Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 101. Sesi 2. Adik Bayi


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kira kira satu tahun kemudian.


Sore hari Arya akan pulang dari tempat kerjanya. Savitri sudah tidak ikut bekerja karena hamil, dan sudah cuti hamil karena sudah menjelang waktu melahirkan.


“Dim, aku pulang lebih awal ya.. istriku sudah menghubungi berkali kali agar aku segera pulang.” ucap Arya sambil bangkit berdiri dari kursi kerjanya yang bisa berputar putar, kursi yang dipakai Reni untuk mainan jika dia sedang diajak ikut ke perusahaan.


“Sudah mau melahirkan ya Pak?” tanya Dimas sambil menatap Arya.


“Iya doakan lancar ya Dim, jika melahirkan nanti. Aku was was sebab Savitri pernah punya pengalaman keguguran.” ucap Arya sambil melangkah menuju ke pintu ruang kerjanya.


“Iya Pak, semoga lancar.” ucap Dimas sambil menatap Arya


“By the way, Pak Arya benar benar jos.. tok cer.. hampir satu tahun menikah langsung sudah benar benar akan jadi Papa.” ucap Dimas kemudian


“Iya mungkin efek jamu yang aku dan Savitri minum. Besok kalau kamu sudah menikah, itu jamu juga harus kamu minum dengan istrimu kelak. Selesai resepsi pernikahan aku sudah benar benar langsung tancap gas tidak usah menunggu malam harinya.” ucap Arya lalu langsung membuka pintu dan meninggalkan Dimas yang sebenarnya dia masih ingin bertanya tanya tentang jamu yang diminum oleh Arya dan Savitri.


Arya terus melangkah menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Saat sudah di dalam lift hand phone nya terdengar ada suara dering. Arya segera meraih hand phone dari saku blazer nya.


“Oma.” gumam Arya saat melihat ada nama kontak Oma di layar hand phone nya. Arya lalu segera menggeser tombol hijau.


“Arya, kamu sampai mana sudah dihubungi Savitri sejak tadi disuruh pulang tidak pulang.. “


“Masih di dalam lift Ma, ini sudah turun mau pulang..”


“Sekarang langsung ke rumah sakit kamu.” ucap Oma lalu langsung memutus sambungan teleponnya. Arya masih menatap layar hapenya. Berharap Oma menghubungi lagi tetapi tidak ada lagi panggilan dari Oma. Arya lalu melakukan panggilan balik pada Oma. Tetapi hanya nada sambung yang terdengar dan tidak ada jawaban dari Oma. Arya lalu menghubung kontak nama Savitri.


“Papa cepat ke rumah sakit, Mama dibawa ke rumah sakit. Pak Harun yang bawa mobil Opa. Tapi aku dan Adik juga pengen ikut ke rumah sakit. Tapi tadi dipesan Oma kalau Papa telpon disuruh langsung ke rumah sakit.” suara Reno terdengar di hape Arya. Arya lalu memutus sambungan telponnya. Keringat Arya mulai bermunculan di dahinya.


TING


Suara lift terdengar sebagai tanda lift sudah sampai di lantai yang dituju oleh Arya. Saat pintu lift sudah terbuka Arya segera keluar dari pintu lift. Arya segera berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir. Para karyawan yang berpapasan menyapa Arya, tetapi tidak di hiraukan Arya terus berjalan dengan cepat tanpa menoleh menuju ke tempat mobilnya. Saat sudah sampai di dekat mobilnya Arya langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya setelah mesin sudah dinyalakan tentunya. Arya dengan cepat memacukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Arya segera menjalankan mobilnya menuju ke tempat parkir. Setelah mobil terparkir Arya dengan segera membuka pintu mobilnya dan dengan cepat pula dia berjalan menuju ke tempat informasi. Arya segera menanyakan pasien bernama Savitri yang baru saja masuk. Setelah diberi tahu kalau Savitri sudah berada di ruang persalinan. Arya langsung melangkah dengan langkah kaki lebarnya bahkan setengah berlari.

__ADS_1


“Pa, bagaimana Savitri dan anakku?” tanya Arya pada Opa yang berdiri di depan ruang persalinan.


“Kamu ketuk pintunya, aku tidak boleh masuk. Itu Oma di dalam menemani istrimu.” ucap Opa sambil menatap Arya dengan wajah cemas.


