
Sesampai Savitri berada di meja makan terlihat semua sudah duduk dan sibuk dengan makanannya yang berada di piring di depan mereka masing masing. Terlihat Reni duduk di samping Oma, sesekali Oma membantu Reni. Savitri lalu mengambil piring kosong, mengambilkan nasi dan perlengkapannya.
“Kamu tidak sekalian makan Vit, bawa sekalian piring kamu dibawa pakai nampan.” ucap Oma saat Savitri mengambilkan makan siang buat Arya.
“Saya nanti saja Ma, kalau meja makan sudah dibereskan biar nanti saya ambil makanan di dapur.” ucap Savitri lalu berjalan menuju ke kamar Arya. Saat masuk ke dalam kamar posisi Arya masih sama seperti tadi berbaring dengan punggung menyandar di sandaran tempat tidur sambil tangannya sibuk dengan hape, pandangan matanya fokus di layar hape yang dia pegang. Savitri berdiri di dekat Arya.
“Ini Ya, apa masih ada yang kurang.” ucap Savitri sambil menyodorkan piring ke arah Arya.
“Sekretaris tidak sopan memanggil nama saja.” gumam Arya dengan mata masih fokus pada layar hape. Savitri tersenyum namun juga tampak kikuk.
“Ini Pak Arya.” ucap Savitri kemudian lalu Arya menoleh ke arah piring makanan yang dibawa Savitri. Lalu Arya menaruh hapenya dan menerima piring nasi dari tangan Savitri. Baru saja Arya menerima piring nasi, haoe yang dia taruh di tempat tidur berdering terlihat kontak nama Dimas menghubunginya. Arya lalu akan menaruh piring nasi di tempat tidur dengan segera Savitri mengambil alih piring nasi itu sebelum ditaruh Arya di tempat tidur. Arya lalu menerima panggilan suara dari Dimas, sepetinya Dimas ingin Arya segera membuka email yang masuk. Arya lalu kembali sibuk dengan hapenya, melupakan lagi piring nasinya.
“Aku suapin ya Pak..” ucap Savitri selanjutnya saat sudah beberapa menit dia masih memegang piring nasi Arya yang belum berkurang satu butir nasi pun. Arya terlihat menganggukkan kepalanya sambil masih sibuk dengan hapenya.
Savitri lalu mulai menyuapi Arya. Terlihat mulut Arya menerima suapan dari tangan Savitri akan tetapi pandangan matanya terus tertuju pada layar hapenya.
Tiba tiba pintu kamar Arya terbuka dan muncul Reno dan Reni berjalan masuk ke dalam kamar.
“Papa Arya masih sakit ya?” tanya Reno saat sudah mendekat.
“Kata Oma, Papa Arya sudah tidak pusing kok minta di suapin Mama. Manja.” ucap Reni sambil mencibirkan bibir mungilnya. Sebab dia selalu disuruh makan sendiri, kalau minta di suapin dibilang manja. Sekarang kata itu diucapkan Reni ditujukan buat Arya. Arya tampak tersenyum menatap wajah imut Reni.
“Adik, Papa Arya tidak manja, tapi masih sakit.” ucap Reno membela Arya. Reni lalu tampak berusaha naik ke atas tempat tidur Arya. Sedangkan Reno membantu Mamanya menerima piring kosong dari tangan Savitri. Lalu Reno berjalan keluar kamar untuk membawa piring kotor bekas makan Arya ke tempat cuci piring di dapur. Savitri lalu memberikan air minum kepada Arya.
“Obatnya ada di mana Pak Arya?” tanya Savitri saat tidak menemukan obat di meja Arya. Arya menjawab dengan menoleh menunjukkan plastik berisi obat di nakas dekat tempat tidurnya.
__ADS_1
“Mama kok sekarang panggil nya Pak Arya, biasanya kan cuma Ya.. Ya.. Arya.. “ komentar Reni kepo sambil menatap Mamanya dan Arya secara bergantian.
“Reni tadi kan dengar kalau Mama mulai hari ini bekerja di perusahaan. Sekarang Bosnya di sini sedang sakit.” ucap Ssvitri sambil tersenyum lalu mengambilkan obat Arya.
“Oooo Bosnya Papa Arya.”
“Ma aku besok ikut lagi ya, aku mau main sama Om Dimas yang keyen dan baik hati.” ucap Reni kemudian. Arya yang sudah selesai minum obat lalu menoleh ke arah Reni.
