
Pagi harinya seperti biasanya Savitri bangun pagi menyiapkan keperluan anak anaknya. Dia sedikit tenang saat mengingat Gandi sudah tinggal di rumahnya, jadi sudah pasti ada yang mengantar Reno tanpa was was menunggu kedatangannya.
Mereka semua sudah selesai sarapan, namun Gandi belum juga muncul. Reno sudah ingin segera berangkat ke sekolah diantar Papa barunya. Reni pun juga sudah siap akan turut serta mengantar.
“Coba kamu lihat di kamarnya Vit, maka kalau kamu turuti perkataanku kamu bisa langsung membangunkan tadi pagi kalau tidur satu kamar.” ucap Nenek panjang lebar yang intinya menyalahkan Savitri yang tidak mau menemani tidur Gandi. Savitri diam saja lalu berjalan menuju ke kamar tamu dimana Gandi tidur. Savitri mengetuk ngetuk pintu namun pintu tetap tertutup. Savitri membuka pelan daun pintu tersebut, terlihat lampu masih menyala dan Gandi masih tertidur pulas. Savitri menekan saklar untuk mematikan lampu. Lalu dia bergegas siap siap untuk mengantar Reno. Untung Reno dan Reni tidak banyak protes.
Setelah mengantar Reno, Savitri dan Reni langsung pulang. Saat pulang pun Gandi belum bangun.
“Vit, kamu bangunkan suamimu katanya mau ngantar aku melihat binatang binatang dagangannya. Katanya aku mau dikasih ayam jago yang langka yang harganya jutaan.” ucap Kakek saat Savitri masuk ke dalam rumah.
“Ayam goyeng Kek?” tanya Reni ikut nimbrung karena dengar kata ayam.
“Bukan, ayam mahal mosok mau digoreng.” ucap Kakek sambil menoel pipi Reni karena gemas.
“Digoyeng Mba Lati, Kek...” ucap Reni lagi yang menemani Kakek duduk di sofa sementara Savitri berjalan ke kamar tamu akan membangunkan Gandi.
Gandi yang mendengar Savitri membangunkan untuk mengantar Kakek melihat binatang dagangannya. Dia langsung membuka matanya lalu bangkit berdiri dan segera bersiap diri. Dengan semangat dia lalu sarapan cepat cepat.
“Bang, jangan lama lama ya.. nanti mobilnya untuk jemput Reno sekalian mau belanja. Tadi pulang ngantar Reno belum buka toserba nya.” ucap Savitri saat melihat Gandi mengambil kunci mobilnya. Gandi hanya mengangguk lalu dengan segera dia mengajak Kakek pergi.
Waktu terus berlalu Savitri melihat jam sudah saatnya menjemput Reno namun Gandi belum pulang juga.
“Adik ga usah ikut ya, Mama mau jemput Kakak pakai motor saja.” ucap Savitri pada Reni yang sudah siap mau imut jemput Reno dan ikut belanja ke mall.
“Atu itut Ma.... “ ucap Reni dengan mata yang sudah berkaca kaca.
“Panas sayang, nanti kamu pusing karena kena terik matahari.” ucap Savitri sambil mengusap usap kepala Reni, tidak tega jika anaknya kepanasan.
“Di rumah ya...Mama ga jadi ke mall kok, nanti sore saja ke mall nya.” ucap Savitri menghibur Reni. Savitri lalu berjalan ke kamar Reno untuk mengambil jaket Reno. Reni pun akhirnya bisa mengerti dan akhirnya Reni mendatangi Neneknya yang sedang nonton sinetron teve.
Hari terus berganti tidak terasa sudah satu minggu, Kakek dan Nenek menemani Savitri. Kini orang tua Savitri akan kembali ke rumahnya. Mereka berharap seminggu tinggal di rumah Savitri untuk memberi kesempatan pada Savitri dan Gandi berduaan. Namun hasilnya tetap sama, Gandi tidur di ruang tamu Savitri tidur di kamarnya bersama Reni dan ibunya.
“Vit, Bapak dan Ibu mau pulang. Bapak sudah bingung dengan tanaman dan ternaknya, meskipun sudah dititipkan orang tetap saja kepikiran.” ucap Nenek saat berdua dengan Savitri di kamar.