Arya lalu segera mengetuk ngetuk pintu ruang bersalin itu. Dan tidak lama pintu terbuka seorang perawat membukakan pintu buat Arya karena sudah ditunggu sejak tadi. Arya segera melangkah menuju ke tempat Ssvitri yang masih berusaha untuk melahirkan anaknya, didampingi oleh Oma. Dan saat Arya sudah mendekat.


“Ooooeeeeekkk... ooooeeekkkk... ooooeeeekkk.” suara tangis seorang bayi yang baru saja dilahirkan oleh Savitri. Oma terlihat lega sambil mengusap dahi Savitri yang berkeringat. Sedangkan Arya malah masih terlihat bengong. Dia menatap Savitri dan bayi yang baru saja dilahirkan oleh Savitri secara bergantian.


“Kamu itu malah bengong. Nih lenganku yang sakit karena dipegang istrimu.” ucap Oma sambil menunjukkan lengannya yang terkena goresan kuku Savitri.


“Maaf Oma.. terimakasih Ma.” ucap Savitri


“Pa anak kita sudah lahir, dia mau lahir menunggu Papanya datang.” ucap Savitri sambil tersenyum


“Maaf Honey aku baru datang. Terimakasih ya..” ucap Arya sambil mencium lembut kening Savitri.


Dokter masih menjahit bagian tubuh Savitri. Dan Arya pun lalu menggendong anaknya dan melantunkan doa di telinganya. Tidak terasa Arya menitikkan air mata nya. Dia terharu dan sangat bahagia.


Dan beberapa waktu kemudian setelah semua selesai dan bersih, Savitri dibawa ke ruang rawat dan bayinya untuk sementara dibawa di taruh di ruang bayi.


“Dia sangat cantik seperti Mamanya.. Aku kasih nama Revia Amanda Arya.” ucap Arya sambil tersenyum menatap Savitri. Baru saja selesai Arya menyebutkan nama anaknya. Pintu kamar rawat Savitri terdengar suara ketukan. Arya lalu segera melangkah menuju ke pintu untuk membukakan pintu sebab tadi Oma dan Opa sedang menuju ke mini market rumah sakit untuk membeli kebutuhan. Akan tetapi saat pintu dibuka muncul tiga kerucil bersama Pak Slamet.


“Papa mana Adik bayi ku..” teriak Reno dan Reni bersamaan.


“Aku juga ingin lihat adik bayi kalian.” teriak Keynan yang tadi ikut Pak Slamet. Tadi Reno menelepon Pak Slamet minta dijemput untuk melihat adik bayi, dan Keynan tahu itu, maka dia pun ikut Pak Slamet.


“Adik bayi masih di ruang bayi. Kalian kasih salam buat Mama dulu.” ucap Arya sambil melihat ketiga anak itu. Ketiganya lalu berjalan mendekat pada Savitri, mereka bertiga memberi salam pada Savitri dan mencium kedua pipi Savitri.


“Ayo Pa... antar..” ketiga anak itu menarik tangan Arya. Keynan pun lama lama memanggil Arya dan Savitri juga dengan sebutan Papa dan Mama ikut ikut Reno dan Reni. Arya dan Savitri pun tidak keberatan.


Arya lalu berjalan bersama ketiga anak itu menuju ke ruang bayi. Mereka berempat melihat adik bayinya dari luar dari balik dinding kaca. Arya menggendong ketiganya secara bergantian agar bisa lebih dekat menatap adik bayinya.


“Pa nama adik bayi siapa?” tanya mereka bertiga setelah semua sudah berdiri dengan kakinya sendiri, sambil mendongak melihat adik bayinya.

__ADS_1


“Revia Amanda Arya.” jawab Arya sambil tersenyum menatap Revia, lalu menatap pada ketiga anak yang berdiri di dekat.


Akan tetapi tiba tiba....


“Bapak hebat masih muda sudah punya empat anak.” ucap salah seorang pengunjung rumah sakit yang juga sedang melihat bayi.


“Iya berkat jamu tok cer.” jawab Arya sambil tersenyum menatap pengunjung itu...


...TAMAT...


...♥️♥️♥️


...


...Terima kasih reader tersayang sudah meluangkan waktu dan kuota untuk mengikuti kisah Savitri.


...


...Mohon maaf jika author ada salah kata atau salah lainnya.


...


...Rencana mau buat kisahnya Keynan, karena entah mengapa author menjadi sayang juga sama Keynan seperti Pak Slamet dan Savitri, penasaran juga siapa sebenarnya Daddy dari Keynan


...


...Terakhir salam sehat, bahagia, rejeki lancar......


...🙏🙏🙏


...


...

__ADS_1


...


__ADS_2