
“Vit, kasih uang dia, biar cepet pergi.” perintah Gandi pada Savitri. Mbak Lastri yang masih nguping sambil mengisi kolam mulutnya komat kamit mengumpat Gandi dan tamu yang datang minta uang.
“Tapi Bang, kita sendiri juga butuh uang buat modal usaha, kita belum bisa jual ikan.” jawab Savitri karena tidak rela jika uang hasil pencairan deposito berkurang lagi.
“Sudahlah kamu kasih dulu, besok aku carikan konsumen..” ucap Gandi sambil memeluk Savitri dari samping. Sekarang yang mulutnya komat kamit ganti Anna istri pertama Gandi. Bagaimanapun dia merasa cemburu, namun bagaimana lagi dia sedang butuh uang.
“Bestie tolonglah, kamu kasih aku uang, kasihan aku dan anak anakku tidak bisa beli makan dan anak anakku tidak bisa sekolah karena belum bayar uang sekolah. Kalau kamu tidak kasih, aku akan teriak teriak bilang kalau kamu itu pelakor. Kau lihat kan aku bawa surat ini.” ucap Anna yang pelan pelan sambil tersenyum menyeringai, sangat menakutkan bagi Savitri.
“Bang Gandi bener besok jualkan ikannya ya..” ucap Savitri. Dan Gandi mengiyakan. Savitri lalu berjalan ke dalam kamarnya untuk mengambilkan uang.
“Kurang ini bestie.” ucap Anna saat menerima uang dari Savitri.
“Itu sudah banyak Bu, cukup buat makan satu bulan dan bayar uang sekolah. Kebutuhan saya juga banyak.” jawab Savitri dia memberikan uang setidaknya cukup untuk makan dan bayar sekolah anaknya Gandi.
“Tapi utangku banyak belum tercover oleh uang ini bestie.” ucap Anna masih menengadahkan tangannya.
“Sudah cukup tidak cukup itu.” ucap Savitri lalu dia berjalan meninggalkan ruang tamu masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya Anna disuruh pergi oleh Gandi. Saat sampai di depan pagar rumah, kaki Anna disemprot air kran oleh Mbak Lastri.
Setelah Anna pulang, Gandi duduk di sofa ruang tengah sambil mengaktifkan teve seperti biasanya dia menekan tombol volume tinggi. Savitri yang sedang jengkel lalu berjalan menuju ke ruang tengah lalu mematikan teve. Gandi terlihat kaget sambil memandang Savitri.
“Bang Gandi kok tidak bilang kalau belum cerai?” tanya Savitri dengan suara meninggi.
“Sayang meskipun aku belum cerai aku tetap pilih kamu, aku sudah tidak suka dengan dia. Cuma dia saja tidak mau aku cerai.” ucap Gandi sambil mengambil rokoknya lalu menyulut dengan api.
“Tapi dia mengancamku, aku malu jika dia cerita cerita aku sebagai pelakor. Uangku juga diminta, banyak itu tadi masih kurang juga maunya.”
__ADS_1
“Aku kan sudah bilang besok aku carikan pembeli. Anak ikannya kan sudah banyak.” ucap Gandi sambil menghembuskan asap rokok.
Savitri yang masih jengkel lalu berjalan ke luar rumah mendatangi Mbak Lastri yang masih di depan. Mereka berdua berbincang bincang ngomongi Anna sambil melihat ikan ikan di dalam kolam. Melihat ikan ikan yang berenang di kolam memang bjsa sedikit menghibur hati Savitri.
“Mbak, nanti tukaran kamar tidur ya. Aku malas melayani Bang Gandi.” ucap Savitri sambil melemparkan makanan ikan ke dalam kolam.
“Weleh Bu, bagaimana ini? Emang saya yang disuruh melayani, amit amit dech Bu meskipun saya jomblo saya itu masih perawan ting ting sayang dong Bu kalau mahkota saya, saya serahkan sama suami orang, suami dua orang lagi. Dulu sih saya agak agak naksir awalnya tapi sekarang sudah ilfil Bu....” ucap Mbak Lastri sambil tersenyum malu malu.
“Siapa juga yang menyuruh kamu melayani dia. Tapi terserah kamu. Pokoknya nanti tukar kamar. Kamu nanti bikang saja aku tidur di rumah Anisa. Sudah sekarang kamu bersihkan kamarmu.”
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah. Mbak Lastri melanjutkan kerjanya dan membersihkan kamar tidurnya yang nanti malam akan dipakai Savitri. Sedangkan Savitri masuk ke dalam kamar lalu menghubungi kedua anak anaknya untuk menghibur hatinya dan melepas rindu. Anak anaknya adalah penyemangat hidupnya meskipun sekarang terpisah jarak namun Savitri punya harapan bisa berkumpul lagi di saat nanti mental anak anaknya sudah kuat.
