
Setelah pulang dari rumah Savitri, Gandi berpikir keras bagaimana caranya menggagalkan perjodohan tersebut. Gandi tidak bisa tidur dia lalu berjalan menuju ke warung kopi tempat dia biasa nongkrong. Namun suasana warung terlihat sepi, hanya ada penjual saja dan satu orang pembeli seorang bapak tua yang sudah eror pendengarnya. Jadi Gandi tidak ada niat untuk ngobrol di warung. Dia butuh kopi agar punya ide untuk menggagalkan perjodohan Savitri.
“Tidak akan aku biarkan mereka menikah.” gumam Gandi dalam hati sambil mengepalkan tangannya memukul mukul meja. Penjual kopi memandang sekilas tingkah Gandi namun tidak berani bertanya takut Gandi salah paham dan marah. Untung saja pukulannya tidak keras sehingga tidak menumpahkan kopi pembeli lain yang sudah mau habis.
“Aku harus lebih dulu mendapatkan Savitri.” gumam Gandi lagi.
“Hmmmm aku ada ide.” Gandi terlihat tersenyum licik. Gandi lalu menghabiskan kopinya dan pergi meninggalkan warung kopi. Selanjutnya Gandi bisa tidur dengan nyenyak karena sudah mendapat ide untuk menggagalkan perjodohan Savitri.
Pagi harinya Gandi bangun pagi pagi lalu dia bergegas menuju ke rumah Savitri. Tidak lupa dia datang dengan penampilan super kerennya dan aroma wangi. Setelah sampai di rumah Savitri Gandi memarkir mobilnya di depan rumah Savitri.
“Masih ada mobil yang kemarin, tapi sepertinya itu bukan mobilnya Arya atau orang tua Ardi. Nasib mujur jika masih ada orang tua Savitri. Sekalian aku dekati mereka.” ucap Gandi sambil memukul mukul kemudi dengan senang.
Benar saja, saat Gandi turun dari mobil tampak Reni sedang jalan jalan bersama kedua orang tua Savitri. Mereka bertiga sudah mulai berjalan menuju ke rumahnya. Melihat sosok Gandi, Reni yang sudah mulai dekat dengan Gandi lalu berteriak dan berusaha berlari mendekati Gandi.
“Om Denit....” teriak Reni
“Ne, Ke.. itu Om Denit...” ucap Reni memberi tahu pada kakek dan neneknya.
“Reni ga usah lari...” ucap Nenek sambil ikut berlari menjaga Reni.
“Om Denit...” teriak Reni dan Gandi menangkap tubuh Reni lalu mengendongnya. Gandi tersenyum senang sebab langkahnya mendekati keluarga Savitri sepertinya akan berjalan mulus.
“Sana bilang Mama dan kak Reno, Om mau antar kak Reno sekolah.” ucap Gandi pada Reni.
“Atu itut ya Om.” ucap Reni dan Gandipun menganggukkan kepala sambil menurunkan tubuh Reni. Reni pun lalu berjalan menuju ke dalam rumah diikuti oleh Nenek. Sedangkan Kakek dan Gandi duduk di teras. Kesempatan ini tidak disia siakan oleh Gandi. Dia akan melancarkan misinya.
“Ooo ini jadi nak Gandi yang bilang Reni Om genit.” ucap Kakek sambil menatap Gandi.
“Iya Pak, saya teman kecilnya Ardi. Bisa dibilang saya sahabat kecil Ardi.” ucap Gandi sambil mengulurkan tangannya lalu setelah bersalaman Gandi mencium tangan Kakek dengan sangat sopan.
“Terimakasih ya sudah mengantar cucu cucuku jalan jalan.” ucap Kakek sambil tersenyum. Beliau terpesona dengan sikap Gandi yang sangat sopan apalagi sudah berbuat baik pada Reno dan Reni.
