
Tidak seperti hari hari sebelumnya. Pagi ini Gandi sudah bangun lebih pagi. Mbak Lastri dan Savitri sampai terheran heran.
“Bu, tumben sudah bangun itu?” ucap Mbak Lastri saat menyiapkan sarapan di meja makan dengan Savitri. Mereka berdua mendengar suara pintu kamar tamu yang terbuka dan tertutup dengan keras. Lalu ada suara teve di ruang keluarga dengan volume tinggi. Savitri menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Saat pagi seperti ini, ingatan dia pada kedua anaknya. Biasanya dia menyiapkan sarapan buat Reno dan Reni. Kini kursi makan khusus kedua anak itu sudah disingkirkan ditaruh di pojok ruang makan. Sedih.
Sementara itu Gandi yang mengaktifkan teve dengan volume tinggi, namun dia tidak melihat acara teve. Dia berjalan menuju ke teras, lalu duduk di kursi teras. Dia memegang hapenya, sepertinya melakukan sambungan telpon dengan seseorang. Dengan suara kerasnya dia melakukan percakapan dengan orang yang dihubungi di hapenya. Dia berbicara tentang rencana bisnisnya.
“Iya iya pokoknya uang jutaan sudah di depan mata, kita tinggal tidur saja itu ikan ikan sudah menghasilkan uang sendiri.. Okey okey nanti aku ke rumahmu...... Beres aku bayar kontan semua.....” suara keras Gandi di depan hapenya. Mungkin memang sengaja dia berbicara dengan suara keras, agar orang orang komplek yang sedang lewat atau tetangga dekat yang bisa menjangkau suaranya, mendengar percakapannya. Entah apa dia sudah merasa kalau dirinya seorang pengangguran jadi omongnya keras keras biar orang lain tahu kalau dia punya bisnis yang menghasilkan uang banyak. Padahal Mbak Lastri sudah bercerita pada orang komplek kalau Gandi hanya menghabiskan uang Savitri.
Setelah tenggorokan Gandi kering karena terlalu banyak bicara dengan suara keras, akhirnya Gandi memutus sambungan teleponnya. Sambil terbatuk batuk karena keringnya tenggorokan, dia berjalan menuju ke dalam.
“Vit... mana kopiku? Huk.....huk!” tanya Gandi dengan suara keras sambil diikuti suara batuk batuk. Dia duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang hapenya.
“Vit....!” teriak Gandi lagi untuk mengalahkan kerasnya suara teve.
“Apa Bang? sarapan sudah siap.” Ucap Savitri saat sudah masuk ruang keluarga.
“Kopi! Mana kopi... budek!” teriak Gandi. Savitri tidak menanggapi umpatan Gandi, dia langsung berjalan menuju ke ruang makan untuk mengambilkan kopi buat Gandi.
“Kamu cepat siap siap, habis makan kita segera pergi menjemput rejeki.” ucap Gandi sambil mengambil gelas kopi. Gandi memang tidak mau kalau diberi kopi pakai cangkir, dia mau pakai gelas yang besar.
__ADS_1
Setelah mereka berdua selesai makan, langsung melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Savitri. Mbak Lastri yang melihat Savitri memiliki harapan baru untuk mendapatkan pemasukan ikut senang melihatnya. Mobil berjalan meninggalkan komplek perumahan. Dan tidak lama kemudian sampai di suatu tempat yang dibilang Gandi adalah teman bisnisnya.
Gandi membuka pintu mobil dengan keras dan lalu menutup kembali pintu mobil tersebut juga dengan keras. Savitri yang masih di dalam mobil sampai kaget dan berharap pintu mobilnya tidak rusak. Savitri lalu keluar dari mobil dengan perlahan lahan. Matanya mengitari tempat tersebut. Rumah dengan halaman yang luas. Terlihat banyak kolam kolam dan aquarium dengan segala jenis ikan hias. Savitri lalu berjalan mendekati Gandi yang sudah berada di depan pintu.
“Benar kan aku bilang, usaha ikan hias sangat menjanjikan, ditinggal tidur saja sudah mendatangkan uang.” Ucap Gandi sambil tersenyum lebar. Tidak lama kemudian pintu terbuka, tuan rumah yang dibilang teman bisnis Gandi muncul di depan pintu. Lalu mereka berdua dipersilahkan masuk.
Tuan rumah menceritakan tentang bisnisnya, bagaimana cara pemeliharaan dan perawatan kemudian juga cara pemasarannya. Gandi tidak mendengarkan hal itu dia hanya mendengarkan ikan ikan bisa laku jutaan. Setelah selesai mendengarkan penjelasan Tuan rumah, Gandi dan Savitri diajak berkeliling melihat koleksi ikan yang berada di tempat itu.