“Vit kamu harus mulai melayani Gandi sebagai istri. Kulihat kamu masih dingin dengan Gandi. Kasihan Gandi. Ibu sarankan kamu tinggal berdua dengan Gandi. Reno dan Reni bisa tinggal dengan kami dulu.” ucap Nenek selanjutnya.
“Bu, kalau Reno dan Reni tinggal dengan Ibu, kasihan Reno, dia akan capek karena sekolah jauh. Kalau ijin kasihan dia akan ketinggalan pelajaran. Kalau ikut Oma dan Opa, aku yang tidak enak hati.” ucap Savitri.
__ADS_1
“Benar juga kalau dititip Oma dan Opa tidak enak hati. Gimana kalau dititip nak Anisa?” usul Nenek.
“Pokoknya harus ada kepastian sekarang kapan kamu bulan madu, sekarang kamu temui Gandi. Sebelum aku pulang harus sudah ada rencana bulan madu kamu. Jangan sampai Gandi lari meninggalkan kamu, sudah enak kamu cepat dapat suami yang baik dan kaya raya.” Nenek lagi dengan panjang kali lebar.
“Baiklah Bu, aku coba bilang ke bang Gandi dan anak anak.” Savitri meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju ke ruang keluarga tampak Reno dan Reni sedang bermain.
“Kak, Dik.. sedang main apa?” tanya Savitri saat sudah berada di dekat Reno dan Reni.
“Ini Ma mainan baru dari Papa Gandi.” jawab Reno yang memang sedang bermain main dengan mainan pemberian Gandi. Gandi tidak mau selalu dibanding bandingkan dengan Arya yang selalu membelikan mainan mereka berdua. Akhirnya Gandi membelikan mainan.
“Kalau Mama dan Papa Gandi liburan sebentar berdua boleh ga?”
“Terus yang antar jemput sekolah aku siapa Ma? Naik ojek ogah Ma, takut.”
“Atu ga boyeh itut Ma?” tanya Reni
“Ga boleh, ada urusan penting.” Jawab Savitri
“Kayak kemarin itu Ma?” tanya Reno
“Iya tapi ini lebih lama harus nginap.” jawab Savitri
“Iya Ma, atu cetuju ucul Kaka he...he...”
“Baiklah kalau kalian mau ditinggal nanti Mama cari orang yang bisa di titipin kalian.”
“Ma aku maunya Papa Arya atau Tante Nisa.” ucap Reno sambil tangannya masih asyik dengan mainannya. Savitri tersenyum sambil mengusap usap kepala Reno. Savitri lalu bangkit berdiri meninggalkan anak anaknya. Baginya yang penting ijin dari kedua anaknya nanti bisa dipikir yang lainnya. Savitri lalu berjalan menuju ke kamar tamu. Diketuk pelan pelan pintu kamar ruang tamu, namun tidak ada respon dari penghuni kamar. Savitri lalu membuka pelan daun pintu. Terlihat Gandi tidur dengan suara dengurannya. Savitri melangkah mendekati Gandi.
“Bang....” ucap Savitri sambil menggoyang goyangkan kaki Gandi.
“Katanya kerja on line kok malah tidur nyenyak.” gumam Savitri
“Bang....” ucap Savitri lebih keras
Suara keras Savitri mengagetkan Gandi, lalu dia langsung bangkit dari tidurnya sambil memgucek ucek matanya.
“Katanya kerja kok tidur.” ucap Savitri
__ADS_1
“Ehmmmm ketiduran sayang, nunggu jawaban dari costumer.” jawab Gandi sambil mengusap usap wajahnya lalu menyunggar rambutnya agar terlihat keren di mata Savitri.
“Ada apa sayang kok membangunkan aku, apa kamu sudah menginginkan sekarang, ini masih sore sayang.”
“Bang....”
“Hmmm.”
“Ibu menyarankan kita pergi berdua untuk bulan madu, aku sudah bilang pada anak anak dia mengijjnkan asal dibelikan banyak mainan dan dititip pada Arya atau Nisa.”
“Aku setuju saran dari Ibu. Dititip ke Nisa saja nanti aku bilang pada Nisa dan suaminya.” ucap Gandi dengan senang. Dia akan dengan segera mendatangi Anisa dan suaminya demi bulan madu yang sudah dinanti nanti.
