Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 20. Berpisah dengan Anak


__ADS_3

Savitri memandangi kedua anaknya yang duduk di sofa di dalam ruang rawat inap tersebut. Kedua anaknya pun menatap sendu ke arah Savitri.


“Pa, apa Mama biar ikut kita juga saja.. kasihan kalau Mama sendiri dengan Papa Gandi pasti dibentak bentak terus.” ucap Reno sambil menatap Arya yang duduk di dekatnya. Sementara Savitri hanya bisa menghapus air matanya yang terus mengalir.


“Ada Mbak Lastri, Kak.” ucap Mbak Lastri menenangkan Reno sambil meringkasi baju baju Reno dimasukkan ke dalam travel bag. Mbak Lastri juga sudah diberitahu oleh Arya karena ini dilakukan demi pemulihan mental Reno. Mereka semua akhirnya hanya bisa diam sibuk dengan pikiran dan perasaannya masing masing.


“Ya.... ijinkan aku yang mengantar anak anak ke rumah Oma Opa.” pinta Savitri sambil menatap Arya dengan tatapan memohon sambil dipeluknya Reni yang duduk di sampingnya. Savitri benar benar belum siap berpisah dengan kedua anaknya meskipun rumah mereka masih dalam satu kota.


“Baiklah Kak, tapi kondisi emosi Kak Vitri sedang tidak baik. Apa bisa Gandi datang ke sini biar dia yang bawa mobilnya.” ucap Arya. Savitri menganggukkan kepalanya, meskipun dia sudah bisa menebak kalau Gandi masih tidur dan andaipun sudah bangun pasti tidak akan mau. Savitri lalu mengambil hapenya dan mencoba menghubungi Gandi. Berkali kali Savitri mencoba menghubungi namun tidak terhubung.


“Tidak bisa terhubung Ya, aku tidak apa apa bawa mobil.” ucap Savitri setelah sudah putus asa menghubungi Gandi. Arya lalu mengambil hapenya menyuruh sopir pribadi Opa untuk datang ke rumah sakit. Terlihat Mbak Lastri sudah selesai meringkasi barang barang mereka.


“Kak, sekali lagi bukannya aku ingin memisahkan Kak Vitri dengan anak anak, tetapi ini demi kebaikan mereka. Jika Gandi bisa merubah perilaku dan sikapnya, akupun akan mengantar anak anak ke rumah Kak Vitri. Tetapi jika belum bisa merubah menunggu sampai anak anak kuat secara mental dan emosional.” ucap Arya pada Savitri, dan Savitri bisa memahami sebab mereka sama sama mendapat nasehat dari yang menerapi Reno.


Tidak lama kemudian sopir pribadi Opa datang. Opa dan Oma tidak ikut menjemput Reno, mereka berdua sibuk menyiapkan kehadiran kedua cucunya di rumah. Arya lalu meminta Savitri memberikan kunci mobilnya pada sopir pribadi Opa. Terlihat Savitri kaget dengan kedatangan sopir pribadi Opa dan permintaan Arya.


“Biarlah Pak Harun yang membawa mobil Kak Vitri.” ucap Arya saat melihat Savitri terlihat kaget dan ragu ragu.


“Nanti Pak Harun bisa mengambil mobil dengan transport umum atau aku antar Kak.” ucap Arya selanjutnya. Lalu Savitri menyerahkan kunci mobilnya pada Pak Harun sopir pribadi Opa. Lalu mereka semua meninggalkan ruang rawat inap Reno. Savitri mengendong Reni, sedangkan Reno digendong Arya. Sedangkan Mbak Lastri membawa barang barang mereka dibantu oleh Pak Harun. Setelah sampai di parkiran mobil. Mbak Lastri memilih ikut di mobil Arya katanya akan menemani Arya sekalian akan omong tentang Gandi sebab saat berada di rumah sakit tidak enak kalau mau ngomongi Gandi.


“Om Arya sepertinya benar kalau Gandi itu hanya ngontrak. Ibu Vitri dibohongi. Jadi enggak bakalan uang Ibu Vitri itu diganti.” ucap Mbak Lastri saat sudah duduk di dalam mobil Arya.


“Iya Mbak, aku juga sudah dapat informasi dari teman teman Bang Ardi kalau Gandi itu tidak kerja, bisnisnya berantakan utang sana utang sini tetapi ga ada pemasukan. Tapi mau bagaimana lagi kalau Kak Vitri sudah cinta.” ucap Arya sambil fokus pada kemudinya mengikuti mobil Savitri yang berjalan di depannya.


“Eyalah cinta ... cinta... “ ucap Mbak Lastri sambil menepuk jidatnya sendiri. Dan Arya hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


“Kalau dari hasil pengamatan saya sepertinya informasi itu valid Om. Lha Gandi itu kerjanya hanya tidur, makan, keluar tidak jelas, nongkromg di pos satpam, marah marah ... .” ucap Mbak Lastri berapi api karena begitu kesalnya dengan Gandi.


“Sejak ada Gandi, Mbak Lastri malah jadi pengamat.”


“Iya tetapi tidak bisa mengamati pekerjaan mereka berdua saat di dalam kamar he...he....” ucap Mbak Lastri kemudian. Dan mobil selanjutnya sudah sampai ke rumah Opa dan Oma.


Terlihat Opa dan Oma sudah berjalan menghampiri mobil Savitri yang sudah lebih dulu berhenti di halaman rumah. Mereka berdua terlihat tersenyum bahagia karena hari harinya akan ditemani oleh kedua cucu tercintanya.