“Sama sama Pak. Namanya sahabat suka dan duka bersama. Almarhum dulu sering berpesan pada saya untuk ikut menjaga anak anaknya.” ucap Gandi bohong.
“Ooo.” ucap kakek sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Tampak Gandi tersenyum senang karena menduga Kakek sudah percaya pada omongannya.
Sementara itu di belakang Reni ikut heboh ingin ikut mengantar ke sekolah. Setelah mandi dan berdandan rapi mereka semua duduk di meja makan untuk sarapan. Gandi diajak ikut serta untuk sarapan tidak mau alasannya sudah makan di rumah. Maka mbak Lastri hanya memberikan secangkir kopi untuk Gandi.
__ADS_1
“Ibu ikut ngantar ya.” ucap Savitri pada Nenek sambil membereskan meja makan.
“Bagaimanapun aku tidak tega melepas Reno dan Reni pada orang baru Bu. Kalau aku yang ikut nanti kalau keluarga bang Ardi lihat jadi masalah lagi.” ucap Savitri sambil menatap ibunya penuh permohonan
“Baiklah.” ucap Nenek, lalu Nenek berjalan menggandeng Reni sedangkan Reno sudah berjalan ke depan lebih dulu bersama kakek. Savitripun lalu ikut berjalan ke depan. Setelah memberi salam kepada Savitri dan Kakek, Reno dengan riang gembira lalu berjalan menuju ke mobil Gandi. Reni pun demikan. Gandi membukakan pintu buat mereka. Tampak Reno duduk di depan sedangkan Reni di belakang dengan Nenek.
“Maaf ya Om, jadi merepotkan.” ucap Savitri saat Gandi mau masuk ke dalam mobil.
“Tidak repot.” jawab Gandi sambil tersenyum lalu dia masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil. Reno dan Reni melambaikan tangan pada Savitri. Dan mobil pun berjalan meninggalkan rumah.
Saat di pintu gerbang komplek mobil Gandi dan mobil Arya bersimpangan. Namun Arya tidak mengetahui kalau itu mobil Gandi membawa kedua keponakannya. Reno dan Reni melambai lambaikan tangan namun tidak terlihat oleh Arya.
“Maaf Ya, tadi lupa ngabari kalau Reno sudah diantar Gandi.” ucap Savitri saat Arya sudah masuk ke dalam rumah.
“Kamu urus perusahaan saja Ya, aku bisa mengantar jemput sekolah Reno. Kasihan kamu jadi bolak balik, maaf ya Ya...” ucap Savitri sambil menepuk nepuk pundak Arya.
“Iya kak, tadi Mama yang menyuruh aku ke sini dulu untuk mengantar sekolah Reno. Ya sudah kalau sudah ada yang mengantar, nanti kalau ada apa apa kabari aku.” ucap Arya kemudian selanjutnya dia pamit pada Kakek lalu kembali menuju ke mobilnya dan berangkat ke perusahaan.
Savitri lalu berjalan masuk menuju ke dapur membantu mbak Lastri untuk memasak menyiapkan makan siang. Tidak berapa lama kemudian Nenek sudah datang dan masuk ke dapur memberi tahu Savitri kalau Gandi menunggu di depan.
“Reni mana Bu?” tanya Savitri pada ibunya.
“Reni banyak sekali mainannya.” ucap Savitri sambil mendekati Reni
“Iya Ma, dibeyiin Om Denit....” ucap Reni sambil tangan mungilnya asyik memegangi mainan mainannya.
“Sudah bilang terimakasih belum?” tanya Savitri sambil menatap Reni.
“Cudah Ma....”
“Terimakasih ya Om, jangan terlalu dimanja anak anak.”
“Itu tidak seberapa biar saja biar mereka senang.” ucap Gandi sambil tersenyum.
Gandi lalu terlihat menatap Savitri dia akan meneruskan misinya menggagalkan perjodohan Savitri. Dengan masih adanya Kakek dan Nenek di sini akan membuat misinya cepat tercapai, menghemat waktu dan energi.