Akhirnya waktu yang dinanti nanti Gandipun tiba, Savitri dan Gandi sudah siap akan berangkat berbulan madu. Reno dan Reni dititip pada Anisa dan Suaminya.
“Kita tinggal di rumahku dulu ya sayang.” ucap Gandi sambil tersenyum. Dia lalu melajukan mobil Savitri dengan semangat. Jangan ditanya dimana mobil yang biasa dipakai Gandi sejak Gandi tinggal di rumah Savitri tidak ada lagi mobil yang biasa dipakai Gandi.
Perjalanan yang sebenarnya hanya beberapa menit namun terasa lama buat Gandi. Dia sudah tidak sabar untuk melahap Savitri. Mobil memasuki halaman rumah mewah Gandi. Satpam sudah siaga membuka dan menutup pintu gerbang.
“Vit aku tidak punya pembantu, semua dikerjakan oleh agen jasa kalau aku butuhkan, lebih praktis.” ucap Gandi sambil berjalan cepat menuju ke dalam rumah. Gandi terlihat sudah sangat tidak sabar.
“Ayo Vit, langsung ke kamar.” Ajak Gandi sambil menoleh ke arah Savitri sebab Savitri duduk di sofa ruang tengah. Savitri terlihat agak malu malu dan ragu ragu. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Meskipun ini adalah hal yang bukan pertama, namun dia akan melakukan dengan suami barunya yang belum pernah mereka bersentuhan.
Mereka berdua lalu memasuki kamar Gandi. Kamar yang kemarin dipakai Savitri dengan kedua anaknya. Karena setelah mengetahui rumah Gandi ada kolam renangnya Reno dan Reni hari berikutnya mengajak datang lagi ke rumah Gandi dan mereka menginap. Savitri berjalan pelan pelan dia terlihat gugup.
Sekarang mereka hanya berdua berada di kamar yang sangat luas tersebut. Gandi menaruh kopernya asal saja. Lalu dia dengan segera mengendong tubuh Savitri dan dihempaskannya di tempat tidur. Savitri terlihat sangat kaget.
“Vit sekarang aku sudah tidak sabar.” ucap Gandi dengan suara yang sudah mulai parau. Gandi melucuti seluruh pakaian Savitri dengan paksa. Tubuh Savitri meremang namun Savitri hanya bisa pasrah sebab memang tujuannya pergi berdua dengan Gandi untuk berbulan madu menyempurnakan hubungannya sebagai suami istri. Gandi tersenyum sangat melihat seluruh tubuh Savitri dengan segera dia menumpahkan hasratnya.
Savitri menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit. Entah rasa sakit karena dia belum siap entah karena dia mengingat almarhum Ardi. Permainan Gandi benar benar berbeda dengan permainan Ardi. Ardi memperlakukan dengan lembut sedang Gandi melakukan dengan permainan kasar.
“Aaaaah.” teriak Gandi terpuaskan, lalu merebahkan tubuhnya di samping Savitri. Gandi menoleh sebentar wajah Savitri.
“Kamu kayak perawan saja pakai nangis kesakitan. Tapi memang enak Vit kamu meskipun janda masih rasa gadis sempit makanya kamu kesakitan.” ucap Gandi sambil tersenyum, kemudian dia hanya diam saja dan lama lama terdengar suara dengkuran dari mulutnya.
Savitri lalu meraih selimut yang ada di tempat tidur tersebut, dia menutupi tubuhnya dengan selimut. Lalu dia berjalan meninggalkan tempat tidur untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
“Vit jangan pergi dulu aku mau lagi.” gumam Gandi dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
Savitri tanpa menghiraukan ucapan Gandi, dia terus berjalan menuju ke kamar mandi. Dia teringat pada almarhum Ardi, jika sehabis berhubungan Ardi selalu menciumi dan memeluknya tidak lupa mengucapkan terimakasih. Lalu mengendongnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh bersama atau melakukannya lagi di bawah guyuran air atau di bath up. Sekarang Savitri membersihkan diri sendiri dengan guyuran air shower, air matanya meleleh bercampur dengan air shower yang membasahi wajahnya. Sakit, perih, rindu pada perlakuan almarhum suami, rindu pada anak anak membuat air mata Savitri terus meleleh.