pa, coba dichatting saja nanti kalau sudah selesai meeting pasti dibaca.” ucap Oma selanjutnya, setelahnya sambungan telpon diputus oleh Opa. Opa tidak sempat menjawab pertanyaan Oma, sebab dia akan segera berusaha untuk menghubungi Arya kembali. Opa yang diberitahu oleh Mbak Lastri penyebab Savitri terpeleset karena mengejar Gandi yang membawa map terlihat sangat kuatir. Opa terlihat ekspresi wajahnya sangat bingung, bingung dengan kondisi Savitri, bingung dengan cerita Mbak Lastri, bingung Arya yang tidak bisa dihubungi.
Sementara itu Savitri masih di dalam ruang UGD. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter kalau janinnya kemungkinan kecil bisa diselamatkan. Dia memikirkan kondisi janinnya tetapi dia juga memikirkan sertifikat yang dibawa oleh Gandi.
“Suster...” ucap Savitri dengan sangat pelan. Perawat yang menjaga Savitri dengan segera mendekat
“Ya Bu.” ucap Perawat sambil menatap Savitri.
“Tolong ijinkan Opa masuk ke sini ada hal penting yang ingin saya sampaikan.” ucap Savitri kemudian. Perawat tampak menganggukkan kepala lalu dia berjalan menuju ke pintu kamar.
Sementara itu di luar ruang UGD tempat Savitri dirawat, Opa dan Mbak Lastri sedang bicara serius, Reni duduk dipangku oleh Opa, juga terlihat serius mendengar pembicaraan mereka.
“Benar tadi kamu lihat Gandi membawa sebuah map?” tanya Opa meminta suatu keyakinan dari Mbak Lastri.
“Iya, sepertinya surat penting tetapi saya tidak tahu itu surat apa. Saya hanya lihat Ibu Vitri berusaha merebut lagi surat itu.” jawab Mbak Lastri. Dan di saat Mbak Lastri berbicara tampak pintu kamar rawat Savitri terbuka muncul Perawat dari pintu.
“Pak, Ibu Vitri meminta Bapak untuk masuk.” ucap Perawat. Opa lalu bangkit dari tempat duduknya, dia memberikan Reni kepada Mbak Lastri, meskipun awalnya Reni ingin turut masuk ke kamar rawat Savitri. Opa terus berjalan masuk untuk menemui Savitri.
“Ada apa Vit?” tanya Opa.
__ADS_1
“Pa, tolong suruh orang untuk mencari Gandi, sertifikat di dalam map dibawa lari Gandi.” ucap Savitri dengan suara sangat lirih.
“Apa semua sertifikat tanah dan rumah di dalam map itu?” tanya Opa dengan sangat kuatir.
“Saya tidak pernah mengeceknya Opa. Dulu Bang Ardi yang menaruh map itu di dalam lemari. Dan setelah Bang Ardi meninggal baru kemarin saya pegang akan saya bawa ke rumah Opa Oma. Kalau perhiasan di dalam kotak, maaf sudah habis saya jual.” ucap Savitri sambil terisak dan air matanya sudah meleleh di pipinya.
“Bu, maaf Ibu tidak boleh berpikir terlalu berat dulu nanti bisa mempengaruhi kesehatan Ibu dan janin.” ucap Perawat yang masih di dalam ruang rawat Savitri memperingati Savitri.
“Baiklah Vit, kamu tenang saja pikirkan kesehatanmu dan janinmu.” ucap Opa sambil mengusap usap pundak Savitri. Tampak Savitri menganggukkan kepala. Opa lalu terlihat keluar dari ruang rawat Savitri.
Opa terlihat berjalan mondar mandir. Dia terlihat sangat bingung, jantung di dadanya berdetak lebih cepat. Dia lalu terlihat duduk untuk menenangkan diri.
“Bagaimana Opa?” tanya Mbak Lastri yang melihat kegelisahan Opa.
“Tenang Opa...” ucap Mbak Lastri dia kuatir kalau Opa terkena serangan jantung akan tambah repot. Terlihat Reni mengulurkan botol air minumnya.