“Bagaimana Pak Gandi, apa jadi mengambil indukannya?” tanya sang Tuan Rumah.
“Jadi dong Pak, buat apa saya pagi pagi datang ke sini.” Jawab Gandi.
“Jelas Pak, sekalian komplet satu paket dengan aquarium dan pakannya. Nanti saya akan buat kolam di rumah saya. Iya kan Vit?” jawab Gandi sambil menoleh ke arah Savitri. Savitri terlihat sedikit kaget, kemarin dibilang mau dikasih tetapi sekarang harus bayar.
“Harganya berapa Pak?” tanya Savitri hati hati sebab dia sudah tahu kelakuan Gandi pasti dia lagi yang harus keluar uang. Tuan Rumah lalu menyebutkan nominal harga.
“Apa tidak bisa kurang Pak, uang kami tidak cukup.” Ucap Savitri berusaha menawar.
“Bukannya tidak cukup Pak, cuma belum cair saja.” saut Gandi gengsi.
__ADS_1
“Tenang saja Pak, Bu bisa bayar DP dulu kok. Tapi kalau tidak cash harga beda Bu, dan jika tidak lunas barang kami ambil lagi dan kalau ada kerusakan atau ikan mati, harus bayar ganti rugi.” ucap Tuan Rumah. Savitri tampak berpikir pikir, kalau ikan itu mati sudah uang hilang dan masih harus bayar ganti rugi.
“Tenang saja Bu, kemungkinan ikan mati sangat kecil asal dilakukan perawatan seperti yang saya bilang tadi.” Ucap Tuan Rumah saat melihat keraguan di wajah Savitri. Gandipun meyakinkan Savitri kalau dia akan rajin merawat dan mengatakan keuntungan besarnya.
“Sudah ayo Vit, cepat dibayar DP dulu tidak apa apa.” Ucap Gandi memaksa Savitri agar segera membayar. Dan singkat cerita mereka berdua lalu pulang ke rumah dengan sudah membawa ikan indukan di dalam aquarium yang besar dan bagus.
Saat sampai di rumah Gandi menyuruh Mbak Lastri yang membawa aquarium ke dalam rumah, sedangkan dia hanya membawa masuk kantong makanan ikan. Lalu dia duduk di sofa menonton teve dengan volume tinggi. Mbak Lastri yang tidak bisa membawa sendiri aquarium tersebut tentu saja meminta tolong Savitri. Dua perempuan itu dengan susah payah memasukkan aquarium ke dalam rumah.
“Bu, taruh di teras dulu saja. Berat susah lewat pintunya.”ucap Mbak Lastri yang kesulitan memasukkan aquarium yang besar itu. Akhirnya mereka berdua menaruh aquarium itu di teras.
“Bang itu masang pompa udaranya bagaimana? Kalau tidak dipasang pompa kalau mati kita rugi.” ucap Savitri mendekati Gandi yang duduk di sofa sambil merokok dan menonton teve acara musik dangdut.
“Bang! Bagaimana itu masang pompanya?” tanya Savitri lagi dengan suara lebih keras karena Gandi tidak menjawab malah kepalanya bergoyang goyang mengikuti irama musik yang didengar.
“Hah! Kamu itu cari di google kan bisa atau sana ke Pak Satpam!” bentak Gandi. Savitri tidak mau ribut dengan Gandi lalu mengambil hapenya dan mencari informasi tentang cara memasang pompa udara buat ikannya. Dia tidak mau uangnya hilang dan masih membayar denda jika ikan itu mati. Dengan semangat Savitri berusaha memasang pompa udara.
“Ah untuk sementara biar begini dulu. Besok mencari tukang sekalian buat kolam.” gumam Savitri setelah berjuang akhirnya bisa memasang pompa udara, lalu dia memberi pakan pada ikan tersebut.
Dan berjalannya waktu akhirnya Savitripun mencairkan depositonya, untuk melunasi biaya ikan dan perlengkapan. Dia kuatir jika tidak segera dilunasi akan semakin rugi. Uang hasil pencairan juga untuk membuat kolam di depan rumahnya. Savitri memanggil tukang, Gandi hanya melihat dan berlagak kayak mandor.
__ADS_1
Savitri juga yang belajar cara perawatan dan pemeliharaan ikan. Savitri yang sibuk mengurus bisnis ikan hiasnya dia juga yang menguras kolam, aquarium dan memberi pakan ikan, sedangkan Gandi hanya tiduran di tepi kolam sambil merokok dan menunggui ikan ikan. Jika bosan masuk ke dalam rumah nonton teve atau mainan hape.