
Waktu terus berlalu, kondisi kesehatan Savitri terus membaik. Hari ini Savitri sudah diijinkan pulang.
“Bagaimana Vit kamu mau pulang ke mana ke rumah Ibu atau ke mana?” tanya Nenek saat selesai memberesi kamar rawat Savitri, sementara Kakek yang juga masih menunggu Savitri masih mandi.
“Reno dan Reni akan menjemput ke sini tidak Bu?” tanya Savitri sambil bangkit dari tidurnya dan duduk di tempat tidur.
“Tidak tahu, tapi Arya akan datang dia akan memberesi administrasi rumah sakit. Bukannya Reno dan Reni tidak libur sekolahnya.” ucap Nenek sambil melihat acara pada televisi yang menempel di dinding kamar rawat Savitri. Baru saja Nenek selesai bicara pintu kamar rawat Savitri terdorong dari luar dan terbuka dengan lebar.
“Mama......” teriak Reno dan Reni menghambur berlari dari pintu kamar rawat yang sudah terbuka lebar. Dan tidak lama kemudian muncul sosok Arya datang dengan membawa beberapa kotak makanan.
Reno dan Reni lalu memeluk tubuh Savitri sedangkan Arya memberikan kotak kotak makanan itu kepada Nenek.
“Mama.. pulang lagi ke rumah Opa Oma kan?” tanya Reno yang masih memeluk tubuh Savitri sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Sang Mama yang sangat dia rindukan.
“Mama kalau sudah di rumah Opa dan Oma jangan pergi pergi lagi. Kalau pergi sama Papa Arya saja” ucap Reni sambil bergelayut manja di pangkuan Savitri dengan kepala mendongak ke wajah Mamanya. Savitri menjawab dengan ciuman pada kepala kedua anaknya. Sementara Arya setelah menyerahkan kotak kotak makanan dan mempersilahkan Nenek dan Kakek untuk sarapan, dia lalu melangkah keluar lagi dari kamar rawat Savitri untuk pergi ke bagian administrasi.
“E... cucu cucu Kakek sudah datang kalian tidak berangkat ke sekolah?” sapa Kakek kepada Reno dan Reni saat keluar dari kamar mandi, Reno dan Reni lalu memberi salam kepada Kakeknya.
“Ijin dulu Kek, tapi nanti mendapat tugas dari Ibu Guru, tugas yang sama dari teman teman di kelas, agar Reno tidak ketinggalan pelajaran dan... tetap jadi juara.....” jawab Reno dengan penuh semangat.
“Aku juga Kek, aku minta tugas dari Ibu Guru...” ucap Reni tidak mau kalah dengan Kakaknya.
__ADS_1
“Kalian berdua memang anak yang pintar.” ucap Kakek sambil tersenyum bangga kepada cucu cucunya, lalu mereka bercengkerama. Dan tidak lama kemudian Arya masuk lagi ke ruang rawat Savitri.
“Kak Vitri mau pulang ke mana?” tanya Arya sambil menaruh pantatnya di kursi samping Kakek.
“Ke Rumah Opa Oma......” jawab Reno dan Reni bersamaan sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi geliginya yang putih bersih dan rapi. Sedangkan Savitri hanya tersenyum menatap kedua anaknya.
“Iya kan Ma?” tanya Reno sambil menatap Mamanya. Savitri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Arya yang melihat juga ikut tersenyum.
“Ya sudah, ayo sekarang kita pulang. Papa Arya mau bekerja setelah mengantar kalian pulang, dan kalian di rumah juga harus mengerjakan tugas dari Ibu Guru.” ucap Arya sambil bangkit berdiri lalu mengambil barang barang yang akan di bawa pulang. Mereka segera berjalan menuju ke tempat parkir mobil. Kakek dan Nenek menuju ke mobilnya dan pulang menuju ke rumahnya. Sementara Arya membawa mobilnya di sampingnya duduk Reno dan di belakangnya Reni dan Savitri duduk di jok belakang kemudi.
“Ya, kita ke makam dulu ya aku ingin ziarah ke Bang Ardi dan adik bayi.” ucap Savitri saat mobil ke luar dari halaman rumah sakit. Tampak Arya menganggukkan kepalanya.
“Adik bayi namanya Rendy Ma...” ucap Savitri.
