
Hari terus berganti, Savitri dengan semangat menggapai harapan baru untuk mendapatkan pemasukan dari bisnis ikannya. Dia merawat dan memelihara ikan sesuai SOP. Dia tidak ingin ikannya mati dan merugi. Dia ingin ikannya segera banyak dan besar sehingga segera mendapat keuntungan. Sementara Gandi masih ngorok dimana Savitri sudah berjibaku menguras kolam.
Mbak Lastri tergopoh gopoh datang menuju ke depan sambil membawa hapenya. Sementara Savitri masih berbasah basah di kolam.
“Bu Vitri... Bu Vitri ini anak anak video call. Katanya menghubungi Bu Vitri tetapi tidak diangkat.” ucap Mbak Lastri sambil menyodorkan hapenya ke Savitri.
“Tanganku kotor dan basah Mbak. Mbak Lastri tolong yang pegang hape dulu.” ucap Savitri sambil melihat hape Mbak Lastri.
“Hallo Mama......” teriak Reno dan Reni bersamaan.
“Mama tenapa mainan ael nanti cakit.” teriak Reni
“Hallo Sayang, Mama kangen banget tapi masih sibuk belum sempat datang sayang.... maafin Mama ya....” ucap Savitri sambil menghapus air matanya dengan bahunya sebab tangannya masih kotor.
“Iya Ma... kata Mbak Lastri Mama sekarang punya ikan. Pengen lihat tapi kata Oma kita belum boleh ke rumah Mama kalau masih ada Papa Gandi.” ucap Reno. Savitri tidak bisa berucap hanya menganggukan kepala sambil terisak.
“Iya Sayang.... sudah dulu ya... nanti Mama hubungi kalian.”
“Tapi atu macih tangen Mama... pengen liat Mama.” ucap Reni
“Mama tidak apa apa lanjutkan kerjanya biar tidak dimarah Papa Gandi. Tapi biar kami lihat Mama dari hape Mbak Lastri.” ucap Reno.
“Nanti Papa Arya kirim pulsa ke Mbak Lastri.” ucap Reno selanjutnya takut kalau Mbak Lastri nanti kehabisan paket kuotanya. Savitri menatap Mbak Lastri.
__ADS_1
“Biar Bu tidak apa apa, tinggal cuci cuci kok pekerjaan saya bisa nanti nanti.” ucap Mbak Lastri lalu mengarahkan layar hapenya ke arah Savitri yang masih sibuk menguras kolam. Reno dan Reni berteriak teriak bilang kalau pengen membantu Mamanya. Mbak Lastri yang sedang memegang hape tidak terasa air matanya menetes, dan dia lama lama tidak tega hanya melihat Savitri tetapi dia juga takut hapenya menjadi basah jika ikut membantu.
“Kak, Dik.. sudah dulu ya... Mbak Lastri masih punya kerjaan.” ucap Mbak Lastri kemudian. Lalu Reno dan Reni menurut dan selanjutnya mereka melambai lambai tangannya dan cium jauh pada Mamanya, Savitri terlihat juga melambai lambai tangannya.
Saat Mbak Lastri akan masuk ke dalam tiba tiba ada ojek online berhenti di depan rumah dan menurunkan seorang perempuan muda dengan dandanan make up tebal. Kalau dilihat dari tampangnya usianya sekitar tiga tahun di atas Savitri.
“Siapa Bu itu?” tanya Mbak Lastri sambil melihat ke perempuan itu yang sedang membayar ojek. Savitri lalu menoleh ke arah orang yang berada di depan rumahnya itu dan terlihat perempuan itu berdiri di depan pagar rumah Savitri. Savitri mengangkat bahunya.
“Permisi.” ucap perempuan itu kemudian.
“Iya Bu, mau cari siapa?” tanya Savitri lalu dia membersihkan tangan dan kakinya di kran depan rumah.
“Apa benar ini rumah Bu Savitri?” tanya orang itu lagi. Mbak Lastri yang penasaran masih berdiri di depan pintu.
“Saya mau bertemu dengan Bu Savitri apa boleh saya masuk. Ada informasi sangat penting yang ingin saya sampaikan.” ucap perempuan itu lagi.
