
Setelah dari dapur Mbak Lastri menyalakan lampu ruang makan. Meja terlihat benar benar bersih dan kosong tidak ada makanan di atas meja. Hanya ada keranjang buah dan isinya hanya beberapa buah pembelian dua hari lalu. Mbak Lastri lalu mengetuk pelan pintu kamar Savitri. Namun beberapa kali ketukan tidak ada respon. Mbak Lastri membuka pelan pintu kamar Savitri tampak gelap. Mbak Lastri berjalan pelan pelan menuju ke saklar di salah satu dinding kamar Savitri. Pandangan mata Mbak Lastri menyapu seluruh isi kamar Savitri. Mbak Lastri tidak menemukan sosok Savitri. Kamar juga terlihat rapi Mbak Lastri sedikit tenang. Mbak Lastri lalu keluar dan menutup pintu rapat rapat.
“Sepertinya tidak mungkin ke kamar tamu. Tapi tidak ada salahnya aku cek dulu di sana. Aku kok deg degan karena Pak Gandi minum alkohol.” gumam Mbak Lastri lalu dia berjalan menuju ke kamar tamu. Mbak Lastri tidak mengetuk pintu namun langsung membuka pelan pintu kamar tamu tersebut. Saat pintu terbuka tercium juga aroma alkohol dari kamar tersebut. Kamar gelap lampu tidak dinyalakan. Mbak Lastri membuka lebar lebar pintu dengan cahaya samar samar dari ruang keluarga bisa terlihat kamar terlihat berantakan namun tidak ada Savitri di sana. Mbak Lastri akan mengecek masuk ke dalam kamar takut jika tiba tiba Gandi bangun dan masuk ke kamar.
Mbak Lastri lalu menutup pintu dan berjalan menuju ke kamar Reno. Mbak Lastri langsung membuka pelan pintu kamar Reno. Sama dengan kamar yang lain gelap. Namun tiba tiba Mbak Lastri mendengar suara isak tangis. Dia memasang telinganya. Benar suara isak tangis Savitri. Mbak Lastri masuk ke dalam kamar. Dia belum berani menyalakan lampu kamar Reno. Mbak Lastri masih mencari d mana Savitri berada. Mbak Lastri tidak menemukan sosok Savitri hanya mendengar isak tangisnya. Lalu Mbak Lastri berjalan menuju ke saklar lampu tidur. Mbak Lastri menyalakan lampu yang tidak begitu terang. Mata Mbak Lastri mengitari seluruh isi kamar. Lalu Mbak Lastri melihat sosok Savitri yang terduduk di lantai di balik lemari mainan Reno. Savitri terlihat masih memakai mukenanya sambil duduk bersimpuh dengan derai air mata.
Mbak Lastri berjalan mendekat dan duduk di samping Savitri. Mbak Lastri hanya diam dan air matanya pun ikut berlinangan.
“Mbak.... aku sudah tidak kuat.... hiks....hiks....” ucap Savitri sambil terus terisak. Mbak Lastri yang mendengar tampak terhenyak apalagi dia melihat ada sebuah gunting berada tidak jauh dari tubuh Savitri. Keringat dingin Mbak Lastri mulai bermunculan. Dia mencari cara bagaimana mengamankan gunting tersebut.
“Sabar Bu...” ucap Mbak Lastri semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Savitri. Tangan Mbak Lastri pelan pelan mengarah ke letak gunting itu. Dia menggeser pelan pelan agar menjauh dari Savitri.
__ADS_1
“Aku ingin ikut Bang Ardi saja. Toh anak anak sudah ada yang ngurus dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.” ucap Savitri dengan mata terpejam karena air mata terus berderai. Mbak Lastri yang mendengar semakin takut, kuatir dan kaget. Dia lalu dengan segera mengambil gunting dan memegangnya dengan erat pucuk gunting yang terlihat sangat runcing itu. Untung Savitri masih terpejam matanya.