“Papa Arya.” Jawab Reno dan Reni bersamaan.
“Maaf apa Kak Vitri sudah menyiapkan nama buat anak itu.” ucap Arya dengan nada kuatir jika Savitri tidak berkenan.
“Belum aku belum menyiapkan nama buat anak itu, tidak apa apa diberi nama Rendy.” jawab Savitri. Mobil terus melaju menuju tempat pemakaman. Sesampai di tempat pemakaman Arya segera mematikan mesin mobilnya, Reno dan Reni segera membuka pintu lalu membantu Mamanya turun dari mobil, kedua anak itu menggandeng tangan Savitri dan berjalan menuju ke tempat makam Papa dan Adiknya. Sementara Arya berjalan di belakang mereka. Sesampai di tempat makam Ardi dan di sebelahnya ada makam kecil yang masih berupa gundukan tanah liat. Mereka berdoa duduk jongkok di depan ke dua makam itu.
“Ma, Papa Ardi sekarang ada temannya, adik Rendy sekarang menemani Papa Ardi. Mama jangan sedih lagi ya... Mama ditemani Kak Reno dan aku.” ucap Reni sambil jari mungilnya menghapus air mata Savitri yang sudah meleleh di pipi.
__ADS_1
“Dan ditemani Papa Arya.” sambung Reno sambil menatap Arya. Sedangkan Arya hanya menjawab dengan mengangkat kedua alisnya.
“Kalau sudah ayo pulang, Papa Arya mau segera ke kantor ada meeting.” ucap Arya lalu dia mulai bangkit berdiri dan mulai melangkah meninggalkan makam Kakaknya dan makam anaknya Gandi. Savitri dan kedua anaknya pun mengikuti langkah Arya. Dan setelah selesai mereka berziarah di makam mereka langsung kembali pulang ke rumah Opa dan Oma.
Detik demi detik berganti hingga malam Hari pun tiba.
“Vit....” ucap Oma sambil melongokkan kepalanya di pintu kamar kedua cucunya, sementara Savitri masih menemani Reno dan Reni yang sedang belajar. Savitri menoleh ke arah Oma.
“Ya Ma.” jawab Savitri lalu bangkit berdiri. Sementara Oma lalu berjalan menuju pada sebuah sofa besar yang berada di kamar itu dan selanjutnya Oma duduk di sofa itu. Savitri pun ikut duduk di sofa tersebut, mereka duduk berdampingan berjarak oleh bantal bantal sofa.
“Mbak Lastri masih berada di rumahmu, sedang ada tukang, semua kunci yang ada di pintu akan diganti. Karena Gandi masih membawa kunci pintu utama. Kalau kunci sudah diganti kan lebih tenang.” ucap Oma sesaat setelah mereka duduk di sofa.
“Aku dengar kamu akan menjual rumah itu, iya?” tanya Oma sambil menatap serius wajah Savitri. Oma belum rela jika rumah anaknya dijual, sebab dia melihat waktu perjuangan Ardi dalam membeli rumah itu, di saat Ardi baru memulai usahanya.
“Iya Ma, tapi alternatif lainnya mau saya kontrakan biar nanti Anak Anak kalau sudah besar yang memikirkan rumah itu akan diapakan.” jawab Savitri, Reno dan Reni yang turut dimasukkan dalam pembicaraan langsung menoleh ke arah Oma dan Mamanya.
“Dikontrakkan saja. Tapi cari orang yang bener biar rumah tidak rusak. Tidak usah mahal mahal tetapi rumah terawat.” ucap Oma.
“Iya Ma, saya akan minta tolong Anisa untuk menawarkan rumah itu.” ucap Savitri sambil menoleh menatap kedua anaknya yamg sudah mulai lagi tekun belajar.
“Saya akan mencoba memulai kehidupan baru Ma, Bapak sedang mengurus perceraian saya dengan Gandi, sebab waktu saya meminta Gandi menceraikan saya dia tidak mau.” ucap Savitri selanjutnya dengan suara lirih sambil menatap Oma, dia tidak ingin suaranya menganggu konsentrasi belajar kedua anaknya.
__ADS_1
“Oma setuju, kamu mulai kehidupan baru dan lupakan Gandi jauhi dia usahakan untuk tidak lagi berhubungan dengan dia.” ucap Oma sambil mengusap usap pundak Savitri.