“Informasi apa ya Bu?” tanya Savitri lagi
“Jangan banyak tanya, sudah kalau ini rumah Bu Savitri saya akan masuk. Mana Bu Savitri.” ucap perempuan itu
“Saya Bu, Savitri ada informasi apa?” ucap Savitri kemudian.
“Ha.... ha.... bener kamu Savitri, aku kira kamu pembantunya kok katanya orang kaya tetapi kemringet kayak begini.” ucap perempuan itu sambil tertawa lalu membuka pagar dan masuk. Dia menggandeng tangan Savitri dan mengajak duduk di teras. Mbak Lastri yang masih terbengong bengong lalu disuruh Savitri melanjutkan pekerjaannya untuk mengisi air kolam.
__ADS_1
“Ada apa Bu? Maaf saya baru saja bersihkan kolam.” ucap Savitri sambil duduk di kursi teras.
“Hmmmm orang kaya dan rajin kerja makanya Gandi lengket terus. Begini ya, aku hanya mau menyampaikan informasi penting kalau aku ini istrinya Gandi yang sah. Namaku Anna.” ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya. Savitri terlihat bingung dan sangat kuatir. Mbak Lastri pun terlihat kaget dan menatap tajam ke arah perempuan yang berkata kalau namanya Anna itu.
“Kamu tidak percaya nih lihat.” ucap perempuan itu sambil menunjukkan surat nikahnya. Jantung Savitri berdetak lebih kencang keringat dingin keluar di seluruh tubuhnya.
“Maaf Bu, Bang Gandi bilang katanya sudah menjadi duda. Dan tidak ada niat saya untuk merebut suami Ibu Anna.” ucap Savitri setelah membaca surat nikah yang dibawa Anna.
“Tenang bestie.....Kamu jangan takut, aku malah harus berterimakasih kepadamu mau mengurus suami orang ha...ha.... Aku tidak akan marah ke kamu kok.” ucap Anna sambil tertawa.
“Sekarang dimana dia? Pasti masih tidur.” ucap Anna selanjutnya. Savitri masih terdiam, bagaimana mungkin seorang istri tidak marah suaminya menikahi wanita lain.
“Mari kita masuk ke dalam saja Bu.” ucap Savitri selanjutnya dia mengajak Anna masuk ke dalam. Sebab kuatir jika orang komplek mendengar akan menjadi buah bibir di komplek lagi dirinya.
Savitri lalu berjalan ke dalam untuk membangunkan Gandi. Gandi yang masih tidur terlihat kaget saat mendengar istri sahnya bisa sampai ke rumah Savitri. Dia dengan tergesa gesa berjalan ke ruang tamu.
“Hallo suamiku kamu sudah enak enak dalam pelukan janda kaya kamu lupa pada anak istrimu.” ucap Anna sambil tersenyum menyeringai.
“Ngapain kamu datang ke sini, bukannya kamu yang pergi mencari kehangatan dari laki laki lain?” suara Gandi meninggi. Savitri yang mendengar benar benar gemetar tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Beruntung anak anaknya sudah tidak berada di rumah. Mbak Lastri terlihat berdiri di depan pintu karena kepo.
“Bagaimana aku tidak meninggalkanmu kalau kamu tidak ngasih uang. Aku pergi pada laki laki lain kan agar bisa makan. Kamu sekarang sudah kaya juga tidak kasih uang. Kalau aku tidak dikasih tahu temanmu aku tidak tahu kalau kamu sekarang sudah kaya. Sini aku sekarang minta uang, anak anak belum bayar sekolah, utang di warung buat makan juga sudah numpuk.” ucap Anna juga dengan suara meninggi.
“Pergi kamu dari sini jangan ganggu aku!” teriak Gandi dengan suara keras.
__ADS_1
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu kasih aku uang!” teriak Anna tidak kalah keras. Savitri yang mendengar hanya bisa terduduk lemas, alamat dia akan keluar uang lagi. Tambahan pemasukan dari usaha barunya belum jelas, pengeluaran tambahan sudah di depan mata.