“Ayo Vit masuk dulu, bermalam dulu di sini juga tidak apa apa.” ucap Oma sambil tersenyum ramah pada Savitri. Savitri menjawab dengan anggukan kepala sambil bibir tersenyum yang dipaksakan sebab sejak tadi di dalam mobil Savitri hanya mampu berdiam sambil memeluk kedua anaknya dengan air mata yang terus meleleh di pipinya. Reno dan Reni juga hanya diam sambil sesekali jari jari mungil mereka menghapus air mata di pipi Mamanya. Pak Harun yang melihat mereka dari spion depan tidak terasa juga berlinang air mata.


Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah. Oma dan Opa sudah menyiapkan semua keperluan kedua cucunya. Reno dan Reni tidur di kamar yang dulu dipakai oleh Ardi, Papa mereka berdua. Namun sudah di renovasi diberi sekat suatu rak besar berisi mainan mereka berdua.


“Kakak dan Adik ini kamar kalian berdua ini dulu kamar Papa Ardi.” ucap Opa sambil membuka pintu kamar.


“Mama tidul dimana?” tanya Reni


Namun tiba tiba terdengar suara dering di hape Savitri. Savitri dengan segera mengambil hapenya terlihat nama kontak Gandi tertera di layar. Savitri berjalan sedikit menjauh dari mereka.


“Hai kamu itu istri macam apa? Kamu tinggalkan suamimu kelaparan di rumah. Apa kalian sudah pindah mau tinggal di rumah sakit.” ucap Gandi dengan suara lantang saat sambungan sudah terhubung. Savitri sampai menjauhkan hapenya dari telinganya.


“Bang Gandi bisa beli dulu kalau makanan di rumah habis. Aku dan Mbak Lastri memang belum bisa pulang ke rumah tadi. Karena sedang mengurus kepulangan Reno. Hari ini Reno sudah diijinkan pulang.” jawab Savitri


“Cepat kamu pulang, kalau tidak segera pulang aku bakar rumahmu!" ancam Gandi lalu dia memutus sambungan teleponnya. Savitri memasukkan hapenya ke dalam tas. Dia sangat gelisah antara belum tega berpisah dengan anak anaknya dan takut dengan ancaman Gandi. Kuatir jika Gandi benar benar merusak rumahnya atau isi di dalam rumah, karena melihat kebiasaan Gandi yang membanting banting barang.


Savitri lalu berjalan menuju ke dapur untuk mencari Mbak Lastri, sebab tadi Mbak Lastri sudah bilang akan membantu di dapur.

__ADS_1


“Mbak, Pak Gandi marah apa Mbak Lastri pulang dulu menyiapkan makanan dia.” bisik Savitri saat di dekat Mbak Lastri.


“Saya takut Bu kalau sendiri di rumah ada Pak Gandi. Kalau sendiri saja tidak ada dia malah berani.” Jawab Mbak Lastri.


“Ya sudah ayo kita pulang.” ajak Savitri pada Mbak Lastri. Mbak Lastri lalu mencuci tangannya dan segera meninggalkan dapur. Savitri dengan hati hati pamit pada Arya bilang apa adanya kalau Gandi menyuruh dia segera pulang. Arya lalu menyuruh Pak Harun untuk mengantar Savitri lagi sebab dia tidak tega Savitri yang sedang sedih karena berpisah dengan anak anaknya harus membawa mobil sendiri. Savitri pun menerima tawaran Arya.


“Kak, Dik, Mama pulang dulu ya.. besok Mama datang lagi.” pamit Savitri sambil menciumi wajah kedua anaknya sambil air mata yang terus berderai. Oma yang melihat adegan itu tidak tega, Oma lalu memeluk pundak Savitri sambil mencium kepala Savitri.


“Ini hanya sementara Vit.” ucap Oma memberi ketenangan pada Savitri maupun kedua anak Savitri.


Savitri dan Mbak Lastri lalu berjalan menuju ke mobilnya. Pak Harun sudah siap di dalam kursi kemudi. Reno dan Reni yang tadi berdiri terdiam lalu mereka berdua berlari memgikuti Savitri sambil berteriak....


“Mama......”


Savitri dan Mbak Lastri menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara kedua anaknya. Reno dan Reni memeluk kaki Savitri. Mereka berdua menangis, Savitri lalu berjongkok dan memeluk kedua anaknya.


“Mama tidak usah pulang nanti dimarahi Papa Gandi.” ucap Reno yang sekarang sudah tidak menangis. Saat mendapat terapi Reno diberi tahu jika tidak kuat menahan tangis boleh menangis. Jika malu boleh lari ke kamar untuk menangis tetapi tidak boleh larut dalam kesedihan.


“Mama pulang dulu sayang, dari pada marahnya tambah banyak.” ucap Savitri sambil mengusap usap punggung kedua anaknya.


“Papa Arya...” teriak Reno sambil menoleh ke arah Arya. Arya lalu mendekat.


“Antar Mama pulang, jangan sampai Mama dimarahi Papa Gandi.” ucap Reno kemudian.


“Baik Bos.” jawab Arya sambil mengusap usap puncak kepala Reno. Arya mengabulkan keinginan Reno agar hati keponakannya itu tenang. Sementara Savitri justru kuatir jika Arya ikut mengantar dirinya, Gandi akan lebih marah. Arya terlihat berjalan menuju ke mobil dan duduk di samping Pak Harun.

__ADS_1


__ADS_2