“Bu... eling Bu anak anak masih butuh kasih sayang Bu Vitri. Mereka masih kecil kecil, nanti kalau mental mereka sudah kuat mereka bisa bersama Bu Vitri lagi.” ucap Mbak Lastri memberi semangat hidup pada Savitri.
“Aku sudah tidak kuat Mbak. Aku malu pada Oma pada Opa pada Arya. Aku sudah percaya dengan omongan Gandi hiks...hiks... dan kini malah terbalik malah Gandi dan istrinya yang menghabiskan uangku.”
“Aku malu pada tetangga. Lalu sangat malu... malu dengan kondisi ku sekarang malu dengan kelakuan Gandi, malu istri Anna yang sering datang ke sini. Sudah banyak yang tahu kalau saya istri simpanan Gandi hiks... hiks... malu Mbak aku sangat malu.”
“Bu.. eling Bu.. nyebut nyebut Bu... Allah tidak mungkin memberi ujian di luar kemampuan kita. Begitu Bu kalau saya dengar di ceramah ceramah. Kita harus sabar Bu, ingat saja Reno dan Reni agar Bu Vitri semangat hidup. Kasihan mereka kalau menjadi anak yatim piatu. Mereka masih kecil Oma dan Opa sudah tua, kalau Om Arya menikah kita juga tidak tahu apa istrinya nanti sayang pada Reno dan Reni.” ucap Mbak Lastri dengan tangan satunya memeluk Savitri sedangkan tangan yang lain masih mengamankan gunting. Namun tiba tiba tubuh Savitri terasa lebih berat bersandar di tubuh Mbak Lastri. Dan Savitri tidak bergerak dan tidak berbicara juga tidak ada lagi isak tangisnya.
“Bu... Bu...” ucap Mbak Lastri pelan sambil menepuk nepuk pipi Savitri. Namun Savitri tetap diam saja. Mbak Lastri terlihat bingung. Tidak mungkin dia mint tolong Gandi yang masih tertidur karena mabuk. Mbak Lastri lalu melempar gunting itu dimasukkan ke dalam kolong tempat tidur Reno, yang penting aman dulu nanti baru disingkirkan. Mbak Lastri lalu membaringkan tubuh Savitri melepas mukena yang masih menempel di tubuh Savitri. Baju Savitri terlihat basah oleh keringat dingin Savitri. Mbak Lastri cepat cepat mengambil baju ganti dan minyak angin. Mbak Lastri membalut tubuh Savitri dengan minyak angin dan mengganti bajunya. Hidung Savitri pun diolesi dengan minyak angin juga kening Savitri. Mbak Lastri sambil terisak terus memanggil manggil nama Savitri sambil menepuk nepuk pipi Savitri. Savitri masih diam saja namun tubuhnya sudah sedikit hangat.
__ADS_1
“Ngabari Mbak Nisa apa Om Arya ya.” Gumam Mbak Lastri sambil mengambil hape dari kantongnya. Namun saat Mbak Lastri mulai mengusap usap layar hape...
“Ya Allah.....” gumam pelan dari mulut Savitri. Mbak Lastri mengurungkan niatnya mencari kontak nama. Dia menaruh hape lalu menghadap ke Savitri.
“Bu.... apa yang dirasakan?” tanya Mbak Lastri.
“Bu Vitri tadi sudah makan belum?” tanya Mbak Lastri sambil memijit mijit kaki Savitri. Savitri menggelengkan kepalanya.
“Mbak, aku pengen mie instan rebus yang pedes.” ucap Savitri sangat lirih. Mbak Lastri tersenyum dia terlihat lega karena Savitri masih menginginkan sesuatu makanan. Mbak Lastri yang sejak tadi siang belum makan, mendengar kalimat mie instan rebus pedes perutnya langsung berbunyi krucuk krucuk.
“Iya iya Bu akan segera saya buatkan. Tapi Bu Vitri tidurnya pindah di atas, dan saya buatkan teh anget dulu.” ucap Mbak Lastri lalu membantu Savitri berdiri dan pindah berbaring di tempat tidur Reno.
__ADS_1