“Opa minum air putihku biar tenang.” ucap Reni dan Opa menerimanya lalu menegak sampai habis. Reni terlihat tersenyum.
“Arya belum bisa dihubungi, hanya Arya yang tahu tentang surat surat itu. Aku tidak pernah tanya tentang hal itu karena tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Savitri meminta aku untuk menyuruh orang mencarinya. Apa aku suruh Harun untuk ke kantor Arya.” ucap Opa lalu terlihat Opa mengambil hapenya dan segera menghubungi Harun.
Sementara itu di lain tempat Gandi terlihat tertawa tawa senang. Dia menciumi map yang sudah berhasil dia bawa kabur.
“Ha.... ha... meskipun tidak bisa dijual tidak masalah, aku gadaikan di tempat Tuan Lion tidak perlu repot repot.” ucap Gandi yang sudah nongkrong di tempatnya.
__ADS_1
“Gila kamu Gan, bawa kabur sertifikat orang kamu bisa dipidana.” ucap salah satu teman yang ada di situ.
“Tidak masalah dipidana aku malah tidak perlu cari makan sudah dapat jatah makan di dalam penjara.” jawab Gandi santai.
“Aku tahu kamu pasti iri ya.” ucap Gandi lagi.
“Bang jangan lupa persenan buatku loh... berkat bantuanku Bang Gandi bisa dapat barang itu.” ucap Leli sambil bergelayut manja di tubuh Gandi.
“Tidak hanya persenan Lel kamu mau beli apa saja aku kasih, tapi jangan yang mahal mahal... ha... ha...” ucap Gandi sambil tertawa tawa.
“Sudah aku mau ke Tuan Lion, untuk menggadaikan ini.” Gandi lalu bangkit berdiri dan segera memacukan motornya ke rumah Tuan Lion seorang laki laki tua kaya raya yang biasa meminjamkan uang dengan jaminan sertifikat tanah. Dan jika orang yang meminjam tidak bisa membayar utangnya, sertifikat tanah sebagai jaminan akan segera dibalik nama menjadi atas nama miliknya. Dia sudah mempunyai orang orang dalam urusan ini.
Motor Gandi sudah sampai di depan rumah Tuan Lion. Rumah Tuan Lion dipagari tembok batu bata setinggi tiga meter. Tembok itu sudah terlihat sangat tua dan tidak terawat, dari luar tidak tampak bangunan yang berada di dalamnya. Hanya tampak pepohonan yang rimbun. Gandi memencet tombol bel yang berada di dekat pintu pagar yang terbuat dari kayu jati yang tambak sangat kokoh. Setelah beberapa kali memencet bel tampak pintu terbuka dan muncul sosok seorang laki laki bertubuh tinggi dan kekar kulit berwarna gelap.
“Ada perlu apa?” tanyanya dengan suara berat.
“Mau ketemu Tuan Lion, mau menggadaikan ini.” ucap Gandi sambil menunjukkan map yang dia bawa. Gandi lalu di suruh masuk. Gandi menaiki lagi motornya dan memasukkan motor itu ke dalam halaman rumah Tuan Lion yang sangat luas. Setelah motor ber jalan beberapa meter terlihat bangunan rumah yang sangat mewah. Di depan pintu utama rumah ada dua orang laki laki dengan perawakan yang sama dengan orang tadi. Gandi lalu mematikan mesin motornya. Dia dengan hati hati turun dari motor. Jantungnya berdebar debar, baru kali ini dia memasuki rumah Tuan Lion.
“Permisi.” ucap Gandi dengan sangat sopan kepada dua orang laki laki penjaga pintu utama itu.
“Hmm.” gumam salah satu laki laki penjaga pintu itu.
“Mau bertemu Tuan Lion, mau menggadaikan sertifikat.” ucap Gandi dengan hati hati. Lalu terlihat salah satu dari penjaga pintu utama itu masuk ke dalam. Gandi masih berdiri menunggu sambil membawa map, dan memegangi map itu dengan sangat erat.
__ADS_1