Di malam harinya setelah makan malam. Gandi langsung masuk ke kamar tamu. Saat Gandi masuk ke kamar tamu, cepat cepat Savitri berjalan menuju ke kamar Mbak Lastri dan langsung mengunci pintu kamar. Hape sudah dibawanya. Mainan Reno dan Reni juga sudah ditaruh di kamar Mbak Lasrri untuk menemaninya.
“Kok deg degan ya? Padahal biasanya tidur di sini nemani Adik juga biasa biasa saja. Bagaimana jika aku nanti diperkosa?” gumam Mbak Lastri sambil mendudukkan pantatnya di sofa. Dia memang biasanya tidur di sofa jika disuruh menemani Reni atau Savitri.
“Bu Vitri kok ada ada saja. Apa aku kunci saja pintunya.” ucap Mbak Lastri bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamar.
“Tapi pasti nanti digedor gedor.” Mbak Lastri akhirnya kembali lagi berjalan menuju ke sofa.
“Ah yang penting tidur saja sambil membawa senjata.” ucap Mbak Lastri lalu merebahkan tubuhnya sambil menaruh alat pukul dan guling besar di dekatnya. Mbak Lastri lalu menutup tubuhnya rapat rapat dengan selimut.
Benar di tengah malam hari Gandi membuka pintu kamar Savitri. Dia berjalan menuju ke dalam kamar, dilihatnya tidak ada tubuh Savitri di tempat tidur.
“Hmmm dia tertidur di sofa.” Gandi tersenyum sambil berjalan menuju ke sofa. Dia akan mengendong tubuh Savitri akan dibawanya ke kamar tamu. Namun dia terlonjak kaget saat tubuh yang akan digendong terasa berat dan sangat besar. Dia membuka selimut yang menutup tubuh Mbak Lastri.
__ADS_1
“Hai bangun! Kenapa kamu yang di sini?” teriak Gandi. Mbak Lastri yang sudah terlelap kaget lalu mengambil alat pukul yang disandingnya dan dipukulkan ke tubuh Gandi.
“Kurang ajar kamu memukulku.” teriak Gandi sambil memegang tangan Mbak Lastri dan menarik alat pukul tersebut.
“Pak Gandi mau memperkosa saya!” teriak Mbak Lastri.
“Ngawur. Bangun kamu, dimana Bu Vitri kenapa kamu yang di sini?”
“Bu Vitri tidur di Tante Nisa, nemani suaminya pergi ke luar kota.”
“Huh...” dengus Gandi sambil melemparkan alat pukul ke pangkuan Mbak Lastri. Dan Gandipun akhirnya pergi keluar kamar dan selanjutnya pergi ke luar rumah entah kemana. Mbak Lastri dan Savitri visa tidur nyenyak tanpa gangguan Gandi lagi.
Berjalannya hari hari, Anna sering datang ke rumah Savitri tujuannya hanya untuk minta uang meskipun kadang hanya seratus, dua ratus ribu. Katanya untuk beli makan atau bayar keperluan sekolah anak anaknya. Savitri selalu tidak tega dan takut ancaman Anna yang akan mengatakan kalau dia pelakor pada orang orang komplek. Mbak Lastri yang melihat sungguh sungguh jengkel.
Berita kalau istri pertama Gandi sering datang dan meminta uang pada Savitri sampai di telinga Oma. Mbak Lastri yang banyak bercerita pada Oma.
“Ya.” panggil Oma pada Arya yang baru saja pulang dari kerja.
“Apa Ma.” jawab Arya sambil melonggarkan dasi di lehernya.
“Kamu pas saja transferan buat Savitri. Yang penting kebutuhan pokoknya terpenuhi. Biar suaminya yang mikir kalau kurang. Keenakan dia kalau terus mengharapkan transferan dari kamu. Apa gunanya dia sebagai suami.” ucap Oma panjang lebar sambil mengambilkan air minum buat Arya.
“Ada apa sih Ma?” tanya Arya setelah meneguk minuman dingin dari gelas.
“Kata Mbak Lastri, Gandi itu belum cerai dan istrinya minta nafkahnya pada Savitri. Lha kok enak kamu kerja capek capek tidak punya istri, kamu malah menafkahi dua istri orang. Sudah pokoknya tanggung jawab kita pada Savitri, ibu dari cucu cucuku. Yang lain tidak. Syukur syukur kalau uang Savitri mepet Gandinya itu pergi. Aku itu juga pengen main ke rumah almarhum Ardi tapi sekarang malas ada orang itu.” ucap Oma sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa.
__ADS_1