“Hmmm sama Papa Arya baik siapa, keren siapa?” tanya Arya sambil menatap Reni. Tampak Reni berpikir pikir jari telunjuknya diketuk ketuk pelan pelan di dahinya sambil menatap wajah Arya agak lama.
“Kayaknya Om Dimas dech Pa, maaf ya..” ucap Reni lalu menutup mulut kecilnya dengan kedua telapak tangan mungilnya.
“Apa lama kalian berdua di dalam ruanganku bersama Dimas?” tanya Arya sambil menatap pada wajah Reni dan Savitri secara bergantian.
“Lama Pa, Om Dimas itu baik banget membantu Mama dan aku. Aku duduk diputar puterin kursinya sampai lama. Kalau Papa Arya kan cuma sebental. Kalau Om Dimas lama pakai banget, sampai aku mabok he...he...”
“Ya dibantu macam macamlah mosok macam dong.” ucap Reni sambil ikut tiduran di samping Arya.
“Ya apa macamnya?” tanya Arya masih kepo
“Diambilkan tas, dibukakan pintu, diambilkan itu tuh yang di meja Papa Arya, apa lagi ya... diambilkan kursi.. apa lagi ya... .” ucap Reni sambil telunjuknya menunjuk berkas di meja, lalu tampak berpikir pikir mengingat ingat.
“Pokoknya baik dan ganteng ha...ha...” ucap Reni lagi sambil tertawa.
“Ih genit kamu, tahu cowok ganteng.” ucap Arya sambil menoel pipi Reni.
__ADS_1
“Iya Pa, aku tadi cerita ke Oma, Oma nya bilang gitu Om Dimas itu ganteng. Coba aku nanti tanya ke Mama.” ucap Reni sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke Arya.
“Emang Oma sudah pernah ketemu Om Dimas?” tanya Arya.
“Sudah Papa Arya... Kan Om Dimas pernah ke rumah mengantar gituan itu tuh kertas kertas, waktu Mama di rumah sakit itu. Ihh Papa sudah tua jadi pelupa.” ucap Reni sambil menepuk lengan Arya. Arya tersenyum akan tetapi dalam hati dia memikirkan perkataan Reni barusan. Apa iya dia sudah tua, memang Dimas lebih muda darinya. Apa Savitri juga sepeti Reni yang menilai Dimas lebih keren dan baik, seperti Oma yang menilai Dimas ganteng.
“Ih, kenapa juga aku mikirin hal itu hal yang tidak penting.” gumam Arya dalam hati. Dan tidak lama kemudian Savitri yang sudah selesai makan siang kembali ke kamar Arya.
“Besok biar Pak Slamet yang datang mengambil berkas berkas itu. Nanti aku selesaikan aku tanda tangani semua. Kalian berdua tidak usah ke perusahaan.” ucap Arya saat Savitri sudah berada di dekatnya. Savitri tampak kaget, demikian juga Reni. Reni akan protes akan tetapi tidak jadi karena Mamanya sudah lebih dahulu bicara pada Arya dengan nada serius.
“Apa hasil kerja ku ada yang salah Pak, apa hasil kerjaku kurang memuaskan?” tanya Savitri dengan nada serius sambil menatap ke arah Arya.
“Bukan hasil kerja sudah bagus, semua berkas yang aku pesan benar. Makan siang juga oke.” Jawab Arya.
“Terus apa, aku besok juga akan menyerahkan Curriculum Vitae yang diminta oleh divisi HRD. “ ucap Savitri.
“Disiapkan saja biar besok dibawa Pak Slamet sekalian.”
“Papa marah ya, aku bilang Om Dimas ganteng.”
DUUUERRRR
Ucapan Reni yang pelan membuat wajah Arya bersemu merah. Sedangkan Savitri yang tidak tahu terlihat bingung
“Sudah kalian keluar dulu, aku ngantuk pengaruh obat.” ucap Arya, lalu Savitri meraih tubuh Reni dari tempat tidur Arya lalu digendongnya berjalan ke luar dari kamar Arya. Savitri masih berpikir pikir apa yang salah pada dirinya dan Reni anaknya.
__ADS_1
Sementara itu Arya juga hanya terdiam sambil memejamkan matanya.
“Dimas, dulu aku mencari sekretaris laki laki biar tidak ada masalah. Kini kok malah aku... masak sih aku cemburu pada Dimas.” gumam Arya dalam hati