“O ya bagaimana kalau nanti kita jemput Reno bersama sama, lalu kita makan siang bersama. Ada rumah makan di pinggir pantai yang rekomended. Dulu Ardi juga suka ke rumah makan tersebut.” ucap Gandi selanjutnya, dia mencatut nama Ardi untuk menyentuh hati Savitri.
__ADS_1
“Atu mau Om....”
“Iya cantik... Mumpung ada Kakek dan Nenek.” ucap Gandi
“Mau ya Ma?” ucap Reni sambil menatap mamanya.
“Kita jadi ngrepoti Om Gandi terus.”
“Tidak repot Vit, biar anak anak dan kamu bahagia kalian kan habis berduka.”
“Apa mbak Lastri juga boleh ikut?” tanya Savitri
“Boleh. Baiklah aku pamit dulu, nanti ke sini lagi, pasti Reno nanti senang dengan surprise ini.” ucap Gandi lalu dia pamit pada Kakek tidak lupa mencium tangan Kakek dengan sangat sopan.
Setelah semua setuju dengan ajakan Gandi. Gandi lalu pamit untuk pulang dengan alasan mau menyiapkan acaranya nanti. Setelah Gandi pergi, Savitri memberi tahu pada mbak Lastri dan Nenek kalau bahan makanan dimasak sore saja sebab mereka akan makan siang di luar setelah menjemput Reno. Tentu saja mbak Lastri sangat senang gembira dengan berita itu.
Siang harinya sebelum jam pulang Reno. Gandi sudah datang, semua juga sudah siap. Mereka semua tampak senang apalagi Reno. Dia sangat senang saat dijemput dengan banyak orang, apalagi langsung jalan jalan. Sedangkan Savitri ekspresinya biasa saja. Jika Savitri senang itu karena melihat anak anaknya yang terlihat bahagia.
Setelah acara makan siang selesai. Reno dan Reni bermain main di pantai sebentar ditemani mbak Lastri. Karena mbak Lastri juga ingin bermain di pantai. Saat Reno sudah terlihat capak, Savitri mengajak mereka semua pulang.
Saat di mobil dalam perjalanan pulang.....
“Maaf tadi malam aku dengar seperti ada pembicaraan perjodohan?” tanya Gandi sambil menoleh sebentar lalu fokus lagi pada kemudinya.
“Iya maunya Oma, Arya dan Savitri mau dijodohkan.” jawab Kakek singkat.
“Mungkin saja orang tua Ardi tidak ingin kekayaan Ardi jatuh ke orang lain. Meskipun itu mantan menantunya.” ucap Gandi dengan nada serius.
“Maksudnya gimana?” tanya Savitri.
“Ya agar kekayaan anaknya tetap jatuh ke anaknya bukan ke mantan menantunya.” jawab Gandi
“Jangan negatif thinking Om, saya masih menantunya.” ucap Savitri sambil membelai rambut Reni yang tertidur di pangkuannya. Sedang Reno terlelap tidur di jok belakang dengan kepala berada di pangkuan mbak Lastri.
“Iya kalau kamu nikah lagi dengan Arya kamu masih menjadi menantunya. Maka dia minta Arya menikahimu.” ucap Gandi sambil tersenyum
“Maaf ini hanya dari sudut pandang orang luar. Sudah lupakan saja omonganku tadi.” ucap Gandi.
__ADS_1
“Tapi mungkin juga benar kata kata nak Gandi.” ucap Kakek. Sedangkan Savitri hanya diam saja berusaha untuk berpikir positif. Namun bagaimanapun ucapan Gandi masuk ke dalam pikirannya. “Apa benar Oma menjodohkan dengan Arya demi harta bang Ardi.” gumam Savitri dalam hati. Sedangkan Gandi yang melihat Kakek sudah termakan provokasinya tersenyum puas.